
Tepat jam 8 sebuah pesan masuk ke ponsel Nara. Pesan dari Ji-Ho yang mengatakan dirinya sudah ada di depan rumah. Nara mematut dirinya sekali lagi di cermin. Ia merapikan baju kemeja kuning yang terlipat masuk ke dalam celana linen hitam setumitnya, kemudian mengambil tas selempang serta ponselnya di atas meja. Di pintu masuk, ia segera mengambil sandal thong-nya dan berlari keluar sebelum Ji-Ho menunggu lebih lama.
Nara melangkah masuk ke dalam mobil Ji-Ho. "Hi, maaf membuatmu menunggu..." suaranya yang tedengar riang seketika menggantung saat melihat di sebelahnya menguap lebar.
"Ah, maaf, maaf," tersadar dengan pandangan Nara, Ji-Ho menggeleng cepat untuk menghilangkan kantuk yang melandanya.
Pandangan Nara masih terpaku pada Ji-Ho. Keadaannya saat ini tidak jauh beda seperti yang dilihatnya kemarin. Meskipun tidak sekusut kemarin dan rambut-rambut halus di dagu dan bawah hidungnya sudah tercukur bersih, tapi matanya masih cekung dan terlihat lelah, seperti kurang tidur. "Kau kelihatannya lelah. Kau tidak istirahat ya?" tebak Nara dengan mata memicing. Padahal kemarin sudah ia katakan lebih baik Ji-Ho istirahat saja hari ini.
Ji-Ho tidak menjawab dan hanya tersenyum lebar, seperti berusaha mengatakan ia baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Tapi Nara tidak bisa tenang. Ia tidak bisa melihat Ji-Ho terlihat kelelahan seperti itu, bisa-bisa laki-laki itu jatuh sakit. Dan lagi, dirinya ragu bisa menikmati kencan hari ini jika melihat Ji-Ho seperti itu.
"Ji-Ho..." Nara hendak berkata sesuatu tapi dengan cepat Ji-Ho memotongnya.
"Sungguh aku tidak apa-apa. Memang sedikit mengantuk tapi tidak apa-apa," Ji-Ho melambaikan tangannya. Tapi ekspresi Nara tidak berubah. Dahinya berkerut dan matanya bergerak cemas.
Melihat Nara, alhasil membuat Ji-Ho merasa bersalah. Mestinya ia tidak menguap tadi. Tidak mungkin Nara akan menikmati kencan hari ini kalau ia dilingkupi rasa cemas.
Setelah menarik nafas panjang, Ji-Ho pun berusaha memberi penjelasan. "Kemarin jadwal terakhirku ternyata berakhir lebih lama. Ada beberapa permasalahan teknis yang memperlama pemotretan kemarin. Belum lagi ternyata managerku salah memberitahukan jadwal. Ternyata kemarin malam aku punya jadwal syuting iklan minuman soda, karena itulah aku baru selesai pukul 5 subuh tadi. Tapi sungguh tidak apa-apa, aku masih sempat tidur 2 jam. Kantuk seperti ini tidak seberapa. Sungguh," ia berusaha membuat wajahnya se-meyakinkan mungkin.
Tapi hari-hari sebelumnya kau juga kurang tidur, Nara hanya berkata seperti itu dalam hatinya, enggan ia ungkapkan. Apapun yang dikatakannya pasti Ji-Ho tetap pada pendiriannya bahwa ia baik-baik saja. Jadi ia pun menyandarkan punggungnya di kursi dan mulai menarik seatbelt. "Arrasseo," ucapnya pelan tapi sesungguhnya merenggut.
"Kalau begitu kita mau kemana sekarang? Makan? Nonton? Taman bermain?" suara Ji-Ho kini terdengar bersemangat.
Nara memanyunkan bibirnya. Otaknya berputar memikirkan tempat yang sebaiknya mereka datangi. Makan? Kalau Ji-Ho makan sekarang apa nanti tidak akan jadi lebih mengantuk? Nonton? Hm, mungkin bagus juga. Ji-Ho bisa ala-ala tertidur saat sedang nonton dan ia bisa ala-ala tidak tau dan membiarkan Ji-Ho. Taman bermain? Tidak, tidak. Tempat itu terlalu ramai, bisa jadi nanti ada yang mengenali Ji-Ho. Lagipula kalau Ji-Ho naik wahana bermain disana bisa-bisa ia akan pingsan. Sudah capek, adrenalinnya malah harus kembali dipacu. Tidak, tidak.
Nara masih berpikir keras ketika suatu ide tiba-tiba terlintas di otaknya. "Aku tau!" serunya sambil menoleh ke arah kursi pengemudi. "Kita cari toko swalayan dulu. Ayo!" tangannya memukul-mukul lengan Ji-Ho, sebagai perintah agar Ji-Ho cepat bereaksi.
"Toko swalayan?" alis Ji-Ho bertaut bingung.
"Iya, ayo, kesana dulu," ucap Nara lagi tapi kali ini ia sudah sibuk dengan ponselnya, mencari sesuatu.
Tanpa membantah tapi masih merasa bingung, Ji-Ho pun melajukan mobilnya menuju toko swalayan terdekat.
x-x-x
"Kau beli apa? Sebanyak itu?" tanya Ji-Ho pada Nara yang kembali duduk di kursi penumpang setelah menaruh hasil belanjanya di kursi belakang. 3 kantungan putih ukuran sedang yang entah berisi apa.
Nara tidak menjawab pertanyaan itu dan hanya tersenyum misterius. "Sekarang aku akan menunjukkan jalannya. Kau ikut ya sesuai apa yang kutakan," ucap Nara setelah mengambil ponselnya dari dalam tas, mengabaikan pertanyaan Ji-Ho tadi.
"Kemana?"
"Dari sini kita lurus, nanti ada perempatan, kita belok kanan," lagi-lagi mengacuhkan Ji-Ho, Nara mulai memberi perintah.
Ji-Ho mengerjapkan matanya kaget. Sebenarnya mereka mau kemana? Apa Nara benar-benar tau jalan? Yang penduduk asli Korea Selatan kan dirinya, bukan Nara. Kenapa malah Nara yang jadi penunjuk jalan?
"Ayo jalan, Ji-Ho. Tenang saja aku pakai peta kok," ucap Nara seperti bisa membaca pikirannya.
Akhirnya Ji-Ho mengangguk pasrah. "Arasseo," ucapnya pelan lalu menggerakkan perseneling mobilnya.
x-x-x
"Piknik?" Ji-Ho melontarkan pertanyaan itu di salah satu sudut taman di pinggiran kota Seoul, saat Nara mengeluarkan sebuah serbet dari kantongan plastik swalayan dan melebarkannya di atas sepetak rumput hijau.
"Ah serbetnya ternyata tidak cukup besar," Nara menggumam sendiri, tidak menghiraukan pertanyaan Ji-Ho. Gadis itu sibuk mengeluarkan barang-barang yang dibelinya di swalayan tadi dan menatanya di atas serbet. Beberapa buah kimbap segitiga serta kimbap gulung, beberapa kaleng soda yang berbeda rasa, beberapa snack manis dan asin, dua botol air mineral, dan beberapa potong ayam fillet goreng yang dibalur tepung. Ia menatanya di bagian ujung kanan serbet dan menyisakan bagian kiri untuk mereka duduk.
"Oke, selesai!" seru Nara yang kemudian berdiri dan menepuk nepuk lutut dan betisnya yang tadi menapak di rumput.
Ji-Ho menggeleng sambil tertawa takjub. Padahal mereka hanya berdua, kenapa Nara membeli sebanyak itu? "Kita memangnya mau piknik berapa hari?" godanya tanpa melihat Nara yang sudah berjalan memutar dan mengambil tempat kosong di atas serbet.
"Ji-Ho, berbaringlah," lagi dan lagi tanpa memperdulikan perkataan Ji-Ho, Nara menepuk wilayah kosong di hadapannya.
"Mwo? Mworago?" Ji-Ho pikir ia salah dengar. Tapi melihat gerakan Nara ia sepertinya tidak salah.
Nara memiringkan kepalanya, kembali menunjukkan tempat kosong itu. "Berbaringlah, istirahat saja dulu. Kita bisa piknik nanti kalau kau sudah bangun," jelasnya.
Ji-Ho menggeleng, menolak. "Eii~ tidak, jangan. Kita kan sudah jauh-jauh kesini, masa iya aku tidur," ia mengibaskan tangan.
Tapi gerakan Ji-Ho sontak terhenti saat melihat mata Nara yang melotot gemas ke arahnya. "Should we just go home then?" ancamnya membuat Ji-Ho memggeleng cepat.
"Aniya! Andwe! Baiklah, baiklah aku akan berbaring!" Ji-Ho dengan cepat menjatuhkan lututnya ke atas serbet lalu memposisikan badan untuk berbaring. Kepalanya ia baringkan di tengah-tengah serbet, dan karena tubuhnya sangat jangkung dan tentu saja tidak mecukupi serbet selebar satu setengah meter itu, ia menekuk kakinya yang tidak memasuki cakupan serbet agar rumput tidak menempel pada celananya. "Ah, johda!" desahnya dengan mata terpejam, menikmati angin sepoi-sepoi dan cahaya matahari yang mengintip sedikit-sedikit dari celah-celah daun pohon rindang di atasnya.
"Selamat tidur," bisik Nara pelan. Sepelan mungkin, berjaga-jaga apabila Ji-Ho langsung terlelap setelah matanya tertutup.
Tapi Ji-Ho malah membuka mata, lalu melirik ke arah Nara yang duduk di sampingnya. "Kau sendiri tidak ikut berbaring? Ayo, berbaring saja juga dulu, pemandangannya sangat bagus," ajaknya yang disambut gelengan oleh Nara.
"Then should I just wake up?" kali ini ia membalas, meniru cara Nara tadi mengancamnya.
Nara mendengus dan memutar bola matanya membuat Ji-Ho terkekeh. Namun pada akhirnya Nara ikut berbaring. Ia merebahkan tubuhnya di arah yang berlawanan dari Ji-Ho, meskipun begitu, kepala mereka bersisian di tengah serbet.
"Kau benar, pemandangannya indah," gumamnya sambil mengangkat tangan kanannya ke atas, bergerak seumpama sedang menyentuh langit. "Neomu yeppeuda,"
"Hm.. neomu yeppeuda," ulang Ji-Ho. Tapi ia tidak sedang memandang langit atau pemandangan apapun di atasnya. Kepalanya sedari tadi menoleh ke kanan memandangi wajah gadis yang berbaring di sampingnya.
Tidak salah kan kalau ia berharap waktu berhenti berputar pada saat itu juga?
"Ternyata aku tidak salah memilih tempat," Nara tertawa lebar dengan bangga.
Ji-Ho merasa jauh lebih baik sekarang. Rasa lelah dan kantuknya seketika hilang. Siapa yang butuh tidur kalau melihat tawa Nara saja bisa membuat perasaannya seperti ini? Ji-Ho tidak menyangka kalau akhirnya ia bisa menemukan orang yang bisa membuatnya rileks seperti ini. Dulu yang di pikirannya hanya ada pekerjaan. Ia bekerja pagi siang dan malam tanpa menghiraukan lelah karena merasa hanya itulah yang ada di hidupnya. Karena itulah yang paling penting menurutnya dan hanya itulah yang membuatnya lebih hidup. Tapi kini rasanya tidak masalah kalau ia meninggalkan pekerjaannya demi gadis itu. Ia menikmatinya. Ia menikmati setiap detik yang ia habiskan dengan gadis itu.
"Kau belum tidur?" Nara menoleh, memandangi Ji-Ho yang juga sedang memandanginya.
Ji-Ho menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Ia tidak ingin.
"Aku baru sadar kau memotong rambutmu, Ji-Ho. Terlihat bagus,"
Kemarin Ji-Ho memang memotong rambutnya untuk keperluan syuting. Berbeda dari potongan rambutnya beberapa hari yang lalu yang agak panjang hampir menyentuh leher, kali ini stylistnya membuat potongan rambut bowl cut yang dibuat agak wavy di bagian depannya dan diwarnai dengan warna cinnamon.
Ji-Ho pun hanya mengangguk, lagi-lagi tidak mengeluarkan kata-kata. Ia ingin membiarkan Nara berbicara sesukanya. Ia senang melihatnya, ia senang mendengarkannya.
"Gurae?" gumam Ji-Ho pelan. Kini pandangannya mengikuti arah pandangan Nara, memandang langit. "Kalau begitu kau suka warna apa?"
Nara menoleh sekilas dengan kening berkerut. "Kenapa tiba-tiba bertanya warna kesukaanku?"
"Hanya ingin tahu. Aku ingin tahu hal-hal yang kau sukai..." ia berhenti sejenak dan kembali menoleh ke samping kanan. "...selain aku," lanjutnya sambil terkekeh.
Candaan itu disambut Nara dengan memutar bola mata. Wajahnya tentu saja terasa panas, tapi ia ingin cepat-cepat mengelak dari rasa malunya. "Warna putih," ucapnya cepat. "Warna putih yang benar-benar putih. Warna itu cocok disandingkan dengan warna apa saja. Benar kan?"
Ji-Ho mengangguk menyetujui. Baru saja ia kembali mengatakan sesuatu, Nara memotongnya. "Bukannya tadi kita sudah setuju kau akan tidur dulu, Ji-Ho?" ucap gadis itu tajam.
"Tapi aku belum selesai," balas Ji-Ho membuat Nara memandangnya dengan mata mendelik. "Oke, oke begini saja," buru-buru ia menambahkan agar Nara melunak. "Aku akan memberikan 10 pertanyaan pilihan. Kau hanya tinggal memilih salah satunya. Hanya 10," ia mengangkat tangan dan membentangkan ke-sepuluh jarinya.
Setelah menghela nafas, Nara mengangguk. "Baiklah, tapi setelah 10 pernyataan berjanji padaku kau akan segera beristirahat dulu," titahnya.
Ji-Ho mengangguk dan langsung memulai. "Baiklah, pertanyaan pertama. Gunung atau pantai?"
"Gunung," balas Nara cepat.
"Kenapa?"
Nara mengangkat sebelah alisnya. "Bukannya tadi aku hanya perlu memilih salah satunya?"
Wajah Ji-Ho memelas, meminta pertanyaannya dijawab. Dan pada akhirnya wajah itu membuat untuk Nara pasrah menjawab. "Tidak perlu memilih sih, aku suka keduanya. Aku suka melihat tempat-tempat yang indah dan...sepi," kata terakhirnya seperti mengambang di udara. "Anyway, karena untuk saat musim panas seperti ini pantai biasanya ramai, aku lebih memilih gunung. Kau menyuruhku memilih salah satunya kan,"
"Oke, jawaban diterima," Ji-Ho melipat satu jarinya. "Selanjutnya, Kim So Hyun atau Song Joong Ki?" lanjutnya dengan bibir terkulum menahan senyum.
Nara tampak berfikir beberapa saat. "Aku harus memilih ya?" tanyanya sambil mengelus dagu.
"Iya. Kenapa? Kau suka keduanya?"
"Tidak. Aku tidak begitu suka keduanya,"
"Oya?" Ji-Ho membelalak kaget. Baru kali ini ia mendengar ada perempuan yang tidak suka dua aktor itu.
"Aku lebih suka aktor-aktor yang sudah lebih berumur, seperti Eric Mun, Kim Kang Woo, atau Lee Seo Jin. Kalau yang muda...hm...aku suka Jang Ki Yong. Tipeku yang seperti itu," jelas Nara dengan nada riang dan bersemangat.
Kali ini ekspresi Ji-Ho berganti menjadi bingung. Keningnya berkerut. "Seingatku mereka tidak memiliki kesamaan satu sama lain. Jadi bagaimana kau menyimpulkan tipemu?"
Hening. Nara berfikir sejenak. "Iya juga ya," gumamnya akhirnya lalu menertawai dirinya sendiri. "Sudahlah, lanjut saja ke pertanyaan ketiga. Kau harusnya memberiku pertanyaan yang bisa kupilih, Ji-Ho ssi," gerutunya.
"Kalau begitu kau harusnya membiarkanku bertanya biasa, bukan memberikanmu pertanyaan pilihan, Nara-ssi," balas Ji-Ho sambil menyentil pelan dahi Nara, membuat gadis itu mengaduh lalu mengusap pelan dahinya dengan bibir dimanyunkan. Ji-Ho tersenyum kecil lalu melanjutkan. "Pertanyaan ketiga..."
"Kali ini tanpa menanyakan alasan dan panjang lebar lainnya," potong Nara sebelum Ji-Ho selesai memberikan pertanyaan.
Mengaibakan ucapan gadis itu, Ji-Ho kembali memberikan pertanyaan pilihannya. "Masakan Korea atau masakan Indonesia?"
"Masakan Indonesia. Oke, next!"
"Tunggu dulu, tunggu. Lebih enak masakan Indonesia ya? Makanan apa saja yang enak?" cecar Ji-Ho, tidak terima Nara mau langsung berpindah ke pertanyaan selanjutnya.
Tapi respon Nara malah membuat Ji-Ho mengatupkan bibir rapat. Gadis itu memandanginya dengan mata melotot "Ji-Ho!" geramnya dengan gigi terkatup.
Ji-Ho merengut. "Arasseo! Arasseo!" ia memikirkan pertanyaan lain yang lebih mudah dijawab.
"Coklat atau keripik kentang?"
"Keripik kentang,"
"Bunga atau boneka?"
"Bunga,"
"Pergi nonton atau taman bermain?"
"Pergi nonton,"
"Soda atau alkohol?"
"Aku tidak minum minuman beralkohol. Soda!"
"Ayam atau daging?"
"Ayam,"
"Musim panas atau musim dingin?"
"Musim dingin," Nara melirik jumlah jari yang tersisa di tangan Ji-Ho. Sudah pertanyan terakhir kan?" tanyanya, memastikan sekaligus memperingati.
"Iya, iya. Pertanyaan terakhir... Aku atau Jang Ki Yong?" tanya Ji-Ho cepat.
Pertanyaan itu sangat cepat terutarakan, tapi Nara masih bisa mendengarnya dengan baik dan tertawa karenanya. "Masih perlu ditanyakan? Tentu saja Jang Ki Yong!" sahutnya di sela-sela tawa. "Dia lebih tinggi, badannya lebih bagus, selain jago akting dia juga model, jago rap, jago nyanyi, ja..." matanya melirik dan menangkap ekspresi kesal Ji-Ho.
"Tapi ya sudahlah, dia selebriti, sulit dijangkau,"
"Aku juga selebriti tau!"
Nara terkekeh melihat Ji-Ho mendengus. "Iya, iya, aku tau! Karena itulah... aneh ya kau bisa menyukaiku,"
Kali ini Nara mendapati Ji-Ho mendesah panjang. "Lagi-lagi berfikir begitu. Kan sudah pernah aku bilang, aku..."
Nara menutup matanya dan segera memotong perkataan Ji-Ho. "Sudah tidak ada pertanyaan lagi kan? Waktunya tidur," ia bisa mendengar Ji-Ho kembali menghela nafas.
Setelah itu, mungkin akhirnya Ji-Ho menuruti keinginannya, menutup mata dan tidur, karena tidak ada lagi suara laki-laki itu yang terdengar. Hanya tersisa suara semilir angin, ranting pohon yang beradu, burung yang berkicau, serta gemericik kolam dengan ikan hias yang berenang di dalamnya. Sudut bibir Nara terangkat. Sudah lama ia tidak merasa se-damai dan se-bahagia ini.
X-X-X