
Sebelumnya. Di mobil Ji-Ho...
“Di Samcheongdong,”
“Sedang apa?”
“Umm...untuk sekarang tidak ada. Aku hanya sedang menunggu Chul Goo membeli tteokbokki,”
"Samcheongdong...tteokbokki...toko tteokbokki yang terkenal di Samcheongdong adalah Mukshidonna. Jadi mungkin Nara ada di sekitar sana," Ji-Ho mengelus-elus dagunya seraya berfikir.
"Kesana atau tidak ya? Perlu kesana? Tidak perlu?" Ji-Ho berada di tengah perang atas pikirannya sendiri. Ia mengetuk-ngetukkan jari di atas setir mobil, merasa sulit untuk memutuskan. "Oke, baiklah, Samcheongdong cukup dekat," setelah beberapa menit dengan pergulatan pikiran, akhirnya ia menetapkan hati dan membalikkan mobilnya untuk pergi ke Samcheongdong.
"Aku harusnya istirahat hari ini, tidur, atau mungkin lebih baik menyelesaikan laguku di studio. Apa yang aku lakukan disini?" gumam Ji-Ho pada dirinya sendiri sambil menghela nafas berat. Ji-Ho sudah tiba di Samcheondong dan saat ini tengah mengitari jalanan tersebut untuk mencari Nara. Ia mendengar suara keramaian dan memutuskan untuk mengikuti suara untuk mencapai tempat keramaian itu. Dari jauh, ia bisa melihat Ji Yeon T-ara sedang melangsungkan sebuah event. Kemudian ia berjalan lebih dekat untuk melihat apakah Nara dan Chul Goo juga ada disana.
Langkahnya terhenti saat melihat apa yang ada di depan, tak jauh darinya. Memang merekalah yang ia cari sejak tadi, Nara dan Chul Goo. Tapi keadaannya tidak seperti yang Ji-Ho pernah bayangkan sebelumnya. Chul Goo sedang berlutut di depan Nara. Sedangkan Nara sedang duduk di atas bangku, menangis. Dan tiba-tiba, Chul Goo mengangkat badan sedikit, memberikan Nara pelukan.
X-X-X
'Hugs releases endorphins that are also known as feel good chemicals. Endorphins reduce tension and stress and calms you.'
Chul Goo ingat pernah membaca kalimat itu di sebuah buku, dan menurutnya, hal itulah yang sangat diperlukan Nara saat ini. Endorfin. Ia mengangkat badan, melingkarkan lengan pada pundak Nara, dan menariknya ke dalam pelukan. Chul Goo hanya ingin pelukannya ini bisa menenangkan Nara, setidaknya untuk saat ini. Tubuh gadis itu masih bergetar. Dan meskipun tangisnya sudah tidak sekencang sebelumnya, Chul Goo masih bisa merasakan pundaknya basah karena air mata.
"Bisakah kau mengatakan padaku apa yang terjadi?" Chul Goo berbisik di samping pelukannya. Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tapi rasa khawatirnya sudah sangat memuncak. Ia mengenal Nara sejak seminggu lalu, namun ia pikir Nara adalah gadis yang tegar, tapi ternyata ia salah menilai.
Chul Goo merasakan kepala Nara bergerak di pundaknya, seperti menggeleng. Mungkin ia menolak untuk berkata apa-apa.
Chul Goo tiba-tiba teringat tingkah Nara saat di festival tadi. Dirinya merupakan mahasiswa jurusan psikologi, dan rasanya ia memiliki gambaran tentang apa yang terjadi. Ia merasa bisa menyimpulkan sesuatu. Jika kondisi Nara saat ini cocok dengan apa yang dipikirkannya, hal ini bisa terhubung dan menjelaskan apa yang terjadi saat acara penyambutan.
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi dari tempat ini dulu," Chul Goo yakin apa yang Nara perlukan saat ini adalah ketenangan. Ia meraih tangan Nara dan membantunya keluar dari kerumunan.
Setelah berjalan balik ke parkiran, mereka langsung naik ke mobil dan tinggal disana untuk beberapa saat. Tidak satupun dari mereka berdua yang berkata sesuatu. Chul Goo memainkan figur Iron Man yang bertengger di atas dashboard mobilnya, sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Nara masih berusaha mengatur kembali nafasnya. Perlahan, Nara merasa sedikit lebih baik setelah kerumunan tadi hilang dari pandangannya.
Chul Goo menatap Nara dari sudut matanya. Ia mendapati Nara terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya, namun suasanan di sekitar mereka masih agak tegang. Karena itu, Chul Goo pun menyalakan radio untuk melelehkan ketegangan itu. Inteo musik mulai terdengar dari pengeras suara mobil. "Oh! Sudah lama aku tidak mendengar lagu ini di radio!" Chul Goo meninggikan volumenya.
Nara menolehkan kepala. Ia juga tau lagu ini!
"Haha! Yeah! BBC follow me! Bounce like this eh...eh... bounce like, " lagu ini lagu dari salah satu boyband korea, Block B. Dan ini adalah salah satu lagu buatan Ji-Ho. "Block B in the house Z and pop time music, is officially over now, Bye guys, Hi ladies, mmuahhh," dengan semangat, Chul Goo menanyikan lagu itu, bahkan ia juga ikut menembakkan ciuman ke arah Nara dengan tangan pada bagian 'mmuahhh'. Mau tidak mau Nara tertawa melihatnya.
"Jinghan nomdeul nawatda ppara bara bap napareul bureora," Chul Goo masih tetap bernyanyi.
"Ya! Stop it! Hahaha" Nara menarik-narik lengan baju Chul Goo berusaha menghentikan menghentikannya. Ia tidak bisa berhenti tertawa melihat Chul Goo bernyanyi dengan ekspresi lucu sambil melompat-lompat di kursinya.
"Eodi mom jom pureo bolkkana? dara dara dacheul nopi ollyeora...Ppeotppeotan momchi bakchideul uri bogo baewo kungchi tachi Rhythm AH!" Chul Goo tetap bernyanyi hingga ia menyelesaikan bagian Zico, salah satu member Block B. Kemudian ia membuat tangannya seperti menembak Nara, memberikan kode agar Nara melanyanyikan bagian selanjutnya.
"We bobbin to the music, music..this song is groovy, groovy," Nara menerima kode itu dan menyanyikan bagian selanjutnya dengan suara berat, berusaha menirukan penyanyi aslinya. Karena tingkah Nara itu, mereka berakhir tertawa bersamaan.
"Wah!! Ternyata kau juga tau lagu ini," Chul Goo bertepuk tangan.
"Tentu saja. Aku penggemar berat penulis lagu ini," ujar Nara di sela-sela tawanya yang masih tersisa.
“Ah, benar juga, kau adalah fans Ji-Ho,” Chul Goo menmangut-mangutkan kepala, teringat akan fakta itu. "Hey, aku tau apa yang kita harus lakukan hari ini!" tiba-tiba ia menjentikkan jari dengan semangat. "Ayo kita pergi karaoke!"
Sesungguhnya ia ingin menjadikannya kejutan tadi. Tapi setelah melihat reaksi Nara pada kejutan pertama, ia memutuskan untuk memberi tau Nara terlebih dahulu. Untunglah Nara menyambut gembira ide itu. "Call!!" balasnya dengan semangat sambil ikut menjentikkan jari.
"Okay let's go!" Chul Goo melayangkan tinjuan ke udara. Ia mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir dan melaju menuju tempat karaoke yang biasa didatanginya. Senyum lebar mengembang di wajahnya sembari ia menyenandungkan lagu yang dimainkan di radio.
"Chul Goo-ya..." panggil Nara.
"Tidak, aku cuma mau bilang kalau senyumanmu itu membahagiakan, dan seperti virus, menular. Setiap kali aku melihatmu tersenyum aku juga jadi ingin ikut tersenyum. Terima kasih sudah mebuatku tersenyum lagi jari ini Chul Goo-ya," tangan Nara terulur mengacak-acak rambut Chul Goo. Sedangkan korbannya itu membeku di kursinya.
"Ya!" Chul Goo kembali menolehkan kepalanya ke arah Nara, lalu kembali fokus ke jalanan lagi. "Kau ingin membuatku tersipu malu atau salah tingkah ya? Jangan lakukan itu, kau membuatku merinding," ia mengelus bahu dan lengannya, bertingkah seakan benar-benar merinding.
Lagi-lagi tawa Nara lepas. "Iya aku tau, aku juga rasa merinding setelah mengatakan itu," kata-kata Nara tadi sukses membuat Chul Goo mengerutkan bibir. Ia pikir Nara serius.
Tak lama, keadaan kembali hening. Mobil Chul Goo hanya dipenuhi oleh suara radio dari pengeras suara. Di antara keheningan itu, Chul Goo kembali jatuh dalam pikirannya sendiri. Ia sesungguhna masih punya banyak pertanyaan di kepalanya yang ia ingin lontarkan ke Nara. Tapi ia menahan diri, karena mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan merusak atmosfer menyenangkan yang tadi sudah tercipta.
Sementara itu di sampingnya Nara meraih ponsel untuk membunuh waktu. Ia mengecek seluruh pesan masuknya, namun sayang sekali, pesan yang sangat ingin dilihatnya tidak ada disana. Ia menantikan pesan baru dari Ji-Ho, karena sejak pesan terakhir yang berkata kalau ia sedang menunggu Chul Goo, Ji-Ho belum membalas apa-apa. Nara akhirnya menghela nafas pasrah lalu membuka pesan masuk lain yang belum ia baca.
Pesan dari Zaza. Nara mengetuk gambar yang dikirimkan Zaza pada pesannya. Foto itu adalah foto Ji-Ho, sebenarnya hanya foto selfie biasa, yang bisa ditebak Zaza ambil dari akun media sosial Ji-Ho. Awalnya Nara bingung, ada hal spesial apa sampai Zaza mengirimkan foto itu padanya. Ia pun mengembalikan layar ponselnya ke jendela pesan Zaza, dan ada yang tertulis di bawah gambar itu. “Aku melihat ini di berita korea, netizen membicarakan gaya Ji-Ho belakangan ini, khususnya tali kacamatanya. Lihat!! Ia menggunakan pemberianmu!!” Nara berdehem untuk menyembunyikan tawanya saat membaca pesan Zaza.
Dengan cepat ia mengetikkan balasannya. “I know right!!! Aku menjadikannya trendsetter!!”
“Oh, please. Siapa yang akan tau? Semua netizen bilang dia meniru gaya In Pyo. Ngomong-ngomong, kau sedang dimana sekarang?”
Nara cemberut membaca pesan itu. Betul juga, siapa yang akan tau? Meskipun Ji-Ho sudah mengatakan kalau tali kacamata itu adalah hadiah penggemar, tapi mana mereka tau penggemar yang mana. Ah, tapi ya sudahlah, Nara juga tidak berharap dirinya akan dikenali. Malah bagus. Bisa repot kan kalau ia dianggap punya hubungan khusus dengan Ji-Ho.
“Aku akan pergi karaoke dengan Chul Goo. Sekarang lagi di jalan,”
“Omg, Chul Goo?! Temanmu yang cute itu?!”
Nara tersedak. Saat membaca pesan itu ia sedang minum. Ia ingin tertawa saat Zaza memuji-muji Chul Goo, karena itulah minumannya hampir masuk ke saluran nafas dan membuatnya tersedak. Ia terbatuk berkali-kali, sementara Chul Goo sudah mulai panik dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Ya! Apa yang terjadi" Chul Goo hampir saja menghentikan mobilnya karena terkejut melihat Nara tersedak.
"Aku tidak apa-apa," Nara terbatuk untuk terakhir kalinya dan berdehem lalu mulai terkekeh. "Aku melihat sesuatu yang lucu dan mau tertawa tapi malah tersedak,"
"Apa yang lucu?" dahi Chul Goo berkerut bingung. Ia menjulurkan kepala mengintip ponsel Nara untuk melihat ada apa. Tapi tidak lama karena ia harus kembali fokus ke jalanan.
"Lihat," Nara mengangkat ponselnya sejajar dengan wajah Chul Goo agar laki-laki itu bisa melihatnya lebih jelas. Tapi Chul Goo masih tetap mengerutkan dahi bingung. Bagaimana ia bisa mengerti kalau pembicaraan itu dalam bahasa indonesia.
Nara pun tersadar dan langsung menjelaskan. "Temanku bilang kau cute," ia kembali terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Dan kau menganggap itu lucu? Memangnya bagimu aku tidak cute?" Chul Goo menaikkan alisnya.
"Huh?"
"Hm...aku ingat pas pertama kali kita ketemu di bandara, aku selalu membuatmu tersipu malu kan?" pikiran Nara kembali ke masa lalu, dan ya, ia juga ingat saat itu dia memang tersipu, tapi bukan karena menganggap Chul Goo cute. Yahh, ia hanya menganggap senyum Chul Goo sangat menawan. Entahlah apa bedanya. "Aku membuatmu tersipu karena senyumku kan?" Chul Goo mengedipkan mata jahil. "Dan yang kau katakan sebelumnya! Senyumku membahagiakan? Menular? Seperti virus?"
"Ew...menjijikkan. kau ini benar-benar membuat geli!!" Nara merapatkan dirinya pada kaca jendela, memperlebar jaraknya dengan Chul Goo. Ternyata satu minggu cukup untuk menumbuhkan kedekatan di antara mereka untuk saling mengganggu satu sama lain. Rasa canggung mereka seperti tidak pernah ada padahal mereka terbilang baru mengenal satu sama lain. "Membahagiakan dan menular bukan berarti aku menganggapmu cute," Nara meleletkan lidah.
"Jahatttt, aku merasa tersakiti," Chul Goo meletakkan tangan di dadanya. "Tapi ngomong-ngomong..." tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Tadi itu foto siapa? Terus aku baca trendsetter? Trendsetter apa?" ia meraih ponsel yang digenggam Nara dan berusaha membaca pesan-pesan sebelumnya. Tapi tingkahnya sangat bodoh, karena tentu saja ia tidak mengerti. Tapi ia bisa melihat foto Ji-Ho yang dikirimkan teman Nara.
Mata Nara melebar. Buru-buru ia merebut kembali ponselnya dari tangan Chul Goo. "Umm...itu, kami lagi membicarakan gaya Ji-Ho dengan tali kacamatanya. Aku punya tali kacamata yang mirip, hahaha," meskipun Nara berbohong, Chul Goo juga tidak akan mengerti.
Betul saja, Chul Goo hanya mengangguk menerima apapun yang dikatakan Nara, kemudian menyerahkan kembali ponsel gadis itu.
Tak lama kemudian, mobil mereka akhirnya menepi di depan sebuah gedung dengan papan bertuliskan 'Daebak Karaoke di depannya. Mereka berdua turun dari mobil dan langsung menuju meja pemesanan untuk memesan tempat.
"Nara-ya!! Be all out, okay? Aku akan menendangmu jika tidak bernyanyi dengan semangat," pesan Chul Goo ketika mereka sudah berjalan menyusuri lorong gedung tempat karaoke menuju rauangan mereka. Ruangan 215.
"Copy that!" balas Nara sambil mengangkat tangan memberi hormat.
X-X-X