
Sudah genap seminggu Nara tidak melihat Ji-Ho. Sangat terasa dirinya menjadi uring-uringan. Bagaimana tidak, jangankan melihat dan bertemu Ji-Ho, mendengar suara Ji-Ho via telepon pun sudah jarang. Seminggu ini Ji-Ho sangat sibuk sampai mengirim pesan singkat pun sudah syukur. Nara juga tidak enak hati untuk menelpon duluan, dirinya takut mengganggu.
Jadilah hari ini, tepat hari ketujuh, ia uring-uringan sampai tidak bisa tidur semalaman. Karena bangun terlalu pagi -lebih tepatnya terjaga dari jam 1 malam- ia berangkat lebih cepat ke sekolah tempat ia akan melakukan presentasi. Biasanya dirinya akan berangkat dengan peserta lain, menggunakan subway pukul 8 pagi, atau ikut mobil panitia jika ada yang menjemput mereka. Tapi karena pukul 7 ia sudah siap, ia pamit kepada peserta lain untuk pergi duluan, sendirian.
Nara sedang berdiri di halte bus, sekitar 100 meter dari rumah mereka, menunggu nomor bus yang sesuai dengan apa yang tertera di google maps saat ia mencari arah menuju sekolah yang akan didatanginya. Ya, entah kenapa ia merasa ingin naik bus saja hari ini. Hitung-hitung belajar dan cari pengalaman.
Gadis itu membenarkan posisi topinya, menghalau sinar matahari yang sudah cukup tinggi meskipun hari masih tergolong pagi. Dirinya menghentak-hentakkan kaki, mengikuti alunan musik Ji-Ho yang terdengar di kedua telinganya melalui earphone, sambil sesekali memutar kepala ke kiri untuk melihat apakah busnya sudah datang. Saat ia melihat bus nomor 470 mulai muncul di kejauhan, ia bersiap-siap, merapatkan kakinya dan mulai memasang tangan untuk melambai pada bus agar berhenti. Ia sendiri tidak yakin apakah ia perlu melambai seperti itu agar busnya berhenti ataukah busnya akan berhenti otomatis sesuai rute yang sudah ada. Tapi untuk jaga-jaga, ia pikir tidak ada salahnya ia melambai.
Nara melangkah masuk saat bus itu berhenti di hadapannya. Menempelkan kartu transportasi pada scanning di tiang depan pintu masuk lalu berjalan ke dalam dan memilih tempat duduk kedua dari belakang, paling kanan tepat samping jendela. Nara suka mengambil tempat samping jendela, entah kenapa ia suka melamun sambil melihat keadaan di balik kaca. Rasanya tentram dan pikirannya jadi lebih tenang. Mungkin karena pikirannya tidak terpusat ke satu masalah, tapi melayang melanglang buana tergantung dari apa yang dilihatnya diluar sana.
Pada pemberhentian bus ke-empat, Nara mulai menempelkan pipinya di dau jendela. Rasanya hangat. Perjalan ke tempat yang ditujunya ini, Dwight School Seoul memakan waktu cukup lama, sekitar 30 menit dengan bus dan ada sekitar 20 pemberhentian. Sesekali ia mengecek maps di ponselnya hanya untuk memastikan dia tidak melewatkan pemberhentiannya.
Pemberhentian kelima, ia kembali melirik keluar jendela. Bus itu berhenti cukup lama, tidak seperti di pemberhentian sebelumnya, karena mulai banyak orang-orang yang naik. Bus mulai penuh dan ia mulai merasa jengah. Dengan cepat ia mengambil 1 tablet dari kotak obat di dalam tas lalu meminumnya.
Ia harus memusatkan perhatiannya ke hal lain diluar sana, pikirnya. Dan saat itulah matanya menangkap pemandangan itu. Pemandangan bus yang berhenti di halte seberang, terlihat jelas dari jendela tempatnya duduk saat ini. Badan bus itu memajang sebuah iklan pakaian olahraga, dan modelnya adalah...Ji-Ho.
Di badan bus itu, Ji-Ho memasang tampang tanpa senyum dengan kedua tangan memegang leher dari jaket parasut hitam yang ia kenakan. Dengan potongan rambut pendek berwarna coklat gelap, ia terlihat tampan. Sangat tampan, sampai tanpa sadar Nara memutar tubuhnya dan menempelkan kedua telapak tangannya di jendela, terpukau.
Baru saja Nara akan mengerjap, melembabkan matanya yang terasa kering karena membelalak cukup lama, bus itu bergerak. Melaju meninggalkan halte dan menjauh dari jarak pandangnya. Nara sampai harus memutar badan hingga tubuhnya menempel pada sandaran kursi, mengikuti gerak bus itu, yang menjauh...menjauh...hingga berbelok di tikungan.
Nara mendesah pelan. Pikirannya sudah teralihkan, tidak lagi memikirkan busnya yang mulai penuh, tapi parahnya pikirannya teralihkan merindukan Ji-Ho. Entah mana yang lebih bagus, tapi keduanya sama saja membuat dadanya sesak.
Tidak ada alasan lagi melihat ke belakang, Nara memperbaiki posisi duduknya. Tangannya mengetuk-ngetuk layar ponselnya, kembali memainkan lagu Ji-Ho dari playlist musiknya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Menampilkan nama dari orang yang saat ini sangat ingin ditemuinya.
"Halo," Nara segera menerima panggilan itu sebelum dering kedua terdengar.
"Sedang apa?" suara Ji-Ho terdengar di seberang. Pelan dan terasa seperti ia sedang tersenyum saat mengatakannya.
"Dalam perjalanan menuju sekolah," jawab Nara, juga ikut tersenyum.
Hening sesaat. Mungkin Ji-Ho sedang melihat jam atau penanda waktu di ponselnya, karena setelahnya ia bertanya, "Tidak terlalu cepat? Bukan biasanya berangkat jam 8?"
Nara mengangguk meskipun ia tau tidak bisa dilihat. "Iya, aku bangun terlalu pagi, karena itu berangkat duluan,"
"Hari ini jadwalnya dimana?" tanya Ji-Ho lagi, berlatar suara piano yang dimainkan berulang-ulang pada tangga nada yang sama. Samar-samar juga terdengar dua orang laki-laki dengan bahasa korea saling bercakap. Lalu suara decitan kursi beroda yang bergerak berpindah tempat.
Nara memandang keluar jendela. Tersenyum samar padahal tidak ada hal menarik yang dilihatnya diluar sana. Entah kenapa. Dirinya merasa senang hanya dengan Ji-Ho menanyakan keberadaannya. Padahal kalau mau dipikir bukan hal yang begitu istimewa. "Hm... di Dwight School Seoul. Kalau tidak salah namanya itu,"
"Dwight?" sepertinya Ji-Ho berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Dwight School di mapo kan?" tebaknya.
"Iya, benar,"
"Kalau begitu kau akan turun di bus stop DMC High Tech ya?" tebak Ji-Ho lagi.
Tapi Nara tidak bisa mengingat nama bus stop tempat ia akan turun. Ia hanya mengandalkan aplikasi peta pada ponselnya dan mengikuti titik yang berjalan di aplikasi peta itu. Karenanya ia berkata, "Tunggu sebentar," lalu hendak mengganti layar di ponselnya dari panggilan masuk menjadi aplikasi peta yang digunakannya.
"Kau naik bus 470 kan?" tanpa menunggu jawaban Nara di pertanyaan pertama, Ji-Ho kembali bertanya.
"Iya," jawaban Nara ini ia maksudkan untuk pertanyaan pertama dan kedua. Ia sudah melihat di peta, memang benar tujuan pemberhentiannya adalah bus stop DMC High Tech, dari sana ia akan berjalan sekitar 20 meter menuju sekolah Dwight. Titik yang bergerak di ponselnya menunjukkan tinggal sepertiga perjalanan lagi yang tersisa. Sepertinya dalam beberapa menit ia akan sampai.
"Kalau begitu benar," kali ini Ji-Ho seperti bergumam kepada dirinya sendiri.
Nara mengerutkan kening. Suara laki-laki di seberang telepon itu terdengar samar dan tidak begitu jelas. Ia pikir ia salah dengar. "Benar? Benar apanya?"
"Ah, tidak," Ji-Ho seperti tersadar. "Oh iya, aku harus pergi sekarang, ada yang harus kulakukan. Sampai jumpa,"
x-x-x
Tidak sampai 10 menit berlalu, titik pada aplikasi peta di ponsel Nara sudah hampir mendekati titik tujuannya. Dengan cepat Nara meraih tombol stop terdekat dan menekannya, sebagai sinyal untuk sopir bus agar berhenti di jalur bus stopnya. Nara menyimpan ponsel dan earphonenya ke dalam tas agar tidak terjatuh saat ia turun nanti, lalu mulai berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dan berdiri menunggu tepat di depannya.
Tak lama, bus pun berhenti sempurna. Pintu otomatis langsung terbuka. Dengan kepala tertunduk dan tangan mengeratkan selempang tas di bahunya, ia melangkah menuruni anak-anak tangga bus. Di anak tangga terakhir, ia mengangkat kepala dan pandangannya langsung tertuju pada seorang pria dengan topi hitam yang berdiri menyandar di tiang halte bus. Tubuhnya seketika kaku dan ia tidak bergerak dari posisinya. Dirinya tidak salah lihat kan?
Tin!! Bunyi klakson dari supir bus segera menyadarkan Nara dan buru-buru ia melangkah keluar dari bus itu. Pintu otomatis di belakangnya pun menutup dan bus itu melaju pergi. Pria di hadapannya kini mengangkat wajah dan terjawablah tebakannya tadi. Dirinya memang tidak salah lihat. Pria itu Ji-Ho.
Dengan santainya pria itu menyeringai menampilkan gigi-gigi putihnya yang rapih. Sedangkan Nara dengan panik menarik tangan Ji-Ho menjauhi halte. Sesekali ia berbalik ke belakang untuk melihat apakah ada yang memperhatikan mereka. Untung saja keadaan halte saat itu tidak ramai. Hanya ada beberapa orang yang menunggu bus dan sedang sibuk dengan ponsel mereka sendiri.
"Ji-Ho, apa yang kau lakukan disini?" tanya Nara dengan suara berdesis saat ia merasa keadaan sudah aman. Mereka berdiri di bawah pohon tak jauh dari halte.
"Studio-ku tak jauh dari sini," Ji-Ho menunjuk ke belakang punggungnya. "Kupikir sekalian saja aku melihatmu dulu, walau hanya bisa sebentar. Sudah lama kita tidak bertemu,"
"Baru seminggu," bantah Nara. Tapi dalam hati ia juga berpikiran sama. Sudah lama.
"Seminggu itu lama," Ji-Ho berbisik pelan sambil memegang tengkuknya dengan canggung.
Nara tidak membantah lagi. Ia senang melihat Ji-Ho seperti ini. Ia senang Ji-Ho mendatanginya. Ia senang Ji-Ho berpikiran sama dengannya. Ia senang sampai rasanya ingin meloncat di tempatnya saat itu juga. Ia senang sampai-sampai sudut bibirnya tetap terangkat meskipun sudah ia tahan.
"Karena sudah melihatmu...aku menjadi lega," Ji-Ho tersenyum lembut.
Nara juga ikut tersenyum, dalam hati membatin, iya aku juga.
Tiba-tiba dering telepon mengagetkan mereka berdua yang saling membalas senyum. Bunyi ponsel Ji-Ho. "Dasar! Padahal aku hanya keluar sebentar," geramnya sebelum menerima panggilan di ponselnya.
"Ne? Ne~ Arasseoyo... O, Jankamman... Arasseo, arasseo... hm... aniya,"
Nara memperhatikan dengan seksama wajah Ji-Ho yang sedang menerima telepon. Wajahnya kusut seperti baru bangun, atau bahkan belum tidur? Yang jelas sepertinya laki-laki di hadapannya itu belum mandi. Matanya cekung, sepertinya memang kurang tidur. Di dagu dan sekitar bibirnya tercetak rambut-rambut halus, artinya juga belum cukur dalam beberapa hari. Apa mungkin Ji-Ho belum pernah pulang ke apartemen?
"O, kkuno!" Ji-Ho mengakhiri panggilan di ponselnya dan memandang Nara. "Maaf aku harus kembali ke studio, masih ada yang harus kukerjakan," pamitnya kini dengan rasa bersalah di matanya.
Nara mengangguk. Ia mengerti Ji-Ho pasti sibuk. Lagipula setelah dipikir-pikir, setelah dilihat baik-baik wajah Ji-Ho tadi, ia lebih memilih Ji-Ho istirahat saja bila punya waktu senggang dibanding pergi menemuinya. "Iya, sampai jumpa,"
Ji-Ho mengangguk. Nara pikir Ji-Ho akan langsung berbalik pergi, tapi yang dilakukan selanjutnya sungguh diluar perkiraannya. Tiba-tiba saja Ji-Ho menariknya ke dalam pelukan.
Ji-Ho merapatkan pelukannya, tidak sadar wajah orang yang ada di pelukannya itu sudah merah padam dengan mulut ternganga. Ia menumpukan dagunya di puncak kepala Nara dan kemudian berbisik. "I'm sorry, but I need to recharge my energy," setelahnya ia tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Annyeong,"
Ji-Ho terkekeh melihat wajah Nara yang masih diambang kesadaran. Gadis itu masih terlalu shock. Tanpa barkata apa-apa lagi, Ji-Ho mengacak rambut Nara pelan, lalu melangkah pergi.
Tapi baru saja beberapa langkah, Ji-Ho membalikkan badan. "Ainara! Bagaimana kalau besok kita pergi kencan?" teriaknya membuat Nara mengerjapkan mata dan kembali ke alam sadar.
"Besok?" Nara memicingkan mata. Posisi Ji-Ho sekarang yang disinari matahari terik membuatnya tidak fokus melihat. "Sepertinya lebih baik kau istirahat saja, kau pasti lelah,"
"Tenang saja. Schedule-ku hari ini berakhir sore. Aku bisa istirahat malamnya dan pergi kencan denganmu besok,"
Nara tidak menjawab. Ia masih merasa Ji-Ho butuh istirahat lebih.
"Kujemput besok ya, jam 8," Ji-Ho memfinalkan kata-katanya dengan melambaikan tangan dan berlari kecil menjauh pergi.
Ya sudahlah, kalau begitu besok jam 8. Nara mau tidak mau akhirnya menerima.
x-x-x