SIN

SIN
Perjalanan Durhaka: Hidup Abadi



"Sssst.....kamu tenang ya nak ya, ibu cuman mau hidup." Kata Ibunya mencoba menenangkan Gian.


Ibu Gian mendekat ke arah Gian, dia mengelus wajah anak satu-satunya itu, membelai rambutnya, lalu mencium pipinya. Wajah ibunya terlihat lelah, dari kantung matanya terlihat bahwa ibunya tidak tertidur dalam beberapa hari, rambutnya kasar dan kusut, bibirnya pecah-pecah, melihat Gian yang terikat, membuatnya merasa iba dan kasihan, tetapi dia meyakinkan dirinya untuk mengorbankan anak satu-satunya untuk sebuah ritual yang dia yakini, akan membuatnya hidup lebih lama.


"Maafkan ibu ya nak ya." Ujarnya sambil meneteskan air mata.


Ibu Gian lalu menyimpan smartphone di meja samping ranjang Gian. Sementara itu, Gian panik dan merasa ketakutan.


"Bu tolong lepaskan bu." Gian berkeringat, dan terus mencoba melepaskan ikatan di tangannya.


Ibunya mengambil sebuah pisau di atas meja yang sejak awal sudah dia persiapkan.


"Bu....sadar bu." Gian semakin panik.


Ibu Gian tidak merespon sama sekali perkataan dan permohonan anaknya itu, dia berjalan ke arah dinding, mengiris tangan kirinya, lalu menempelkan darahnya ke dinding yang bergambar lambang pentagram, Ibu Gian sedikit mengerang kesakitan. Setelah itu, dia mendekati Gian dengan tangan sedikit terluka dan tangan kanan menggenggam pisau, dia merobek lengan baju kanan Gian, memberikan tanda di dada kiri Gian yang terbaring, tepat di jantungnya berada, ibu Gian tersenyum lebar.


"Aaakh." Gian meringis kesakitan.


Gian memberontak, dia kemudian dengan cepat dan keras membenturkan kepalanya tepat ke hidung ibunya, ibu Gian terjatuh dari ranjang, hidungnya patah, darah menetes dan keluar dari hidungnya. Melihat itu, Gian berusaha bergerak menggigit ikatan di tangan kirinya, tangannya terlepas dari ikatan, begitupun juga dengan tangan kanan dan kedua kakinya. Gian langsung beranjak dari ranjangnya.


"Dasar anak sialan." Kata ibunya yang merasa kesal.


Ibunya Gian marah, dia menatap tajam Gian.


"Bu sudah bu, cukup." Ujar Gian yang merasa kasihan terhadap ibunya.


Gian berdiri di hadapan ibunya, mencoba menghentikan apa yang ingin di lakukan ibunya. Namun, Ibu Gian kemudian berlari ke arah Gian, dia ingin menusuk anaknya sendiri, tetapi Gian mendorong ibunya sekuat tenaga ke atas ranjang, membuang pisau yang di genggamnya, lalu menutup wajah ibunya dengan sebuah bantal.


"Aaaaaaaakh." Gian berteriak.


############################################################################################


Gian terbangun dari tidurnya, dia juga merasa telah melewati mimpi buruknya, dia merasa lega. Hari sudah pagi, dia mengambil tas ranselnya, lalu pergi ke arah pintu mesjid, Gian mencoba membuka pintu mesjid, tetapi pintunya tidak terbuka, dia mencobanya terus, tapi tetap tidak bisa terbuka, seolah-olah pintu tersebut terkunci, perasaannya tidak enak.


Tiba-tiba suasana berubah menjadi gelap, cahaya matahari yang tadi masuk dari luar mesjid, mendadap redup, Gian tak bisa melihat apapun. Gian mengambil smartphonenya dari dalam tas, dia menyalakan senter dari lampu smartphone kemudian melihat ke sekelilingnya, Gian terkejut.


Dia berada di dalam rumahnya di kamarnya sendiri, rumah yang sudah lima hari dia tinggalkan, padahal dia beberapa saat yang lalu berada di dalam mesjid. Gian merasa ketakutan, dia merinding, keringatnya mulai bercucuran, jantungnya berdebar-debar cepat, dia terus melihat ke sekelilingnya, dia merasa ada seseorang yang mengawasinya dan berada di dekatnya.


"Gian anakku." Ibunya berbicara dari belakangnya.


Gian perlahan menoleh, dia terkejut tak percaya melihat ibunya. Wajah ibunya sangat menakutkan, wajahnya hancur berantakan, hidungnya patah, satu matanya tertutup, sambil memegang pisau di tangan kanannya, dia menyeringai, menatap Gian. Sementara itu, Gian tak bergerak, tangannya gemetaran, dia hanya terpaku melihat ibunya melayang mendekatinya.


"I..i..ibu." Kata Gian tergagap.


Dengan cepat ibu Gian menusuk dada kiri Gian.


"Maafkan ibu ya nak." Ucap ibunya dengan terenyum sambil mengelus rambut Gian, anaknya.


Gian menangis, mulutnya perlahan mengeluarkan darah.


Tamat.