SIN

SIN
Night at The Cinema: Dendam



Jas hitam dan celananya terlihat rapih,rambut tersisir ke belakang, dengan ekspresi datar, Hendra berjalan keluar dari rumahnya. Supirnya membukakan Hendra pintu.


"Silahkan pak." Kata supirnya dengan tersenyum.


Tanpa merespon kembali perkataan supirnya, Hendra berjalan masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan elegan. Supirnya menutup kembali pintu mobil, smartphone di saku jasnya berbunyi, Hendra mengeluarkan smratphone kemudian menjawab telepon tersebut.


"Iya, ini sementara mau berangkat ke bioskop." Ucapnya, sambil melihat jam tangan di tangan kirinya.


Hendra berbicara dengan Raya, asistennya.


"Oke." Lajutnya.


Hendra menutup telepon dari Raya, lalu menyimpan kembali smartphonenya di dalam saku jasnya, sesaat setelah menutup telepon, mobilnya berjalan menuju bioskop, di dalam mobil, Hendra menenangkan dirinya. Beberapa menit kemudian, dia sampai di depan bioskop.


Ada banyak orang di depan bioskop menantinya, beberapa orang fansnya dan beberapa wartawan terlihat sangat antusias menunggu kedatangan Hendra. Dia mempersiapkan dirinya, di luar Raya sudah siap menyambutnya, supir membukakan pintu mobil, Hendra berjalan keluar dari mobil, Raya menghampirinya.


Beberapa fansnya berteriak memanggilnya, ada juga yang mencoba mendekati Hendra, tetapi supirnya menghalangi mereka, beberapa juga meminta tanda tangan Hendra, akan tetapi Raya menolaknya. Wajah Hendra memang terlihat tampan, untuk umur yang masih 25 tahun, membuat orang-orang sangat mengaguminya, bahkan ada yang tergila-gila terhadap Hendra Asraf.


"Cindy mana?" Tanya Hendra kepada Raya.


"Cindy ada di sana pak." Jawab Raya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Cindy yang berdiri di depan Studio.


"Oke."


Hendra kemudian berjalan menghampiri Cindy, dari belakang Raya mengikutinya. Sejak 10 menit yang lalu Cindy sudah berdiri di depan studio, menunggu Hendra, Cindy memakai gaun berwarna merah dengan warna high hills yang sama, make upnya tipis, serta rambut panjangnya yang terurai di sekitar pundaknya, membuatnya terlihat menarik di pandangan Hendra. Melalui agen atau asisten mereka masing-masing, mereka membuat janji untuk bertemu dan menonton bersama.


"Sorry ya agak telat." Kata Hendra di hadapan Cindy.


"Iya gapapa." Cindy tersenyum.


"Kalau begitu, ayo kita masuk." Ujar Hendra dengan tersenyum.


"Iya."


Hendra menggandeng tangan Cindy, mereka berdua berjalan bersama, dia sedikit malu. Cindy melambai kepada beberapa fans dan wartawan yang mengambil gambar mereka berdua, mereka berjalan masuk ke dalam studio di ikuti oleh asisten mereka dari belakang.


"Kita duduk di mana?" Tanya Cindy.


"Di tengah, yang tidak terlalu tinggi." Hendra menatap Cindy.


Mereka menghampiri kursi yang akan mereka tempati, dan duduk bersama berseblahan.


"Ada lagi yang anda butuhkan pak?" Raya bertanya kepada Hendra.


"Untuk sekarang tidak ada, nanti saya hubungi kalau ada kebutuhan lain." Jawab Hendra.


"Oke." Balas Raya.


Raya kemudian meninggalkan Hendra, berjalan keluar dari studio.


"Dek, nanti bawain kakak minuman ya, dan snacknya, biar kakak gak bosen." Kata Cindy kepada adiknya yang juga asistennya.


"Siap kak." Ucap adiknya yang juga keluar dari studio.


"Ini film kamu yang nanti rilis ya?" Tanya Cindy.


"Iya, minggu depan sudah rilis." Hendra menjawab dengan tatapan terus melihat ke layar.


"Oh, enak ya jadi bintang film, bayarannya pasti besar."


"Iya, tapi semuanya nanti tergantung ke penjualan tiket di bioskop kan, laku apa tidak."


"Oh begitu ya." Cindy melihat ke arah Hendra.


Tanpa sengaja Hendra pun berbalik melihat wajah Cindy juga, mereka saling bertatapan, Cindy tersipu malu lalu kembali melihat menonton film, Hendra sedikit tersenyum. Sambil menonton film, mereka mengobrol dan mengenal satu sama lain.


Beberapa menit berlalu, cerita dalam film sudah sampai di pertengahan, Cindy merasa ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil.


"Aku mau ke toilet dulu yaa." Kata Cindy yang langsung berdiri dari kursinya.


"Iya." Balas Hendra.


Cindy kemudian berjalan ke luar dari studio, di luar suasana terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa pegawai di luar menjaga, Cindy mencoba mencari asistennya, tetapi dia tidak melihatnya Akhirnya, dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi sendiri, di dalam kamar mandi dia juga tidak melihat seorang pun, Cindy masuk ke salah satu bilik toilet, membuka ****** ********, lalu duduk di atas kloset.


Tiba-tiba, terdengar suara perempuan menangis di bilik samping toilet Cindy. Perempuan menangis dengan suara cukup keras.


"Mba kenapa mba?" Cindy mencoba menenangkan perempuan tersebut.


Namun, perempuan itu tidak merespon perkataan Cindy. Perlahan-lahan suara tangisan lnya berhenti, Cindy merasa penasaran dengan perempuan tersebut.


"Mba??" Ucap Cindy.


Perempuan tersebut masih tidak menjawab pertanyaan Cindy. Terlihat kaki perempuan itu, dia mendekat ke depan pintu toilet tempat Cindy berada, perempuan itu langsung menggedor-gedor pintu toilet dengan keras, Cindy merasa kesal.


"Mba tolong jangan mengganggu ya." Cindy merasa kesal.


Tetapi perempuan itu tidak mau berhenti, Cindy marah, dia menyiram klosetnya, cebok, lalu memakai ****** ******** dengan cepat.


"Mba tau siapa saya ngga." Kata Cindy mencoba memperingatkan perempuan tersebut.


Cindy membuka pintu toilet. Dia kaget, Rini mantan pacar Hendra berdiri pas di hadapannya, Cindy tahu, karena semua informasi mengenai hubungan asmara Hendra, sering di beritakan dalam siaran gosip di televisi dan sosial media.


Wajah Rini memerah, dia tidak memakai jilbab, hanya memakai jaket hitam, dia terlihat sangat kesal, semua amarah dan dendam menguasai dirinya, Rini mengepalkan tangannya dengan melihat Cindy


"Ka....kamu kenapa di...di sini?" Kata Cindy dengan tergagap dan tak percaya melihat Rini.


Cindy ingin menelepon adiknya atau Hendra untuk meminta tolong, tetapi dia baru ingat, smartphonenya tertinggal di dalam tas, di dalam studio di samping Hendra. Rini tidak menjawab pertanyaan Cindy, dengan semua amarah di dalam dirinya, dan dengan sekuat tenaga, Rini mendorong Cindy.


Cindy terjatuh seketika, kepalanya terbentur keras dengan kloset, lehernya patah. Cindy tak bergerak, darah mengalir keluar dari kepala Cindy, Rini membunuhnya.


Tanpa rasa bersalah, Rini tersenyum, mengeluarkan smratphonenya dari saku jaket, memfoto Cindy, lalu mengirimkannya kepada Hendra yang berada di dalam studio.


"Hahaha......" Rini tertawa.