SIN

SIN
Family Gathering: Ritual



"BZ itu adalah singkatan." Kata Pak Tata yang tiba-tiba muncul di hadapan Bu Ratna, dia tersenyum melihat Bu Ratna.


Pak Tata berdiri dihadapan Bu Ratna, dia memakai kemeja hitam rapih, celana hitam, rambut kumis dan janggotnya terurai dengan rapih, ditambah wajahnya yang bersih, membuatnya terlihat sangat berwibawa, di belakang Pak Tata, Iin berdiri sambil memegang sebuah buku yang sejak kemarin di perhatikan Pak Bayu. Sementara itu Bu Ratna terkejut, dia sedikit tersenyum lalu perlahan mundur, Pak Bayu langsung maju menyapa Pak Tata.


“Assalamualaikum pak, selamat pagi.” Kata Pak Bayu mengulur kan tangannya bersalaman dengan bosnya itu.


“Selamat pagi juga Pak Bayu, ini istrinya ya pak?” Tanya Pak Tata sambil melihat ke arah Bu Ratna.


“Iya Pak.” Jawab Pak Bayu dengan sedikit segan.


Iin lalu memotong pembicaraan Pak Tata dan Pak Bayu dengan berisik ke telinga Pak Tata.


“Sebentar lagi kita akan berangkat, Pak Bayu silahkan menuju ke tempat parkir di belakang, semua orang sudah bersiap.” Ujar Iin.


“Selamat menikmati perjalanannya ya pak.” Kata Pak Tata dengan tersenyum.


Pak Bayu hanya mengangguk. Dengan wajah datar, dan tanpa ekspresi Iin kemudian mengantar Pak Bayu beserta istrinya, Bu Ratna ke tempat parkir di belakang gedung. Sambil berjalan Pak Bayu menggenggam erat tangan istrinya, dia menatap wajah istrinya itu dengan mata kasih sayang, Bu Ratna menatapnya balik dengan senyuman indah di wajahnya.


Beberapa langkah mereka berjalan, Pak Bayu melihat ke sekitar dan lingkungan kantor, dia sadar bahwa orang-orang tetap bekerja, Pak Bayu mulai mengingat bahwa yang ikut ke acara family gathering ini hanya yang kemarin berada di dalam ruangan rapat, dan di undang dalam acara tersebut.


Tetapi yang membuat perasaan Pak Bayu aneh, merasa ngeri dan merinding, adalah orang-orang di sekitarnya diam, menatapnya, meyeringai, seolah-olah Pak Bayu di sambut, dan dipilih untuk sesuatu hal, namun, dia tidak mengerti apa itu.


Mereka kemudian sampai di bus yang akan mereka naiki, Iin mempersilahkan Pak Bayu dan Bu Ratna untuk naik, terlihat Pak Anto berdiri di dekat pintu bus bersama dengan istrinya, Bu Ajeng. Melihat Pak Bayu yang baru saja datang, Pak Anto menghampirinya.


“Selamat datang Pak Bayu dan Bu Ratna.” Ucapnya dengan tersenyum.


“Iya.”


Pak Bayu dan Bu Ratna sedikit segan dengan mereka berdua. Pak Anto dan istrinya juga memakai baju berwarna hitam, membuat Pak Bayu merasa tidak enak, kenapa semua orang yang di jumpainya memakai baju hitam polos.


“Mohon maaf pak, ini pakaiannya harus hitam polos ya?” Pak Bayu memberanikan diri bertanya.


“Pak Bayu tidak dengar informasinya kemarin ya pak?” Pak Anto bertanya kembali.


“Hemmmm....iya saya tidak mendengar informasi mengenai pakaian yang harus di pakai hari ini pak.”


“Jadi untuk acara family gathering hari ini semua pegawai yang ikut harus memakai baju hitam polos, mungkin Pak Bayu lupa.”


“Hehe iya kadang memang bapak sering lupa.” Bu Ratna mencoba membenarkan perkataan Pak Anto.


Namun, Pak Bayu sendiri justru, mengingat dengan jelas, bahwa informasi yang dia dengar kemarin, saat rapat, tidak ada yang mengharus pegawai untuk memakai pakaian tertentu. Perasaan Pak Bayu semakin tidak enak, ada banyak pertanyaan dalam pikirannya yang sangat ingin dia ungkapkan, tetapi dia merasa sangat tidak enak juga kepada Pak Anto dan Pak Tata yang sudah memanggilnya.


“Wah Bu Ratna sudah siap-siap ya.” Bu Ajeng menyapa Bu Ratna.


“Iya bu, ini pertama kalinya saya ikut acara seperti ini, maklum.” Kata Bu Ratna dengan suara lembut dan sedikit segan.


“Oh santai aja bu.” Bu Ajeng mencoba menenangkan Bu Ratna.


Bu Ajeng tiba-tiba mengeluarkan dua kue lapis dari tasnya.


“Oh iya, ini bu ada sedikit cemilan, ya silahkan di makan bu sebelum naik.” Ujar Bu Ajeng sambil memberikan kue tersebut ke Bu Ratna dan Pak Bayu.


Pak Bayu dan Bu Ratna tampak kebingungan dan sedikit ragu.


“Silahkan pak di makan dulu sebelum naik, ini dari Pak Tata.” Pak Anto mencoba meyakinkan Pak Bayu.


Merasa tidak enak menolak permintaan Pak Anto dan Istrinya, Pak Bayu memakan kue tersebut, Bu Ratna juga, tanpa memikirkan alasan sebenarnya kenapa mereka di berikan kue tersebut. Melihat itu, Bu Ajeng tersenyum lebar, dia lalu mempersilahkan Pak Bayu dan Istrinya naik ke bus. Pak Bayu masuk kedalam bus di ikuti Bu Ratna dari belakang, Pak Bayu berhenti sejenak sambil melihat dan mencari kursi yang akan mereka tempat, terlihat tujuh orang pegawai yang sudah berada di dalam mobil duduk bersama dengan istrinya masing-masing, dan semuanya sama, mereka memakai pakaian berwarna hitam polos.


Semua pegawai tersenyum melihat Pak Bayu dan Istrinya, Pak Bayu hanya melihat kursi kosong di bagian belakang. Mereka berdua berjalan pelan menuju kursi kosong tersebut, tas ranselnya Pak Bayu simpan di sudut tempat duduk, dia lalu duduk dengan perasaan yang aneh.


“Bapak lupa ya soal pakaiannya?” Tanya Bu Ratna.


“Enggak bu, seingat bapak kemarin, pegawai tidak di haruskan pake baju hitam.” Pak Bayu mencoba meyakinkan istrinya.


“Iya iya, ya sudah.”


Perasaan Pak Bayu semakin tidak enak, dia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian yang sudah di alamnya, mulai dari lambang yang terus dia lihat kemarin sebelum rapat, pesan dari Pak Agus, sampai dengan dia dan masuk di dalam bus. Firasatnya mengatakan kalau dia seharusnya tidak ikut dalam acara ini, dan membatalkannya, tetapi ketika dia hendak berbicara kepada istrinya, dia merasa semakin mengantuk, pandangannya semakin lama semakin buram, tubuhnya terasa berat dan lemas, padahal bus belum bergerak, mereka belum berangkat, dia melihat ke arah istrinya di samping, Bu Ratna sudah tertidur.


Perlahan-lahan Pak Bayu memejamkan matanya, tiba-tiba dia melihat Pak Anto berada di depannya. Pak Anto tidak berbicara, dia hanya diam tanpa ekspresi, Pak Bayu mencoba melawan rasa kantuknya, tetapi tubuhnya merasa tak sanggup untuk di gerakkan, akhirnya Pak Bayu tertidur.


####################################


Saat itu Pak Bayu masih muda, dia bertemu dengan seseorang berambut panjang, rambutnya kusut tak beraturan, orang itu sudah tua, dengan gigi yang semuanya hitam, dia memakai baju hitam polos, dan sarung batik, di meja nya banyak sesajen dan bunga-bunga kembang, Pak Bayu membungkuk memberi salam, lalu duduk di hadapan orang tersebut.


“Kamu sudah ada foto dan rambutnya?” Kata orang itu.


“Iya ada mbah.”


Pak Bayu mengeluarkan foto Bu Ratna yang terlihatasih muda beserta rambut panjang.


“Ini mbah.” Pak Bayu menyimpan foto dan rambut itu di atas meja.


“Kamu sudah bisa pulang.” Kata orang tersebut dengan tatapan kosong.


“Iya mbah.”


Pak Bayu membungkuk kembali memberi salam, lalu keluar dari rumah orang tersebut.


####################################


Pak Anto membawa ember berisi darah kambing, lalu menyiram Pak Bayu di sekujur tubuhnya. Pak Bayu perlahan-lahan sadar dan terbangun dari tidurnya, dia baru saja bermimpi tentang apa yang sudah dia lakukan di masa lalu, dosa yang tidak ingin dia lakukan kembali, tetapi dia sendiri tidak menyesali perbuatannya, yaitu mem-pelet Bu Ratna, orang yang sudah menjadi istrinya saat ini.


Kepalanya sedikit terasa sakit, pelan-pelan dia membuka mata, penglihatannya yang kabur sedikit-sedikit mulai terlihat jelas. Hidunganya mencium aroma bau yang sangat busuk, Pak Bayu sadar, dia terduduk dia atas kursi dengan kaki dan tangan terikat, dia mencoba membuka ikatan di tangannya, tapi tidak bisa, dia melihat Pak Anto duduk di hadapannya.


“Selamat malam Pak Bayu.” Kata Pak Anto sambil tersenyum lebar.


Pak Bayu terkejut, ekspresi Pak Anto benar-benar mengerikan. Berbeda dengan Pak Anto yang pertama kali di temuinya saat ke kota, Pak Anto yang baik dan murah senyum berubah seratus delapan puluh derajat. Dia meyeringai, dengan mata molotot menatap Pak Bayu, darah segar menetes dari giginya, memenuhi sekitar mulutnya, dan badannya, Pak Anto seperti sudah memakan sesuatu. Pak Bayu masih sedikit merasa pusing.


“Daging istri mu benar-benar enak.” Pak Anto menjilat tangannya.


Mendengar itu, Pak Bayu menatap tajam Pak Anto.


“Istri ku mana?” Pak Bayu marah.


“Hahaha......” Pak Anto tertawa keras.


“Saya sudah sering melakukan ini, tapi kali ini saya sangat menikmatinya, iblis beezelbub pasti puas.” Lanjutnya.


Pak Bayu merasa geram, dia mencoba memberontak.


“Anto, Ratna di mana??”


“Sssst....sebentar lagi, giliran mu.”


Pak Anto kemudian berjalan menuju pintu, lalu keluar dari tempat tersebut. Pak Bayu mencoba melihat ke sekelilingnya, dia melihat banyak rumput kering, tai kambing, suasana yang gelap, penerangan hanya ada lilin di sudut ruangan, membuat Pak Bayu sadar, hari sudah mulai menjelang malam, sampai akhirnya Pak Bayu tanpa sengaja melihat ke sebelah kiri, di sampingnya ada ransel yang sejak awal dia bawa. Dia ingat, menyimpan pemberian temannya, Pak Agus, kantong plastik di dalam Ransel tersebut.


Pak Bayu langsung menjatuhkan dirinya ke samping kiri di tempat ranselnya berada, pelan-pelan dia menggerakkan badannya, tangannya yang masih terikat memegang resleting ransel, membukanya dengan cepat lalu menarik keluar kantong plastik hitam. Dia membuka, kemudian menarik keluar sebuah pisau lipat dan pistol hitam, dia masih sedikit tidak percaya dengan perkataan Pak Agus yang ternyata punya maksud tertentu. Pak Bayu melepas ikatan tali di tangan dan kakinya dengan pisau, dia mengokang pistolnya, dan langsung berlari ke pintu, membuka pintu tersebut dengan cepat.


Pak Anto yang berada di luar sejak tadi terkejut, dia langsung berlari ke arah Pak Bayu, mencoba menyergapnya. Namun, dengan sigap Pak Bayu menembak Pak Anto di dadanya. Pak Anto jatuh tergeletak, belum puas, Pak Bayu melangkah menghampiri Pak Anto, dadanya mengeluarkan darah, tapi dia masih tersenyum, akhirnya Pak Bayu menembak kepalanya.


Suara tembakan membuat orang-orang berdatangan menghampiri Pak Bayu, Pak Bayu menembak tiga orang di hadapannya dengan cepat, dari belakang Bu Ajeng berteriak, berlari, lalu melompat ke arah Pak Bayu yang membuatnya jatuh tergeletak, pistolnya terlempar. Rasa amarah menguasai Bu Ajeng, matanya melotot, mulutnya penuh darah, dia menduduki badan Pak Bayu, lalu mencekiknya dengan erat.


“Berengsek kau.” Ucapnya sambil terus mencekik Pak Bayu.


Pak Bayu memberontak, mencoba melawan, tetapi Bu Ajeng mencengkram lehernya dengan sekuat tenaga. Wajah Pak Bayu mulai memerah, dia mulai sulit bernapas, kesadarannya mulai menurun.


“Mati kau bangsaaat!!” Bu Ajeng berteriak.


Pak Bayu kemudian mengeluarkan pisau dari saku celananya, menusuk leher Bu Ajeng dua kali dengan tangan kanan, lalu mendorong Bu Ajeng jatuh terkapar. Pak Bayu memaksa Bu Ajeng untuk berbicara.


“Ratna di mana? Istriku mana??” Kata Pak Bayu sambil memegang pundak Bu Ajeng.


Namun, Bu Ajeng sulit bernapas, darah mengalir keluar dari mulut dan bekas tusukan di leher, dia terus memegang lehernya yang terasa sangat sakit sambil meronta-meronta. Perlahan-lahan napas Bu Ajeng melambat, dan akhirnya dia tak bergerak, Bu Ajeng mati di tangan Pak Bayu.


Pak Bayu terdiam, dia kemudian berjalan mencari-cari Bu Ratna, istrinya. Badan yang terasa berat karena kelelahan, keringat dan darah bercampur, menempel menyatu dengan tubuhnya, tetapi Pak Bayu tetap memaksa dirinya. Dia sampai di sebuah tanah lapang yang luas, obor mengelilingi tempat tersebut membentuk lingkaran, di tengahnya Bu Ratna terikat di sebuah batang kayu yang besar, di atas batang kayu itu, terdapat sebuah lambang yang sudah di kenali Pak Bayu, terdapat empat orang memakai baju berwarna hitam dan topeng, mereka duduk berada di sekeliling Bu Ratna, membelakangi Pak Bayu memakan sesuatu.


Pak Bayu berjalan perlahan mendekati orang-orang itu, dia terkejut, menyaksikan istrinya tercinta, menunduk dan diikat dengan badan penuh darah, perut terkoyak, usus dan beserta organ tubuh lainnya keluar dari badannya, dimakan oleh orang-orang tersebut. Pak Bayu menangis, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Aaaaakh tidaaak!!” Teriak Pak Bayu sambil berlutut dan menangis melihat Bu Ratna tak bernyawa.


Mendengar suara teriakan Pak Bayu, orang-orang berbalik menatap ke arah Pak Bayu sambil mengenakan topeng, Pak Tata membuka topengnya, menyuruh tiga orang anggotanya menangkap Pak Bayu. Namun, Pak Bayu dengan cepat berlari sekuat tenaga dengan pisau di tangan kanannya, berlari ke arah hutan.


Suasana hutan sangat gelap, hanya sinar bulan yang menerangi hutan dari atas, suara binatang terdengar di sekeliling hutan, malam semakin larut, rasa lelah tidak menghalangi Pak Bayu terus memaksa kakinya untuk bergerak, berlari di hutan. Dari kejauhan tiga orang terus mengejar Pak Bayu, sampai beberapa saat kemudian Pak Bayu menembus hutan, menemukan jalan raya, dia mengikuti jalan tersebut sambil berharap kendaraan lewat dan menolongnya. Harapannya tidak sia-sia, lima menit kemudian dia melihat lampu terang dari sebuah mobil, yang membuatnya merasa lega dan berhenti berlari, mobil tersebut mendekat dan menghampiri Pak Bayu.


Pak Bayu mengetuk-ngetik pintu kaca, orang dari dalam mobil membuka pintu kaca mobil dengan perlahan, Pak Bayu kaget, dia melihat Pak Agus, temannya, yang dia temui sebelum berangkat. Tanpa basa basi, tanpa berkata apa-apa Pak Agus menembak bahu kanan Pak Bayu.


“Aaaaakh!!” Pak Bayu meringis kesakitan.


Pak Agus kemudian keluar dari mobilnya, dia mengenakan baju hitam, dan tanpa ekspresi dia kembali menembak kedua kaki Pak Bayu.


“Aaaaakh!!” Pak Bayu kembali berteriak.


Pak Bayu mencoba merangkak.


“Tolong gus, aku mohon.... “Kata Pak Bayu memohon.


Pak Agus tidak merespon perkataan Pak Bayu, dia kemudian menelepon Pak Tata.


“Saya sudah menemukannya, bisakah saya kembali menjadi pengikut anda.” Ucapnya.


Setelah berbicara dengan Pak Tata, Pak Agus mengangkat Pak Bayu masuk ke dalam mobil, lalu membawanya kembali kehadapan Pak Tata untuk jadi tumbal dalam sebuah ritual.