
Setelah menghabiskan satu mangkok bakso hingga tak tersisa dan meminum jus jeruk hingga tandas, Aletha mengeluarkan dahak yang membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Cewek ga boleh dahak, jaga sikap." Kerus Arkan.
"Iya-iya maaf, ya udah gue ma bayar dulu." Ucap Aletha.
Aletha lau beranjak dari duduknya namun langkahnya terhenti saat ada yang menarik pergelangan tanganya, Aletha menoleh ke arah belakang dan ternyata Arkan yang memegang tanganya tadi. "Kenapa? tenang ar, gue pergi ga lama kok. cuman kesana, ga bakal buat lu rindu ke gue kok." Ucap Aletha dengan percaya diri.
"Gila lu tambah parah? orang gue mau bilang kalau gue,,"
"Kalau gue jatuh sama lu, Udah lah Ar, ngaku ajah. Tenang, gue terima."
"Lu kayaknya harus di bawa ke rumah sakit jiwa deh, gila lu tambah parah. Gue ajah yang bayar makananya,"
Arkan berdiri menuju pelayan kantin membayar semua yang makanan yang tadi ia pesan. Setelah selesai membayar, Arkan lebih memilih meninggalkan Aletha tanpa sepengatahuanya. kalau tidak, Arkan harus menghabiskan waktu istirahatnya bersama cewek yang sekarang mendapatkan gelar Queen halu. Arkan berjalan luru menuju tangga, menaiki puluhan anak tangga menuju kelasnya.
﹉﹉﹉
kring..kring..kring..
Bel berbunyi menandakan waktu belajar mereka telah selesai, semua siswa merapihkan bukunya ke dalam tas dan lalu berpamitan kepada guru. Arkan saat ini berjalan berdua dengan Vino, berjalan melewati koridor sekolah, dan lalu menuruni puluhan anak tangga dan kembali berjalan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran Arkan mendapati Aletha yang sedang bersandar di atas motor ninja hitam miliknya.
"Berapa kali sih gue harus jelasin? kalau ga ada yang namanya cewek duduk di atas motor gue!" Ucap Arkan yang sudah kesal dengan Aletha yang masih saja menduduki motornya.
"Ouh, Hai pacar!" Sapa Aletha sambil melambaikan tanganya.
"Hai Aletha!" balas Vino.
"Idih geer lo! orang gue nyapa Arkan, bukan lo!" Ucap Aletha sambil menatap Vino secara sinis.
"Tuh Ar, di sapa sama cewek cantik." Ucap Vino sembari menyenggol bahu Arkan.
"Ada 3 hal yang harus gue bilang ke lo, pertama jangan duduk di atas motor gue, dan yang kedua gue bukan pacar lo, dan yang terakhir lo jangan halu kalau gue yang bantuin lu pas mabuk."
"Ihh, Aa Arkan kok galak?"
"Aletha, mending lu pergi sebelum gue marah besar ke lu."
"Iya-iya, gue pergi. bye pacar!"
Dengan menghembuskan napas panjang Aletha pergi meninggalkan Arkan dan Vino di parkiran. Mendengar perkataan tersebut Arkan menggelengkan kepala, Sudah tidak habis pikir dengan otak cewek tersebut.
"Ar, beruntung jadi lu. bisa deket sama Aletha,"
"Beruntung kata lo? menurut gue kedatangan dia gak ada beruntunganya, yang ada hidup gue sial. Udah dari pada kita ngomongin cewek gila itu, mending kita cabut."
Setelah pulang sekolah Aletha membaringlan badanya di atas kasur manatap lampu yang ada di atasnya, pandanganya teralih saat handpone yang dia genggam berdering menampilkan notifikasi WA dari Alice. Aletha menggeser-geser layar dan memencet menu WA, membalas WA dari Alice.
Alice:
Aletta, gue sama Aghata kayanya pulang agak malaman soalnya ada urusan.
Me:
Hmm, Ya udah ga papa.
Alice:
Lu kalau mau makan, ambil ajah di kulkas.
Me:
Oke, otw gue habisin.
Alice:
Gue sih oke-oke ajah kalau lu ngabisin makanan di kulkas, lagi pula itu kan kamarnya Aghata. Tapi lu harus ingat jaga badan, lu gak mau gendut kan?
Me:
Gak, iya udah gue makanya dikit doang
Setelah tidak ada lagi notifikasi chat dari Alice, Aletha beranjak dari kasur berjalan menuju dapur. Seampainya di dapur Aletha membuka lemari dingin yang di penuhi banyak makanan ringan dan juga minuman bersoda. Aletha mengambil satu snack kentang dan minuman bersoda bermerek coca-cola, dan Aletha kembali berjalan ke kamar.
Aletha mulai menikmati snack yang dia makan dan minuman, pandangan Aletha teralih pada benda berbentuk panjang berwarna hitam yang terdapat di meja sebelah kasur. Aletha meraih benda yang tak jauh dari kasur, dan setelah berusaha meraih Aletha berhasil mengambil tersebut dan setelah itu dia tekan tombol berwarna merah dan televisi pada akhirnya menyala. Aletha mencari channel yang saat ini sedang mengadakan acara yang bisa menghibur kondisinya yang sekarang kesepian. Walau pada akhirnya Aletha hanya membiarkan televisi menyala agar mengisi kesunyian, Aletha beranjak dai tempat tidur membuka hordeng agar terang. Dan saat hordeng dibuka Aletha melihat pemandangan dari lantai 12, Aletha melihat bayak sekali ratusan kendaraan yang melintas di jalanan.
Jam menunjukkan pukul 17.00, Waktu dimana saat ini Aletha sedang bosan tidak ada yang ingin dia kerjakan. Aletha meraih handponenya yang terletak di atas meja, Aletha membuka handponenya dan menampilkan notifikasi WA. Aletha membuka satu-satu, hingga menemukan satu pesan.
+6289654327841
Hai, Aletha.
Save back gue Vino
anak XII-IPA-2
Sahabatnya Arkan.
Seketika mendapatkan pesan dari Vino, membuat Aletha membulatkan matanya. Aletha mulai membalas chat Vino
Me:
Hmm, iya.
nanti gue save, tapi...
+6289654327841
Gue gak mimpikan bisa di bales sama Aletha?
Iya let, tapi kenapa?
Me:
Iyyu, Alay lo!
Lu harus kasih nomor Arkan ke gue! gak pake lama! cepetan kirim!
+6289654327841
Me:
OMG! Lu ngesave nonya namanya itu? Alay!
+6289654327841
Iyah nanti gue ganti
ouh ya, janagn lupa save ya nomor gue.
Me:
Ogah!
+6289654327841
Lah kok lu gitu sih let?
kan lu udah janji?
Me:
Hmm, jangan ngarep makanya di save sama gue.
Aletha menyudahi pembicaraanya dengan Vino, Aletha lalu mengeklik tombol blokir. Setelah itu Aletha mengesave nomor Arkan dengan nama 'My husband❤', Dan Aletha melihat foto profil Arkan dan mendapati foto Arkan yang masih bayi.
"Dari dulu emang udah ganteng." ucapnya sembari melengkungkan senyum.
Jari Aletha perlahan mengetik kata demi kata yang ingin dia kirim ke Arkan.
Me:
Arkan, gue Aletha. temenin gue ngemall yuk, please! soalnya gue dari taadi sendirian di apartemen, Aghata sama Alice lagi pergi. gue takut sendirian.
My husband ❤:
Hmm, lu dapet nomor gue dari mana?
Me:
Gue dapet dengan sendiri, please Arkan gue takut sendirian. ouh ya ini malam jumat bukan? terus gue takut nanti tiba-tiba bel bunyi dan padhal gak ada siapa-siapa,,ahhh Arkan jemput gue.....
Kalau lu ga mau gue aduin! gue sebar rahasia lo
My husband ❤:
Hm, ya udah gue berangkat lu tunggu di lobby.
Aletha masih tidak menyangka Arkan mengiyakan ajakanya, memukul-mukul pipinya siapa tahu ini hanya mimpi dari tidur sorenya.
"Aww... Ini gak mimpi! Yes!" Seru Aletha setelah tahu ini sebenarnya nyata, Aletha langsung meloncat-loncat kegirang di atas kasur.
Setelah lelah Aletha turun dari atas kasur, mengambil bajunya yang sengaja dia tinggal di apartemen Aghata. Aletha memilih kaos putih dan rok berwarna hitam, setelah itu Aletha menguncir rambutnya bermodel ala Ariana grande Aletha juga tidak lupa menggunakan olesan lipstick berwarna merah di bibirnya dan blushn on berwarna peach, setelah semuanya selesai Aletha mengambil high heels putih di rak sepatu. Dan perlahan kaki mungilnya, masuk ke dalam high heels. Aletha juga tidak lupa mengambil tas berlogo Chanel dan kaca mata berbentuk bulat.
Tak lama kemudian Aletha keluar dan mengunci kamarnya, melangkahkan kakinya yang di balut dengan high heels menuju lift. Dan pada akhirnya pintu lift terbuka Alerha mengeklik tombol 'Lobby', dengan kecepatan lift membawa Aletha ke lobby.
Aletha berjalan dan benar dia sudah menemukan sosok Arkan yang sibuk menatap layar ponselnya. Aletha mempercepat jalanya untuk menghampiri Arkan. "Hai pacar!"
"Harus berapa kali sih gue bilang? kalau kita ga pacaran?!"
"Ihh.. gue manggil lu dengan sebutan pacar, maksud gue biar akrab."
"Tapi dengan sebutan akrab lu, gue malah jijik!"
"Ya udah maaf,"
"Lu ke mall pake high heels setinggi itu?"
Aletha mengangguk
Arkan hanya menggelengkan kepala dengan menundukkan kepalanya kebawah melihat high heels Aletha, apakah Aletha tidak takut keseleo? Halah sudah tak usah peduli Arkan, dia keseleo juga bagus biar ga masuk sekolah dan hidup lu ga bakal di ganggu lagi sama cewek murahan itu.
"Arkan, buruan berangkat!"
Arkan lalu berjalan keluar apartemen, dan berjalan menuju parkiran sebelumnya Arkan sudah menyuruh Aletha menunggu di depan. Tak lama kemudian mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Aletha sambil membunyikan klakson mobil. Aletha langsung membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam mobil. sesampainya di dalam Aletha, memasangkan sabuk pengaman. Dan perlahan Arkan mengemudikan mobil dengan kecepatan standar.
"Arkan, kita ke mall deket sini ajah."
"Hmm,"
"Arkan,"
"Apa lagi?"
"Nanti lu temenin gue beli baju yah, mau yah?"
"Hmm,"
"Ga ada kata apa selain 'Hmm'?"
"Pikirin dulu tuh pakaian lu."
"Kenapa dengan pakaian gue?"
"Lu yakin ke mall pake rok pendek banget? bahaya let buat lu."
"Cieee, perhatian!"
"Seterah, kalau lu di godain sama om-om gue angkat tangan."
"Iya udah, nanti gue beli celana jeans panjang."
Aletha mengarahkan pandangan ke jendela, dia sedikit kesal kepada Arkan entah kenapa setiap penampilanya selalu di protes. Apakah baju ini terlalu jelek? Ahhhh entahlah.