
Hendra dan Rini, mereka berdua duduk di atas sebuah gedung restoran berkelas, menikmati makan malamnya bersama. Rini tersenyum, dia sangat senang dengan apa yang di lakukan oleh Hendra kekasihnya itu. Jilbabnya yang berwarna putih, wajahnya yang glowing, Rini sangat bahagia, sesekali gingsul pipinya terlihat saat tersenyum melihat Hendra, membuat wajahnya semakin manis, Rini menikmati makanannya di atas meja. Akan tetapi ekspresi Hendra terlihat sangat datar.
"Rin, aku mau putus." Hendra menatap Rini.
"Putus??" Rini merasa bingung.
"Iya sorry ya." Kata Hendra yang kemudian meminum minumannya.
Rin terdiam, dia merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan kekasihnya tersebut.
"Aku sadar kita gak bisa sama-sama terus, ini gak bagus untuk karir aku." Lanjut Hendra.
"Tapi kita sudah pacaran hampir dua tahun, dan kamu bilang begitu seenaknya." Rini merasa kesal.
Hendra menyentuh tangan Rini, mencoba menenangkannya.
"Sorry ya Rin." Ucapnya.
Rini menarik tangannya.
"Ini drama apa lagi sih Ndra, kamu tau kan, kamu sudah aku kenalkan ke orang tua, terus kamu tega-teganya bilang begitu ke aku, kamu kurang ajar Ndra."
"Aku? Kurang Ajar? Kamu tau kan aku ini artis Rin, aku kerja di bidang entertainment, kalau kita sama-sama terus, karir aku gak akan berkembang, kamu terlalu terlalu introvert Rin, sementara aku butuh uang, semua yang sudah aku lakukan juga sampai saat ini untuk kamu." Hendra mulai marah, nada bicaranya mulai meninggi.
"Kita atau cuman untuk kamu?" Rini bertanya.
Hendra diam, dia membuang wajahnya dari tatapan Rini.
"Aku gak suka kita kemana-mana ada yang foto kita, aku juga butuh privacy Ndra, aku gak peduli dengan popularitas." Lanjut Rini, perlahan kedua matanya berkaca-kaca.
"Aku peduli Rin." Hendra menatap Rini.
Rini diam, suasana yang tadinya sangat menyenangkan bagi Rini, berubah menjadi hening, sunyi, Hendra juga duduk, dan melihat makanan di hadapannya.
"Aku harap kamu mengerti Rin." Hendra melanjutkan ucapannya.
Rini perlahan mengeluarkan air matanya yang sejak tadi dia tahan.
"Jadi bagitu, aku sudah temani kamu selama satu tahun lebih dari yang kamu dulu bukan apa-apa, sampai sekarang kamu jadi seperti sekarang ini....kamu....kamu....berengsek Hendra." Kata Rini sambil menghapus air mata di pipinya.
Hendra tidak merespon perkataan Rini, dia mengambil smartphone di saku celananya, lalu mengirim pesan kepada seseorang. Sementara itu, Rini kesal karena Hendra tidak mempedulikannya.
"Hendra jawab?!! Ujar Rini.
Hendra berdiri dari kursinya.
"Kamu mau apa lagi Rin? Aku sudah bilang, aku mau putus." Hendra membentak Rini, dengan mata menatap tajam Rini.
Rini kaget, dia menangis, kemudian menutupi wajahnya. Hendra merapikan kemeja dan jasnya, duduk kembali di hadapan Rini, dan meminum air putih yang tersedia di atas meja.
"Aku sudah rencanakan ini lama Rin, tapi aku masih merasa tidak enak." Ucap Hendra dengan suara pelan.
Dia menyimpan gelas kosong di atas meja.
"Mungkin ini berat bagimu Rin, tapi tolong, suatu saat lupakan lah, terserah kamu mau membenciku, kamu berhak marah." lanjutnya.
Rini masih menangis, suara tangisannya membuat Hendra tidak tega untuk berbicara lagi. beberapa saat kemudian, dua orang security datang menghampiri mereka berdua. Hendra memberikan kode ke dua orang tersebut.
"Mohon maaf mba, anda harus keluar." Kata salah seorang security itu.
Rini menyadari hal tersebut.
"Kamu mau ngusir aku?" Tanya Rini kepada Hendra.
Hendra tidak menjawab, dia melanjutkan memakan makanannya yang ada diatas meja dan mengabaikan semua perkataan Rini.
Rini tidak terima dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tetapi dua orang security menghalangi Rini, mereka memegang lengan Rini, menahannya, Rini mencoba melawan, mengeluarkan barang yang ada di dalam tasnya, mencoba memperlihatkanya kepada Hendra, namun, dia tidak bisa.
"Lepaskan!!" Rini melawan.
Dua security tersebut kemudian menyeret dan memaksa Rini, membawanya pergi dari hadapan Hendra.
"Lepaskan!!" Rini berteriak.
Sampai akhirnya suara teriakannya memudar, menghilang dari pendengaran Hendra. Seorang perempuan kamudian datang menghampiri Hendra, dia adalah agen dari Hendra, semua jadwal pertemuan, kesepakatan bisanis, apapun yang Hendra butuhkan, di atur oleh perempuan itu, namanya Raya.
"Urusan dengan Rini sudah selesai, selanjutnya apa Raya?" Tanya Hendra.
"Hari ini sudah cukup pak." Jawab Raya.
Rambut yang pendek, kacamata minus yang sesekali dia benarkan di wajahnya, Raya berdiri di belakang Hendra sambil memegang sebuah tablet.
"Besok kita ada janji nonton bioskop dengan Intan, artis cantik pendatang baru dalam sintetron, dia juga seorang selebgram dan artis tik tok." Lanjutnya.
"Oh iya, ini bagus untuk karir saya." Kata Hendra sambil meminum air putih.
"Iya, saya sudah atur semuanya, seromantis mungkin, satu studio sudah saya boking,vsupaya anda bisa berdua menonton bersama Intan, ini juga bagus untuk memperkenalkan hubungan anda dengan orang-orang." Raya melihat tablet.
"Iya, oke kalau begitu saya mau istarahat pulang, besok konfirmasi ke saya ya." Ujar Hendra.
"Iya pak, sopir sudah menunggu anda di depan restoran." Balas Raya.
"Oke." Hendra berdiri dari kursinya.
Hendra kemudian berjalan keluar dari restoran tersebut, di temani dengan Raya, asistennya dari belakang. Dia menaiki sebuah mobil mewah, lalu beristirahat di rumahnya sendiri.
Hendra merupakan seorang artis baru, berkat kerja kerasnya mengikuti beberapa audisi dalam sinetron, orang-orang pun akhirnya mulai mengeal dia, Hendra Asraf. Dia juga merupakan seorang aktor serba bisa, Hendra sempat beberapa kali akting dalam film box office, sehingga tidak ada seorang pun yang tidak mengenalnya. Meskipun sekarang dia sukses, tetapi sifatnya semakin sombong, membuat beberapa orang terdekatnya membencinya, karena perilakunya yang terkadang semena-mena, termasuk dengan Rini, yang dari dulu telah menemaninya, sejak dia belum menjadi apa-apa.