SIN

SIN
Jangan Buang Makanan



Ian, seorang anak berumur 12 tahun yang baru seminggu menikmati hari-harinya sebagai murid baru SMP di sekolah negeri. Tiap hari dia berangkat ke sekolah, di antar oleh ayahnya menaiki sebuah mobil lalu pulang menaiki kendaraan umum dan sampai di rumahnya.


Sebelum ke sekolah, ibunya selalu membuatkan makanan yang kemudian dia bawa sebagai bekal di sekolah, tetapi dia tidak merasa senang akan hal itu, karena dia merasa malu diantara teman-temannya yang lain, hanya dia yang membawa bekal ke sekolah, meskipun sejak SD dia sudah terbiasa, namun, berbeda dengan di sekolahnya kali ini. Teman-temannya lebih suka makanan di kantin sekolah, akibatnya terkadang dia di bully, di ejek, dan dianggap culun oleh beberapa orang di kelasnya, belum lagi Ian adalah orang yang pemalu dan suka menyendiri, dia belum mendapatkan teman sama sekali sejak dia di terima di sekolah tersebut.


Terkadang Ian memakan bekalnya saat jam istirahat sekolah, sambil menahan malu dan tawa dari orang-orang di kelasnya. Namun, Ian tidak pernah menghabiskan bekalnya, setelah pulang ke sekolah, sebelum masuk ke dalam rumah, sisa-sisa makanan dari bekalnya dia masukkan ke dalam kantong plastik hitam di tempat sampah depan rumahnya selama satu minggu.


Padahal sejak kecil dia sering di beritahu oleh ibu dan ayahnya untuk tidak membuang-buang makanan, tidak mubazir, menghargai makanan. Tetapi dia mengabaikannya akhir akhir ini, sampai suatu saat, Ian pulang sekolah, sebelum masuk ke rumah, seperti biasa dia membuang ke tempat sampah semua sisa-sisa makanannya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan santai.


“Assalamu alaikum.” Ucapnya sambil membuka sepatunya.


Dia berjalan mencari ibunya di dapur, tetapi dia tidak menemukannya. Tiba-tiba dia mendengar suara pintu terbuka.


“Assalamu alaikum, Iaaan.” Kata ibunya yang langsung berjalan masuk ke ruang tamu.


“Iye bu.” Ian menghampiri ibunya.


“Kamu kenapa buang-buang makanan?” Tanya ibunya yang merasa kesal.


Ian tidak menjawab, dia terdiam, keringatnya mulai keluar, tatapannya menghadap ke bawah.


“Kamu kalau tidak suka atau kalau tidak suka di kasih habis, bilang ke ibu.”


Wajah ibunya memerah, nada suaranya semakin keras, dia menatap tajam anaknya itu dengan rasa kekecewaan yang tinggi.


“Ibu dari rumah Bu Tini didepan, liat kamu buang makanan kamu di tempat sampah, ibu kecewa sama kamu, capek-capek ibu bikin bekal kamu tiap pagi, malah kamu buang.” Lanjutnya.


Ian hanya berdiri dan masih tidak merespon, dia tahu bahwa apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang salah. Ibu Ian akhirnya berjalan ke dapur, mencuci wajahnya yang sedikit basah karena air matanya, meninggalkan Ian di ruang tamu sendiri.


Malam itu suasana di dalam rumah Ian menjadi hening, ibunya yang biasa cerewet jadi terlihat agak pendiam, Ayah Ian akhirnya pulang ke rumah, setelah dia tahu bahwa Ian membuang makanan dari istrinya, dia sangat marah, tetapi dia mencoba menahan amarahnya, di meja makan, setelah makan malam selesai, bapak Ian mencoba menenangkan istrinya.


"Sudah lah bu, mungkin Ian sudah tidak mau bawa bekal lagi ke sekolahnya." Ucapnya.


Istrinya hanya mengangguk sedikit, dia tidak merespon perkataan suaminya itu, dia kemudian berdiri dari tempat duduk ya, membereskan meja makan, membawa piring ke dapur, lalu mencucinya di wastafel.


Bapak Ian kemudian memperingatkan anaknya, Ian untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kembali.


"Ian jangan di ulang lagi ya, kalau tidak mau bawa bekal bilang ke ibu atau bapak, jangan di buang makanannya, kasihan ibu tiap pagi capek-capek bikin makanan tiap pagi untuk kita." Katanya dengan suara halus.


"Iya pak." Balas Ian sambil mengangguk.


"Nanti minta maaf sama ibu ya."


"Iya."


Mengingat wajah ibunya yang memarahi dirinya dengan suara keras, membuat Ian sedikit masih tidak bisa menerima perlakuan ibunya, walaupun dia merasa bersalah, tetapi dia sendiri merasa tidak pantas untuk menerima di bentak. Ian kemudian berjalan masuk ke kamarnya di lantai dua, dan berbaring di ranjangnya, beberapa menit kemudian dia tertidur.


Tengah malam, Ian terbangun di jam satu dini hari, perasaannya tidak enak, dia merasa tidak tenang mendengar suara perempuan menangis. Awalnya dia mengira itu adalah suara tangisan ibunya, dia berjalan turun dari kamar menuju kamar orang tuanya, namun, suara tersebut ternyata bukan dari kamar orang tuanya, tapi dari luar rumah.


Perlahan-lahan dia membuka gorden, mengintip dari jendela rumah, tetapi dia tidak melihat siapa pun di depan rumahnya, suara itu kembali terdengar dan semakin keras. Aneh, kenapa bapak dan ibunya tidak terbangun mendengar suara itu, atau apakah hanya Ian yang bisa mendengar suara tersebut, dia terus bertanya dalam batin.


Di luar suasana sangat gelap, sunyi, hanya satu lampu jalan yang menyala di depan rumah mereka, di bawah lampu jalan tersebut terdapat tempat sampah berwarna hijau yang tertutup. Semakin malam, perasaan Ian semakin tidak enak, tetapi rasa ingin tahunya semakin besar, meskipun dia merasa sedikit merinding, Ian memberanikan diri untuk keluar dari rumah.


Ian kemudian mengambil kunci rumah, membuka pintu pelan-pelan, lalu berjalan keluar dengan pelan mendekati arah suara. Dia menelan ludah, rasa ngantuknya berubah dengan rasa ketakutan yang tinggi, keringatnya mulai keluar, suara yang terdengar mulai perlahan mengecil di telinganya, suara tersebut terdengar dari arah tempat sampah.


Ian mendekat ke tempat sampah yang tertutup rapat, Ian mulai merasa merinding di bulu kuduknya, dia juga memperhatikan sekitarnya, tidak ada siapapun, hanya ada dirinya sendiri yang berdiri di gelapnya malam. Pelan-pelan tangannya menyentuh tutup sampah, jantungnya berdebar-debar kencang, napasnya tidak beraturan, Ian kemudian langsung membuka tutup sampah itu dengan cepat.


Tidak ada apa-apa di dalam tempat sampah tersebut, suara tangisan yang sejak tadi dia dengar juga sudah tidak terdengar lagi. Ian kembali menutup tempat sampah itu. Tiba-tiba, sabuah bayangan besar muncul di belakang Ian menutupi bayangannya, bulu kuduk Ian kembali merinding, dadanya terasa sesak, keringatnya mulai bercucuran, sesuatu sedang berdiri di belakangnya, Ian perlahan membalikkan badannya.


Ian terkejut, sosok itu berdiri memakai baju putih, dengan tubuh yang tinggi, rambut gondrong dan kusut, mata merah, lidahnya panjang menjulur sampai di perutnya, dan gigi yang tajam, dia menatap tajam Ian yang sangat ketakutan. Sosok itu sangat mengerikan, membuat Ian berdiri terdiam, tak berkutik, Ian ingin melarikan diri, tetapi dia tidak bisa menggerakkan badannya.


Sosok itu kemudian bergerak dengan cepat menggigit leher Ian.


"Aaaaakh." Ian berteriak.


#########################################


Hari sudah pagi, Ibu Ian keluar dari rumah, sambil membawa kantong plastik berisi sampah dari dapurnya, dia berjalan menuju tempat sampah di depan rumahnya. Namun, Ibu Ian merasa aneh, dia melihat bercak darah di sekitar tempat sampah dan penutupnya, dia juga mencium bau yang sangat busuk.


Pelan-pelan Ibu Ian membuka penutup tempat sampah, dia kaget melihat anaknya, Ian berada di dalam tempat sempah. Setengah badannya tercabik-cabik seperti di makan oleh binatang buas, beberapa bagian tubuhnya terpotong-potong, organ tubuhnya berhamburan di dalam tempat sampah, mata Ian melotot melihat ke atas, darah mengalir keluar dari mulutnya.


Sampah yang di pegang Bu Ian terlepas dari genggamannya, Ibu Ian terkejut.


"Aaaaakh.......Iaaaan." Ibu Ian berteriak.


Tamat