
“Permisi bu, saya mau beli air minum botol.” Kata Gian sambil menyodorkan uangnya.
Penjual tersebut lalu memberikan air minum botol kepada Gian. Gian meminumnya, dan kemudian dia melanjutkan perjalanannya.
Sudah tiga hari Gian berjalan seorang diri, meninggalkan rumahnya, meninggalkan kota tempat kelahirannya, meninggalkan ibunya. Sambil membawa tas ranselnya, dia berjalan, memaksa kakinya terus bergerak, melangkahkan kakinya di atas jalan aspal yang begitu panas karena siang hari.
Jaket dia ikat di pinggang, sepatu lusuh dia paksa berada di kakinya, sambil melindungi kepalanya dengan rambut gondrong yang panjangnya sebahu, dia memakai topi. Umurnya baru 18 tahun, cukup muda bagi dirinya sendiri, untuk pergi meninggalkan rumahnya, tetapi ketika dia mengingat kembali kejadian yang terjadi tiga hari yang lalu, dia merasa tidak menyesal, meskipun dia mengingat ibunya.
Sesekali dia beristirahat, berteduh, meminum kembali air minumnya atau hanya memakan sedikit simpanan makanan yang berada di dalam tas ranselnya, lalu kemudian berjalan kembali. Tujuannya masih belum jelas, dia hanya mengingat sekilas waktu dia masih berumur sepuluh tahun, dia dan orang tuanya pernah berkunjung ke rumah tantenya bernama Ibu Santi yang berjarak 320 km dari tempat dia berada sekarang, meskipun masih sangat jauh, dia tetap membulatkan tekadnya untuk pergi ke rumah tantenya itu.
Beberapa kilometer telah dia lewati, tanpa dia sadari, Gian menemukan mesjid di pinggir jalan, sederhana dan tidak terlalu besar. Gian membuka sepatunya, melangkah membuka pintu mesjid, dan masuk beristirahat, berteduh, tanpa dia sadari, dia tertidur di dalam mesjid.
############################################################################################
Hal yang sama terus di alami Gian adalah ketika dia tertidur, dia bermimpi buruk, dan mimpinya adalah tentang kejadian yang membuatnya pergi dari rumah. Gian bermimpi kembali bertemu ibunya, orang yang sering tersenyum kepadanya, perhatian, selayaknya cinta dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Sampai suatu saat, ibunya Gian sakit, dan dia di vonis kanker otak stadium akhir, dokter mengatakan bahwa umur dari ibunya sudah tidak lama lagi. Setelah keluar dari rumah sakit, ekspresi dan tingkah laku ibunya perlahan-lahan berubah.
Dari yang dulunya orang yang religius, ceria, perhatian dengan keluarganya, menjadi orang yang tempramen, dan tidak peduli dengan suami dan anaknya. Terkadang ibunya sering melamun sendiri, berbicara sendiri, melempar barang-barang, sampai marah kepada Gian dan suaminya tanpa alasan yang jelas.
############################################################################################
Gian terbangun dari tidurnya, suara adzan dzuhur membangunkannya, beberapa orang terlihat masuk ke dalam mesjid, Gian bergegas mengangkat tas ranselnya keluar dari mesjid, Dia mencoba untuk pergi berwudhu di dekat kamar mndi mesjid, tetapi saat ingin melakukannya, lagi-lagi dia tidak bisa, tubuhnya mendadak terasa lemas, keringat mulai keluar perlahan di dahinya, jantungnya berdegup kencang, perasaannya sangat tidak enak, tiba-tiba dia mengingat kembali ritual yang di lakukan ibunya, membuat dia terikat akan perjanjian dengannya tiga hari yang lalu, dan akhirnya menghalangi Gian, setiap kali dia ingin shalat. Gian kemudian mengambil tas ranselnya, lalu berjalan kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkan mesjid tersebut.
Gian melihat jam di tangan kirinya, hari sudah meghrib, Gian pergi mencari rumah kosong atau pos ronda yang terkadang menjadi tempat persinggahannya untuk tidur dan mengistirahatkan badannya yang terasa sangat berat. Dia memang sering melakukan itu, apalagi hari ini dia merasa sudah cukup lelah.
Beberapa saat kemudian, Gian berjalan memasuki sebuah komplek perumahan, hanya sedikit lampu depan rumah yang menyala, penghuninya belum terlalu banyak, suasana perumahan tersebut juga sepi, baru beberapa langkah Gian berjalan, dia menghentikan langkah kakinya di depan sebuah rumah kosong. Gian berjalan masuk ke dalam rumah tersebut, dia tidak peduli meskipun gelap dan lantainya agak sedikit kotor, Gian membersihkan lantai yang akan dia tempati istirahat, mengeluarkan sarung dari dalam ranselnya, kemudian melebarkannya, lalu membaringkan badannya dengan perasaan lega, beberapa menit berlalu Gian tertidur.
############################################################################################
Saat Gian tidur, mimpinya berlanjut, dia melihat ibunya menangis di kamar sementara ayahnya berjalan ke luar dari rumah sambil membawa tas, ayah Gian pergi meninggalkan Gian dan istrinya. Tiap hari Gian yang merawat ibunya seorang diri di rumah, wajahnya yang lusuh, rambut yang terus rontok, sesekali Gian mencuci badannya, membuatkan makanan sampai dengan menyuapi ibunya sendiri, tetapi tingkah laku ibunya semakin lama semakin aneh ketika menjelang tengah malam.
############################################################################################
Sinar matahari menembus jendela rumah kosong, membuat Gian bangun dari tidurnya, bangun dari mimpi buruknya, dia kemudian mencuci wajahnya dari air yang dia bawa di dalam tas, setelah itu melajutkan kembali perjalanannya. Sesekali pengendara yang melihatnya jalan, singgah untuk membantunya, memberikan tumpangan kepada Gian. Gian tidak menolak, bahkan senang mendapat bantuan tersebut, bahkan terkadang, ketika Gian menemukan mobil truk yang sedang terparkir di mesjid, dia meminta tolong kepada sopir tersebut untuk menumpang, sejauh yang mobil tersebut jangkau atau sejalur dengan dirinya.
"Iya terima kasih pak." Kata Gian kepada sopir truk yang telah mengantarnya.
"Oke." Balas sopir tersebut yang kemudian menjalankan kendaraannya meninggalkan Gian.
Malam semakin larut, waktu juga menunjukkan pukul 12 malam, tapi kali ini Gian tidak menjumpai perumahan komplek, karena dia mulai merasa lelah dan ngantuk, dia memutuskan untuk beristirahat di dalam mesjid. Tanpa menunggu lama, dia langsung melepaskan sepatunya, beranjak masuk ke dalam mesjid, lalu berbaring, beberapa menit kemudian Gian tertidur.
############################################################################################
Gian kembali bermimpi tentang ibunya dan kejadian masa lalu yang menimpa dirinya. Saat itu Gian tidur kamarnya, ibu Gian masuk ke kamarnya, mengiris telapak tangan kirinya dengan pisau dapur, lalu menteskan darahnya di mulut Gian, Gian terbangun, kaget dengan apa yang dilakukan ibunya.
"Bu...ini apa bu??" Gian bertanya.
Namun, ibunya tidak berkata apa-apa, ekspresi wajah ibunya sangat mengerikan, matanya melotot, rambutnya acak-acakan dan kusut, sambil tertawa keras dia berjalan keluar dari kamar Gian, Gian bergidik ngeri. Keesokan harinya, Gian bangun dengan kedua tangan dan kaki terikat terikat oleh besi di setiap sudut di ranjangnya, di dinding kamarnya terdapat simbol pentagram yang dibuat dari darah.
"Bu, ini apa lagi bu?" Tanya Gian kepada ibunya dengan menggoyang goyangkan tangannya.
Ibunya tidak menjawab pertanyaan Gian. Gian mencoba bergerak, memberontak, melepaskan ikatan tersebut, tetapi dia tidak bisa. Di sebelah kanannya, ibunya berdiri sambil memegang smartphonenya, membaca sebuah artikel tentang pemujaan iblis dan kehidupan abadi.
"Bu tolong bu, ini Gian bu, anak ibu sendiri." Gian memohon. kepada ibunya.
"Sssst.....kamu tenang ya nak ya, ibu cuman mau hidup." Kata Ibunya mencoba menenangkan Gian.