
Tanpa rasa bersalah, Rini tersenyum, mengeluarkan smratphonenya dari saku jaket, memfoto Cindy, lalu mengirimkannya kepada Hendra yang berada di dalam studio.
"Hahaha......" Rini tertawa.
Di dalam studio, smartphone Hendra berbunyi, dia membuka smartphonenya dan melihat pesan dari Rini. Dia merasa kesal menerima pesan dari mantannya tersebut, dia tidak membuka pesan dari Rini, tetapi Rini terus mengirimkan pesan, sampai terlihat dari notifikasi di smartphonenya, Rini menyinggung Cindy.
Karena Hendra penasaran, dia melihat pesan dan foto yang di kirim oleh Rini. Hendra kaget, di foto itu terlihat Cindy tergeletak di kamar mandi, dengan kepala berdarah, Hendra marah, dia kemudian menelepon Rini, Rini mengangkatnya.
"Rin, apa yang kamu lakukan dengan Cindy?" Tanya Hendra.
"Sama yang seperti kau lakukan terhadap ku, dasar berengsek." Rini menjawab dengan nada meninggi dan rasa kesal.
"Rin, mana Cindy??" Hendra bertanya kembali.
"Kamu sudah tau Cindy di mana Ndra, kalau kamu mau Cindy baik-baik aja, jangan bilang ke siapa-siapa." Rini mengancam Hendra.
"Oke."
Hendra menutup teleponnya dia langsung beranjak dari kursi, berjalan menuju pintu studio. Tanpa sengaja dia menabrak adik Cindy yang sedang membawa minuman dan snack pesanan kakaknya.
"Kak Cindy mana?" Ucapnya.
"Sebentar ya." Kata Hendra yang langsung bergegas keluar dari studio meninggalkan adik Cindy.
Hendra berjalan cepat menuju kamar mandi bioskop, untuk berjaya-jaga, dia menelepon Raya, asistennya.
"Cepat hubungi polisi, Rini mengancam, mau bunuh Cindy di kamar mandi." Ujar Hendra.
"Iya pak." Jawab Raya.
Hendra menutup teleponnya, kemudian berjalan kembali. Sesampainya di kamar mandi, Hendra membuka pintu pelan-pelan, sambil melihat ke dalam.
"Rin?!!" Ucapnya dengan suara pelan.
Hendra kemudian masuk lalu menutup pintu kamar mandi kembali. Di dalam, dia melihat Rini berdiri.
"Rin, Cindy mana?" Kata Hendra dengan ekspresi cemas.
Rini melihat ke arah Cindy tergeletak. Hendra langsung menghampiri Cindy.
"Cindy?!!" Hendra mencoba membangunkan Cindy.
Namun, darah yang sudah mengalir di sekitar Cindy, terlalu banyak di tangan Hendra. Hendra terkejut, keringat mulai keluar di dahinya, Cindy tak bergerak sedikitpun, dia tahu bahwa Cindy sudah mati.
"Rin, apa yang kamu lakukan Rin?!!" Hendra berdiri menatap tajam Rini.
"Ini semua karena kamu Ndra." Rini marah.
"Rin kamu sudah membunuh Cindy."
"Aku tidak peduli Hendra, aku mau kamu tanggung jawab." Kata Rini dengan mata berkaca-kaca.
"Dari kemarin aku sudah bilang Rin, kita putus, kamu mau aku tanggung jawab apa lagi hah?!!" Hendra marah.
"Aku hamil Ndra." Kata Rini dengan mata berkaca-kaca.
Hendra mengambil test pack tersebut, dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Enggak mungkin Rin, tidak." Hendra melempar test pack itu ke cermin kamar mandi.
"Ini tanggung jawab kamu Hendra." Rini mencoba meyakinkan Hendra.
Hendra marah, dia memalingkan wajahnya dari tatapan Rini.
"Aaaaakh." Dia berteriak.
Rini menangis, dia menghapus air mata yang perlahan membasahi pipinya.
"Tidak, tidak, itu bukan anakku Rin, kamu jangan berpura-pura." Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ndra....Hendra."Rini menangis, dan memohon kepada Hendra.
"Apapun yang terjadi di sini, itu urusan mu Rin." Hendra menunjuk Rini.
Hendra berjalan ke arah pintu kamar mandi, dia ingin keluar. Tetapi, belum sempat Hendra menyentuh gagang pintu kamar mandi, Rini dengan cepat mengambil pisau cutter yang sudah dia persiapkan sejak awal sebelum Hendra masuk ke kamar mandi, mengeluarkan mata pisaunya yang tajam, lalu perlahan menyayat sendiri lehernya dengan tangan kanan, darah mengalir keluar dari leher Rini, pisau cutter terlepas dari genggaman tangannya, Rini jatuh terbaring di lantai.
"Hendra...." Kata Rini dengan suara pelan.
Hendra yang melihat Rini marasa panik, dia mendekati Rini.
"Riniii?!!" Hendra menekan leher Rini, menahan agar darah yang keluar tidak terlalu banyak.
Namun, semuanya sudah terlambat, Rini sulit bernapas, jantungnya berdegup kencang, mulutnya mengeluarkan darah, Rini ingin berbicara, tetapi sulit untuk dia lakukan. Perlahan-lahan, Rini menghembuskan napas terakhirnya, dia mati di pangkuan Hendra.
Hendra hanya menangis melihat Rini, tangannya penuh dengan darah, dia hanya duduk di samping mantan kekasihnya Itu. Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Hendra kaget, dia melihat Raya masuk dengan ekspresi datar, memakai kaos tangan, memegang sebuah pistol di tangan kirinya.
"Raya cepat telpon ambulans." Ujar Hendra kepada Raya.
Raya hanya berdiri, diam, melihat di sekeliling ruangan kamar mandi itu yang penuh dengan darah. Dia tidak merespon perkataan Hendra.
"Raya cepat, kamu kenapa cuman diam?" Hendra kembali menyuruh Raya.
Raya menggelengkan kepalanya, dia menolak.
"Mohon maaf pak, saya berhenti." Ucapnya.
"Haa......" Hendra merasa bingung dan tidak mengerti maksud perkataan Raya.
Raya langsung menembak kepala Hendra, peluru masuk menembus dahi Hendra, bercak darah menempel di dinding, isi kepala Hendra berhamburan, Hendra tewas seketika di tempat. Raya menghampiri tubuh Hendra, menyimpan pistol di tangan kanan Hendra, kemudian menyimpan kaos tangannya di dalam kantong plastik, di dalam tasnya.
Raya menghadap ke arah cermin kamar mandi, mencuci wajahnya, lalu tersenyum melihat dirinya di depan cermin. Dia kemudian berjalan keluar dari kamar mandi, berteriak histeris meminta tolong.
"Tolooooong." Ucapnya sambil menangis.
TAMAT