
Jam istirahat adalah hal yang paling di nantikan oleh semua murid. Kelas yang semula sepi, kini sudah ricuh dengan suara siswa - siswi yang berhamburan keluar kelas.
Rangga membangunkan Rafi yang sedang asyik terbuai mimpi indahnya. Beruntung
hari ini guru mereka sedang kurang fit. Jadi tidak telalu memperhatikan muridnya yang asyik tidur.
"Woy!. Cebong, bangun lo udah bell. Gue sama Iqball mau ke kantin. Kalau lo ngak bangun kita tinggal." Rangga menggoyangkan bahu Rafi agar pria pemalas itu bangun.
"Pesenin gue mie ayam, tolong bawain ke sini" racaunya tidak terlalu jelas, karna bangun tidur.
"Emangnya lo anak sultan hah?" kata Iqball dengan kesal karna kalimat perintah dari Rafi.
"Gue minta tolong, gue sakit." gumamnya lagi masih dengan suara serak.
"Iya otak lo yang sakit!" timpal Rangga berlalu pergi dan di susul oleh Iqball.
"Eh buset, cebong tungin gue dong!" teriak Rafi saat kedua sohibnya sudah di luar kelas.
Rafi bergegas pergi ke toilet untu mencuci muka. Tidak mungkin dia pergi ke kantin dengan kondisi bangun tidur. Apalagi dengan penampilan kusut. Bisa rusak reputasinya sebagai teman akrab seorang selebgram terkenal yang ketularan banjir folowers.
Rangga dan Iqball sudah menikmati mie ayam milik mereka. Di samping Iqball sudah tersedia mie ayam yang di peruntukan, untuk Rafi. Mereka memang sudah biasa melihat Rafi tertidur. Dan Rafi akan kesal jika mereka makan, sedangkan dia masih harus menunggu pesanan. Maka dari itu Rangga dan Iqball langsung memesankan Rafi makanan yang sama dengannya.
"Rang cewek kemaren siapa?" tanya Rafi sambil mengunya mie ayamnya.
"Cakep yah Raf?" timpal Iqball membuat Rafi menganggukan kepala.
"Ngak kenal, ngak sengaja ketemu" jawab Rangga sambil memakan mie ayam yang tersisa sedikit lagi.
"Kok kayaknya kalian akrab?" tanya Rafi yang memiliki sifat kepo bin penasaran.
"Iya gue ajak ngobrol" jawab Rangga yang membayangkan saat dia melihat seorang gadis cantik menggunakan hijab kemarin di taman.
Wanita yang saat ini menjadi topik pembicaraan mereka adalah Mutiara khairunissya. Atau lebih akrabnya di panggil Nissya.
"Terus dia mau?" kata Iqball ikutan penasaran.
Rafi mendongkakan wajahnya ke arah Rangga agar dapat mendengar dengan jelas.
"Mau sih, tapi ngak banyak ngejawab" ujar Rangga sambil mengabiskan mie ayam di dalam mangokoknya.
"Perasaan kemaren pas kita dateng dia langsung pergi gitu aja, sombong yah" cebik Rafi dengan nada kesal mengingat Nissya yang bahkan tidak memperkenalkan diri.
"Bukan sombong, tapi dia takut sama tampang lo yang nyeramin melebihi setan penunggu toilet sekolahan" Rangga berucap dengan senyuman mengejeknya. Membuat Rafi semakin kesal karna di ejek oleh sohibnya itu.
"Orang ganteng kaya gini. Lo bilang kayak setan, hallo?. Mata lo katarakan yah rang. Makanya jangan nge-vlog terus" cibir Rafi kesal. Iqball hanya diam menjadi penonton yang baik. Pasturi seperti ini memang selalu terjadi dan hal ini pula yang membuat ketiganya semakin akrab bagaikan saudara.
"Yah udah, besok gue mau cari tu cewek. Buat gue nikahin, cewek kayak dia tu langkah. Ini harus segera di lestarikan. sebelum punah." Rafi menggepalkan tanganya ke atas dengan pambang semangat.
pletak...
Sebuat sedotan minuman mendarat dengan sempurna di kening Rafi. Membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Njir, punya teman laknat banget yak. Dikit - dikit di bully, lempar ajah aku bang. Aku lelah di giniin." kata Rafi dengan nada bicara ala - ala syahrini membuat Rangga dan Iqball berdecak kesal, sekaligus jijik. Inilah sikap Rafi yang selalu berubah - ubah. Bahagiah, marah, kecentilan, cerewet, sadis, bossy, dan pemalas. Rafi selalu saja memiliki sikap yang berubah - ubah.
Nissya, Aulia, dan Risky sedang duduk di perpustakaan. Ketiganya sama - sama asyik dengan buku yang sedari tadi di baca.
"Nis, pulang sekolah kita jalan yuk?" ajak Aulia memulai pembicaraan setelah sekian lama diam.
"Kayaknya aku ngak bisa deh li" Nissya berucap dengan lesu.
"Emangnya kenapa?" tanya Risky "lo sakit?" imbuhnya lagi.
"Enggak kok, gue capek aja. Mau istirahat ntar malam ada acara" tutur Nissya. Wajahnya menampakan rau kesedihan yang jelas dapat terbaca oleh Risky dan Aulia.
"Lo kok sedih gitu?" Aulia menggengam tangan Nissya dengan lembut.
"Lo ada masalah?" Risky ikutan bertanya karna penasarannya.
Nissya melihat ke arah kiri, lalu melihat ke arah kanan. Memastikan keadaan ruangan perpustakaan sepi. Tindakan Nissya tidak luput dari pandangan Aulia dan Risky yang bingung.
"Gue di jodohin" gumam Nissya pelan, namun dapat di dengar dengan jelas oleh kedua sahabatnya itu.
"Lo bercanda kan ni?" kata Risky berharap Nissya hanya bercanda atau kalau yang sedang trend nge-prank.
"Gue serius" lirih Nissya menundukan pandangannya.
"Kok bisa, terus lo mau?" Aulia langsung memegang kedua tangan Nissya, dan menatap Nissya dengan penuh selidik seakan tidak percaya dengan sahabtnya itu.
"Gue ngak bisa ngebantah ibu" ujarnya pelan, sangat pelan.
"Huh, nis, lo berhak nentuin jalan hidup lo!" tutur Risky dengan membuang pandangan ke sembarang arah. Aulia tau, Risky sebenarnya memiliki rasa kepada Nissya. Aulia juga paham, sekarang pasti hati Risky sakit.
Tapi tidak taukah Risky?. Selama ini hatinya bahkan jauh lebih sering sakit. Saat Risky dengan terang - terangan curhat kepadanya, bahwa di mencintai Nissya. Sementara dirinya mencintai Risky. Entahlah kenapa persahabatan mereka begitu rumit.
"Gue mau bikin ibu gue bahagiah!" timpal Nissya.
"Dengan ngorbanin masa depan, dan perasaan lo?" Risky menatap Nissya dengan pandangan yang sulit di artikan. Di dalam tatapan itu tersirat, sedih, kecewah, marah, dan entahlah. Semuanya bercampur menjadi satu.
"Gue bakalan lakuin apapun buat malaikat hidup gue" tegas Nissya yang membuat Risky bungkam. Dia tidak berhak melarang Nissya. Bagaimanapun hidup Nissya, adalah keputusan dari Nissya sendiri. Dan dia tidak berhak ikut campur.