say love to me

say love to me
chapter 17



Jika move on hanya bisa di lakukan dengan berpindah hati maka kemarilah dan berikan hatimu padaku agar aku menjaganya dengan baik.



Langit - langit kota sudah berubah orangye. Mentari yang sedari tadi menampakan dirinya dengan gagah berani kini sudah bersembunyi di balik awan kelam. Cahayah tidak meluntukan keindahanya.


Sepasang pengantin baru itu baru saja selesai membereskan baju - baju merekah. Dan juga beberapa barang yang sudah sampai. Dan menurut apa yang di katakan nissya tadi masih ada satu truk barang yang belum sampai.


Rangga duduk di depan rumah yang sekarang di tempatinya dengan nissya. Rumah yang sederhana namun minimalis. Halaman rumah yang sangat luar tapi masih tampak sangat kosong. Rumah sederhana yang tidak bertingkat dengan warnah kuning mint, dan interior kayu coklat tant. Nissya tidak begitu menyukai warnah kuning namun menurutnya cukup bagus.


Tidak lama setelah nissya datang dengan se-teko teh dan beberapa gelas di atas nampan. Truk pengankut barang yang sedari tadi merekah tunggu sudah terparkir di halaman rumah merekah.


Rangga langsung menghamoiri mobik tersebut dan membantu supir dan temannya itu menurunkan barang - barang nissya.


Rangga sedikit mengerutkan kening saat melihat piano di atas truk tersebut. Spontan rangga menatap nissya dan melirik kembali ke arah piano itu seolah bertanya. Apakah piano ini punyamu?".


Nissya yang paham maksud rangga langsung menghampiri. "Iya itu piano nissya, hadiah dari ayah dulu" Ujar nissya yang mendapat anggukan paham dari rangga.


"Kamu suka main piano sya?" tanya rangga memastikan fikirannya tidak salah.


"Iyah aku suka, aku juga pernah ikut lombah dan dapat juara loh!" jawab nissya dengan nada bercanda di akhir kalimatnya.


"Beneran sya?" kembali rangga memastikan pendengarannya tidak salah.


"Kamu tuh kenapa sih mas. Iya beneran lah masa nissya bohong sama suami sendiri." kesal nissya karnah rangga seperti tidak percaya bahwa dia bisa bermain piano.


"Eh bu.. bukan gitu sya. Band aku dari dulu nyari orang yang bisa main piano tapi ngak ada yang cocok. Gimana kalau kamu ajah mau ngak." tawar rangga. Band rangga memang cukup terkenal di kota ini. Bahkan sering kali dapat tawaran manggung. Merekah suda mengadakan kompetisi untuk mencari orang yang bisq bermain piano beberapa bulan ini tapi belum menemukan yang pas. Saat rangga tau nissya bisa bermain piano tidak ada salahnya bukan jika mencobanya.


"Eh iyah bentar pak tolong batu turunin yah?" kata rangga kemudian naik ke atas truk dan perlahan menurunkan piano tersebut.



Rangga dan nissya sedang duduk di ruang tamu dengan menonton TV. Nissya tidak menggunakan hijab sesuai permintaan rangga yang mengatakan saat berdua dengannya jangan menggunakan hijab tapi itu hanya boleh di depannya.


"Sini sya, tiduran di pahaku" kata rangga dengan menepuk - nepuk pahanya agar nissya tiduran di sana. Nissya tersenyum dan merebahkan badannya. Nissya memang sedikit lelah setelah beres - beres barang merekah yang baru saja di pindahkan.


Di samping kiri rangga ada sepiring cape cake coklat dan kotak yang berisi keripik kentang. Rangga memakan cape cake tersebut laku menyuapi nissya yang sedang fokus menonton tayangan TV di depannya. Nissya hanya membuka mulut saja saat rangga menyuapinya.


Rangga tersenyum usil menatap nissya yang sedari tadi masih fokus menonton sinetron di depannya. "Aaaaaa..." kata rangga dan nissya membuaka mulutnya tampa menatap rangga dan..


Cup


Rangga mencium bibir nissya. Nissya yang mendapat serangan tiba - tiba dan juga kaget tentunya melebarkan pupil matanya dan mengerjab seolah tidak percaya.


"Hahahaha" rangga tertawa geli melihat ekspresi nissya " kamu tuh imut banget tau ngak sya. Baru juga di ciun udah kaget dan shock kayak gitu" ucap rangga masih sulit memberhentikan tawanya. Nissya hanya memutar bola mata malas.


"Eh iya. Gimana tadi mau ngak jadi pemain piano di band aku?" Rangga kembali menanyakan persoalan kalau nissya mau atau tidak iku dalam band nya itu.


"Tapi kan itu boy band, nissya kan cewek!" ujar nissya. Entah polos atau bodoh itulah yang ada di pikirannua sendiri.


"Hadehhh ususs nya di oprasi juga biar aslinya keluar" Rangga berkata dengan santainya.