
Rangga baru saja sampai di sekolahanya, dan seperti biasanya. Dia datang terlambat. Bersamaan dengan best friend nya Rafi dan Iqball. Mereka masuk ke dalam sekolah dengan memanjat tembok belakang sekolah yang memang tidak terlalu tinggi. Mengingat sekolahan mereka hanyalah sekolah negri biasa dengan fasilitas seadaanya.
"Ekhm!"
Suara deheman yang sudah tidak perlu di fikirkan lagi berasaal dari siapa itu terdengar cukup keras di lorong gedung sekolahan Rangga.
"Hehehe" mereka bertiga cengengesan, karna kepergok datang terlambat oleh pak Cipto. Yang bertugas sebagai guru bimbingan konsling (BK).
"Eh, buseet bapak tambah ganteng aja. Hari senin emang cerah banget, apalagi ngelihat penampilan bapak yang modis ini. Behhhh, stefan william mah lewat yah ngak Bal, Raf?"
Kata Rangga berusaha ngeles, dan meminta dukungan dari kedua sohibnya itu.
"Iya pak, beneran rasanya tuh. Adem, tentram dan damai kalau ngelihat bapak, apalagi kalau bapak senyum" tambah Rafi dengan gaya membanggakan yang hiperbola(Berlebihan).
Pak Cipto hanya mangut - mangut di tempatnya. Lantaran ini bukan kali pertama mereka terciduk datang terlambat. Tapi mengingat tipe pak Cipto yang cepat melayang ke angkasa lepas saat di puji. Membuat senyuman manis terukis di bibirnya yang sedikit tersentuh oleh kumisnya itu.
"Kalian bisa aja. Bapak kemaren baru beli kemeja baru. Kalian pasti tau dong harganya?." ucap pak Cipto yang sudah termakan jebakan maut ketiganya itu.
"Tau dong pak. Pasti mahal banget kan?. Duh jadi pengen beli juga deh. Bapak emang paling modis, dan trendy" puji Iqball dengan mengankat kedua jempolnya mantap. Akting mereka berjalan lancar.
"Kita permisi ke kelas dulu yah pak. Mau nuntut ilmu. Biar bisa jadi guru yang keren kayak bapak" kata Rangga mencium punggung tangan pak Cipto yang mangut - mangut dengan bangga karna sudah di puji itu.
"Permisi pak, asallamualaikum" ujar Rafi sambil mencium punggung tangan pak Cipto seperti yang di lakukan Rangga.
"Saya itu emang ganteng, tapi kalian saja yang baru sadar" gumam pak Cipto dengan bangganya ketika ketingga bocah itu sudah berlalu menuju ke kelasnya.
Nissya sedang duduk dengan tenang sambil mendengarkan penjelasan dari buk Rara dengan saksama. Aulia di sebelahnya merebahkan kepala.
Bukan karna kurang sehat. Tapi karna pelajaran Sejarah membuatnya pusing. Dan memilih untuk rebahan agar kepalanya tidak terlalu banyak beban.
"Sama seperti Cinta yang butuh perjuangan. Sejarah juga memiliki banyak perjuangan yang tak terhitung lagi. Dari jaman yang dulunya baju pun tidak punya. Sekarang banyak orang yang memakai baju sekali lalu di buang. Cinta tidak jauh berbeda. Yang sekarang di acuhkan. Atau tidak di ketahui adanya oleh orang yang di cintai. Esok hari akan memetik nikmat dari kesabaran dari perjuangan mendapatkan Cinta tersebut. Intinya sejarah itu merupakan, suatu kisah. Yang benar terjadi dan memiliki pengorbanan dan perjuangan yang nyata." Kalimat penjelasan dari ibu Rara itu berhasil menarik minat Aulia untuk meneggakan kepala.
"Apa masih ada yang kurang paham?. Ada yang ingin bertanya?" kata ibu Rara menatap muridnya itu dengan saksama.
"Saya buk!" kata Aulia semangat.
Membuat seisi kelas heran. Lantaran selama ini Aulia hanya diam saja ketika pelajaran sejarah.
"Silahkan Aulia!" perintah ibu Rara menyuruh Aulia mengungkapkan pertanyaan nya.
"Tapi kalau perasaan cintanya susah buat di utarakan. Dan tidak memungkinkan untuk di gantungkan ke selatan., Apa yang harus saya lakukan?" tanya Aulia yang membuat seisi kelas menahan tawanya. Apalagi Nissya dan Risky yang sudah memegangi perutnya. Ibu Rara menggeleng paham arah pertanyaan muridnya.
"Maka kesabaran adalah yang terbaik. Dekatilah allah swt, maka allah akan menjadikan orang yang kau harapakan menjadi miliku" gumam bu Rara entah sadar atau tidak tapi dia merasa seperti budak Cinta yang mengungkapkan perasaannya lewat pelajaran sejarah.