say love to me

say love to me
chapter 11



Rangga POV


Kami mengayuh sepeda dengan semangat. Pagi hari di pinggiran pantai membuat tubuhku terasa sangat segar terlebih lagi seorang gadia cantik di sampingku ini. Senyumnya indah bagai bunga nawar yang baru saja mekar canti, indah dan menyebarkan keharuman yang membuat siapa saja terpesona. Aku pernah memiliki kekasih bahkan sudah berganti beberapa kali. Semua wanita selalu berusaha menarik perhatianku. Dengan make up dan penampilan sexy nya mereka mencoba merayuku. Tapi wanita yang mengayuh sepedanya di sampingku ini sangat berbeda dengan kebanyakan wanita. Dia menggunakan hijab kemana - mana. Tubuhnya putih seputih susu. Senyumnya seindah mawar merah. Bibirnya merah delima tampa lipstik. Wajahnya putih berseri tampa bedak. Benar - benar cantik yang natural.


Dan yang lebih mengagumkan wanita ini akan segerah menjadi istriku suguh aku bagai laki - laki yang paling beruntung di dunia.


Aku seorang anak boy band denga nama band Fantastic boy. Boy band kami cukup terkenal aku merupakan penyanyi sekaligus pemain gitarnya. Duniaku memiliki perbedahan yang sangat jauh dari wanita yang akan menjadi istriku ini. Aku sering mengikuti balapan liar, kumpul di club malam. Aku yakin wanita di sampingku ini sangat polos walaupun aku tidak yakin dia belum mengenal cinta. Tapi aku yakin dia masih terjaga, bersentuhan denganku saja di menolak apalagi lebih. Notabennya aku adalah calon suaminya dia masih menolak apa lagi pria lain. Hidupku benar - benar beruntung.


Aku mengajak nissya dan juga temannya yang tadi bersepeda bersama kami berhenti di warung bakso. Aku mengajak merekah makan bakso walaupun ini belum jam makan siang tapi perutku sudah mengomel minta jatah berhubung aku tidak sempat sarapan karna terlalu bersemangat pagi tadi jadi sekarang aku ingin mengisi perut yang sudah memintaku goyang nasi padang ini.


Kami sudah duduk lesehan du karpet warung bakso yang memiliki pangung - pangung yang terbuat dari bambu ini. Letaknya di pinggiran jalanan pantai dan menghadap langsung ke arah pantai. Angin yang sepoi - sepoi membuat hijab hitam nissya melayang. Ah benar - benar bidadari surga. Aku mengambil kamera canon yang ku kalungkan di leherku. Diam diam aku memotretnya. Risky melihatku dan diam saja, aku juga tidak menghiraukannya. Sesaat nissya menoleh ke arahku. Dan aku menyuruhnya tersenyum. Nissya menuruti permintaanku dan tersenyum.


Deg..deg..deg...


Ah jantungku terasa mau copot. Dengan sedikit usaha aku menormalkan detak jantungku. Aku langsung memotret nissya sebelum dia kelelahan karnah tersenyum.


Tidak lama seorang pemilik tempat yang kami duduki datang dan bertanya kami mau memesan apa.


"Persmisi mau pesan apa mas, mbak" tanyanya sopan.


"Kalian mau makan apa?" tanyaku menatap nissya dan risky bergantian.


"Apa saja kak" kata nissya tersenyum teduh menatapku sugguh senyum itu melelehkan hatiku


"Aku ikut saja " jawab risky. Dan akhirnya aku memesankan 3 porsi bakso yang menjadi menu andalan di warung ini.


Aku memegang perutku rasanya laparku tidak dapat di tahan sampai pesanan kami tiba. Sekilas aku melihat nissya berdiri dari duduknya dan mengambil tas kecil berwarnah biru yang di kaitkan di sepedanya sejak tadi.


Nissya berjalan santai dan berhenti di depanku. "Ini makanlah sandwich buatanku. Kulihat kakak sudah kelaparan" kata nissya dengan menyodorkan tas kecil biru itu. Aku menganggukkan kepalahku dan mengambilnya.


"Terimahkasih nis, kau sendiri yang membuatnya?" tanyaku sebelum membuka tas kecil itu.


"Iya kakak makan saja kulihat kakak sudah sangat kelaparan" Titahnya padaku dan aku tersenyum manis kepadanya.


"Apa kau mau?" tawarku dengan risky seraya mengangkat sandwich buatan nissya yang sangat mengiurkan untuk segerah di makan.


Nissya POP


Selesai menikmati bakso di pinggir pantai aku kak risky dan kak rangga kembali menyelusuri pantai.


Aku menikmati momen ini. Pantai adallah tempat yang sangat bagus untuk jalan - jalan melepas penat. Desiran angin pantai menyejukan kulitku. Kami bertiga duduk di pasir pantai. Aku memejamkan mataku menikmati udara segar pantai yang terbentang luas di depanku. Kak risky dan kak rangga mengobrol bersama. Kelihatannya mereka cukup akur.


Maafkan aku kak risky. Aku telah melukai hatimu. im sorry. Gumamku dalam hati.


Cintaku dengan kak risky harus ku kubur dengan segerah. Aku tidak ingin setelah menikah aku mencintai pria lain dan menyakiti suamiku. Kak rangga orang yang baik. Dia sosok yang sangat mudah bergaul sangat berbeda denganku. Aku hanya mempunyai beberapa teman. Bahkan waktuku lebih banyak ku habiskan di rumah.


Tuhan buatlah aku melupakan kak risky. Dan berikanlah hatiku pada kak rangga. Aku tidak ingin mencintai pria lain selain suamiku nanti. Tolong hapus rasa cintaku padanya. Sesak hati ini masih dapat ku rasakan dan ini menyiksaku. pintahku dalam hati.


"Nissya apa yang kau lakukan?" tanya kak rangga menyadarkanku dari lamunanku.


Aku menyengir menatap ada kekhawatiran yang tersirat dalam mata kak rangga.


"Tidak ada aku hanya menikmati anggin pantai yang sejuk ini" kataku dan kak rangga menghela nafas lega.


"Kau tidak perlu khawatir nissya memang suka bermimpi di siang bolong" ujar kak risky tersenyum tipis kepadaku.


"Bernakah nis?" Kak rangga bertanya kepadaku.


"Aku hanya menyampaikan isi hatiku dengan angin yang akan membawah semua yang menjadi bebanku" Ucapku dengan kak rangga. Aku menatap hamparan pantai yang luas di depan mataku. Aku hanya berharap rasa cintaku dengan kak risky akan tenggelam seperti batu yang di lemparkan di tengah laut dan berdiam di dasar lautan yang terdalam.


"Sepertinya kalian sangat dekat!" ujar kak rangga membuatku menoleh dan tersenyum.


"Kami berteman selama SMA" Kata kak risky dan aku hanya menganggukan kepalaku membenarkan.


"Kalian berdua berteman cukup lama" ujar kak rangga dan aku langsung menjawab.


"Kami tidak hanya berdua. Ada satu perempuan lagi di dalam persahabatan kami tapi dia pindah ke jakarta satu tahun yang lalu" Tuturku dan kak rangga hanya menganggukan kepalahnya.


Hari sudah semakin siang. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kak rangga mengantarku pulang kerumah dengan mobilnya dan sepedaku nanti akan di antar oleh orang yang di suruhnya tadi. Yah dunia kami berbeda dia orang yang kaya dan aku hanyalah gadis biasa yang tidak punya sesuatu yang istimewah. Tapi setidaknya kak rangga adalah sosok yang baik dan terkesan hangat. Lain halnya dengan bayanganku yang dulu berfikir kak rangga adalah sosok dingin dan acuh seperti novel bacaanku itu.