
Pagi hari yang sangat indah. Bunga bermekaran menampilkan kecantikannya. Burung bernyanyi dengan merdu.
“Astaga.... aku tidak solat subuh„ pekik Nissya kaget melihat matahari sudah menampakan sinarnya. Rangga yang mendengar suara keterkejutan Nissya terbangun dari tidurnya.
"Ada apa?" tanya Rangga masih dengan muka bantalnya.
"Aku tidak solat subuh!" kata Nissya panik.
"Apa kau lupa?, kau sedang datang bulan!" Rangga mengingatkan Nissya yang baru saja datang bulan dua hari.
"hahahahaha. Mas benar kenapa aku jadi pelupa?" tanya Nissya saat sudah berhasil memberhentikan tawanya.
"Iya kau seperti nenek - nenek. Tapi kau harus lebih khawatir karnah ini sudah jam berapa dan kita harus sekolah!" kembali Rangga mengingatkan nissya.
"Astaghfirullah aku harus mandi" ucap Nissya dengan cepat mengambik handuk yang di gantung dan ngacir ke kamar mandi. Rangga tertawa terpingkal - pingkal melihat Nissya yang sangat mudah panik. Dengan santai Rangga berjalan ke kamar mandi dekat dapur dan membersihkan diri.
Nissya sudah siap dengan seragam putih abu - abu kesayangannya. Rangga berjalan ke teras mendampingi Nissya yang sudah menunggunya.
"Ayo aku antar kamu dulu" ajak Rangga.
"Apa kau tidak akan telat di gang depan aku bisa naik angkot" ujar Nissya.
"Menurutlah denganku. Membantahku akan mendapatkan dosa loh" Rangga menaik turunkan alisnya. Nissya menganggukan kepala dan berjalan ke arah motor Rangga.
Rangga sudah menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Menatap ke sekeliling di mana banyak orang yang sudah memulai aktivitasnya.
"Kamu nyanyi gih sya bosen diam - diaman gini" Rangga membuka obrolan.
"Masa nyanyi terus sholawatan bareng aja yuk" Nissya memberi saran.
Nissya dan Rangga memulai sholawatan di sepanjang jalannya. Rangga yang mendengar suara lebut dan merdu milik Nissya akhirnya memilih diam dan menikmati alunan merdu indah dari Nissya. Nissya yang larut dalam dunianya sendiri tidak menyadari bahwa Rangga tidak lagi mengiringinya. Sepanjang perjalanan Rangga tersenyum manis mendengarkan sholawatan Nissya.
Rangga sudah sampai di depan gerbang sekolah Nissya. Banyak murid yang menatap Rangga dengan senyuman cantik mencoba menarik perhatiannya namun tak di hiraukan oleh Rangga.
Nissya menyalami tangan Rangga dan pamit. Tidak ada yang mengira mereka suami - istri. Murid - murid dan satpam sekolah merekah adalah kakak dan adik. Nissya berjalan santai menuji ke kelas Xll ipa 1. Saat di jalan ada beberapa siswi memanggilnya.
"Nissya!" teriak salah satu siswi Nissya yang merasa dirinya di panggil berhenti dan menoleh ke asal suara yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Nissya tho the point.
"Siapa laki - laki yang mengantarmu tadi apa kakak mu?" tanya siswi yang bernama dea yang Nissya baca di sablonan osis di baju seragamnya. Nissya diam dan berfikir sejenak. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Rangga suaminya. Bisa - bisa dia di keluarkan oleh sekolah.
"Iya" jawab Nissya singkat.
"Siapa namanya?" tanya dea lagi.
"Rangga, maaf yah aku buru - buru hari ini aku piket!, asallamualaikum" ucap Nissya berlalu pergi. Ada rasa kesal saat seorang wanita dengan terang - terangan menampilkan ketertarikannya dengan Rangga yang adalah suaminya sendiri.
Saat jam pelajaran berlangsung Nissya tidak terlalu fokus akibat masih kesal karna banya siswi yang menanyakan tentang Rangga kepadanya. Nissya tidak bisa mengatakan bahwa Rangga adalah suaminya. Banyak yang mencoba mendekati Nissya untuk berteman. Itu semua tak lain untuk mendekati Rangga. Rasa kesak Nissya tidak dapat lagi di tahan. Saat bell menandakan pulang berbunyi. Dengan cepat Nissya berjalan menuju ke gerbang sekolah. Karnah Rangga sudah mengirimnya pesan sudah menunggunya di depan gerbang.
Saat sampai di depan gerbang Nissya melihat ada tiga siswi perempuan mengelilingi Rangga. Api cemburunya semakin membesar. Melihat pemandangan di depannya. Dengan menghentakan kakinya Nissya menghampiri Rangga.
"Ayo" ajak Nissya saat sudah di samping Rangga. Siswi yang melihat Nissya tersenyum manis.
"Hai Nissya udah mau pulang?" tanya siswi yang bernama cia.
"Iya buru - buru, ayo mas" kata Nissya saat dirinya sudah duduk di jok belakang motor Rangga. Rangga yang paham Nissya sedang cemburu langsung menjalankan motornya tampa banyak protes.