
Rangga POV.
Perkenalkan namaku Rangga velove racman. Anak kesayang Radit racman dan Ayu putri racman. Aku anak pengusaha terkaya nomer satu di Bandung. Tapi aku tidak tertarik dengan kekayaan orang tuaku.
Eits,, jangan berfikir aku tidak akur dengan keluargaku. Aku sangat akrab dengan papa dan mamaku. Tapi bagiku kehidupan orang kaya itu rumit. Bahkan bersikapun harus di jaga. Aku lebih suka kebebasan.
Bahkan aku lebih memilih bersekolah di SMA negri biasa. SMA cempaka, di sana aku mendapatkan dua orang sahabat yang selalu menemaniku. Rafi dan Iqball, mereka anak pebisnis juga. Tapi masih di bawah naungan perusahaan papaku. Mereka baik, dan pastinya tulus berteman denganku.
Awalnya aku menyembunyikan indentitasku dari mereka. Bukan apa - apa aku tidak ingin berteman dengan orang yang hanya memanfaatkan hartaku. Setelah satu tahun kami berteman akhirnya aku membuka indentitasku. Awalnya mereka tidak percaya. Tapi setelah semakin lama kami berteman mereka sudah tau fakta yang sebenarnya.
Aku tidak suka hidup bergantung dengan harta kekayaan keluargaku. Walau tak munafik, papaku selalu mentransfer uang ke rekeningku tiap bulannya. Tapi aku jarang menggunakannya. Aku berkerja, tentunya sesuai dengan statusku saat ini. Aku seorang selebgram terkenal di Bandung.
Tentu saja terkenal karna ketampananku ini. Hehehe, ke-PD an harap maklum, sering di puji jadi terbang ke langit. Dengan pekerjaan sebagai selebgram, aku mendapatkan penghasilan yang lebih dari cukup.
Papa dan mama, tidak ada yang protes dengan pekerjaanku selaga itu halal. Aku memiliki pacar namanya Elyta pricia, profesinya sama denganku. Pelajar sekaligus selebgram. Tapi itu dulu, karna apa?.
Aku memutuskan hubungan kami seminggu yang lalu. Dia selingkuh, paranya lagi. Udah berjalan tiga bulan lamanya tapi aku baru tau beberapa waktu yang lalu. Eleyta memang tidak tau statusku yang sebenarnya, yang dia tau aku seorang selebgram.
"Bro, lo sama Elyta lagi berantem yah?, kok Elyta jarang nyamperin lo akhir - akhir ini" kata sohibku yang bernama Rafi adinata.
"Iya, kemaren jiga gue lihat jalan bareng sama anak SMA nya" sohib gue yang satu nimprung. Namanya Iqball ettt, bukan Iqball rahmadan, tapi Iqball azrani.
"Udah putus" gue menjawab acuh, malas dengan topik tentang tuh cewek, bukan nya masih cinta tapi gue kecewa. Ett dah curhat dah gue.
"Lah kok bisa?, bukannya pacaran udah lama?" tanya Rafi, ini nih temen bego nanya ngak mikir.
"Yah bisa lah, apa yang ngak bisa" jawab gue acuh.
"Dia selingkuh" ujar gue sambil meminum capucino yang sedari tadi cuma gue aduk - aduk.
"Jangan - jangan sama orang kemaren jalan sama dia, anak SMA nya itu. SMA pelita bangsa, kan murid di sana anak pengusaha semua" ucap Iqball, gue mikir bentar. Bentar banget, masa bodoh lah emang penting mikirin cewek kaya dia.
"Bisa jadi tuh, kan si Elyta materialistis. Pasti tu anak mikir kalau sama selingkuh'hanya bakalan lebih banyak di kasih jajan. Sinting emang." kata Rafi dengan mimik wajah kesal. Heran gue yang putus gue yang emosi duo curut.
"Udah ngak usah di pikirin, kalian kan tau gue pacaran sama dia cuma buat naikin personalitas gue di dunia maya. Bukan karna gue cinta sama dia, jadi santai aja ngak usah ngegas gitu. Kalau lo ngak suka tinggal lo bacok" gue berucap dengan santai.
"Lah, selama hampir dua tahun lo pacaran sama dia. Tapi hati lo masih belum punya rasa sama sekali sama tu cewek. Yang bener aja rang?" Rafi mulai banyak tanya lagi.
"Apa jangan - jangan lo ngak suka sama cewek rang. Lo gay yah?" kata Iqball yang berhasil membuat gue menoleh.
pletak,,,
Sedotan capucino gur berhasil mendarat dengan sempurna di jenong Iqball. Enteng banget dia ngomongin gue gay.
"Sekenya lo ngomong, gue normal. Tapi tu cewek ngak pantes buat gue cintai" omongan gue berhasil meyakinkan duo curut yang suka semabarangan kalau mikir ini.
"Udah ah malas bahas masalah ini mulu. Mending balapan yuk" ajak gue.
"Lets go, brother" duo curut berkata bersamaan.
Kami meninggalkan cafe setelah membayar tagihan bill. Seperti biasa, kami ke circuit untuk balapan. Jangan mikir gue balapan liar. Gini - gini gue tau aturan.