
Risky, Nissya, dan juga Aulia baru saja sampai di pantai Santolo. Pantai dengan pemandangan indah yang sangat memanjakan mata.
Aulia dan Nissya langsung memarkirkan motor dan berlari ke pingir pantai. Risky hanya tersenyum melihat kedua wanita itu sudah berlarian.
"Woy ky sini, foto'in dong. Mau update gue. Masa udah jauh - jauh kesini ngak di abadikan. Kan sayang" teriak Aulia pada Risky yang masih diam di samping motor.
"Iya cerewet banget sih lo" gerutu Risky sambil berjalan mendekati keduanya.
"Tolong foto'in yah ky" kata Nissya sambil menyerahkan kamera ke arah Risky.
"Ayo nis ke sana lebih cantik pemandangannya. Woy ky ngelamun aja, kenapa gue cantik udah lama itu mah" cerocos Aulia.
"Sekenanya kalau ngomong, dari mana nya curut kaya lo gini cantik. Gue cuma berasa jadi tukang foto doang di sini. Njir, ngak di anggap temen" ucap Risky.
"Omongan lo ky" tegur Nissya mendengar Risky mengupat.
"Bener tu, kita cuma minta tolong. Ntar juga kalau ada yang lewat kita minta tolong foto'i bertiga. Ayo dong masa cowok ngambekan" ejek Aulia.
"Yah maaf, ngak sengaja. Udah ayo jangan banyak bacot" kata Risky.
Aulia dan Nissya bergaya ala - ala kekinian. Risky memotret momen - momen di depanya tampa ada yang terlewatkan.
"Eh lo gaya dua jari aja nis, gue lo gendong. Kan kaya lagi bahagiah banget tuh. Lagi trending lo" ajak Aulia antusias di sela - sela Risky yang sedang mengecek hasil foto di kamera.
"Ngak ah, enak aja. Keenak'an lo nya. Gimana gue aja yang lo gendong?" Nissya balik menawarkan.
"Ck, sekali - kali gue yang lo gendong. Masa gue mulu yang ngendong. Lo berat nis, ayolah" kata Aulia mengatupkan dua tangannya memohon. Nissya mencubit pipi Aulia dengan gemas akan tingkah nya itu. Pemandangan di depan mata itu tidak di lewatkan dengan Risky, dengan cepat Risky memotret pasturi dua sahabatnya itu.
"Woy,,, ky kok lo foto jelek gue nyah. Ah elahh, nyebelin banget sih" Aulia mendumel kesal.
"Udah ngomel mulu lo kaya emak gue, kita foto bareng bertiga yok. Gue minta'in tolong sama anak nya mbak yang jualan kelapa muda dulu yah" ucap Risky. Aulia dan Nissya mengangguk setuju.
Setelah puas be-foto ria. Mereka memutuskan untuk duduk di kusi pinggiran pantak yang di temptak di bawah pohon oleh penjual es kelapa muda. Risky, Nissya, dan Aulia memesan es kelapa muda yang nampak sangat segar.
"Eh, nis tugas kelompok kita yang di suru sama pak pauzi udah di kerjain belom?" tanya Aulia.
"Udah, ada di rumah kalau lo mau catet ntar pulang gue pinjemin" kata Nissya sambil memainkan hanphone nya.
"Iya gue mau catet, bosen dengerin lagu
dari pak Pauzi, merdu kagak. Bikin puyen iya" kata Aulia dengan memasang wajah pura - pura lelah.
"Itu mah salah lo juga, di suru bikin tugas penelitian tumbuhan. Lo malah bikin kata - kata defenisi cinta. Sableng emang" timpal Risky.
"Pak Pauzi nya aja yang jelas ngomongnya. Dia cuma bilang bikin penelitian, dan defenisikan dengan versi kalian. Gue mah bikin penelitian tentang Cinta . Dan defenisinya kalau cinta itu jug bisa nimbulin banyak rasa, bahagiah, kecewa, dan sakit" tutur Aulia.
"Itu mah kamu yang ngak dengerin dari awal li, kita belajar tentang tumbuhan bukan Cinta" ujar Nissya.
"Yah kayak ngak tau gue aja, suara pak Pauzi ngak merdu kayak suara Mr. ganteng" kata Aulia.
"Namanya mr.Mike. Aulia, bukan mr. ganteng" kata Nissya.
"Enakan juga manggil mr.ganteng"
Di lain tempat, Rangga baru saja selesai dengan balapannya dengan Rafi dan Iqball.
Dan seperti sebelum, sebelumnya Rangga masih jadi pemenang utama.
Banyak anak - anak SMA, dan juga anak kulia'han yang menonton dan bersorak saat ketiganya melewati garis start. Apalagi saat Rangga membuka helm fullface-nya. Siapa yang tidak kenal dengan selebgram nomer satu di kota itu.
"Gila njir, makin kenceng aja nih kuda besi lo." kata Rafi setelah membuka helm nya.
"Siapa dulu, gue gitu. Hahaha, makanya nih di permak dong ayam merah lo" ucap Rangga menepuk motor ninja milik Rafi.
"Dia mah bukan motornya, tapi orangnya rang. Loyoh dari oroknya,hahah" Iqball menoyor bahu Rafi dengan tertawa puas.
Seorang perempuan berjalan dengan anggun ke arah ketiganya. Rafi meng-kode Rangga dan Iqball dengan menujuk perempuan itu dengan dagunya. Rangga dan Iqball menoleh ke arah perempuan itu.
"Ngapain lo?" tanya Rangga dengan ketusnya saat perempuan itu sudah berada di dekat mereka bertiga.
"Masih hoby lo balapan, gue fikir udah ngak ikutan lagi" kata perempuan itu dengan tatapan meremehkan Rangga.
"Cih, tau apa lo tentang gue" Rangga berdecih malas.
"Pacar gue, Luke nantang lo minggu ini one by one kalau lo berani" ujarnya.
"Hey, Elyta pricia lo pikir pacar lo sehebat apa bisa ngalahin sohib gue. Bilangoin curut kaya dia, ngak pantas buat nandingin seorang Rangga velove_
" Gue ladenin kalo pacar lo itu memang gantle" Rangga memotong ucapan Rafi sebelum Rafi menyebut marga keluarganya. Karna Rangga yakin Elyta tau margga keluarganya dan kedudukannya di kota Bandung.
"See you next time" ujar Elyta.
"Tunggu" ucap Rangga, perempuan itu pun menghentikan langkanya dan berbalik ke arah Rangga dengan melipat tangan di depan dadanya dengan angkuh.
"Apa?" ujarnya dengan mengipaskan tangan kegerahan karna matahari sedang terik - teriknya.
"Kalau gue menang, gue minta jangan ganggu kehidupan gue lagi. Dan jangan datengin gue lagi" Kata Rangga menyodorkan tangannya untuk kesepakatan.
"Oke deal" Elyta mengulurkan tangannya namun di tepis oleh Iqball.
"Deal, tapi tangan lo ngak usah nyentuh sohib gue ngak level" ucap Iqball sinis.
"Cih, siapa dia selain selebgram yang ngandalin mukanya. Dia ngak ada apa - apanya dari Luke" Elyta berdecih, dan berlalu pergi.
"Kita tunggu tanggal mainya" tutur Rangga dengan senyuman sinisnya.