say love to me

say love to me
chapter 13



Desiran agin malam menyapa kulit putih seorang gadis cantis yang resmi melepas masa lajangnya siang tadi.


Lampu - lampu kota menyalah menambah keindahan malam hari dari balkon kamar hotel yang malam ini dia tempati.


Memejamkan mata menikmati desiran angin, menyegarkan tubuhnya yang kelelahan karnah seharian memakai gaun - gaun dengan berat yang mungkin sampai puluhan kilo gram itu membuat tubuhnya kelelahan.


Masih dengan posisi memejam matanya, hingga sepasang tangan kekar melingkar dengan indah di perut rampingnya.


Mengelus tangan kekar itu dengan lembut dan menikmati hembusan nafas hangat yang menembus hijabnya yang memang tipis.


Ada sebuah kenyaman dalam setiap sentuhan dari tangan kekar itu. Menyalurkan apa yang di rasakan oleh keduanya. Sama -sama memejamkan mata menikmati kehangatan dan kenyamanan yang baru saja mereka rasakan.


Hingga...


tok...tok..tok..


"Rangga?, nissya?,Ayo kita turun ke bawah mama ayu dan papa radit sudah menunggu untuk makan malam!" Kata rania ibunya nissya dengan lantang masih dengan mengetuk pintu bahkan tidak mengucapkan salam.


"sebentar bu nanti kita nyusul!" jawab rangga dengan nada yang menyiratkan sedikit kekesalan karnah mertuanya itu telah menganggu aktifitasnya.


"Ayo mas kita turun aku udah lapar" kata nissya dengan senyumannya yang seindah bunga mawar. Rangga tersenyum ada satu kata yang menghangatkan sisi terdalam hatinya mas ini kali pertama dirinya di panggil dengan sebutan itu dan kata itu berhasil mengubah suasana hatinya yang semula ada sedikit kekesalan kini menjadi hangatdan binar bahagiah yang terpancar jelas di kedua sorot mata indahnya.


"Mas?" Kata nissya dan berhasil membuyarkan lamunan rangga


"Eh?, yaudah ayo sayang" ajak rangga.


Blush..


Sayang dan kata itu berhasil menimbulkan semu merah di pipi cantik nissya dengan cepat nissya menundukan pandangannya. Rangga yang melihat tersenyum bahagiah. Merangkul pinghang ramping nissya dan melangkakan kaki menuju pintu kamar.


Saat keluar kamar, dan menuji restoran yang berada di lantai bawah banyak pasang mata yang melihat perlakuan manis rangga yang merangkul pinggang nissya posesif. Nissya yang di tatap seperti itu sedikit risih apa lagi dengan posisinya dan rangga saat itu.


"Mas banyak yang lihat, aku malu" ucap nissya lirih tampa melihat ke arah rangga. Rangga tersenyum geli melihat sikap malu nissya. Rangga menatap orang - orang di sekelilingnya dengan tajam tampa sepengetahuan nissya. Seketika orang - orang yang sempat menatap merekah mengalihkan pandangan dan berjalan dengan cepat. Saat di rasa semuanya sudah tidak menatap merekah lagi rangga kembali menuntun nissya berjalan memasuki lift dan turun ke lantai bawah.


"Ayo nis kita ke sana" ajak rangga dengan menujuk di mana posisi orang tua merekah berada.


Nissya hanya menjawab dengan anggukan kepalah berjalan mengiringi rangga yang sudah berjalan duluan dengan menggengam tanganya.


"Ekhm..ekhm.. yang pengantin baru jalan pakai gandengan tangan segalah takut banget istrinya kabur" Goda radit saat melihat anak dan menantunya itu sudah berada di pinggir meja mereka.


"Apa sih pa" kata rangga menatap papanya jengah. papa nya itu hoby sekali menggoda. Buktinya pipi putih nissya kini sudah di hiassi dengan rona merah. Radit hanyan menanggapi ucapan rangga dengan tawanya.


"kita ngak di suruh duduk dulu ni?" Tanya rangga yang sedari tadi masih berdiri di pinggiran meja.


"Udah - udah duduk dulu gih!" Lerai ayu melihat ekspresi kesal putra tercintanya itu


Nissya dan rangga duduk. Tidak lama setelah mereka duduk. Makanan yang sudah terlebih dahulu di pesan oleh mama ayu sudah di hingankan di depan meja merekah.


Rania, radit, ayu, nissya, dan rangga langsung berdo'a dan menikmati makan malam merekah. Tidak ada pembicaraan saat makan hanya suara sendok dan garpu yang berdending hingga merekah selesai makan.


"ALHAMDULILLAH" ucap merekah bersamaan. Lalu radit dan rangga tertawa bersama enta apalah yang lucu sehingga ayah dan anak itu tertawa dengan lepas



Sementara di sebuah club malam yang cukup besar seorang pria tengah meneguk wine yang entah sudah berapa gelas di habiskan. Pria itu menatap kosong pemandangan di depannya. Gadis - gadis dengan pakayan yang super sexy itu tidak membuat hawa nafsunya naik. Suara dentuman musik di club itu tidak membuat suasana hatinya ramai. Kepalahnya berdenyut sakit akibat minuman yang di minumnya tadi mungkin karnah terlampau banyak. Seorang wanita dengan pakayan yang kurang baham menghampirinya denga pandangan yang siap menerkam mangsanya dan menelanjanginya saat itu juga. Risky tidak mengubris kebdatangan wanita itu.


"Hay, mau bermain denganku malam ini?" Ucap wanita itu menggoda dengan mengusap - usap dada risky agar terpancing. Seolah terbakar dengan emosinya risky mendorong wanita itu dengan dinginnya dia berkata.


"Jangan sentuh aku, tangan kotormu tidak akan ku biarkan menyentuh tubuhku sejengkalpun! kata risky dengan penuh penekenan, dingin dan tersirat nada tegas.


Seketika tubuh wanita itu kaku. Menatap penampilan risky dari atas sampai bawah.


" Tidak usah menatapku. Aku sudah punya pemilik hati!" tegas risky berbicara.