say love to me

say love to me
chapter 29



Awal minggu yang cerah, hari senen adalah hari tersibuk hampir bagi seluru orang. Matahari sudah memancarkan keceriahannya di pagi hari dengan bersinar terang.


“Maaaassssss, cepetan kita telat ini!!!” teriak Nissya yang juga sedang kerepotan sendiri memakai sepatu.


“Iya, iya, sabar sya dikit lagi ini” Rangga berlari menghampiri Nissya dengan dasi yang masih di ikat asal, baju seragam yang masih belum terkancing sempurna bagian atasnya dan rambut yang acak - acakan karna habis keramas. “Ayo cepetan jangan bengong!” Rangga menarik lengan Nissya menyeretnya sampai ke motor yang sudah siap menunggu. Rangga memasangkan helm untuk Nissya dan merapikan jilbab Nissya. Setelah Nissya naik dengan segerah Rangga melajukan motornya.


“Aduh, gimana nih mas bisa telat kita sepuluh menit lagi gerbang di tutup. Ngebut aja mas!” titah Nissya yang panik setengah mati lantaran selama ini Nissya memang belum pernah telat masuk sekolah.


“Entar kita malah bukan ke sekolah sya, tapi ke rumah sakit” ucap Rangga.


“Mas ini darurat banget, udah cepetan aku ngak mau telat. Mas ngebut tapi hati - hati yah!” kata Nissya yang sudah memeluk Rangga dengan erat. Jujur saja sebenarnya Nissya juga belum pernah naik motor kebut - kebutan dan dia juga takut kecelakaan.


“Iya udah lo santai ajah rileks kalau sama gue ngak bakalan jatuh kok” ucap Rangga yang menyadari bahwa Nissya sebenarnya takut namun juga panik karna situasi waktu yang mengejar mereka. Rangga mempercepat laju motornya agar lebih cepat sampai ke sekolah.


 


Rangga dan Nissya sampai tepat sebelum dua menit lagi gerbang sekolah di tutup. Setidaknya Nissya bisa bernafas lega karna dirinya tidak telat.


“Hahahahaha” Aulia yang datang entah dari mana langusng tertawa terbahak - bahak di ikuti dengan Risky, Rafi dan juga Iqball yang tak kala parahnya saat tertawa.


“Pada ngetawain apaan sih?” tanya rangga penasaran.


“Emang lo apain tuh pak Roni?, ntar jantungan lo kena batunya.” Tanya Rangga penuh selidik.


“Kaget denger gue nyanyi dia bang, abisnya suara adek lo ini kan merdu banget” ucap Aulia antusias.


“Bukan merdu rang, nih adek lo teriak histeris pas masuk gerbang ngak telat” Iqball membenarkan ucapan Aulia.


“Sama dong yah” saut Nissya.


“Maksudnya?” tanya Rafi masih gagal paham.


“Kita...” ucapan Nissya terhenti ketika mendengan teriakan pak Fauzi yang menggema.


“Nissya....., Aulia... Risky.... kalian ngapain masih ngobrol di situ. Ini udah bell ngak kedengeran apa sama kuping kalian itu. Buruan masuk kelas, yah tuhan ini juga Aulia baru juga masuk udah bikin ulah. Kalian juga masih anget - angetnya. Masih baru, masih fresh. Tapi udah bikin ulah, sana masuk ke kelas.” titah pak Fauzi menghela nafas kasar.


“Iya maaf pak, kita permisi asallamualaikum” Risky berucap dan mencium punggung tangan pak Fauzi yang di ikuti Aulia dan yang lainya.


“Bapak ganteng kalau ngak marah” rayu Aulia agar gurunya itu tidak lagi marah - marah.