
Bersamamu adalah keinginanku. Jika ini mimpi maka jangan bangunkan aku selamanya!
Rangga POV
Malam ini sangat indah. Sangat sesuai dengan isi hatiku saat ini. Bulan sabit yang tersenyum menampakan sinar teduhnya. Bintang yang berhamburan memancarkan sinar kebahagiahan dan menaburkan keindahannya. Tapi semua itu tidak sebanding dengan ciptaanya yang saat ini bersamaku. Dia adalah bidadari dalam bentuk manusia untuku. Tidak ada yang lebih sempurnah selain dia. Mutiara khairunnissya, itsri yang akan menjadi ibu dari anak - anakku.
Malam ini kecantikannya meningkat berkali - kali lipat. Di balik hijabnya di luar rumah, nissya yang berada di dalam rumah sangat suka dengan pakayan mini layaknya anak perempuan jaman sekarang. Jujur kami memang sudah menikah, tapi kami belum melakukan hubungan suami istri. Kami masih sekolah dan akan membuat orang curiga jika Nissya hamil karnah pernikahan kami memang tidak di publikasikan. Hanya keluarga besar dan sahabt karip saja yang tahu.
Melihat penampilan Nissya di rumah membuatku panas, dingin. Aku pria normal melihat reseky di depan mata dan itu halal untuku membuat jiwa lelakiku minta di sentuh. Tapi ketika mengungat setatusku dan Nissya masih pelajar SMA membuatku kembali berfikir. Sabar Rangga hanya menunggu lulus SMA dan semuanya akan berjalan dengan lancar.
Batinku menenangkan fikiran mesumku itu.
Nissya masih membaca buku di sebelahku. Aku sangat penasaran dengan buku yang di bacanya. Dengan pelan ku lirik ke arahnya dan mengintip apa yang dia baca. Ternyata dia sedang membaca novel. Entahla perempuan sangat suka membaca novel yang nitabene nya hanyalah cerita hayalan penulisnya saja.
Aku mendekati Nissya. Dengan santai aku mengambil novel nya aku yakin dia tidak akan marah. Nissya menatapku melongo dan aku hanya cengengesan saja.
"Kenapa mas mengambil novel ku?, kembalikan sini. Aku sedang membaca endingnya!" ucap Nissya dengan menengadahkan tangannya meminta. Aku tersenyum.
"Besok saja!. aku ingin berdua denganmu. Bagaimana jika kita bernyanyi bersama?" tawarku berharap ada sedikit momen romantis walaupun hanya sebatas 'berpegangan tangan' misalnya!.
Tampa banyak bertanya Nissya menyetujui ajakanku. Aku menarik tangannya lembut menuju ruangan tempat alat musik di rumah kami yang sederhana ini. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar memang. Aku mendudukan Nissya di kursi depan pianonya. Sedangkan aku sendiri duduk di kirsi sebelahnya dengan gitar di pangkuanku.
"Kita akan menyanyikan lagi apa mas?" tanya Nissya menatapku. Tatapan yang membuat jantungku selalu berdetak lebih cepat. Entah kenapa aku sangat jatuh cinta kepada Nissya. Bahkan semakin lama cinta yang ada dalam diriku semakin besar.
"Iwan fals, kemesraan. Apa kau tahu lagunya?" aku bertanya bali. Aku rasa malam dingin dengan suasana akan lebih hangat dengan nyanyian indah kami.
"Baiklah ayo kita mulai" tutur Nissya.
"Ok sayang" jawabku singkat.
Tanganku sangat piawai memainkan senar gitar. Alunan piano Nissya juga sudah mengikuti suara gitarku. Aku bingung apakah aku yang duluan bernyani atauka Nissya.
Tapi karnah aku seorang lelaki dan aku yang mengajak bernyanyi dan menyarankan lagu akhirnya aku berinisiatif duluan bernyanyi.
Suatu hari
Dikala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang
Ombak dilautan yang kian menepi
Burung camar
Terbang bermain diderunya air
Hangatkan jiwa kita
Nissya menatap Rangga dengan senyuman termanisnya. Rambut panjangnya tergerai indah dengan sapuan angin malam yang menerpanya. Baju kaos baby pink yang sedikit longar dan jeans pendek di atas lutut berwarnah hitam menambah kadar kecantikannya. Nissya memulai gilirannya bernyanyi.
Sementara
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu
Nissya dan Rangga saling menatap mereka berbicara dengan tatapan satu sama lain. Rangga dan Nissya seolah pahan dengan tatapan masing - masing merekah mekantunkan bait - bait lirik terakhir bersama - sama.
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu
Hatiku damai
Jiwaku tentram disampingmu
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu.
Rangga dan Nissya mengakhiri nyanyian mereka dengan indah. Rangga mengengam tangan Nissya dam mengusapnya dengan lembut.
"Terimah kasih yah sya kamu sudah mau menjadi istriku. Maaf kalau aku masih belum bisa jadi yang terbaik untuk kamu. Aku memang tidak sempurnah. Tapi untuk kamu aku selalu berusaha menjadi lebih baik lagi. Aku harap kamu mau menemaniku untuk menjadi laki - laki yang lebih baik lagi. Dan aku harap kamu sabar menanti setiap perubahan - perubahanku untuk menjadi yang lebih baik lagi. Aku bukanlah laki - laki baik sya. Tapi kalau untuk kamu aku akan berusaha jadi yang terbaik" ucap Rangga dengan bersunguh - sunguh. Nissya menatap netra Rangga dalam mencari keraguan dan juga kebohongan dalam mata Rangga. Namun tatapan Rangga bersunguh - sunguh. Nissya tentu bahagiah karnah suaminya itu mencintainya. Nissya memeluk Rangga dengan erat.
"Tidak perlu berterimah kasih. Kamu laki - laki yang baik bagiku. Kamu adalah imamku. Kebaikanmu adalah cahayaku. Dan keburukanmu adalah hal yang harus aku tutupi dari orang - orang yang tidak menyukaimu. Apapun keadaanya dan bagaimanapun kondisinya. Aku akan tetap di samping kamu. Aku mencintaimu" Nissya menyampaikan semua yang ingin dia sampaikan. Rangga menatao Nissya dengan pandangan takjub dan luar biasa.