say love to me

say love to me
chapter 26



Nissya masih betah dengan bibir bebeknya hingga sampai ke depan rumah. Rangga yang melihat dengan tatapan menggodanya yang sedang cemburu buta itu menambah kekesalan seorang Nissya.


"Eh udah dong ngambeknya yah sayang, kamu makin imut kalu bibirnya di majuin gitu. jadi pengen cium nih" Rangga mendekatkan tubunya ke arah Nissya. Dengan cepat Nissya membuka pintu membukanya lalu berlari memasuki rumah dengan menutup mulutnya. Rangga yang semula bingung kini menjadi tertawa terpingkal - pingkal.



Seperti kata mereka di taman. Hari ini Risky, Aulia, Rafi, dan juga Iqball sudah sampai di rumah Rangga - Nissya. Nissya memang tidak membuka hijabnya karna sudah tau hari ini mereka akan latihan di rumah mereka.


"Kakak ipar, haus nih" ucap Aulia yang duduk di sofa cengengesan dan geli sendiri karna memanggil Nissya dengan sebutan 'kakak ipar'.


"Eh bikin sendiri sono enak aja main suruh - suruh!" Rangga melayangkan protesnya dengan mendengus kesal.


"Eh kita kan tamu bang slow. Tamu kan raja" Aulia menatap Risky, Rafi, dan Iqball yang mengangguk mendukung. Asik berdebat dan tidak ada yang mau kalah. Mereka di hentikan oleh Nissya yang sudah membawa nampan berisi enam gelas jus jeruk dingin yang membuat ke lima anak adam itu berlari dan mengambil satu gelas masing - masing.


"Ngak enak nis" protes Rafi meletakan gelas yang sudah kosong ke atas meja ruang tamu Rangga - Nissya.


"Ngak enak lu habisin juga" cicit Aulia memandang Rafi malas.


"Rugi mah kalau ngak di habisin rezeky ngak boleh di tolak" kila Rafi cengengesan.


"Eh mau lagi ngak nih masih ada segelas lagi" ucap Nissya menyodorkan gelas yang berada di tangannya. Rafi menoleh dan berniat mengambil gelas di tangan Nissya namun dengan cepat Nissya meminum setengahnya lalu Rangga yang meminum setenga gelas lagi. Rafi mendengus kesal karna berhasik di jebak oleh pasangan suami istri itu.


"Sialan emang kalian kan gue lagi haus ini" Rafi mendelik kesal.


"Ck, bukannya lu bilang ngak enak" ucap Rangga.


"Dia mah ngak enak kalau dikit!" Iqball menjitak kening Rafi yang sudah nyengir - nyengir kuda.


"Eh latihannya kapan?" Aulia dan Risky berucao bersamaan lalu saling pandang.


"Cie.... kayaknya jodoh tu" cicit Rafi menggoda keduanya yang salah tingka sendiri dan pipi Aulia yang sudah merah merona.


"Udah - udah kasian tu pipi adik gue merah. Kita mulai aja yuk" Ajak Rangga menujukan arah ke ruang musik.



Rangga sudah berdiri dengan mic di tangannya di sebelahnya Aulia juga sudah siap dengan mic nya. Nissya sudah duduk dengan nyaman dengan piano di depannya. Risky dan Rafi duduk di belakang Aulia dan Rangga dengan gitar di pangkuannya. Dan yang terakhir Iqball yang santai memegang stick drum band nya.


"Udah siap semua ni?" tanya Rangga.


"Sebenarnya suara aku tu ngak bagus loh bang" ucap Aulia sambil mengaruk kepala nya yang tidak gatal sama sekali.


"Coba dulu aja" Iqball memberikan saran.


"Jangan ngerendahin diri" Rafi ikut menanbahi ucapan Iqball.


"Gue yakin lo bisa" Risky ikut menyemangati.


"Tu udah di semangati lo li semangat" ucap Nissya mengangkat gepalan tangannya lambang semangat.


"Huhuhuhu.. terharu gue mah kalau gini. Yah udah gue coba" Aulia memantapkan kepercayaan dirinya walaupun masih tidak terlalu yakin.



Sudah sekitar setengah jam mereka latihan tapi belum mencapai kata 'lumayan' sekalipun. Semua itu di sebabkan Aulia yang sering lupa nada dan lirik dari lagu yang di mainkan. Bahkan sudah membawahkan lagu yang di pilih oleh Aulia sendiri tetap saja Aulia masih salah nada.


Dan sekarang mereka sedang istirahat di karpet ruang tamu dengan minuman kaleng dan cemilan yang sudah di siapkan oleh Nissya.


"Sebenarnya lo tu ngak bisa atau gimana sih Li" tanya Rafi yang baru saja selesai menghabiskan minuman kaleng nya.


"Ngak tau gue, bawaannya gerogi terus. Perasaan kemaren - kemaren gue ngak gitu kan yah ky" Aulia menatap Risky meminta kebenaran pendapatnya yang di angguki oleh Risky.


"Eh dek, ituh ma kalau sama Risky ini sama gue beda lah. Kan gue lebih berkharisma" Rangga menangappi dengan percara diri.


Risky menjitak kepala rangga dengan snack yang baru saja ingin dia buka.


"Eh toge gini - gini juga gue ngak kalah dari lo" protes Risky.


"Udah - udah berantem mulu" gerutu Nissya dengan pandangan fokus ke layar TV yang menampilkan film horor.


"Tuh dengerin buk ustazah ngomong" jawab Rafi yang juga fokus menatap layar TV.


Sejenak semuanya memili diam dan memfokuskan pandangan pada layar TV yang sedang tegang - tegangnya dengan adegan film horor.


"AAAAGGGGHHHHHH"


Pekik ke enam orang itu kaget ketika adegan pembunuhan di tampilkan dengan surah yang gaduh. Refleks Nissya dan Rangga berpelukan begitu pula Aulia dan Risky. Rafi dan Iqball yang kaget dengan adegan film yang di tonton juga berpelukan.


"Eh togeh lu berdua masih betah pelukan gitu?" Rangga menyadarkan kedua laki - laki yang masih berpelukan erat itu.


"Geli gue lihatnya" ucap Aulia.


"Jangan bilang kalian sama - sama suka lagi?" tuduh Risky.


"Enak aja sembarangan loh ky. Gini - gini juga gue normal. Ngak banget gue sama ini dedemit!" protes Rafi.


"Gue juga ogah kali sama luh. Gini - gini gue masih penggemar semangka mudah" kata Iqball menatap semua orang dengan sebal.


"Udah - udah berantem lagi kan jadinya, jadi latihan lagi ngak nih?" tanya Nissya.


"Udahan dulu de nis udah sore cape gue, besok kan gue udah masuk ke sekolahan lo" ucap Aulia.


"Beneran li, berarti lo masuk kelas kita lagi kan ky." Nissya menatap ke arah Risky.


"Iyah kemaren kan kelas kita keluar lima orang" balas Risky santai menutupi rasa canggung.


"Wah bagus banget tuh. Kenapa pada keluar curut mana yang keluar" kepo Aulia.


"Bisa itu mah. Didi, rio, ebi, sandi, sama si ahmad. Bikin ulah, bolos udah jatuh tempo" jelas Risky.


Setelah berpamitan dengan tuan rumah. Risky langsung mengantar Aulia pulang ke rumah orang tua Rangga. Sedangkan Rafi dan Iqball langsung pulang.


"Masuk yuk sya, beta amat di depan pintu" ajak Rangga.


"iya"


Rangga dan Nissya sudah duduk di sofa ruang tamu. Rangga memperhatikan raut muka Nissya yang murung setelah kepergian teman - teman mereka. Rangga memeluk Nissya.


"Kamu kenapa kok sedih gitu" Rangga mulai bertanya sambil mengelus rambut Nissya.


"Ngak kok cumah kangen ibu ajah" cicit Nissya.


"Hari sabtu kita ke rumah ibu nginap ngimana?" tawar Rangga.


"Emang mas mau?" Nissya balik bertanya.


"Kalau kamu mau?"


"Aku mau banget"


"Yah udah mandi sana nanti weekend kita ke rumah ibu" ucap Rangga.


Nissya segerah menuruti perkataan Rangga dengan semangat bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.