Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 8 : Perlahan Terungkap



Zinn mengisyaratkan kepada Frost untuk diam selama beberapa saat. Mereka berdua dapat melihat bayangan dua orang yang sedang mendekat dari depan sana. “Kami datang untuk menyelamatkan kalian,” kata Zinn. “Jangan takut, kami tidak akan menyakiti kalian.”


Dua bayangan di balik tembok itu perlahan-lahan menunjukkan sosok mereka. Seorang lelaki remaja dan seorang remaja perempuan. Mereka tampak serasi. Saat melihat Frost, mereka langsung percaya bahwa pria itu dan Permaisurinya datang untuk menyelamatkan mereka.


“Anda pasti adalah Kaisar Castleton. Salam untuk Anda.” Remaja laki-laki dan perempuan itu menundukkan kepala mereka. “Saya adalah Qerza Turquoise Cardinal dan dia adalah Nona Fiery Fuchsia Daffodil. Saya adalah satu-satunya suku Cardinal yang tersisa di Regancy. Nona Fiery adalah anak dari Kepala Suku Daffodil. Saya akan langsung bicara ke intinya saja, saya yang meminta Nona Fiery untuk membawakan plakat dari Daffodil ke Castleton. Malam itu, saya dan Nona Fiery melihat hal-hal yang sangat mengerikan. Kami sudah mencoba memperingati orang-orang desa untuk berhati-hati, tapi orang dewasa sama sekali tidak ingin mendengar anak-anak berbicara. Kami hanya dapat memanggil Yang Mulia. Mohon Yang Mulia menyelamatkan nyawa kami dan keturunan-keturunan Daffodil yang ma-“


Belum selesai remaja lelaki yang bernama Qerza itu berbicara, Frost langsung mencekiknya dan mengangkatnya ke udara. Zinn dan Fiery panik melihat kelakuan Frost terhadap Qerza.


Zinn langsung menenangkan Frost. “Kenapa Anda tiba-tiba seperti ini?” Zinn mengelus pelan lengan pemilik manik mata emas. “Anda tenang sedikit ya? Kita bicarakan baik-baik, ya? Yang Mulia, saya mohon... jangan seperti ini ya...?” Zinn menjadi panik sendiri melihat Frost yang tiba-tiba saja mengganas, entah apa yang menyebabkan pria itu mengamuk.


Frost menatap dingin ke arah Qerza dan perlahan-lahan menurunkannya ke atas tanah. Sudah dicekik pun, remaja pria itu tetap saja terlihat sangat tenang.


“Jika Yang Mulia mencurigai saya adalah orang dewasa yang berubah menjadi anak-anak, kenapa Anda tidak mencoba mengadu kecerdasan otak dengan saya? Saya mendengar kalau Yang Mulia memiliki otak yang sangat cerdas,” kata Qerza. Manik mata semerah darahnya bersinar terang.


Frost memiringkan kepalanya, merasa tertantang.


“Saya pernah mendengar kalau suku Cardinal adalah suku yang sangat cerdas dan mengetahui bahkan dapat menduplikasi kemampuan. Sayang sekali suku Cardinal tidak bisa menduplikasi teknik pedang maupun sihir. Tapi, mereka memiliki bakat dalam memanah. Castleton itu bagai Malaikat ataupun Iblis....” Zinn terdiam sejenak ketika menyebut kata “Iblis”, perkataan Mictlantecuhtli kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Zinn sungguh ingin tahu siapa Frost sebenarnya dan mengapa Mictlantecuhtli menyebutnya sebagai Raja Neraka. “Mereka dapat mempelajari segala hal, berbagai aspek. Tapi, tidak bijaksana sama sekali.”


Entah kenapa Frost merasa kalau Zinn sedang mengejeknya. Memang harus diakui kalau Frost banyak melakukan hal yang tidak bijaksana, tapi semua yang dilakukannya selalu berujung baik.


"Hasil yang baik atau tidak, semuanya bergantung pada pandangan masing-masing orang, Yang Mulia. Anda jangan berdalih di sini. Ketika Anda membunuh ribuan orang yang tidak bersalah, apakah Anda pernah memikirkan bagaimana perasaan keluarga yang mereka tinggal untuk pergi berperang—walau mereka sebenarnya tidak ingin berperang, terlebih lagi tidak ingin mati di tangan Anda?"


Frost terdiam mendengar perkataan Zinn, merasa kalau pemilik manik mata merah jambu benar. Frost tidak memikirkan apakah para prajurit tersebut memiliki keluarga atau tidak, yang dia pikirkan hanyalah ketika mereka meminta ampun kepadanya mereka telah mengkhianati dan membelot dari pimpinan mereka, orang yang pernah berkhianat satu kali akan melakukan hal yang sama di masa depan.


Qerza dan Fiery hanya bisa mendengar pembicaraan orang dewasa di hadapan mereka. Fiery tidak begitu paham tentang apa yang sedang dikatakan oleh Zinn, tapi tidak dengan Qerza, remaja lelaki itu sangat paham. Qerza pernah berada di posisi yang dikatakan oleh Zinn: berjuang seorang diri karena Ayah-Ibu yang meninggal dunia di usianya yang masih kecil, dia yang mendambakan kekuasaan dan kekayaan agar tidak ditindas oleh orang lain. Qerza sangat paham berada di posisi itu tidaklah mudah.


“Anda bukannya tidak pernah berada di posisi ini. Siapa yang tidak tahu kalau sebenarnya Kaisar di Castleton sudah lama meninggal dunia? Siapa yang tidak tahu kalau Permaisuri terdahulu naik takhta dikarenakan membunuh Adiknya yang merupakan Permaisuri asli Castleton dan mengasingkan Putra Mahkota yang baru lahir ke daerah suku Alabaster?”


Frost tercengang karena Zinn mengetahui hal itu. Semua cerita itu memang benar adanya, Frost yang baru lahir memang diasingkan ke daerah suku Alabaster, kampung halaman Ibundanya sendiri.


“Ini sudah menjadi rahasia umum, bahkan Cardinal dan Daffodil tahu cerita ini. Alabaster bersebelahan dengan Ganache, menurut Yang Mulia bagaimana saya bisa tahu kalau bukan karena kabar burung di masyarakat? Semua orang tahu, tapi tidak ada yang berani angkat suara, hanya bisa diam-diam membicarakan hal ini. Siapa yang menyangka kalau Putra Mahkota yang diasingkan ini bisa tumbuh menjadi orang yang sangat berani, bahkan membantai orang-orang karena haus akan hak yang sepantasnya dia miliki.”


Frost tidak begitu senang mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Zinn.


“Sudahlah, tidak ada gunanya terus mengatakan kisah hidup orang lain seperti ini. Kita harus mencari cara menyelamatkan mereka. Benar juga, kalian berdua, apakah masih ada orang yang selamat?” tanya Zinn.


“Jawab Permaisuri, masih ada anak-anak yang selamat. Mereka semua ada di dalam sini. Selain itu, beberapa orang yang terluka di atas sana mungkin masih ada yang selamat. Karena makhluk-makhluk aneh terus berkeliaran, hanya bisa diam layaknya orang yang sudah mati,” jawab Qerza.


Frost tiba-tiba saja disergap perasaan aneh. “Jangan berbicara, posisi kita sudah ketahuan. Jika kalian berbicara lebih keras lagi, yang di atas sana akan menemukan ruangan rahasia ini. Di sini sudah tidak aman. Aku yakin kalau kalian berlama-lama lagi di sini, kalian akan kena sial, terutama kau, Ganache.” Frost menatap tajam ke arah Zinn yang baru saja bertemu dengan Mictlantecuhtli.


“Saya paham, Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir. Lagi pula, Anda sudah memasang Mantra Pelindung di sini, walau tidak sekuat yang diharapkan, tapi tetap bisa melindungi jalan rahasia. Anda juga sudah mencapai banyak perkembangan,” puji Zinn.


Entah kenapa, aku cukup senang dipuji olehnya seperti ini, pikir Frost.