Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 16 : Membagi Tanggung Jawab



Ash, Fable, dan Slate menatap satu sama lain secara bergantian. Sepertinya mereka akan dihadapkan dengan masalah yang amat besar. Dari luar, mereka bisa melihat betapa tidak sabarnya Frost. Jika Frost yang mengajari mereka... takutnya mereka akan mati dalam kurun waktu satu hari.


“Kalian tenang saja, Yang Mulia tidak seburuk yang kalian pikirkan,” kata Zinn seolah sedang membaca pikiran ketiga anak-anak. “Tapi, jika kalian tidak menghadapi Yang Mulia dengan sungguh-sungguh, maka saya sendiri juga tidak berani menjamin sampai berapa lama kalian akan hidup.”


Ash, Fable, dan Slate menggelengkan kepalanya. Mereka tak bisa membayangkan penyiksaan yang akan dilakukan oleh Frost selama masa pelatihan.


Frost sendiri sedang asyik memuji dirinya karena berhasil menguasai Sihir Dapur. Dia sama sekali tidak menyimak pembicaraan Zinn dengan anak-anak.


“Untuk Tuan Muda Cardinal, Anda akan ditempatkan di Perpustakaan Istana.” Zinn menatap ke arah Qerza. “Tuan Muda Cardinal adalah orang yang berwawasan luas, tentu saja akan cocok untuk membaca banyak pengetahuan di dunia. Di Perpustakaan Istana, selain ada pengetahuan Regancy, masih ada pengetahuan tentang lima benua lainnya: Henna, Faxen, Salem, Rovseltte, dan Jepalamus. Di Regancy dikuasai oleh Castleton sekarang, selain itu masih ada satu benua yang pemimpinnya memiliki kesamaan umur dengan Yang Mulia.”


“Benua Rovseltte. Dikuasai oleh Keluarga Kerajaan Scarletto. Saya pernah dengar kalau kekejaman Scarletto melebihi Castleton,” kata Qerza.


Frost menatap ke arah Qerza. “Castleton tak bisa dibandingkan dengan Scarletto. Kau belum tahu si Gila Xelio Neftaza Scarletto itu orang seperti apa. Bahkan aku saja masih kalah darinya. Saat dia kecil, diasingkan ke Benua Jepalamus, aku pernah bertemu dengannya di sana. Dia memiliki aura membunuh yang lebih kuat dariku. Aku dan dia naik takhta di tahun yang sama. Sama-sama membunuh keluarga Kerajaan, tidak suka keributan, membiarkan istana kosong melompong. Tapi, dia tidak akan segan membunuh orang tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku masih memiliki hati nurani.”


‘Apakah benar Yang Mulia masih memiliki hati nurani?’ pikir anak-anak.


“Yang paling kuat mungkin hanya ada Castleton dan Scarletto. Tapi, dibandingkan Regancy, keadaan politik di Rovseltte jauh lebih rumit. Saya takut keenam benua akan berperang,” kata Zinn. “Siapa yang tidak tahu Istaq di Rovseltte sedang merencakan sesuatu yang buruk dengan Jepalamus? Bahkan ingin mengajak keempat benua lain untuk bergabung. Beruntung sekali Permaisuri Zenya bangkit dari kematian dan sedang mengurus masalah ini.”


“Bangkit dari kematian?” tanya Flow. “Tahiti mempelajari tentang Sihir Kuno dan Ilmu Hitam. Tapi, saya dan kembaran saya tidak pernah mempelajari sihir yang dapat membangkitkan orang dari kematian. Jikalau pun ada, itu adalah Sihir Kuno Mictlantecuhtli yang membuat mayat dapat hidup tanpa roh di dalam raga.”


“Di dunia ini, semuanya memang tidak masuk akal,” balas Zinn. “Ada baiknya Permaisuri Zenya bangkit dari kematian dan mengurus semua ini. Tapi, keenam benua harus berhati-hati. Tidak tahu orang jahat mana yang akan bertindak semena-mena dan berusaha untuk menguasai dunia.”


“Yang Mulia, Iblis-Iblis yang berkeliaran di Regancy....” Flo mengingatkan mereka tentang kejadian aneh yang belum selesai itu.


“Tenang saja, saya dan Yang Mulia besok akan berangkat ke Tillandsia dan melihat-lihat keadaan di sana,” kata Zinn. “Setelah semua keadaan kembali seperti semula, saya berjanji akan membangun kembali Daffodil untuk kalian yang masih selamat.”


“Terima kasih, Nyonya.” Anak-anak menundukkan kepala mereka.


“Benar juga, Daffodil adalah suku yang pandai sekali dalam rancangan dan pembangunan. Kebetulan sekali setengah tahun yang lalu Yang Mulia kalian baru saja menghancurkan daerah Suku Tahiti—maaf sekali untuk kedua Nona Muda Tahiti, kalian boleh mencoba pergi ke Tahiti dan membantu mereka membangun kembali daerahnya,” kata Zinn. Dia bertindak sangat bijaksana, mengusulkan yang terbaik untuk meningkatkan kemampuan anak-anak.


“Tentu saja! Kami senang bisa membantu Yang Mulia dan Nyonya!” seru Fiery senang.


“Terima kasih, Nyonya.” Anak-anak Daffodil menundukkan kepala mereka.


“Jangan sungkan,” balas Zinn. Dia juga senang bisa memberikan pengalaman bagi anak-anak.


"Aku mendengar ada Alabaster juga," kata Frost. "Mereka hebat dalam pemetaan, terutama pemetaan padang pasir. Kebetulan sekali daerah Tillandsia adalah padang pasir, sama seperti Alabaster. Aku akan bawa mereka besok."


Anak-anak tampak senang dengan keputusan yang dibuat oleh Frost dan Zinn. Tidak ada satu pun dari mereka yang menolak. Entah karena menerima atau takut menolak dan membuat Frost memaksa mereka.


'Baguslah jika mereka menyetujui keputusan kami. Benar juga, malam sudah larut, akan lebih baik jika kami segera beristirahat agar dapat menyelesaikan masalah besok pagi,' pikir Zinn.


"Malam sudah larut. Kita juga sudah selesai makan malam. Anak-anak perempuan silahkan mengikuti saya ke kamar kalian, yang berada di sebelah barat. Anak-anak lelaki silahkan mengikuti Yang Mulia ke kamar yang berada di sebelah timur."


Zinn bangkit dari duduknya, diikuti oleh Frost dan anak-anak. Saat keluar dari ruang perjamuan, mereka berpisah.


"Nyonya, apakah Anda menyukai Yang Mulia?" tanya Flow.


Zinn tersenyum. "Menurut Anda, apakah saya menyukai Yang Mulia?"


Anak-anak perempuan bisa melihat betapa tegar dan betapa rapuhnya punggung wanita muda yang ada di hadapan mereka.


"Saya yakin Anda menyukainya. Kalian sangat serasi," kata Flow.


Zinn terkekeh pelan. Sambil terus berjalan, dia membalas, "Cocok atau tidak, hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Ketika Anda sudah besar nanti, Anda akan menemukan jawababnya, Nona Flowery."


Flow tersipu malu. Dia senang karena Zinn bisa mengingat namanya dengan mudah.


Zinn dan anak-anak perempuan berbicara dengan hangat sepanjang perjalanan. Lain halnya dengan yang terjadi kepada Frost dan anak-anak lelaki, mereka bahkan tidak berbicara sama sekali. Hening dan canggung.


Qerza yang begitu pandai berbicara saja tidak berani di depan Frost. Apalagi bercanda atau menanyakan suatu hal, bisa-bisa mata pedang yang tajam mengarah ke lehernya.


Anak-anak lelaki ingin cepat sampai di kamar mereka dan melepaskan diri dari Frost. Mereka tak berkutik di dekat pemilik manik mata emas.


"Jika ada hal yang ingin kalian tanyakan, tanyakan saja," kata Frost, mengangkat suara. "Aku juga tidak akan memakan kalian. Daging kalian terlalu sedikit."


Anak-anak lelaki tahu kalau Frost hanya bercanda, tapi entah kenapa candaan pria itu terdengar sangat menyeramkan.


'Apanya yang bertanya? Kalau salah bertanya bukankah kepala kami yang akan melayang?' pikir Qerza.


"Kalian adalah anak-anakku dan Ganache. Jika aku membunuh kalian, bukankah Ganache akan membunuhku? Kalaupun kalian membuatku tersinggung, aku juga tak bisa membunuh kalian. Ganache akan membunuhku jika aku membunuh kalian. Berbahagialah karena dilindungi."