
“Saya hanya kebetulan menyukai pemaparan dan puisi-puisi kuno, Nyonya,” kata Ash.
Ash mendongak menatap langit yang hanya dipenuhi oleh bintang, tidak ada rembulan di sana. ‘Ternyata pemaparan dan puisi-puisi itu dapat membuat jiwaku merasa tenang. Nyonya... dari mana beliau tahu kalau aku membaca pemaparan dan puisi-puisi kuno?’
“Anda memiliki hati yang besar melalui pemaparan dan puisi, apakah Anda tidak tahu?”
Ash menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu kalau segala sesuatu bisa berkaitan dengan begitu eratnya. Apakah ada penjelasan yang logis mengenai hal ini?”
“Karena berhubungan dengan diri Anda, tentu saja Anda dapat merasakan kalau kaitannya sangat erat.” Zinn terus berjalan. Sekarang mereka sudah berada di luar gerbang Istana Castleton. “Jika Anda merasa gundah, pikirkanlah sebuah pemaparan yang dapat membuat Anda tenang.”
Ash berpikir selama beberapa saat, sebelum akhirnya membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada Zinn. “Terima kasih atas nasihat Anda. Saya akan mengingatnya selalu.”
Zinn mengangguk anggun. Dari ketiga saudara Raven, Ash adalah orang yang paling sentimental dan melankolis, pemilik manik mata merah muda tahu akan hal itu. Dia menyimpulkan kalau Ash banyak melihat pemaparan, puisi-puisi, dan mungkin, cerita-cerita kuno. Tebakannya tidak meleset sama sekali.
“Jika musuh sudah mengepung dan prajurit Anda tidak cukup, apa yang akan Anda lakukan? Menyerah kepada keadaan atau terus memerangi musuh walau keadaan terlihat mustahil?” tanya Zinn.
Pertanyaan itu sangat jelas ditujukan untuk sang logistik di antara ketiga Raven, Fable.
Fable mengembuskan napas. Sebenarnya, tidak sulit baginya untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan cara curang: tidak memilih antara kedua jawaban tersebut. Namun entah mengapa dia merasa pertanyaan Zinn amat menarik, sehingga dia memikirkannya dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya Fable menjawab, “Jika menyerah kepada musuh adalah jalan menuju kematian, maka lebih baik bertarung habis-habisan saja. Lagi pula, menyerah atau tidak sama-sama merupakan jalan menuju kematian.”
“Sama seperti ketika Anda berada di dalam sebuah kesulitan,” kata Zinn. “Jika Anda menyerah begitu saja tanpa mencoba, Anda tidak akan pernah tahu cara yang Anda gunakan akan berhasil atau tidak. Jika Anda percaya hal yang mustahil dapat diselesaikan walau memerlukan waktu yang panjang, maka Anda tidak perlu takut akan kegagalan yang datang. Gagal adalah untuk mencoba kembali. Jika masih ada secercah harapan, pergunakanlah ia sebaik mungkin.”
Fable menutup matanya meresapi setiap perkataan Zinn. ‘Benar juga. Aku selalu berpikir buruk sebelum mencoba, menyebabkan aku tak berani mencoba sama sekali. Aku sudah melewatkan berapa kesempatan?’
“Saya sudah mengerti. Terima kasih karena telah mengarahkan saya dan membuat saya merasa percaya diri, Nyonya.” Fable menundukkan kepalanya, memberikan Zinn penghormatan.
Slate sangat gugup ketika hampir mencapai gilirannya. Dia terus memperhatikan bayangan Zinn yang terus melangkah menjauhi dirinya.
“Tidak perlu gugup, juga tidak perlu mengejar bayang-bayang seseorang. Anda adalah diri Anda sendiri, Tuan Muda Slate.”
Walaupun tidak melihat, Zinn tetap tahu apa yang dilakukan oleh Slate di belakang sana. Pemilik manik mata merah muda tersenyum ketika mendengar Raven paling kecil mengembuskan napasnya.
Nectarine dan Ceshapeake menerangi jalan yang dilalui oleh Zinn dan para Raven. Tengah malam sudah tiba, tidak ada lagi orang yang keluar dari gubuk mereka. Orang-orang sudah terlelap di dalam bunga tidur mereka masing-masing.
“Saya….” Slate bingung harus menjawab seperti apa. Dia sebenarnya juga tidak ingin hidup dalam bayang-bayang orang lain. Hanya saja, dia terlalu takut dibenci.
“Apakah alasan Anda adalah takut dijauhi oleh orang lain?” Zinn sepertinya bisa membaca pikiran orang lain. Tidak ada satu pun tebakannya yang meleset ketika berkata-kata. “Jika itu adalah alasan Anda, saya akan mengingatkan Anda betapa bagusnya jika Anda menjadi diri Anda sendiri. Bayang-bayang, mereka tidak perlu dicari karena mereka tidak akan pernah mendekati, mereka akan melangkah menjauhi siapa pun. Bayang-bayang, mereka tidak perlu ditunggu karena mereka tidak akan pernah berhenti melangkah, Anda tidak akan pernah dapat menjadi mereka.”
“Saya adalah orang yang paling lemah dari ketiga saudara saya,” kata Slate. Dia menggigit bibir bawahnya dan memainkan jemari tangannya. “Ayah sering member saya hukuman karena lembaran saya dan kemampuan saya tidak dapat dibandingkan dengan Fable, apalagi Ash.”
Ash dan Fable tidak berniat memotong ucapan adik angkat mereka. Mereka ingin mengetahui isi hati Slate. Selama ini, Slate tidak ingin terbuka akan perasaannya kepada mereka. Saat dimarahin pun, Slate hanya akan diam atau membalas dengan sebuah senyuman.
“Apakah Anda tahu kalau sebagai keluarga kakak Anda sangat khawatir dengan Anda?”
Slate tidak pernah memikirkannya. Dia sering dimarahi karena ceroboh, tapi dia tak pernah melawan mereka yang marah terhadap dirinya. Tanpa sadar, dia menjadi menyimpan dendam yang dia sendiri pun tak sadar.
“Dalam angan akan Ananda genggam. Dalam asa akan Ananda dapat. Dalam diam akan Ananda harap. Hanya angan, hanya asa, hanya harapan. Sebuah imajinasi semata, sebuah bayangan semu semata,” kata Zinn. “Jadilah diri Anda sendiri, Tuan Muda Slate Midnight Raven. Anda lebih hebat dan lebih kuat daripada yang Anda pikirkan. Belajar memiliki rasa percaya diri seperti Tuan Muda Ash dan belajar mengembangkan strategi seperti Tuan Muda Fable, kalau Anda mengagumi mereka. Tapi, perlu diingat kalau Anda selamanya tak bisa menjadi mereka. Bahkan Iblis terkadang bisa memiliki hati yang lebih suci dari Malaikat.”
Slate bisa melihat betapa cantiknya seorang Zinnia Pramidita Ganache dari belakang sana. ‘Akhirnya saya tahu alasan Yang Mulia memilih Nyonya.’
Ketiga saudara Raven akhirnya melihat kecantikan jiwa yang dimiliki oleh Zinn. Nectarine dan Ceshapeake mengelilingi Tuannya, mendramatisir suasana.
“Saya percaya bahwa anak-anak adalah bagian dari masa depan semua orang tua. Jadi, saya sangat senang bisa mengajari kalian dengan benar dan bisa memberikan kepercayaan kepada kalian untuk memandu kami menjadi lebih baik. Setiap orang memiliki kelebihan dalam diri mereka masing-masing, akhirnya saya tahu kenapa Kakek Buyut-Buyut saya mengajari keturunannya untuk memiliki setidaknya sedikit rasa sombong,” gumam Zinn kepada dirinya sendiri.
‘Aku tidak begitu ingat tentang kehidupan masa laluku. Tapi karena aku dan Yang Mulia sudah dipertemukan kembali, itu artinya kami memiliki benang jodoh,’ batin Zinn.
Zinn dan tiga Raven sudah berjalan begitu jauh dari Istana Castleton. Sudah saatnya bagi mereka untuk kembali.
“Sudah saatnya kita kembali. Kalian bertiga sudah memperlihatkan pencapaian yang luar biasa hari ini,” kata Zinn, tersenyum kepada ketiga saudara Raven. “Besok kita harus mengemban tugas besar. Mohon bantuannya, para Tuan Muda.”
Zinn menundukkan kepalanya.
"Bukankah tidak sopan jika Nyonya memberi hormat seperti ini? Kami dengan senang hati membantu Anda dan Yang Mulia. Jangan bersikap terlalu sopan kepada kami, Nyonya. Bagaimanapun juga, ini adalah balas budi."