
“Lewat sini, Yang Mulia dan Permaisuri,” kata Fiery sambil menunjukkan jalan untuk Zinn dan Frost. Fiery tampak seperti anak yang sangat pendiam, mungkin karena dia mengalami shock.
“Apakah Yang Mulia tidak merasa kalau anak perempuan ini sangatlah diam? Apakah Yang Mulia merasakan sesuatu dari dirinya?” Zinn berbisik bertanya. “Entah kenapa saya merasa tidak terbiasa dengan anak-anak yang pendiam. Mereka seperti memiliki masalah hidup yang amat berat.”
Frost menyentil kening Zinn, membuat pemilik manik mata merah jambu mengadu kesakitan, akan tetapi dia tak bisa berteriak ataupun memarahi pria itu. Zinn harus menjaga sikapnya di depan anak-anak dan tak boleh berteriak karena hanya akan menarik perhatian makhluk yang ada di atas sana.
“Kau ternyata bodoh juga.” Frost sama sekali tidak menyaring ucapannya. Apa yang terlintas di kepalanya, itulah yang dikeluarkan di mulutnya. Frost adalah orang yang sangat terbuka. “Kau tahu situasi macam apa di Daffodil sekarang? Kacau balau. Mereka masih anak-anak, apa jadinya kalau mereka melihat orang tua mereka terbunuh di hadapan mereka sendiri tanpa mereka bisa membantu? Tentu saja jawabannya hanya satu dan kau tahu itu.”
Zinn menggembungkan pipinya dan membuang mukanya, tak ingin melihat Frost. Padahal aku hanya ingin berbasa-basi dengan dia, untuk apa dia menjadi temperamental sekali? Sungguh menyebalkan! pikir Zinn.
Setelah melewati sebuah lorong panjang, Zinn dan Frost bisa melihat adanya anak-anak lain di ruang rahasia. Di belakang anak-anak ada sebuah pintu kayu lagi, sepertinya pintu kayu itu akan membawa mereka keluar.
”Jumlah orang yang selamat adalah dua puluh satu orang, sudah termasuk saya dan Nona Fiery,” kata Qerza. “Pintu itu akan membawa kita keluar dari Daffodil menuju ke Castleton. Sebenarnya, lorong rahasia ini adalah saran Kepala Suku Daffodil. Jika ada hal genting yang harus dilaporkan ke pusat, jalan ini akan menjadi alternatif untuk menghemat perjalanan setengah hari. Jalur ini juga sangat aman, tidak bisa sembarang dimasuki oleh orang-orang ataupun makhluk-makhluk aneh. Daffodil ahli dalam struktur bangunan. Kamuflase di pintu rahasia juga hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang memiliki mata tembus pandang.”
“Saya sudah melihatnya. Rancangan Daffodil rumit dan bagus, cocok untuk mengelabuhi musuh dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, tidak akan bertahan lama. Kita harus segera pergi dari sini,” Zinn mengusulkan.
Tak lama setelah Zinn dan Frost memandu anak-anak dari pintu rahasia Daffodil, terdengar suara raungan marah dari belakang sana. Terdengar sangat jauh, akan tetapi juga terdengar begitu dekat di saat bersamaan. Sepertinya ruangan rahasia Daffodil sudah ketahuan.
“Gawat! Makhluk itu mengejar.” Frost berdecak kesal. Zinn juga tampak panik dan mengigit bibir bawahnya, tidak memiliki ide yang bagus untuk menjauhkan mereka dari bahaya.
“Yang Mulia, saya ingin menanyakan satu hal kepada Anda sedari tadi, tapi selalu saja ada yang menginterupsi. Saya benar-benar kesal!” seru Zinn. Suaranya sepertinya terdengar hingga ujung sana. Frost menatap tak percaya ke arahnya sambil menggelengkan kepala, pasrah. “Apakah Yang Mulia tidak merasa ada yang aneh dengan diri sendiri?”
Frost mengangkat sebelah alisnya. Apakah hanya ini yang ingin ditanyakan olehnya? Sungguh konyol, pikir Frost.
“Anak-anak, kalian lebih dulu pergi dari sini. Saya dan Yang Mulia akan menahan makhluk itu. Selain itu, ada hal yang harus saya bicarakan berdua saja dengan Yang Mulia.” Zinn terlihat serius sampai manik mata merah mudanya bersinar dalam ruangan yang remang-remang. Entah kenapa semua orang merasakan kengerian dari Zinn dan hanya bisa menuruti keinginannya—kecuali Frost, dia tentu saja tak takut dengan Zinn.
Baru kali Frost melihat Zinn serius. Entah apa yang membuat wanita muda itu menjadi sangat marah dan serius akan pertanyaannya. Namun Frost merasa itu bukanlah hal yang bagus. Semenjak bertemu dengan Mictlantecuhtli, Zinn menjadi sosok yang sangat aneh, sangat temperamental. Frost menjadi sedikit khawatir karenanya.
“Maafkan saya Yang Mulia, tapi jika Anda tak bisa menjawab saya, saya akan mencari jawabannya seorang diri. Maaf jika perbuatan saya yang satu ini sangat lancang,” kata Zinn.
Zinn mengalungkan lengannya di leher Frost, wajahnya dengan cepat mendekat dan mencumbu bibir pemilik manik mata emas. Frost sendiri kaget dengan kelakuan Zinn dan menghentikan ciuman itu.
“Zinnia Pramidita Ganache, apa maksudmu dengan hal ini?” tanya Frost.
Frost terkekeh pelan. “Kalau begitu, aku akan memberikan apa yang kau inginkan.”
Frost mencumbu Zinn dalam, membuat wanita itu sesak napas. Frost bisa melihat kalau Zinn hampir menangis dibuatnya dan dia hanya bisa tersenyum. Jangan pernah memaksaku untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku, Ganache. Kau tidak tahu betapa gilanya aku, batinnya.
Air mata meleleh membasahi pipi Zinn. Aku sudah gila, kan? pikirnya. Zinn melebarkan mata saat lidah Frost memaksa masuk dan memainkan lidahnya. Saat itu, kesadarannya perlahan-lahan hilang dan tergantikan dengan sebuah adegan yang merupakan jawabannya.
"Sombong sekali manusia-manusia itu! Hancurkan mereka!"
"Ratakan mereka dengan tanah, kobarkan api di bumi yang mereka cintai. Mereka pantas mendapatkannya."
"Aku, Frost Azazel de Void, tidak akan pernah berhenti memerangi Malaikat dan manusia!"
Frost panik saat melihat Zinn terus-menerus mengambil napas, seperti seseorang yang terkena sesak napas. Dia menepuk pelan pipi Zinn untuk menyadarkan si wanita muda. "Ganache, bangun! Ganache!"
Dari ujung lorong terdengar teriakan keras seorang anak perempuan. Kengerian memenuhi tempat itu dan Frost merasakan perasaan yang amat buruk. Sial! Sial sekali! Ganache, apa yang harus kulakukan? Kau cepatlah bangun! Ganache! serunya di dalam hati.
Zinn masih di alam bawah sadar milik Frost, mengarungi masa lalu pria itu.
"*Tidak seharusnya kamu memerangi manusia, Yang Mulia."
"Kenapa? Apakah kau akan menghentikan aku, Zinnia Estiana Morningstar? Jangan lupa, buyutmu adalah Archangel yang dibuang dari Surga. Walaupun kau lahir dan dibesarkan di Surga, tapi kau tetaplah bagian dari Morningstar*."
"Merupakan atau bukan, aku tetaplah seorang Malaikat sekarang. Jika kamu ingin memerangi manusia, maka tugasku adalah melindungi manusia."
"Jangan konyol, Morningstar. Kita terikat dalam pertunangan. Apakah kau ingin menjadi musuhku demi manusia?"
"Terikat pertunangan atau tidak, tugasku adalah melindungi manusia. Jika kamu berniat menghalangi rencanaku, maka aku tak akan segan."
"Aku juga tidak akan segan, Yang Mulia."
Zinn memaksa membuka matanya. Saat sudah sadar, dia mendapati Frost sedang memboyong dirinya di punggung. Jadi, aku adalah keturunan Morningstar? Dan, aku memiliki janji pernikahan dengan Yang Mulia? batin Zinn.