Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 10 : Behemoth di Daffodil



“Yang Mulia, turunkan saya…,” ujar Zinn, terdengar lemas. “Saya bisa berjalan sendiri.” Zinn terdengar seolah ingin menghindar dari Frost—memang dia sedang berusaha menghindar dari pemilik manik mata emas. Zinn perlu waktu untuk memikirkan semua hal yang telah dilihatnya dan dia juga perlu waktu agar bisa menjelaskannya kepada Frost.


“Aku sering bermimpi, Ganache. Aku bermimpi tentang aku adalah Iblis. Mimpi itu terasa sangat nyata hingga aku tak ingin memercayainya sama sekali. Di mimpi itu, aku juga melihat dirimu, aku membunuhmu menggunakan kedua tanganku,” kata Frost. Dia yakin kalau yang Zinn lihat sama dengan apa yang sering dimimpikan olehnya.


Zinn hanya diam mendengar cerita Frost. Memang itulah yang dilihatnya di alam bawah sadar pria itu. Namun itu semuanya hanyalah sesuatu yang tidak pasti. Sekarang mereka berdua adalah manusia biasa, yang tidak mengingat apa pun dan tidak memiliki dendam apa pun. Untuk apa terus melihat ke belakang? Mengapa tak ingin melihat apa yang dimiliki sekarang dan merencakan yang terbaik untuk masa depan?


“Saya melihat itu semua,” kata Zinn pada akhirnya. “Itu tidaklah nyata. Jikalau pun itu nyata, kita saya dan Anda berdua adalah manusia sekarang. Tidak ada dendam di antara kita berdua. Tidak ada penyesalan di antara kita. Yang berlalu biarkanlah berlalu saja. Anda selalu berkata kepada saya kalau tidak baik selalu mengurung diri di masa lalu.”


Frost mencium kening Zinn. “Mungkin aku memiliki perasaan yang dalam terhadapmu. Langit dan bumi ingin kita bertemu lagi, mungkin… untuk menyelesaikan perasaan ini.” Frost menyatukan keningnya dan kening Zinn. “Ganache, maukah kau menjadi Permaisuriku? Tenang saja, bukan sebagai Pengantin Iblis, tapi sebagai pengantin Frost Blanche Castleton.”


“Yang Mulia, bagaimana dengan anak-anak?” tanya Zinn.


“Ada yang berteriak tadi, tapi sejauh ini aku tidak tahu mereka ada dimana. Aku sudah berjalan sangat jauh dari tempat awal kita meninggalkan mereka. Tapi, aku tidak menemukan tanda-tanda keberadaan mereka,” jawab Frost.


“Apakah Anda yakin kalau mereka melewati jalan ini? Daffodil sangat pandai membuat bangunan yang dapat mengelabuhi orang. Jika kita berjalan lurus, lorong ini seakan tidak ada ujungnya. Sepertinya Anda harus mengeluarkan kemampuan mata istimewa Anda lagi, Yang Mulia,” kata Zinn.


Frost menganggukkan kepalanya. “Ide bagus.” Frost memejamkan mata sejenak, mengeluarkan kemampuannya. Dia bisa melihat kalau sebenarnya banyak sekali cabang di sana. Frost juga bisa melihat anak-anak yang sedang menempel ke tembok kamuflase khusus. Ada satu mayat anak kecil yang tergeletak di sana, juga ada sesosok makhluk aneh. “Mereka dalam bahaya, Ganache. Sepertinya ada portal tersembunyi di sini yang membuat makhluk itu bisa berada di sini.”


“Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Rahasia Daffodil tidak semudah itu diketahui oleh orang luar, kecuali kalau memang ada pengkhianat di antara mereka. Cardinal tidak mungkin berkhianat, saya bisa melihat dari matanya kalau anak itu adalah orang yang sangat jujur. Saya curiga kepada anak perempuan yang sangat diam itu.”


“Maksudmu anak perempuan Kepala Suku Daffodil? Aku tidak merasakan keanehan darinya. Dia memang sangat pendiam, dilihat dari luar sepertinya dia sangat shock atas pembantaian di sukunya sendiri. “


Zinn menggelengkan kepalanya. “Saya tidak merasa seperti itu, Yang Mulia. Entah kenapa tatapan kosong itu seakan mengatakan bahwa yang ada di dalam raganya bukanlah jiwa dari anak itu sendiri. Seperti… ada yang mengendalikannya, tapi juga bisa menutupi aura jahat itu tersendiri dan menggantikannya ke aura anak itu.”


Frost berpikir selama sesaat, berusaha mengingat sesuatu. “Castleton memiliki perpustakaan dengan banyak buku dan gulungan tentang Iblis yang lengkap. Aku merasa seperti aku pernah membaca tentang Iblis yang dapat mengendalikan manusia dan menyembunyikan auranya dengan baik. Tapi, entah kenapa aku melupakannya karena menganggap hal itu tidaklah penting.”


Zinn melompat turun dari gendongan Frost. Dia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Zinn membantu Frost untuk berpikir.


Zinn dan Frost saling bertatapan. “Aka Manah?” Mereka menyebutkan nama Iblis dalam Zoroastrian secara bersamaan.


“Mictlantecuhtli, kemudian Aka Manah, semua Iblis dari Neraka sepertinya datang ke dunia untuk mencari Anda, Yang Mulia,” kata Zinn sambil menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak akan pergi dengan mereka. Sekarang tempatku adalah di Regancy. Aku sudah menjadi Kaisar di sini, tak ada bedanya dengan aku saat menjadi Raja di Dunia Bawah. Aku tidak tertarik lagi dengan Neraka,” kata Frost.


Frost menyeringai dingin. “Memangnya mereka bisa menculikku? Dimana pun kau berada, Ganache, di sanalah aku berada. Jangan harap mereka dapat membawaku kemana-mana. Jika mereka berani, aku akan menghancurkan Dunia Bawah hingga berkeping-keping.”


“Kalau anak kepala suku juga bersembunyi bersama mereka, bukankah artinya Aka Manah sudah mengetahui posisi mereka?” Zinn menatap panik ke arah Frost. Dia tidak bisa dan tidak mau membayangkan pembataian terhadap anak-anak.


“Celaka sekali,” timpal Frost. “Anak itu memang sedang bersembunyi bersama dengan anak-anak lainnya. Tapi, dinding kamuflase menyelamatkan mereka dari penglihatan Aka Manah. Tapi, tetap saja, yang namanya makhluk dari Neraka pasti akan melakukan segala cara untuk menemukan mangsanya.”


“Apa lagi yang harus ditunggu? Kita harus menyelamatkan mereka!” seru Zinn, menarik lengan Frost. “Eh, tapi kita harus pergi ke arah mana?”


Frost hanya menggelengkan kepalanya. Aku jadi ingin mencoba sesuatu. Jika aku adalah Iblis, bukankah artinya aku bisa menguasai kemampuan teleportasi? pikirnya.


Frost menarik lengan Zinn dan menyentuh dinding. Tak sampai satu kedipan mata, mereka telah berada di hadapan makhluk jelek yang dilihat Frost melalui kemampuannya.


“Ah… sepertinya kemampuan ini terlalu cepat. Apakah kita perlu mengulangi sekali lagi, Ganache?” canda Frost.


Zinn termenung menyaksikan Frost dapat melakukan teleportasi tak sampai satu kedipan mata. Kemampuan Frost memang di atas rata-rata. Bahkan Kaisar Castleton terdahulu tidak semudah itu mempelajari teleportasi. Sepertinya kemampuan Frost berhubungan dengan masa lalunya.


“Apa yang harus kita lakukan terhadap ini?” tanya Zinn sambil menunjuk makhluk jelek di belakangnya. Dia merasa tidak nyaman karena makhluk itu mengembuskan napas kasar seperti seekor banteng.


“Bunuh saja!” seru Frost.


Frost menyembunyikan Zinn di balik punggungnya dan menyerang makhluk tersebut. Frost mengayunkan pedang yang dilengkapi dengan kekuatan sihir, akan tetapi hal itu bahkan tidak melukai makhluk jelek itu.


Makhluk itu merupakan sosok berbentuk kepala gajah, berbadan seperti seorang pegulat sumo dengan pakaian khas militer Dunia Bawah. Behemoth. Nama itu tiba-tiba saja terlintas dalam benak Frost.


“Jadi, ini adalah Jendral Behemoth dari Neraka Tingkat Sembilan? Lumayan kuat.” Frost menyeringai, senang dipertemukan dengan lawan yang kuat. Mau itu Iblis, Malaikat, ataupun Manusia, dia sangat senang bertarung dengan sosok-sosok yang kuat.


“Yang Mulia de Void, keturunan Azazel, Raja Neraka Tingkat Delapan. Sudah menjadi manusia, tapi masih sangat sombong,” ujar Behemoth tidak senang.


Ah, kenapa aku harus terlibat di dalam sini? batin Zinn pasrah.