Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 21 : Memahami Arti Kehidupan



‘Sepertinya bukan ide yang bagus untuk membuat mereka melawan satu sama lain,’ pikir Frost.


Frost menghentikan latihan dari para Raven. Dia menjentikkan jari, menghilangkan semua pelindung dan arena pelatihan.


Slate yang semula seperti orang tak sadarkan diri menggelengkan kepalanya. “Apa yang sudah terjadi? Aku merasa dunia menjadi gelap tadinya.”


“Kau baru saja lepas dari Hujan Ilusi,” ucap Frost.


Tiba-tiba saja mereka semua bisa mendengar ledakan dari kejauhan.


Frost langsung menatap ke arah Kastil Castleton dan bisa melihat pelindung yang dipasang oleh Zinn. ‘Gawat! Sepertinya Ganache mengalami masalah,’ pikirnya.


“Suara apa tadi itu?” Slate meringis ngeri mendengar ledakan tersebut.


“Ganache sepertinya membangunkan sisi gelap seseorang. Kalian beruntung. Bawa saudara kalian yang ada di sana. Kita kembali ke Istana sekarang,” perintah Frost.


'Membangunkan sisi gelap seseorang?' pikir Fable dan Slate. 'Apakah sama dengan yang dialami oleh Ash?'


"Kau, Raven Kecil," kata Frost sambil melirik ke arah Slate.


Slate menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, kau." Frost sangat seram. Suaranya dalam dan dingin. "Kulihat kau berpotensi menjadi Prajurit Cahaya. Tak seperti kedua saudaramu, yang lebih cocok menjadi Prajurit Kegelapan."


Slate menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mendengar Ayah Angkatnya, kalau Prajurit Cahaya lebih lemah dari Prajurit Kegelapan. Tidak heran jika dia merasa rendah diri.


"Prajurit Cahaya tidak lebih rendah dari Prajurit Kegelapan," kata Frost. "Tahukah kau Iblis nomor satu di Neraka Tingkat Sembilan adalah penguasa cahaya? Azazel...."


Frost terdengar tidak begitu senang saat menyebutkan nama Kakek Buyut-Buyutnya, walaupun harus diakui kalau Azazel sangat keren.


"Atau mungkin seperti Michaela, Malaikat Agung nomor satu di Surga Tingkat Sembilan, yang juga memiliki kekuatan cahaya. Lucifer, The Fallen Angel, yang juga memiliki kekuatan cahaya. Sebenarnya kekuatan cahaya tidak lebih lemah."


Fable dan Slate mendengar ocehan Frost di belakang sambil memapah saudara mereka.


"Di dunia ini, siapa yang tidak tahu terang itu apa dan siapa yang tidak tahu gelap itu apa. Siapa yang tidak tahu siang itu apa dan siapa yang tidak tahu malam itu apa. Dua belas jam siang itu ada dan dua belas jam malam itu ada. Keduanya seimbang, saling melengkapi satu sama lain. Semuanya bergantung pada seberapa dalam pemahaman yang dimiliki oleh seseorang."


Frost menghela napas. "Sudahlah. Dikatakan sekarang pun kalian tidak akan mengerti."


Fable menatap ke arah Slate. Adiknya hanya mengangkat bahu, tidak tertarik dengan ceramah yang baru saja disampaikan oleh Frost.


"Dari kalian bertiga, hanya kakak kalian saja yang mengerti tentang apa yang kukatakan. Kalian berdua berhati sempit, tidak akan mengerti," cemooh Frost.


Slate mengatup mulutnya rapat-rapat sambil berpura-pura memandangi ladang-ladang yang mereka lewati. Dari kejauhan, dia bisa melihat taburan bintang-bintang di atas langit, dipadukan dengan tanaman jagung-jagungan yang menjulang tinggi.


'Gelap dan terang saling melengkapi...,' batin Slate.


Slate melebarkan matanya. "Saya sudah paham, Yang Mulia!" Dia berseru senang.


"Apa yang kau pahami?" tanya Frost.


"Gelap berpadu dengan terang, seimbang dan saling menghormati. Sama seperti bulan dan bintang di langit malam, atau awan hitam di langit siang. Terang tetap memiliki kegelapan. Gelap tetap ada cahaya," jawab Slate dengan semangat.


"Kau mulai memahami apa itu hidup hanya dengan melihat paduan alam. Hebat juga," puji Frost.


Slate tersenyum malu ketika Frost memujinya.


Fable melihat adiknya dan juga ikut tersenyum. Dia adalah orang yang paling banyak memarahi Slate, tapi juga yang paling banyak melindungi adik angkatnya itu.


"Kenapa harus berpura-pura benci jikalau kau tidak benci?" tanya Frost, yang seakan pertanyaan itu ditujukan untuk Fable.


"Demi kebaikan, harus ada seseorang yang berperan menjadi orang jahat. Demi kebaikan, harus ada seseorang yang tega terhadap orang lain," jawab Fable.


"Kalian bertiga terhubung satu sama lain, meskipun hanya saudara angkat. Selamat karena memahami bagian dari hidup dan selamat karena telah mencapai Liga Bloodstone."


"Mencapai Liga Bloodstone?" Fable dan Slate menatap bingung ke arah Frost.


Frost berhenti ketika mencapai gerbang Istana Castleton. "Memahami hidup dapat membuat kalian naik tingkat. Jika kalian adalah orang yang berhati sempit, sampai kapan pun tidak akan keluar dari tingkat amatir. Sebagai seorang manusia, tentu saja harus mengetahui dan memahami apa itu hidup, apa artinya hidup itu, dan apa yang dimaksud dari kehidupan itu sendiri. Orang memiliki dua hal terpenting dalam hidup, yaitu: cinta dan dendam...."


Frost mendongak melihat pelindung yang perlahan-lahan sirna.


"Kalian masih terlalu muda untuk memahami ini. Ketika sudah saatnya kalian memahami, tentu saja kalian akan mengerti," kata Frost, mengakhiri perbicangan itu.


"Ya-"


Slate ingin bertanya sesuatu pada Frost, tapi belum lengkap sebuah kata keluar dari mulutnya, pemilik manik mata emas sudah menghilang dari hadapannya dan saudaranya.


'Yang Mulia, apakah Anda seorang Malaikat yang berwajah dingin?'


※※※


Zinn kembali ke Aula Utama sambil memapah Rouge.


Qerza yang melihatnya langsung menghampiri pemilik manik mata merah muda dan membantunya. “Apa yang sudah terjadi, Nyonya?”


“Saya tidak sengaja membangkitkan memori buruk seseorang,” kata Zinn. “Benar juga, saya ingat Anda berkata kalau Anda dan Nona Fiery melihat sesuatu yang tidak seharusnya Anda lihat. Bolehkah saya mengetahuinya?”


“Saya dan Nona Fiery melihat orang-orang dari Benua Jepalamus sebelum semua kejadian itu terjadi. Kalau tidak salah, saya mendengar Kepala Suku menyebut Jaa… apa ya?” Qerza menggaruk kepaklanya yang tidak gatal. “Jaaduee Andhera… benar, Kepala Suku menyebut mereka Jaaduee Andhera.”


‘Pernyataan yang diberikan oleh Tuan Muda Cardinal sama seperti pernyataan yang diberikan oleh Tuan Muda Tahiti,’ batin Zinn.


“Terima kasih banyak. Apakah Anda tahu apa yang mereka lakukan di Daffodil?” tanya Zinn.


“Mereka seperti sedang mengatakan sesuatu kepada Kepala Suku. Saya tidak mendengar jelas apa yang sedang mereka perbincangkan. Tapi, saya mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Neftaza,” jawab Qerza. “Saya ketahuan oleh Kepala Suku dan disuruh menyembunyikan diri bersama anak-anak lain di ruang rahasia. Setelah itu, semuanya terjadi begitu saja. Saat saya keluar untuk melihat keadaan, yang pertama kali saya lihat adalah Kepala Suku yang sudah terbunuh. Karena saya tidak tahu harus berbuat apa, saya kembali ke ruang rahasia dan menjelaskan keadaan di luar sana kepada anak-anak lain.”


“Apakah Nona Fiery ada di sana bersama dengan kalian?”


Qerza menatap Zinn. “Tidak, tapi Nona Fiery menghampiri kami di ruang rahasia.”


‘Ternyata begitu… mereka sengaja membiarkan anak-anak ini hidup. Tapi, untuk apa?’ tanya Zinn di dalam hati.


"Apakah Anda menemukan sesuatu yang berkaitan dengan penyerangan, Nyonya?"