Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 29 : Masalah Terus Datang



Slate menggunakan kemampuan indra pendengarannya untuk mengumpulkan informasi. Ash juga menggunakan kemampuan indra penglihatannya dengan tujuan yang sama. Kakak beradik itu selain sebagai seorang penyerang dan seorang pelindung, mereka memang bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berguna bagi Fable, si Logistik.


Slate mendengar ada bunyi gemersik semak-semak yang disebabkan oleh seekor kelinci. Terkadang mendengar suara burung hantu dari kejauhan. Tidak ada yang aneh.


Hutan perbatasan terlalu hening, hening sampai kelima anak-anak harus ekstra berhati-hati. Mereka tahu kalau tidak ada suara adalah situasi yang paling berbahaya.


Ash melirik ke sana-sini. Entah kenapa dia tidak bisa tenang sedari tadi. Dia memang lebih peka dibandingkan Fable dan Slate. Biasanya, instingnya tidak pernah salah dalam menebak sesuatu.


Slate mendengar bunyi gerakan aneh dan mirip seperti gerakan ‘serpentine’ seekor ular. Hanya saja, dia tahu kalau yang melakukannya sama sekali bukan ular. ‘Celaka! Apa itu?’ batinnya.


Slate kembali berkomunikasi dengan Ash dan Fable melalui bahasa isyarat burung hantu mereka.


Qerza tentu saja tahu dengan apa yang sedang mereka bahas. Bagaimanapun juga, dia sudah bersama dengan tiga saudara itu sedari kecil. Mereka juga mengajarinya bahasa isyarat burung hantu mereka.


“Nona Fiery, mohon berpegangan dengan erat. Kita akan berkuda dengan cepat,” bisik Qerza kepada Fiery.


Fiery mengangguk dan mengeratkan pegangannya ke pelana kuda.


Fable memberikan arahan kepada anak-anak lain mengenai jalan yang akan mereka tuju. Dia sudah mengingatkan kalau di depan ada tiga jalur yang dapat mereka lalui, akan tetapi dari ketiganya hanya ada satu jalan yang aman.


Fable memberitahu kalau jalan yang aman berada di paling kiri dan mengingatkan mereka untuk tidak mengambil jalur yang salah.


“Sekarang!” perintah Fable.


Mereka memacu kuda dengan cepat. Bersamaan dengan hal itu, Slate bisa mendengar makhluk itu mengejar mereka. Sepertinya makhluk itu berada tak jauh di belakang mereka.


‘Bagaimana caranya makhluk itu ada di belakang kami tanpa kusadari?’ batin Slate. Dia merasa seolah kalau makhluk itu sudah lama berada di hutan hanya untuk menunggu kedatangan mereka. ‘Apakah dugaan Ayahanda benar? Apakah salah satu di antara kami adalah pengkhianat? Jika benar, bukankah kami harus segera membereskannya?’


Slate menggelengkan kepalanya. ‘Ayo fokus! Sekarang bukan saatnya menduga-duga.’ Dia memacu kuda dengan kencang dan memimpin jalan.


Saat mendekati tiga jalur yang dikatakan oleh Fable, Slate bisa mendengar suara gemuruh kecil yang disebabkan oleh bebatuan yang jatuh dari tebing. Kebetulan sekali jalur paling kiri bersebelahan dengan sebuah tebing yang menjulang tinggi.


“Hati-hati!” seru Slate sambil berusaha untuk menghentikan kuda.


Bebatuan besar berjatuhan tepat di depan Slate. Jika saja dia tidak fokus dan dia tidak menyadarinya, dia mungkin sudah tertimpa batu-batu besar dan meninggal dunia.


“Slate!” seru Fable. Dia menghela napas lega ketika melihat adik bungsunya baik-baik saja.


Slate kembali mendengar suara aneh. Kali ini tidak hanya satu, bahkan di udara pun terdengar suara kepakan sayap yang sangat asing di telinga. Dia bertanya, “Fable, selain jalur ini mana lagi jalur yang tingkat berbahayanya rendah?”


Fable berpikir cepat. “Ikut aku ke tengah,” jawabnya. Dia memacu kuda dengan kencang, membelah angin malam.


“Mereka sengaja tidak menunjukkan diri mereka,” kata Ash. “Berhati-hatilah semuanya. Jangan sampai lengah. Atau tidak, yang akan tersisa dari kita hanyalah sebuah nama.”


‘Bagus sekali kalau di sini ada Ibunda… dia sangat pandai memecahkan trik-trik kecil seperti ini,’ pikir Ash.


Dari kejauhan, Ash bisa melihat sebuah benda mengkilap yang siap untuk memotong tubuh seseorang. Sebuah benang transparan yang biasanya digunakan sebagai jebakan. Ash langsung melempar jarum untuk memutuskan benang-benang tersebut. Namun, dia tahu di antara benang-benang transparan, ada yang sudah disisipkan Sihir Ledakan.


“Jangan maju lagi, Fable,” kata Ash memberi instruksi. “Di sana ada Benang Sihir Ledakan. Jika diaktifkan, kita semua benar-benar akan mati!”


Terlambat sudah, Fable terlalu fokus sehingga telat mencerna instruksi dari Ash. Dia mengaktifkan Benang Sihir Ledakan dan kaki kudanya terbelah menjadi dua bagian. Kemudian, di area tersebut terjadi ledakan luar biasa. Asap hitam membubung tinggi, menutupi sebagian besar area hutan.


Slate menutup mengibaskan tangan untuk menyingkirkan asap hitam dari hadapannya.


Asap hitam perlahan-lahan sirna. Situasi disana amat buruk, bahkan mungkin... Fable sudah menjadi korban... dari ledakan tersebut.


Ash menggeram. Dia, Slate, dan dua orang lainnya terjatuh dari kuda. Kuda mereka kabur entah ke mana. Sekarang, mereka hanya dapat berjalan kaki untuk mencapai Ganache.


“Fable!” Ash berseru saat kabut hitam mulai menipis. Dia mengalami luka ringan yang disebabkan oleh ledakan.


Slate yang baru saja menjernihkan pandangan langsung membantu Ash mencari kakak keduanya. “Fable! Fable!”


Tidak ada jawaban dari Fable. Hal itu membuat mereka semakin panik. Mereka tidak dapat hidup tanpa Fable. Jika tak ada Fable, maka mereka tidak akan lengkap.


Qerza menggelengkan kepalanya. Saat dia sadar, dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Fiery di sana. Dia juga langsung panik dikarenakan tunangannya menghilang.


“Nona Fiery!” seru Qerza. “Nona Fiery!”


“Fable!” seru Ash dan Slate secara bersamaan. Mereka sudah mencari di seluruh area ledakan, tapi mereka tidak menemukan saudara mereka sama sekali.


“Fable! Kumohon! Fable!” seru Slate. Walaupun dia adalah orang yang paling sering dimaki oleh Fable, tapi dia yang paling tahu kalau kakak keduanya itu adalah orang yang sangat perhatian. “Fable! Fable!”


Slate meraung keras. Burung-burung yang tinggal di sekitar sana terbang menjauh. Manik mata Slate berubah menjadi putih keabu-abuan yang bersinar terang. Dia sangat marah sekarang. Dia menggeram layaknya seekor serigala.


Ash tahu kondisi Slate sekarang sangat berbahaya. Dia segera menutup mata adik bungsunya dan memeluknya. “Jangan! Kumohon... aku tidak bisa kehilangan satu orang lagi.”


Karena bujukan dari Ash, Slate akhirnya dapat menenangkan dirinya.


Slate menangis di dalam pelukan Ash. “Aku tidak rela...,” katanya. “Aku tidak rela... Fable... Fable....” Dia terus memanggil nama Fable. Tampaknya, dia adalah orang yang paling terpukul atas kejadian itu.


“Tidak apa-apa...,” hibur Ash. “Tidak apa-apa. Jangan terus bersedih. Mari kita cari Fable pelan-pelan. Kita pasti akan menemukan keberadaannya.”


Ash membantu Slate untuk berdiri. “Jangan panik. Mari kita cari lagi, ya?”


Slate menganggukkan kepalanya. Dia dan Ash kembali mencari Fable.


Qerza sendiri berusaha untuk mencari tunangannya. ‘Aneh. Bagaimana bisa Nona Fiery menghilang? Jika dipikir-pikir, kalau bukan tertimpa olehnya, dia juga tidak akan jauh dariku. Kami duduk di atas kuda yang sama,’ batinnya.


Qerza kemudian mengingat perkataan Frost, “Ada pengkhianat dari salah satu di antara kalian. Walaupun aku tidak pasti siapa dirinya, tapi aku sudah memiliki asumsiku sendiri.”


‘Tidak mungkin Nona Fiery, kan? Dia sudah bersama dengan kami sepanjang waktu!’ pikir Qerza. 'Tidak ada waktu untuk berpikiran aneh.'