
"Apakah kalian merasa kalau Yang Mulia dan Nyonya itu sangat serasi?" tanya Qerza sambil mengintip di balik celah pintu yang sedikit terbuka. "Seperti... mereka sudah sangat lama mengenal satu sama lain...."
"Aku juga merasa seperti itu," balas Fable. "Mereka sangat romantis."
"Apakah mereka sudah mengenal dari kehidupan sebelumnya?" Slate mulai berfantasi ria. Dia lebih cocok menjadi cendikiawan daripada seorang pembunuh.
Qerza dan Fable menatap ke arah Slate, memikirkan pertanyaannya.
"Rasanya seperti itu...," gumam Fable.
"Apanya yang seperti itu?" tanya seseorang. Ash. Dia baru saja sadar.
"***...!" Fable, Qerza, dan Slate bersama-sama meletakkan telunjuk di depan bibir, menyuruh Ash untuk diam. Mereka menunjuk ke arah Frost dan Zinn yang sedang dalam keadaan romantis.
Ash melirik ke arah celah pintu, dia kaget dan wajahnya sedikit memucat. Dia menunjuk ke arah balik celah pintu.
Fable, Qerza, dan Slate menatap satu sama lain, mengangkat bahu, kemudian perlahan-lahan membalikkan kepala mereka. Frost, dengan manik mata emasnya yang bersinar, menyeringai dan memiringkan kepalanya.
"Whoa!" Ketiga anak yang mengintip itu langsung terlonjak kaget dan jatuh ke atas lantai marmer. Mereka mengadu kesakitan.
"Apa yang kalian lihat, hm?" tanya Frost sambil membuka lebar pintu Aula Utama.
"Ti- tidak a- ada apa-apa, Ya- Yang Mulia...!" seru mereka secara bersamaan.
Ash hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka. Dia menatap ke arah Frost, yang juga sedang menatap ke arahnya. 'Entah kenapa sekarang aku sudah tidak terlalu takut ketika melihat Yang Mulia,' batinnya.
"Kau sudah sadar ternyata. Teknik Melempar Jarum-mu lumayan," puji Frost.
Zinn bergabung dengan mereka. "Oh? Tuan Muda Ash memiliki Teknik Melempar Jarum?" Dia ikut berbincang.
"Saya hanya suka," balas Ash. "Teknik saya termasuk belum sempurna. Jika saya bisa seperti Ayah, jarum saya sudah bisa menembus baja."
Frost menepuk kepala Ash. "Kau sudah melakukannya dengan baik. Sekali lagi kuucapkan selamat karena mencapai Liga Bloodstone."
Ash melebarkan matanya. "Kami sudah mencapai Liga Bloodstone?"
"Jika saya yang mengajar, Anda akan mencapai Liga Jade, tapi juga akan meninggal dunia dengan cepat," canda Zinn.
Mereka semua menelan ludah. 'Jadi, yang dikatakan oleh Yang Mulia bukanlah sebuah kebohongan?'
"Aku tidak berbohong kepada kalian, tentu saja,” kata Frost. “Jangan melihat calon istriku sebagai orang yang lembut, kalian belum melihat kalau dia mengamuk, atau kalau dia sedang kesal.”
Zinn langsung meninju bahu Frost.
“Baru saja kukatakan, sudah terjadi saja,” gumam Frost.
Anak-anak tertawa. Entah kenapa mereka sangat suka melihat Frost dan Zinn sebagai pasangan, bahkan hampir melupakan kejadian yang baru saja menimpa suku mereka.
“A- apa yang sudah terjadi?”
Semua orang dapat mendengar seseorang bergumam pelan. Ternyata Rouge juga sudah sadar.
“Anda hampir saja meruntuhkan Castleton,” kata Zinn. “Tapi, jangan khawatir, Castleton tidak akan runtuh secepat itu.”
Rouge mengingat kejadian sebelumnya dan menundukkan kepalanya. “Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak sengaja lepas kendali,” katanya, malu.
Zinn tersenyum. “Tidak masalah, Tuan Muda Tahiti. Selamat karena sudah mencapai Liga Amethyst. Selamat juga kepada para Tuan Muda Raven karena sudah mencapai Liga Bloodstone.”
“Yang lebih membahayakan adalah dirimu yang hampir saja membunuhku!” seru Fable kepada Slate.
“Oh, ternyata Yang Mulia memakai Hujan Ilusi,” gumam Zinn. dia terkekeh pelan. “Setidaknya kalian semua selamat. Semakin tinggi Liga seseorang, semakin sulit pula latihan yang harus dijalani.”
“Tuan Muda Tahiti, silahkan ikut saya. Latihan kita belum selesai. Karena Yang Mulia sudah kembali, Tuan Muda Cardinal saya serahkan kepada Anda. Para Raven sudah boleh beristirahat.”
Slate menggelengkan kepalanya. “Saya ingin berlatih bersama Nyonya.” Entah dari mana dia mendapatkan semangat yang begitu besar. “Berlatih memahami spiritual dan kehidupan.”
‘Bocah Kecil, dari mana dia mendapat semangat yang begitu besar?’ tanya Frost di dalam hati.
“Yang Mulia, silahkan perlihatan bentuk hewan spiritual Anda,” pinta Zinn.
Manik mata emas Frost bersinar. Beberapa saat kemudian di belakangnya muncul Tarantula berwarna biru gelap bertengger di bahunya. Selain itu, muncul seekor Naga Biru yang mengintip dari jendela kastil, serta seekor Serigala Salju abu-abu gelap yang menggeram.
Anak-anak mengatup mulut mereka rapat-rapat. ‘Kudengar memiliki satu hewan spiritual saja sudah menguras tenaga, Yang Mulia memiliki tiga?’
Manik mata merah muda Zinn juga bersinar, di sekitarnya muncul segerombolan Kupu-Kupu Cahaya Emas dan Kunang-Kunang Api Cahaya Surga. Di sebelahnya muncul seekor kelinci putih bermanik mata senada dengan Qerza yang amat imut.
Zinn menunjuk ke arah Tarantula Katai Biru milik Frost. “Hancurkan.”
"Kau yakin ingin menantang predator serangga dengan serangga?" Frost menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja saya yakin. Apakah Yang Mulia lupa kalau saya pernah mengalahkan predator serangga dengan serangga?"
Frost menyeringai dingin. "Kalah empat puluh sembilan kali dan menang satu kali."
"Hari ini tentu saja akan menang lagi," kata Zinn, penuh percaya diri.
Anak-anak melirik Frost dan Zinn secara bergantian. 'Pertarungan antara orang-orang kuat memang seperti ini, ya? Suasananya sangat tidak mengenakkan.'
"Kalahkan mereka," perintah Frost.
Tarantula Katai Biru milik Frost mendesis. Ia turun dari bahu Tuannya.
Tarantula Katai Biru menghentakkan kakinya dan menatap segerombolan Kunang-Kunang Cahaya Api Surga dengan kedelapan manik mata hitamnya. Taring-taringnya bergerak, seolah sedang melantunkan sebuah mantra.
Kunang-Kunang Cahaya Api Surga terbang di udara dan menunggu Tarantula Katai Biru membuka pertarungan.
'Pintar. Ganache ingin aku yang membuka pertarungan? Baiklah, akan kubuat dia menyesal,' batin Frost.
Tarantula Katai Biru memuntahkan jaring lengket ke udara. Muntahannya bahkan mencapai langit-langit kastil yang tinggi. Beberapa Kunang-Kunang Cahaya Api Surga berhasil terjerat jaringnya.
Tarantula Katai Biru memutuskan jaring yang terbentuk dari tubuhnya, membiarkannya bersama beberapa Kunang-Kunang Cahaya Api Surga mengawang-awang di udara.
Semua orang bisa mendengar suara 'nyi, nyi, nyi' yang berasal dari Kunang-Kunang Cahaya Api Surga milik Zinn.
Tarantula Katai Biru mendesis panjang, seolah seperti sedang menertawai Kunang-Kunang Cahaya Api Surga.
Anak-anak berusaha menahan tawa mereka. 'Ya ampun, bahkan sampai hewan spiritual pun saling mencintai satu sama lain.'
"Ingin menyerah?" tanya Frost.
"Tentu saja tidak! Saya memang kalah kalau berurusan dengan laba-laba jelek Anda, tapi saya tidak kalah kalau soal serigala dan naga Anda," jawab Zinn.
Kunang-Kunang Cahaya Api Surga yang semula berwarna putih berubah menjadi warna merah terang. Salah satu dari mereka menunjuk ke arah Tarantula Katai Biru dan berseru, "Nyi!"