Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 17 : Mengenal Liga di Regancy



Tetap saja, tidak ada yang berani bertanya kepada Frost dan itu membuatnya frustasi. Dia tidak tahu kenapa anak-anak begitu menghindarinya. Namun dia cukup paham kalau dia sangat disegani oleh orang-orang.


‘Apakah mereka tidak punya niat untuk bertanya apa pun? Lebih baik aku saja yang bertanya kepada mereka,’ pikir Frost.


“Jadi, para Raven, kalian sudah belajar sampai di tahap apa? Liga kayu? Liga batu?” tanya Frost. Bukannya bermaksud untuk menakuti mereka, tapi Frost harus memikirkan segala hal yang akan terjadi jika Raven ingin belajar darinya.


“Ja- jawab Yang Mu- Mulia... kami baru saja memasuki Liga Kayu tiga bulan yang lalu. Sebenarnya perkembangan kami cukup cepat dan akhir bulan ini kami dapat memasuki Liga Batu. Ta- tapi, Ayah meninggal sangat cepat...,” jawab Ash.


‘Sudah kuduga kalau mereka baru mencapai liga dasar. Jika mereka ikut ke Tillandsia, bukankah hanya akan menambah bebanku dan Ganache? Meskipun mereka adalah Suku Raven, tapi setidaknya harus orang-orang yang sudah mencapai Liga Bloodstone. Mereka masih sangat jauh,’ batin Frost.


“Ayah kalian sudah mencapai Liga apa?” Frost mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari Raven. Jika Ayah mereka belum mencapai Liga Bloodstone, wajar saja jika kalah dari para Prajurit Iblis. Namun kalau sudah mencapai atau melewati Liga Bloodstone, mereka harus berhati-hati karena ada Iblis Senior yang juga ikut bermain-main.


“Jawab Yang Mulia, Ayah Angkat sudah mencapai Liga Emerald.” Kali ini yang menjawab adalah Slate.


“Tidak bagus,” bisik Frost kepada dirinya sendiri, akan tetapi anak-anak lelaki masih bisa mendengarnya.


Dengan berani Gany—Mahogany Tuscan Alabaster—bertanya kepada Frost, “Maaf Yang Mulia, apanya yang tidak bagus?”


Frost menyeringai karena akhirnya anak-anak lelaki itu mulai berani. Dia paling tidak tahan dengan orang-orang yang bermental lembek, terutama jika itu adalah kaumnya sendiri: laki-laki.


“Tidak bagus karena kau akan ikut besok sebagai beban, Alabaster,” canda Frost.


Gany langsung merapatkan bibirnya. Mukanya amat pucat.


“Jangan dianggap serius karena aku sedang bercanda,” kata Frost. Dia bingung mengapa anak-anak begitu menganggap serius semua perkataannya.


“Untuk mengalahkan Prajurit Iblis, seseorang hanya perlu mencapai Liga Bloodstone. Ayah para Raven sudah mencapai Liga Emerald dan dikalahkan oleh para Prajurit Iblis? Itu tidak mungkin. Meskipun lima puluh atau empat puluh prajurit mengepung, Ayah kalian tidak akan meninggal dunia. Aku tidak yakin, tapi sepertinya ada Iblis Senior yang ikut mengacau.” Frost menjelaskan alasannya kepada anak-anak. Dia memang berencana untuk membawa para Raven, tapi dia sadar mereka masih terlalu dini untuk mengalahkan para Prajurit Iblis. Walaupun sebenarnya Frost dan Zinn bisa melindungi mereka, tapi tetap saja akan sangat beresiko.


“Yang Mulia apakah saya boleh ikut besok? Walaupun saya baru saja mencapai Liga Agate, tapi Sihir Kuno pasti akan bekerja melawan para Iblis,” kata Rouge.


“Memang Sihir Kuno bisa melawan para Iblis, tapi apakah kau sudah belajar tentang Air Suci Pemberkatan?” tanya Frost.


“Ah....” Rouge menundukkan kepalanya. “Itu... dipelajari di Liga Amethyst. Saya kekurangan satu liga.”


“Kalian benar-benar membuatku khawatir. Kelihatannya umur kalian hampir dewasa, sebentar lagi akan menjalankan Upacara Kedewasaan Diri, tapi masih saja berada di bawah Liga Bloodstone,” kata Frost.


“Maaf Yang Mulia, jika boleh tahu, Anda dan Nyonya sudah berada di Liga apa?” tanya Qerza. Sedari tadi dia penasaran dan ingin menanyakan hal itu, tapi dia harus mengumpulkan keberanian yang besar, tidak seperti saat bersama dengan Zinn.


“Kami sama-sama berada di Liga Olivine,” jawab Frost.


“Kau baru saja memasuki Liga Agate kan, Cardinal?” Frost melirik ke arah Qerza. “Kusarankan kepadamu agar meningkatkan pengetahuanmu dan cepat belajar Sihir Memanah. Kau adalah kandidat yang cocok untuk menjadi penerus di Regancy.”


Entah kenapa Qerza tidak senang dipuji oleh Frost. Dia malah merasakan perasaan buruk.


“Raven, Cardinal, Tahiti hari ini kalian tidak akan tidur. Ikut aku ke Aula Utama. Aku akan mengajari kalian dengan baik,” kata Frost. “Anak-anak lain segera tidur, terutama Daffodil, Ganache menaruh harapan yang besar terhadap kalian dalam membangun kembali Tahiti.”


‘Padahal Anda sendiri yang menghancurkan Tahiti, Yang Mulia,’ pikir anak-anak Daffodil.


Saat anak-anak Daffodil dan Gany sudah masuk ke dalam kamar mereka, Frost menyeringai dengan manik mata emas yang bersinar, membuat kelima anak-anak menelan ludah.


“Sekarang, Raven tunjukkan kecepatan kalian. Jika aku sampai lebih dulu di Aula Utama, aku akan memastikan kalian tersiksa hingga mencapai Liga Quartz,” kata Frost.


Ash, Fable, dan Slate menatap satu sama lain dengan pasrah. Tanpa aba-aba, mereka segera menghilang dari pandangan Frost.


‘Bagus, mereka cepat mengerti keadaan. Tapi, sayang sekali, aku harus memutuskan harapan mereka,’ pikir Frost. ‘Atau, aku mengalah saja ya?’


Saat Ash, Fable, dan Slate sampai di depan pintu Aula Utama, mereka melihat Zinn yang berjalan mendekat. Mereka memberikan penghormatan kepada pemilik manik mata merah muda.


“Kenapa kalian berada di sini?” tanya Zinn.


“I- itu....”


“Aku yang menyuruh mereka ke sini,” kata Frost. “Kalian selamat karena telah berhasil ke sini lebih dulu.”


“Oh, Tuan Muda Tahiti dan Tuan Muda Cardinal juga ada. Apakah Anda buru-buru ingin melatih mereka, Yang Mulia?” tanya Zinn saat menemukan Qerza dan Rouge juga berada di belakang Frost.


“Ayah ketiga anak-anak ini berada di Liga Emerald. Tapi bisa dengan mudah dibunuh oleh Iblis-Iblis itu. Menurutmu, kenapa?” Manik mata emas milik Frost semakin bercahaya. Angin pun berhembus kencang hingga dedaunan kering berterbangan.


“Melihat dari lukanya, jantung dan kepala mereka ditembus paksa oleh tombak. Yang menguasai keahlian menombak adalah Presiden Neraka, Yang Mulia Valak,” gumam Zinn.


“Akhirnya si Ular Sialan itu menunjukkan taringnya. Dia bahkan tidak takut ikut campur dalam masalah kali ini. Ini namanya pemberontakan. Kakek Tua itu sudah menahan Neraka Tingkat Sembilan untuk tidak ikut campur dalam masalah Iblis Junior. Tidak tahu diuntung sama sekali.” Frost mengepalkan tinju. Dia dan Valak sedari dulu memang merupakan musuh bebuyutan. Azazel, Kakek Buyut-Buyutnya pun tidak suka dengan Iblis Ular yang satu itu.


Qerza dan yang lain tidak mengerti tentang pembicaraan Zinn dan Frost. Mereka hanya diam dan mendengar saja. Mereka merasa seolah Frost dan Zinn sudah mengenal satu sama lain secara mendalam, juga merasa kalau hubungan mereka tidak biasa.


"Ini amat buruk. Kita harus bergegas besok."