Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 13 : Antara Tanggung Jawab dan Cinta



Tiba-tiba saja sebuah cahaya merah muncul. Mata Frost melebar saat menyadari cahaya merah berkecepatan tinggi itu sedang mengincar Zinn. Dia langsung menjadikan dirinya sebagai tameng.


Cahaya merah itu menembus tubuhnya. Sebuah anak panah yang dikendalikan dengan sihir. Frost mencengkram erat bahu Zinn, menahan rasa sakit di bahu kirinya.


"Yang Mulia!" Zinn berseru panik saat melihat mata anah panah yang timbul sedikit dari bahu Frost.


"Apakah kau baik-baik saja, Ganache?" tanya Frost. Dia masih sempat-sempatnya bertanya tentang keadaan Zinn, padahal dirinya sendirilah yang berada dalam masalah yang cukup serius.


"Anda yang tidak baik-baik saja!" seru Zinn.


Qerza menatap ke kejauhan dan berkata, "Di sana ada seseorang." Dia menunjuk ke arah langit yang dipenuhi kepulan awan hitam.


Zinn menatap ke kejauhan. Mata merah mudanya bersinar terang dan melihat ada sosok berkepala gajah yang sama dengan yang dihadapi olehnya dan Frost, akan tetapi kali ini auranya sangat mencekam hingga pernapasannya tercekat. Behemoth yang asli.


"Mundur!" seru Zinn kepada Fiery dan Qerza. "Bawa Yang Mulia ke dalam."


Frost menahan sakit sampai tak bisa berkata-kata. Baik Fiery maupun Qerza tidak berani menentang perintah Zinn.


Zinn mengendalikan pedang menggunakan sihir dan menembak pedang ke arah kepulan awan hitam. Dia bisa melihat Behemoth mengubah panah menjadi kapak dan menahan serangan Sihir Pedang Zinn, akan tetapi seolah tidak berniat untuk melawan si wanita muda.


Zinn menarik pedang itu kembali. Dia menatap tajam ke arah Behemoth, seakan sedang menunggu sebuah penjelasan.


Behemoth hanya tersenyum tipis, kemudian menghilang. Awan hitam yang tadinya memenuhi langit juga menghilang.


Saat Zinn merasa aura di sekitar Castleton sudah membaik, dia segera berlari ke Aula Utama dan menemukan Qerza sedang berusaha mengeluarkan anak panah dengan mata yang seakan menyatu dengan daging Frost.


Frost menahan diri agar tidak mengeluarkan suara. Darah tak berhenti mengalir dari bahu kirinya. Dia menatap dingin ke arah tembok dan menggertakkan gigi setiap kali Qerza mendorong kayu anak panah dari belakang.


Zinn mendekati Frost dan berkata kepada Qerza, "Biar aku saja."


Qerza menganggukkan kepala dan menyerahkan tempatnya untuk Zinn.


Zinn duduk bersimpuh di depan Frost dan menekan bahu pemilik manik mata emas. Anak panah itu seakan makin membesar.


Gawat! Anak panah ini adalah Anak Panah Penghisap Raga, batin Zinn.


"Aku tahu, ini adalah Anak Panah Penghisap Raga kepunyaan Behemoth," kata Frost. "Lakukan saja. Selama mata anak panah berhasil keluar dari daging, tidak akan bisa melekat."


"Tapi, Anda...."


Frost mencium kening Zinn. "Aku tidak apa-apa. Lakukan saja."


Zinn menggertakkan gigi dan mengeluarkan sebuah belati. Dia perlahan-lahan mengorek mata anak panah dari tubuh Frost.


Frost memejamkan mata. Keringat dingin bercucuran dari kening, membasahi pipi dan leher. Napasnya juga terdengar semakin berat.


Setelah beberapa saat mengorek, Zinn memerintahkan kepada Qerza untuk mendorong kayu anak panah.


Qerza dengan cepat langsung melaksanakan perintah Zinn. Mata anak panah sepenuhnya terdorong keluar dan anak panah berhasil dikeluarkan dari bahu Frost.


Zinn menghela napas lega karena melakukan hal yang benar.


"Aku bisa memercayai dirimu," kata Frost sambil menahan pergelangan tangan Zinn.


"Saya sebenarnya sangat takut, Yang Mulia." Zinn tersenyum kaku. "Saya takut saya melakukan kesalahan yang dapat membunuh Anda."


Fiery dan Qerza saling menatap. Mereka berdua memutuskan untuk tidak mengganggu Frost dan Zinn bersama.


"Kalian berdua jangan kabur," kata Zinn, mengagetkan Fiery dan Qerza. "Ambilkan air dan kain bersih untuk saya."


"Ba- baik, Yang Mulia!"


Zinn menekan luka di tubuh Frost menggunakan tangannya, hingga tangannya dipenuhi noda merah, sambil menunggu Fiery dan Qerza kembali membawa barang permintaannya.


Frost menatap lurus ke arah Zinn tanpa berkedip. Dia sangat bersyukur karena Zinn ada di sisinya.


"Apakah kau sudah memikirkan jawabannya?" Frost tiba-tiba saja bertanya.


Zinn menatap Frost dengan sayu dan menggelengkan kepalanya. Dia bukannya tak ingin memikirkan pertanyaan Frost, tapi dia memikirkan hasil yang akan didapat jika mereka berhasil bersama.


"Maafkan aku. Sepertinya aku terlalu terburu-buru. Satu hari saja belum lewat, bagaimana mungkin kau dapat memberiku jawaban secepat itu," kata Frost.


Bukan itu masalahnya! seru Zinn sambil berusaha menahan agar tidak ada kata-kata aneh yang keluar dari bibirnya.


Kemudian, Frost dan Zinn menjadi canggung. Tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua.


Fiery dan Qerza akhirnya datang membawa permintaan Zinn. Untungnya kain bersih yang mereka bawa cukup panjang untuk memerban luka Frost.


Setelah semuanya selesai, Frost memakai kembali kemeja hitam dan jubah kebesaran Castleton. Tanpa berkata-kata, dia pergi dari Aula Utama.


Saat Frost telah menghilang dari pandangan, Zinn merosot terduduk di atas lantai marmer dingin. Air mata perlahan mengalir membasahi pipinya. Dia sangat ingin bersama dengan Frost.


Fiery yang hendak bertanya ditahan oleh Qerza. Pemilik manik mata semerah darah mengerti kalau Zinn sedang tak ingin diganggu oleh orang lain.


Qerza menarik Fiery untuk pergi dari Aula Utama dan bergabung dengan teman-teman mereka yang sedang bermain di taman bunga Castleton.


Apa yang harus kulakukan? tanya Zinn kepada dirinya sendiri.


Zinn sekarang sedang berada dalam dilema. Jika dia berusaha bersama dengan Frost, dia merasa akan ada hal buruk yang terjadi. Dia tak ingin ada masalah yang memusingkan.


Zinn tahu kalau dia terlalu banyak berpikir, dia merasa kalau ucapan Fiery ada benarnya. Namun dia bingung. Jika tidak ada pilihan antara bersama dengan orang yang dicintai dan melihat dunia hancur atau tidak bersama dengan orang yang dicintai dan melihat dunia damai, dia pasti sudah memilih untuk bersama dengan Frost.


Frost memiliki ambisi yang besar saat dia menguasai seisi Neraka Tingkat Delapan, Zinn tidak yakin bahwa ambisi itu sudah padam dalam diri Frost.


Zinn ada untuk mencegah Frost menghancurkan dunia, sementara Frost ada untuk menghancurkan dunia. Mereka berada di lingkup dunia yang berbeda, jalan yang berbeda.


Zinn menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pandangannya dikaburkan oleh air mata. Dia tak bisa berhenti menangis.


Bagaimanapun juga, Zinn adalah seorang perempuan. Dia tidak bisa menahan rasa sakit hati. Namun dia hanya bisa menyimpan semuanya di dalam hati.


Zinn menangis, menangis, dan terus menangis hingga tak sadarkan diri di Aula Utama.


Frost menghempaskan diri ke atas tempat tidur dan menyentuh bahu kirinya yang terluka. Ada perasaan hangat yang mengalir di dalam dirinya.


Frost baru saja menyadari kalau Zinn sangat ahli dalam pengobatan, penyelamatan, dan sihir.


Ganache, apa yang kau sembunyikan? Mengapa kau tidak ingin bersama denganku?