Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembaran Extra : Qerza Turquoise Cardinal



Qerza, Fiery, dan anak-anak lain merasakan kengerian luar biasa saat Zinn berkata kepada mereka untuk segera pergi dari tempat itu.


"Ayo kita turuti perkataan Yang Mulia Permaisuri," bisik Qerza kepada anak-anak. "Mari ikut aku ke sebelah sini."


Qerza, Fiery, dan anak-anak meninggalkan Zinn dan Frost berdua saja. Walaupun sedikit ragu, Qerza sempat berbalik dan menyaksikan adegan ciuman Zinn dan Frost. Wajahnya langsung merona.


Astaga, memang benar orang dewasa. Tidak dimana-mana dan tidak tahu waktu, selalu saja melakukan hal yang mengejutkan! seru Qerza di dalam hati.


Manik mata semerah darah Qerza bersinar dalam remang-remang. "Di sini," katanya sambil mengarahkan jalan.


Qerza tampak lebih mengetahui tentang jalur rahasia itu dibandingkan Fiery, anak Kepala Suku Daffodil itu sendiri. Hal itu dikarenakan Qerza adalah seorang perancang yang ikut andil dalam merancang jalur rahasia.


Sebenarnya, sedari tadi Qerza sudah mencurigai Fiery. Tidak biasanya Fiery menjadi sangat pendiam, apa lagi jika sedang bersama dengannya. Sepengetahuan Qerza, Fiery adalah anak yang ceria, terlebih lagi jika dihadapkan dengan orang-orang cerdas seperti Zinn dan Frost.


Qerza segera menepis pemikiran dan perasaan buruknya. Dia tidak ingin berprasangka buruk kepada Fiery sebelum adanya bukti.


Qerza memandu anak-anak ke dalam sebuah jalur kamuflase. Sebagai keturunan dari Suku Cardinal, dia memiliki kemampuan untuk menghapal semua hal yang ada di dunia. Setiap suku di Regancy memiliki keunikan mereka masing-masing yang tak dapat dipelajari ataupun diduplikasi sembarangan oleh suku lain.


Kenapa Nona Fiery menjadi sangat diam? Apakah perasaan saya tentang dirinya itu benar? pikir Qerza.


Qerza berniat menyesatkan semua orang demi mengungkapkan perasaannya yang kurang bagus. Dia bukannya berniat jahat, akan tetapi lebih baik mencegah segala sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi kepada meraka.


Perlahan demi perlahan, Qerza menyesatkan semua orang ke dalam sebuah jalur aneh. Jalur itu dikenal sebagai Jalur Cermin oleh Suku Daffodil. Kebetulan sekali Jalur Cermin adalah sebuah jalur yang dapat menunjukkan sosok asli seseorang. Sebenarnya Jalur Cermin hanyalah sebuah jalur biasa, akan tetapi ada sebuah trik psikologi tak kasat mata yang dimainkan di jalur ini dan dapat memengaruhi karakteristik seseorang.


Qerza melangkah perlahan-lahan, anak-anak juga mengikutinya melangkah perlahan-lahan. Seharusnya Fiery tidak akan terpengaruh dikarenakan jalur rahasia ini adalah idenya juga. Namun sepertinya insting Qerza benar, Fiery bukanlah Fiery yang seharusnya. Pemilik manik mata lumut itu juga mengikuti gaya Qerza.


Sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang buruk kepada kami, batin Qerza.


Yang benar saja, belum sampai beberapa saat setelah Qerza berkata seperti itu kepada dirinya sendiri, anak perempuan yang berada di posisi paling belakang berteriak kencang, mengagetkan semua orang di depannya.


Qerza dan anak-anak lain langsung membalikkan kepala ke belakang dan menemukan kalau anak perempuan itu ditangkap oleh Iblis yang mirip dengan Behemoth.


Oh tidak! Bagaimana ini? Kenapa Yang Mulia dan Permaisuri lama sekali menyusulnya? Kenapa makhluk ini bisa berada di sini? Apakah Nona Fiery yang memanggilnya ke sini? Qerza punya banyak sekali pertanyaan di dalam benaknya, akan tetap sekarang bukan saatnya untuk berpikir tentang hal yang tidak penting terlebih dulu. Mereka harus segera menyelamatkan diri!


“Merapat ke dinding!” seru Qerza.


Untungnya anak-anak percaya kepada Qerza dan segera merapat ke dinding. Mereka tampak seperti menyatu dengan dinding padahal sebenarnya itu adalah sebuah trik kamuflase.


“Kalian berpikir kalau kalian bisa lari dariku? Jika kalian tidak segera menunjukkan diri kalian, maka anak ini akan mati,” ujar Iblis itu.


“Jangan pernah menunjukkan diri kalian! Dia sedang berbohong! Vika udah dibunuh olehnya sejak awal. Jangan ada yang keluar dari tempat kalian!” teriak Qerza.


Iblis mirip Behemoth itu bisa mendengar suara Qerza yang berada di kejauhan. Dia melangkah perlahan-lahan seolah ingin meninggalkan tempat tersebut, akan tetapi tetap saja tidak akan berhasil menipu Qerza. Remaja laki-laki itu telah mempelajari banyak gulungan tentang trik murahan.


“Kami memang masih anak kecil, orang tua, tapi bukan berarti kami adalah orang bodoh yang akan keluar dari tempat persembunyian jika disuruh. Kalau bisa carilah kami,” tantang Qerza.


Aku harus mengulur waktu selama mungkin sampai Yang Mulia dan Permaisuri datang. Yang mulia pasti telah mendengar suara teriakan Vika. Mereka sebentar lagi pasti akan datang menyelamatkan kami, pikir Qerza.


“Hah! Kau mengira bahwa dirimu sudah sangat pandai, anak kecil? Apakah kau tidak takut aku merobohkan ruangan ini?” ancam si Iblis.


Qerza tersenyum dan dengan percaya diri berkata, “Jika Anda bisa merobohkan bangunan ini. Anda juga tahu dengan merobohkan bangunan ini sama saja dengan cari mati. Anda memang dipanggil oleh seseorang ke sini, tapi Anda tidak akan bisa keluar dari sini dan mati bersama dnegan kami.”


Qerza melirik ke arah mayat Vika yang tergeletak di atas tanah. Dia merasa sangat bersalah karena tak bisa menyelamatkan gadis kecil itu. Setidaknya, semua orang masih selamat.


Walaupun dinding tersebut merupakan dinding kamuflase, jika mereka tak saling bersentuhan maka tidak akan dapat melihat satu sama lain. Dinding kamuflase dibuat khusus untuk melihat lingkungan sekitar.


“Pandai sekali kau berbicara padahal masih kecil.”


Iblis itu menghentakkan kakinya dan menciptakan suasana seolah sedang gempa. Sayang sekali bangunan yang dibuat oleh Suku Daffodil sangatlah kokoh. Meski terkena gempa atau bencana alam lainnya sekali pun, sebagian bangunan masih saja dapat berdiri dengan kokoh. Itu sebabnya Suku Daffodil berani tinggal di lereng gunung merapi.


Iblis itu menghentakkan kakinya sekali lagi, tapi ruangan bergeming, tetap pada tempatnya.


"Manusia memang menarik. Sayang sekali hidup kalian hanya sebentar. Kalian terlalu mudah untuk diburu dan dibunuh." Iblis itu tertawa keras.


"Lebih baik hidup sementara dengan menyenangkan, daripada hidup lama dengan membosankan," celetuk Qerza.


Sepertinya Qerza menduplikasi sifat Frost yang... ya, harus diakui, menyebalkan dan pintar.


Iblis itu hanya mendengus kesal mendengar perkataan Qerza.


Tiba-tiba saja dua orang muncul entah dari mana: Frost dan Zinn. Mereka masih saja sempat-sempatnya bercanda dan bermesraan, membuat Qerza menepuk jidatnya.


Apa yang dilakukan Yang Mulia dan Permaisuri? Qerza bertanya-tanya.


Qerza bisa melihat kalau Zinn menunjuk ke belakangnya. Dia menahan tawa. Ternyata mereka berdua sangat serasi! Yang Mulia yang dingin dan Permaisuri yang sering bercanda, batinnya.


Qerza dan anak-anak lain tiba-tiba saja berpindah tempat ke Istana Castleton.


"Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari rombongan tersebut.


"Yang Mulia menyelamatkan kita. Tapi, kenapa Nona Fiery tidak ada?"