
"Saya tidak pernah melihat Anda memakai kemampuan ini. Apakah kemampuan ini memiliki efek samping bagi diri Anda, Yang Mulia?" Benar, Zinn sama sekali tak pernah melihat Frost memakai kemampuan mata tembus pandang miliknya, sehingga pemilik manik mata merah muda itu menduga kalau terjadi efek samping saat pria itu memakai kekuatannya.
Jika dikatakan memiliki efek samping, sebenarnya bukan itu yang Frost rasakan. Frost hanya merasa tak nyaman saat memakai kekuatan ini, dikarenakan dia dapat melihat hal-hal aneh di luar akal sehat, misalkan saja: buku yang berbicara kepadanya, atau mungkin sebuah patung, ya hal-hal seperti itu. Frost tidak menyukainya sama sekali.
"Aku hanya tidak suka memakai kekuatan ini. Walaupun tidak ada efek sampingnya, tapi aku merasa tidak nyaman," jawab Frost. Frost ingin menyembunyikan fakta dari kemampuannya karena tak ingin membuat Zinn khawatir dan memberikan nasihat yang tidak akan dia patuhi.
Zinn tahu kalau Frost sedang berusaha menghindar dari pertanyaannya. Zinn hanya bisa terdiam dan membiarkan suasana kembali mendingin, kembali canggung. Frost juga bukan ingin menyembunyikan sesuatu dari Zinn, hanya saja ada beberapa hal yang memang belum saatnya untuk dikatakan kepada wanita muda itu.
Zinn melirik ke arah Frost yang sedang mengangkatnya dan menyadari satu hal: bahwa sebenarnya Frost adalah sosok yang sangat tampan. Bagaimana tidak? Frost Blanche Castleton adalah orang nomor satu di Regancy dengan kemahiran tingkat tinggi, juga sangat rupawan, walaupun sifatnya sangat dingin dan sedikit kejam. Frost penuh dengan kharisma, dengan otak yang cemerlang, bentuk tubuhnya pun sangat mengesankan: tingginya di atas rata-rata pria biasa, dada bidang dan bahu kekar, warna kulitnya putih pucat dengan mata emas yang khas. Frost memiliki wajah pemangsa. Walau Frost tidak memiliki kisah cinta yang berarti di hidupnya, akan tetapi dia memiliki kisah perang yang sangat menarik. Setelah berkenalan selama setengah tahun dengan Frost, Zinn mendapati bahwa pemilik manik mata emas adalah seseorang yang sangat pandai bercerita.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Frost, memergoki Zinn menatapnya tanpa henti selama beberapa waktu, bahkan si wanita muda tidak berkedip sama sekali!
"Saya menyadari satu hal tentang diri Anda, Yang Mulia," jawab Zinn. "Setelah mengenal Anda, ternyata Anda tidak seburuk yang dibicarakan oleh orang-orang di luar sana. Bumbu-bumbu dari cerita yang tertabur di masyarakat memang tak dapat dipercaya."
Frost menyeringai dingin. "Percayakah kau jika aku mengatakan kepadamu kalau aku hanya menunjukkan sikap-sikap baikku kepadamu?"
Zinn menggelengkan kepalanya. "Anda bukanlah orang seperti itu. Saya mempelajari beberapa hal tentang Anda selama kita hidup bersama di Castleton. Anda tidak menyatakan perang terhadap suku-suku yang mematuhi dan ingin menjalin kerja sama dengan Anda—selama mereka tidak melanggar aturan yang berlaku atau mengkhianati Anda. Anda juga sebenarnya sering melakukan amal sebagai seseorang yang menggunakan topeng dan jubah kepada warga-warga korban bencana. Anda juga menurunkan harga pajak agar masyarakat-masyarakat di Regancy tidak merasa terbebani. Anda dapat memerhatikan orang lain juga."
Frost terdiam mendengar penjelasan Zinn. Memang benar kalau Frost telah melakukan itu semua, tapi apakah ada artinya? Dia tidak melakukannya atas dasar kemanusiaan, juga tidak sadar telah melakukan hal-hal baik.
"Saya mendengar sesuatu dari Mictlantecuhtli beberapa waktu yang lalu." Zinn mengubah topik pembicaraan mereka dan memutuskan untuk memberitahu Frost apa yang telah didengarnya dari Mictlantecuhtli.
"Kau bertemu dengan sosok Mictlantecuhtli? Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal? Apakah kau tahu kalau bertemu dengan Mictlantecuhtli sama saja dengan ada kesialan yang akan menimpamu seumur hidup?"
Frost mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Zinn. Di Regancy, Frost dikenal sebagai seorang pembunuh kejam, petarung liar, dan algojo yang gemar menggorok leher. Selain itu, Frost juga dikenal sebagai seseorang yang tidak pernah mengampuni dan tidak pernah melupakan penghinaan. Namun hal itu tidak membuat Frost merasa malu, melainkan membuatnya merasa bersemangat. Frost tidak peduli akan julukan yang disematkan untuknya, dia hanya ingin menikmati sesuatu yang dia perjuangkan.
"Anda tahu? Saya tidak percaya itu semua. Saya hanya percaya dengan apa yang saya lihat dan apa yang saya alami. Saya sangat menikmati tantangan dalam mencari tahu sifat asli seseorang, termasuk Anda. Sebenarnya, saya adalah sosok yang memiliki sikap mempertanyakan atau mencurigai segala sesuatu karena adanya keyakinan bahwa segala sesuatu bersifat tidak pasti, apa lagi jika hal itu berhubungan dengan kebenaran yang tampak di permukaan. Saya tidak pernah percaya akan apa pun yang disampaikan kepada saya dan saya tidak memercayai siapa pun. Yang Mulia hanyalah salah satu dari beberapa orang yang bisa saya percayai. Oleh karena itu, saya tak akan pernah mengkhianati Yang Mulia."
Setelah menjelaskan panjang lebar, Zinn membuang muka. Wanita muda itu tak sanggup menatap ke arah Frost. Memang benar awalnya Zinn pernah mencurigai Frost atas segala perlakuan dan pemaksaannya. Waktu setengah tahun mungkin terlalu singkat untuk Zinn dan Frost berkenalan.
Frost tiba-tiba saja tertawa, tapi Zinn bisa melihat tidak ada senyuman di matanya. "Apakah aku bisa memercayai perkataanmu yang satu ini, Gadis Kecil? Dan, apakah aku boleh menganggap hal ini sebagai jawaban dari aku menyukaimu?"
Zinn menggembungkan pipi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Zinn merasa kalau Frost sangatlah mengesalkan.
Frost mencium kening Zinn. "Sejauh ini aku tidak melihat ada orang yang selamat di sini. Apakah kau yakin ada orang lain di sini?" tanya Frost. Pria itu memang tidak melihat ada orang di dalam rumah-rumah."
"Bagaimana dengan di bawah tanah?" tanya Zinn.
Frost melihat-lihat ke bawah tanah sesuai dengan arahan Zinn. Dia menemukan beberapa anak kecil yang ketakutan dan menangis. "Kau benar, Ganache. Ada beberapa anak kecil di bawah tanah," bisik Frost.
"Anda berbisik untuk menghindari musuh-musuh kita, ya?" Zinn memicingkan mata. "Tapi, pilihan Anda sudah benar. Ada makhluk yang masih mengintai. Benar juga, pagar dari kepala-kepala manusia ini mungkin adalah kelakuan dari penyihir yang membuat Lingkaran Sihir. Penyihir itu ingin menandai wilayah-wilayah yang telah dilewatinya."
"Merepotkan sekali berhadapan dengan sesuatu yang tidak diinginkan. Benar juga, siapa yang menuliskan dan mengirimkan plakat ke Castleton untuk segera datang ke Daffodil?"
"Saya juga kurang tahu, Yang Mulia. Yang saya tahu adalah plakat yang saya baca merupakan Plakat Perak yang digunakan oleh bangsawan. Tulisannya sedikit berantakan, sepertinya yang menulis masih anak-anak. Saya hanya asal menebak saja. Penulis Plakat Perak pasti masih hidup dan kita harus segera mencarinya."