Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 19 : Melatih Anak-Anak Pt. II



“Saya mendengar dari Yang Mulia kalau Nyonya sudah mencapai Liga Olivine, padahal usia Anda berdua sangat muda,” kata Rouge.


Zinn tersenyum. “Apakah Anda tahu kalau Pemimpin Rovseltte sudah mencapai Tingkat Prince Satu atau di Regancy berada di Liga Zircon?”


“Sehebat itu?” Rouge menganga mendengar Zinn.


“Tentu saja sehebat itu,” kata Zinn.


Zinn mengaktifkan pelindung di sekeliling taman bunga. Dia tahu kalau kekuatan Sihir Kuno tidak dapat dianggap remeh. “Saya akan mengajarkan kepada Anda Sihir Kabut Ilusi Tingkat Akhir. Setelah itu, kita bisa mempelajari Sihir Air Suci Pemberkatan.”


“Benar juga, Nyonya, bukankah Sihir Air Suci Pemberkatan adalah aliran Sihir Murni, kenapa juga termasuk ke dalam Sihir Kuno?”


Rouge memetik sekuntum bunga mawar dan meremas mahkota-mahkota bunga, melemparkannya ke udara sambil membacakan beberapa mantra. Terciptalah sebuah kabut tipis. Dia mulai melatih kekuatannya.


“Karena ‘pemberkatan’ sendiri merupakan Sihir Kuno. Setiap tingkatan Liga sebenarnya mempelajari Sihir Pemberkatan, hanya saja jika tidak cocok dengan sebuah aliran, maka tidak dapat mempelajari sihir tersebut.” Zinn memang terjebak dalam kabut ilusi yang dibuat oleh Rouge, tapi dia masih tidak terpengaruh. “Anda melakukan sihir ini dengan bagus.”


“Anda terlalu memuji saya Nyonya. Sebenarnya, saya sudah menguasai Sihir Kabut Ilusi Tingkat Akhir."


Rouge menepuk tangan dan menciptakan kabut yang lebih tebal dari sebelumnya.


Zinn tersenyum. Dia mengangkat pedang dan menebas kabut. Kabut yang menutupi menghilang begitu saja.


Rouge menghela napas. Dia tahu kalau dia tidak akan bisa mengalahkan Zinn. Bagaimana bisa seorang yang berada di Liga Agate mengalahkan seseorang yang berada di Liga Olivine?


"Sebenarnya, Yang Mulai sudah mencapai Liga Zircon sama seperti Yang Mulia Neftaza dari Rovseltte," kata Zinn.


Rouge semakin penasaran.


"Tapi, Yang Mulia tidak melatih kekuatan sihir sedari kecil. Kalau Yang Mulia Neftaza, dia mempelajari Sihir Kuno dan Ilmu Hitam di Jaaduee Andhera. Ini adalah rahasia umum di kalangan bangsawan enam benua."


"Jaaduee Andhera?" Rouge menampakkan ekspresi seolah dia tahu sesuatu.


"Ya, benar, Jaaduee Andhera." Zinn memperhatikan ekspresi wajah Rouge dari penasaran yang berubah menjadi ekspresi meringis ngeri.


"Jaaduee Andhera, mereka ada di sini...," bisik Rouge. "Mereka ada di Benua Regancy...!"


Tiba-tiba saja salah satu sisi taman bunga meledak. Untung saja Zinn memasang pelindung.


Suku Tahiti mengendalikan sihir dengan emosi. Jika mereka takut, marah, atau berada dalam suasana hati yang tidak baik, mereka tidak akan bisa mengendalikan sihir mereka.


"Anda harus tenang!" seru Zinn.


"Mereka ada di sini... mereka yang membunuh semua orang! Mereka ada di sini! Mereka yang membunuh semua orang! Mereka ya-"


Zinn memukul salah satu titik akupuntur Rouge dan membuatnya pingsan.


'Ini tidak baik. Kalau Jaaduee Andhera ada di sini, maka Iblis-Iblis itu adalah perbuatan mereka. Aku harus segera memberitahukannya kepada Yang Mulia,' batin Zinn.


Di tempat pelatihan Frost, ketiga Raven kaget saat ada banyak jebakan yang memenuhi tempat tersebut.


"Bawah!" seru Fable.


Ash, Fable, dan Slate melompat ke atas. Ash melempar jarum kecil yang mengaktifkan jebakan. Jebakan tersebut meledak dan menciptakan kepulan asap hitam. Mereka seperti sedang berada di dalam sebuah arena.


"Hati-hati, ada benang tipis di atas."


Fable memberikan arahan dan Slate langsung mengeluarkan belati, memotong benang-benang yang menghalangi jarak mereka.


"Jangan dipotong semua! Ada Benang Sihir Ledakan di sana."


Slate mengangguk, mengiyakan arahan Fable.


'Mereka memang bagus, tapi sangat kurang. Sebentar lagi mereka akan kehabisan tenaga karena terus berada di udara seperti itu,' pikir Frost.


Frost memang tidak langsung mengomentari ketiga Raven, dia dengan santai menikmati latihan anak-anak itu.


Fable mengeluarkan pedang rantai dan membantu Ash menghancurkan jebakan peledak di tanah.


Frost sedikit kaget dan merasa tertarik.


'Seharusnya dia mengeluarkan itu dari tadi. Kalau rekan-rekannya kehabisan tenaga, bukankah hal itu akan menyulitkannya?' pikir Frost. 'Sayang sekali, kalau mereka menginjak tanah, yang terjadi bukan lagi ledakan, tapi... sudahlah, biarkan mereka mengalaminya sendiri.'


Fable merasa mereka belum aman, tapi akan sangat berbahaya jika tidak menginjak tanah. Mereka hanya bisa bertahan selama dua menit jika diteruskan.


Fable berkomunikasi dengan Ash dan Slate menggunakan 'bahasa burung hantu' mereka. Bisa dilihat kalau kedua saudaranya hanya mengangguk.


Saat menginjakkan kaki di atas tanah, ketiga Raven bisa merasakan gemuruh. Tanah di belakang mereka retak, terbelah menjadi dua. Muncul seekor kalajengking raksasa berwarna biru.


"Oh tidak...," gumam Slate.


"Hati-hati!" seru Fable sambil menarik kedua saudaranya mundur.


Ekor kalajengking bergerak lincah dan hampir saja menusuk mereka bertiga jika Fable tidak segera bertindak.


'Memang benar-benar otak dan mata dari Raven,' pikir Frost, memuji kelincahan Fable.


"Yang Mulia!" Slate berteriak. "Apakah Anda berniat membunuh kami?!"


Frost hanya menyeringai dan ketiga Raven tahu jawabannya. Pemilik manik mata emas benar-benar ingin menyiksa mereka.


"Woah!" seru Slate saat Fable menariknya ke samping. Ash bisa mengatur dirinya sendiri, tapi adik mereka adalah orang yang ceroboh.


"Fokus!" bentak Fable.


Slate menggertakkan giginya. "Iya, aku paham."


Ash dan kalajengking biru saling menatap. Kalajengking biru memainkan capit, tidak sabar dengan makan malam yang telah disiapkan untuknya.


Ash memejamkan mata sejenak dan membuka matanya saat ekor kalajengking biru berusaha menusuknya. Manik mata abu-abu gelapnya menggelap, dia melempar jarum, menyebabkan ekor kalajengking biru terpukul ke belakang.


Frost bertepuk tangan. "Selamat, Raven, kau langsung masuk Liga Emas. Memang kalian harus dipaksa agar bisa meningkat dengan cepat."


Frost tahu kalau jarum yang dipakai Ash merupakan manifestasi dari energi jiwanya sendiri.


Ash merupakan seorang penyerang jarak jauh yang handal, selain itu Teknik Melempar Jarum tidak mudah untuk dipelajari.


Kalajengking biru memainkan capitnya dengan cepat, sepertinya ia sangat marah.


Fable menutup matanya. 'Kalajengking, kalajengking. Apa yang bisa digunakan untuk mengalahkan hewan itu?' Dia berpikir keras.


Slate menyerang tubuh kalajengking biru menggunakan belati, tapi serangannya memantul dan dia segera menjauh dari sana. Dia memberikan informasi pada Ash dan Fable kalau kulit kalajengking biru sekeras baja.


'Tentu saja tidak bisa memakai cara biasa. Tapi, anak itu boleh juga, mengambil inisiatif memberikan informasi,' batin Frost.


Ash melempar jarum ke arah mata kalajengking biru, tapi jarum-jarum itu ditahan oleh capit raksasanya. Anak itu berdecak kesal.


Frost sengaja membuat mereka berhadapan dengan kalajengking biru. Daerah Tillandsia adalah daerah yang sangat berbahaya. Daerah padang pasir memiliki banyak hal-hal yang tidak diinginkan. Kalajengking raksasa adalah salah satunya.


'Akan lebih baik jika mereka segera menemukan kelemahannya. Kalajengking ini sudah tak makan selama beberapa hari. Ia sangat kelaparan dan akan memangsa apa pun yang ada di hadapannya.'