Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 26 : Masalah yang Datang



“Tentu saja saya harus sopan, Anda bertiga sudah berniat membantu saya dan Yang Mulia. Kami juga tidak akan tahu tragedi yang terjadi di Daffodil jika Tuan Muda Cardinal tidak memberitahu kami,” kata Zinn.


“Kami yang seharusnya berterima kasih karena tidak menganggap laporan itu sebagai laporan palsu,” kata Fable. “Laporan itu ditulis dengan sangat… jelek dan berantakan.”


Zinn tertawa kecil. “Justru karena laporan ini ditulis oleh seorang anak-anak, maka saya memutuskan untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Anak-anak tidak akan berbohong.”


“Benar juga, seharusnya kami memanggil Anda sebagai Ibunda,” canda Ash.


Wajah Zinn langsung merona merah, antara senang dan malu. “Benar juga, saya belum memperkenalkan diri dengan baik,” katanya, mengalihkan topik pembicaraan. “Nama saya adalah Zinnia Pramidita Ganache. Saya berasal dari suku Ganache.”


“Baiklah Ibunda Zinnia, terima kasih karena sudah mengajarkan kepada kami sesuatu yang berharga,” ujar Ash.


“Saya hanya percaya kepada kalian. Kalian adalah anak-anak yang baik. Selain itu, saya juga harus berterima kasih kepada kalian karena telah menganggap Castleton sebagai rumah kalian. Yang Mulia dan saya tidak akan kesepian lagi dengan adanya kalian.”


Zinn dan ketiga Raven akhirnya mencapai Castleton. Perjalanan pulang mereka ternyata lebih cepat. Sebenarnya Zinn hanya asal mengikuti kata hatinya saja, dia tidak berpikir untuk meninggalkan Istana Castleton tadinya. Namun karena hal itu sudah terjadi, maka dia tidak akan memusingkannya. Dia juga berhasil mengikat jodoh yang baik dengan ketiga saudara Raven.


Tiba-tiba saja kepala Zinn terasa begitu berat. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya dan terjatuh ke atas tanah. Dia dapat mendengar anak-anak berseru dengan panik, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.


※※※


“Kau menyebut dirimu dari suku Cardinal?” tanya Frost dengan nada berapi-api. “Bukan begini cara menulis surat untuk Penguasa di tempat lain.”


“Saya baru saja berumur belasan tahun! Buku dan gulungan yang saya baca bahkan tak lebih dari seratus buah,” kata Qerza. “Permintaan ini... bukankah sedang menyulitkan saya?”


Qerza mengembuskan napas dan mulai menulis.


“Berapa kali harus kukatakan kepadamu? Ketika kau sedang menulis, tegakkan badanmu!” seru Frost sambil menegakkan punggung Qerza.


“Yang Mulia, tolong jangan menyulitkan saya lagi.” Qerza mendesah pasrah. “Saya benar-benar tidak sanggup melanjutkan latihan ini....”


“Apakah kau masih termasuk seorang pria? Kau bahkan merupakan penerus terakhir suku Cardinal. Sekarang, aku hanya menyuruhmu melakukan keahlianmu, mengapa kau tidak bisa melakukannya?”


“Ini terlalu menyulitkan saya, Yang Mulia!” Qerza menatap pasrah ke arah Frost. Dia tidak tahu kalau latihan menulis bisa sesulit itu. Biasanya, dia mengejek Fiery karena melakukan pekerjaan itu. Sekarang dia baru tahu kalau ternyata latihan menulis sangat sulit. “Saya tidak terbiasa melakukan hal ini. Bisa membaca saja sudah merupakan hal bagus.”


“Apanya yang kau sebut sebagai hal bagus?” Frost menyilangkan lengan di depan dada. Dia benar-benar tak habis pikir. “Kau harus tahu kalau Cardinal adalah orang yang dulunya menjadi Kaisar di Regancy. Itu semua dikarenakan kehebatan mereka dalam menyelesaikan masalah negeri secara damai, kehebatan mereka dalam bertutur kata, dan kehebatan mereka dalam menulis.”


Frost bisa melihat betapa depresinya Qerza. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk berhenti menceramahi dirinya. Dia juga menyerah atas Qerza. Dia merasa kalau pemilik manik mata semerah darah tak akan memiliki kesempatan untuk sama seperti para pendahulunya.


“Saya tidak tertarik dengan kehidupan mewah, Yang Mulia,” kata Qerza. Dia tampak bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. “Saya ingin hidup seperti orang biasa, berkelana ke banyak tempat tanpa harus memikirkan beban apa pun. Saya dan Nona Fiery akan hidup bahagia, mencintai satu sama lain sampai tua.”


‘Alangkah bagusnya jika aku bisa memikirkan sesuatu seperti anak ini,’ pikir Frost.


“Tapi, itu tidak akan menjamin dirimu,” kata Frost. “Saat dewasa, kau akan mengetahui niat baikku.”


“Yang Mulia, bolehkah saya bertanya sesuatu?” tanya Qerza.


Frost menatap lurus ke arah Qerza. “Apa yang ingin kau tanyakan?”


“Apakah perasaan Anda terhadap Nyonya... maafkan saya jika saya mengatakan hal ini, tapi entah kenapa saya merasa perasaan Anda terhadap Nyonya tak hanya rasa cinta saja. Saya dapat melihat adanya sebuah perasaan bersalah di dalamnya.”


Frost tertegun mendengar perkataan Qerza. Harus diakuinya kalau anak itu peka sekali dengan keadaan sekitarnya. “Lalu, apa lagi yang kau temukan?”


“Saya merasa kalau Anda berdua telah mengenal satu sama lain dari dulu... dulu sekali...,” kata Qerza. “Nyonya terhadap Anda dipenuhi oleh rasa cinta. Tapi, entah kenapa di dalam tatapannya juga tersirat rasa takut.”


Frost mengembuskan napas perlahan. “Menurutmu, apakah dia takut terhadapku?”


“Tidak juga. Yang ditakutkan oleh Nyonya sepertinya bukan Anda, tapi saya tidak tahu apa yang ditakutkan oleh beliau. Saya hanya berharap kalau hubungan Anda berdua baik-baik saja. Anda berdua sekarang adalah orang-orang yang berarti dalam hidup saya.”


“Aku mendadak merasakan hawa yang tak enak,” kata Frost. “Daripada kau melakukan hal yang tidak kau suka, bagaimana kalau bermain catur saja?”


“Ide yang bagus!” Qerza berseru senang. Dia suka bermain catur. Dulu lawannya bermain catur adalah Kepala Suku Daffodil. “Saya sangat suka bermain catur. Harap jangan mengalah kepada saya, Yang Mulia.”


“Apakah aku tampak seperti orang yang akan mengalah kepada orang lain?” tanya Frost.


Qerza terkekeh dan menggelengkan kepalanya. “Saya hanya asal mengatakannya. Tapi, entah mengapa saya merasa kalau Anda banyak mengalah kepada orang lain.”


“Aku tidak tahu kau lihat itu dari mana, tapi percayalah kalau aku tidak akan pernah mengalah kepada orang lain.”


Qerza tersenyum. ‘Saya juga tak yakin dapat menang dari Anda, Yang Mulia,’ pikirnya.


Frost menggunakan sihir untuk menyusun pion di atas papan catur. Dia mempersilahkan Qerza maju terlebih dulu. Dia tak ingin Qerza menyerah dengan mudah saat melawannya.


Mereka berdua bermain catur sekitar beberapa menit, sebelum akhirnya seseorang mendorong paksa pintu Aula Utama. Slate.


“Yang Mulia!” Slate berseru dengan wajah panik. Dia seperti seseorang yang sedang ketakutan karena ada masalah besar yang terjadi. “Nyonya...! Nyonya dia....”


Raut wajah Frost langsung berubah saat Slate mengatakan tentang Zinn. Rahangnya mengeras dan matanya mendelik tajam. “Ada apa dengan Ganache? Jangan setengah-setengah saat berbicara.”


“Nyonya muntah darah!”


Frost mengepal tinju. ‘Alergi bulan barunya mulai lagi... sial! Sial! Seharusnya aku tidak percaya begitu saja ketika dia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja,’ batinnya.


"Cepat bawa aku kepada Ganache! Dia dalam bahaya."