
"Lebih baik Anda fokus dengan bacaan Anda. Selama kami pergi ke daerah Tillandsia, Anda yang akan mengurus negeri," kata Zinn.
Qerza terhenyak. "Bagaimana bisa Anda menyuruh saya untuk mengurus negeri, Nyonya?"
"Tentu saja bisa. Yang Mulia percaya kepada Anda. Saya juga sudah seharusnya percaya kepada Anda."
Qerza menggaruk lehernya. Dia kebingungan. Dia baru saja berumur belasan tahun! Bagaimana mungkin dia bisa mengatur negeri dengan baik seperti yang diharapkan Frost dan Zinn?
Pada akhirnya, Qerza hanya bisa mengembuskan napas, pasrah dengan keadaan.
Seseorang membuka pintu Aula Utama. Frost. Di belakangnya, ada para Raven.
"Apa yang terjadi kepada Tuan Muda Ash?" tanya Zinn mengintip dari balik tubuh Frost.
"Anak-anak ini kupaksa sampai masuk Liga Bloodstone. Raven yang satu ini tidak bisa mengendalikan kekuatannya," jawab Frost.
Qerza menganga. 'Mereka baru saja menghabiskan waktu satu setengah jam di luar sana!' batinnya.
"Oi, Cardinal! Apakah kau sudah mengetahui apa saja yang harus kau kerjakan besok?"
Daripada sebuah pertanyaan, yang ditanyakan oleh Frost malah terdengar seperti sebuah ancaman. Namun sekarang Fable dan Slate sudah tidak begitu takut dengan pemilik manik mata emas. Mereka menemukan bahwa Frost adalah orang yang sangat baik.
Qerza menelan ludah. "Saya sudah paham sebagian," dia menjawab.
Frost menaikkan sebagian alisnya. "Sebagian, katamu?"
Zinn langsung menarik Frost. "Jangan ganggu Tuan Muda Cardinal belajar. Lebih baik kita berbincang sebentar. Saya memiliki hal penting untuk disampaikan," katanya.
Qerza menghela napas lega. Atmosfer yang mencekat menghilang begitu saja, sepeninggalan Frost.
"Kak Qerza, kamu tidak perlu takut dengan Yang Mulia. Yang Mulia adalah orang yang sangat baik!" seru Slate.
"Apakah kalian masih waras?" tanya Qerza sambil memutar bola mata.
Frost mengikuti Zinn ke taman bunga istana. Mereka duduk di batang pohon yang telah tumbang.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan, Ganache?" tanya Frost. Dia tampak tidak sabar, barangkali ada kabar baik. Atau mungkin, Zinn yang ingin membalas perasaannya.
"Jaaduee Andhera." Zinn menyebutkan nama kelompok yang tidak akan pernah disukai oleh siapa pun. "Mereka adalah dalang di balik tragedi Manusia dan Iblis yang terjadi di Regancy."
"Sepertinya, aku harus mengirim undangan ke Rovseltte." Frost menatap dingin ke arah langit malam. "Ini adalah bulan baru, apa yang sudah terjadi tadi? Aku mendengar ledakan."
"Tuan Muda Tahiti kehilangan kendali. Dia menyebutkan bahwa Jaaduee Andhera datang ke Daffodil," kata Zinn.
"Kalau begitu, kita harus berhati-hati. Mungkin saja akan ada pengkhianat di antara mereka," balas Frost. "Kita harus cepat menemukan pengkhianat."
"Apakah ada yang Anda curigai?" tanya Zinn.
"Sekarang belum ada. Mereka semua tampak baik. Kita memerlukan waktu," jawab Frost.
Pemilik manik mata emas mengalihkan perhatiannya kepada Zinn. Dia mengelus pipi wanita muda itu. "Untuk sekarang, percaya saja kepada mereka. Akan ada saat mereka lengah dan menampakkan taringnya sendiri. Selain itu, Scarletto juga sedang menuju Debris untuk pergi ke Kuil Utara. Permaisuri Rovseltte yang sekarang adalah orang dari dimensi yang berbeda."
"Tapi, itu tidak menutup kemungkinan bahwa dia adalah reinkarnasi dari Yang Mulia Zenya," ujar Zinn.
Frost bersiul, mengundang seekor burung hantu salju. Dia berkata kepada burung hantu salju menggunakan bahasa isyarat para Raven, 'Kobicha, sampaikan kepada si Gila Neftaza kalau Jaaduee Andhera sudah menunjukkan taring mereka di Regancy. Sampaikan juga kepada Neftaza untuk membawa pengganti Zenya.'
"Mengapa juga harus mengundang Permaisuri?" bisik Zenya bertanya.
"Lalu, apakah Anda takut?"
"Apakah kau pernah melihat aku takut? Aku bahkan berani menyebutnya gila."
Zinn terkekeh pelan. Dia merasa kalau Frost amat percaya diri. 'Akan sangat baik jika aku memiliki kepercayaan diri sama seperti Yang Mulia.'
Frost mencium pipi Zinn. "Benar juga, Raven ternyata membagi Liga mereka ke satu sama lain. Mereka sangat hebat, sudah mencapai Liga Bloodstone hanya dengan mengalahkan kalajengking jelek itu."
Zinn mengerutkan keningnya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Frost. "Anda membuat mereka berhadapan dengan kalajengking biru?"
Frost membuang muka. "Ya, kira-kira seperti itu."
"Apakah Anda sudah gila?!" hardik Zinn. "Apakah Anda tahu kalau kalajengking biru raksasa adalah makhluk purba yang kulitnya sangat keras? Anda bahkan kesulitan untuk melukainya tanpa membunuhnya."
"Setidaknya, mereka berhasil membunuhnya, Ganache," kata Frost. "Mereka lebih kuat dari pada yang kau kira. Lagi pula, si Raven Pintar mengarahkan saudara-saudaranya dengan baik."
"Raven Pintar?"
Frost menggaruk lehernya. "Siapa namanya? Fabel? Fabby? Entahlah, kira-kira begitu."
"Tuan Muda Fable Midnight Raven, Yang Mulia." Zinn mengingatkan.
"Kau tahu kalau aku tidak suka mengingat nama orang. Sudah bagus aku mengetahui mereka berasal dari suku mana."
Zinn menatap tajam ke arah Frost. Si pemilik manik mata emas hanya mengangkat bahunya.
Zinn menghela napas panjang. "Ya sudah. Saya mendengar dari Tuan Muda Rouge, si Kembar dari Tahiti sudah mencapai Liga Pearl dan anak Kepala Suku Daffodil sudah mencapai Liga Phyrus."
"Aku bisa merasakannya. Sayang sekali aku tidak belajar sihir maupun jurus tenaga dalam. Kalau tidak, mungkin aku bisa dibandingkan dengan Neftaza." Frost menatap ke arah bulan baru dengan mata bersinarnya. "Apakah kau baik-baik saja dengan 'alergi bulan baru'-mu?"
"Anda bisa menyaingin Yang Mulia Neftaza," kata Zinn. "Kalian sama-sama memiliki kekuatan yang besar, sama-sama berada di Liga Zircon. Jika Anda bisa menguasai satu sihir lagi, Anda akan masuk ke Liga Putaran Alam."
"Mungkin karena dia adalah Pemilik Bulan, makanya aku tak bisa dibandingkan dengannya."
"Tidak juga," bantah Zinn. "Anda tahu kalau Yang Mulia Azazel bisa melampaui Pemilik Matahari, Yang Xi."
"Itu hanya sebuah keberuntungan. Pemilik Matahari dan Pemilik Bulan adalah pasangan yang menguasai satu galaksi yang terdiri atas puluhan dimensi, tak akan bisa dibandingkan dengan Iblis yang hanya menguasai tak sampai sepuluh dimensi."
"Tahukah Anda kalau Lady Nana—Aegeana Lidya, Nenek Buyut-Buyut Anda merupakan seorang Bintang Virgo, Ibu Pertiwi? Bahkan Tuan Besar Yang Xi dan Nyonya Besar Yue'an tidak boleh membantah Ibu Pertiwi."
"Pantas saja si Kakek Tua itu sangat sombong, ternyata dia memiliki kartu AS."
Zinn terkekeh pelan. "Saya beruntung karena memiliki Anda."
Mata Frost berbinar-binar. Dia sangat senang mendengar Zinn. "Benarkah? Apakah kau sungguh merasa seperti itu?"
"Saya benar-benar sangat merasa beruntung. Saya menyukai Anda." Zinn merona saat mengatakannya.
Frost menjadi tak bisa berkata-kata. Tentu saja dia sangat senang! Akhirnya penantiannya sudah terbalaskan.
"Aku juga menyukaimu, Ganache. Entah itu di masa lalu, maupun sekarang, juga terus berlanjut di masa yang akan datang. Selamanya tak akan berubah."
Frost mencium Zinn.