
Tarantula Katai Biru menghentakkan kedua kaki depannya dengan tidak sabar. Saat Kunang-Kunang Cahaya Api Surga mendekat ke arahnya, ia membuat sebuah pelindung dari jaring lengket untuk melindungi dirinya sendiri.
Beberapa ekor Kunang-Kunang Cahaya Api Surga meledakkan diri mereka, membuka celah untuk beberapa saudaranya yang masih hidup.
Tarantula Katai Biru menghindari ledakan demi ledakan: memanfaatkan jaring lengketnya untuk mempercepat gerakannya, melindungi dirinya. Ia pandai berstrategi, sama seperti Tuannya.
Saat Kunang-Kunang Cahaya Api Surga hanya tersisa tiga ekor, mereka seolah seperti menggerutu, “Nyi nyi nyi nyi nyi...!” Mereka melihat ke arah Tuan mereka dan menunjuk kesal ke arah Tarantula Katai Biru.
Anak-anak tertawa melihat kelakuan hewan spiritual Zinn. ‘Mereka sama persis seperti Nyonya saat kesal dengan Yang Mulia.’
“Baiklah, baiklah. Saya mengaku kalah, Yang Mulia. Nectarine, bangkitkan kembali mereka yang meledakkan diri,” kata Zinn.
Nectarine adalah nama dari segerombolan Kupu-Kupu Cahaya Surga yang muncul bersamaan dengan Kunang-Kunang Cahaya Api Surga.
“Ceshapeake, mundur,” perintah Zinn.
Ceshapeake sendiri merupakan Kunang-Kunang Cahaya Api Surga.
“Navy, mundur,” perintah Frost.
Navy adalah nama Tarantula Katai Biru milik Frost.
Navy menatap ke arah Ceshapeake yang memimpin gerombolan, menyatukan kedua kaki depan, dan memeragakan sikap memberi hormat—entah ia benar-benar menghormati atau sedang mengejek. Ia merangkak naik ke atas bahu Frost.
“Lumayan, Ceshapeake. Kau berhasil melukai kaki kesayanganku,” kata Frost.
Tentu saja salah satu kaki Navy terluka. Ledakan yang diberikan oleh Ceshapeake walaupun tidak dikonversi ke bentuk ledakan di dunia nyata, tetap memberikan pengaruh besar di dunia spiritual.
Ceshapeake mendesis panjang, tidak puas dengan pertarungannya dengan Navy. Ia sangat ingin mengalahkan Tarantula Katai Biru itu.
“Karena kaki Navy terluka, anggap saja pertarungan ini seimbang.”
Zinn menatap ke arah Frost. “Saya sudah kehilangan banyak Ceshapeake dan Navy hanya sedikit terluka. Tetap saja saya yang kalah,” ucapnya. Wajahnya sungguh masam.
“Sudah hampir tengah malam,” kata Frost. “Apakah kalian masih ingin melanjutkan latihan kalian?”
“Saya tetap ingin!” seru Slate semangat. Semenjak pulang dari latihan, dia seolah menjadi pribadi yang berbeda. Sekarang dia sangat percaya diri.
“Kurasa aku mengajari kalian dengan... keras?” Frost menatap tidak percaya ke arah Slate. “Sekarang, aku malah berhasil melatih orang gila di sini.”
Slate berkacak pinggang. “Siapa yang Yang Mulia sebut sebagai orang gila? Saya hanya tertarik karena saya menemukan diri sa-“
Ash menutup mulut Slate. “Maafkan ketidaksopanan Adik saya yang satu ini, Yang Mulia.” Dia menundukkan kepalanya kepada Frost.
“Jika dia ingin berlatih, maka kalian berdua ikut saja. Terutama kau.” Frost mendelik tajam ke arah Ash. “Kau hampir saja membunuh kedua saudaramu ketika naik tingkatan.”
“Saya tentu saja akan berlatih dengan giat, Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir.”
Ash menatap Slate dengan manik mata abu-abu yang terus menggelap. Adiknya tak mau kalah, menatap kakaknya dengan manik mata abu-abu yang terus menerang. Fable, yang geram melihat kakak dan adiknya yang tampak seolah ingin memerangi satu sama lain pun langsung menarik kerah baju keduanya dan menjauhkan mereka.
“Silahkan saja.”
Saat rombongan Ceshapeake akan pergi bersama Tuannya, pemimpin mereka melirik ke arah Navy, menemukan bahwa si Tarantula Katai Biru menggunakan salah satu kaki depannya untuk memberikan sebuah ‘kecupan layang’.
Qerza yang menyadari kelakuan hewan spiritual Frost yang sedang dimabuk cinta, hanya bisa berusaha menahan tawanya. ‘Tidak pemiliknya, tidak mereka, sedang dimabuk asmara. Sepertinya, kalau Yang Mulia dan Nyonya melangsungkan pernikahan, mereka juga akan ikut melaksanakannya,’ pikirnya.
Ceshapeake langsung meringis ngeri dan buru-buru mengejar Tuannya yang sudah lebih dulu melangkah. Ia menggerutu kecil sepanjang perjalanan, bahkan cahayanya berubah menjadi warna merah menyala.
“Ada apa Ceshapeake? Mengapa Anda kelihatannya sangat kesal?” tanya Zinn. Dia mulai lelah mendengar gerutuan panjang Ceshapeake yang entah sedang kesal karena apa.
Ceshapeake melayang di hadapan Zinn dan mulai menggerutu disertai gerakan-gerakan kecil. Ia menjerit ketika selesai memeragakan kecupan layang yang diberikan oleh Navy kepadanya.
Slate tertawa keras sambil memperhatikan kelakuan Ceshapeake yang sedang salah tingkah. Semua orang langsung menatap ke arahnya.
“Maaf, habisnya... ia sangat lucu...,” kata Slate sambil menunjuk ke arah Ceshapeake. “Padahal, ia juga jatuh cinta pada laba-laba itu, kenapa ia malah marah-marah saat laba-laba itu memberinya sebuah....” Dia memeragakan cara memberi sebuah kecupan layang.
Hal yang dilakukan Slate membuat Ceshapeake semakin salah tingkah. Makhluk kecil itu mendekati Slate dan melayangkan tinju di udara.
Zinn terkekeh. “Alasan mengapa Ceshapeake sangat kesal adalah karena Navy selalu memintanya untuk menciumnya jika kalah dalam pertarungan. Hari ini Yang Mulia sedang berbaik hati sehingga tidak mempermasalahkan menang atau kalah mereka.”
Slate mengangguk paham. ‘Ternyata hewan spiritual bisa kesal,’ batinnya.
“Tuan Muda Tahiti,” panggil Zinn.
“Ya, Nyonya?”
“Ini untuk Anda.” Zinn memberikan sebuah botol berisi cairan biru. “Anda bisa menggunakan ini untuk melatih perkembangan Sihir Air Suci Pemberkatan. Jika pemberkatan yang Anda lakukan berhasil, maka air tersebut dapat berubah menjadi warna hijau alam. Jika tidak, maka Anda harus mencoba kembali.”
Rouge menerima pemberian Zinn dan mengembuskan napas perlahan. “Saya akan tinggal di sini seorang diri dan melatih kemampuan saya. Saya yakin saya bisa menguasai kemampuan Sihir Air Suci Pemberkatan saat Anda sudah kembali,” katanya.
Zinn tersenyum. “Anda dapat melakukannya. Saya percaya kepada Anda.”
Rouge duduk di atas batang pohon dan menatap ke arah air biru pemberian Zinn. ‘Aku pasti bisa melakukannya. Candy Falu Tillandsia, kuharap kamu baik-baik saja. Kuharap kamu dapat menungguku,’ batinnya.
Zinn terus berjalan, diikuti oleh hewan spiritualnya dan para Raven. Dia seperti sedang berjalan tanpa tujuan.
“Hati terasa begitu hampa, sebenarnya itu kenapa?” Zinn tiba-tiba saja angkat suara, menanyakan pertanyaan yang amat aneh.
‘Sepertinya aku pernah mendengar pertanyaan ini,’ pikir Ash. ‘Benar, itu bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah pemaparan kuno.’
“Karena Tuan sedang bersedih hati. Jika Tuan bersedih hati, maka carilah cinta ya Tuan. Cinta adalah obat yang baik untuk menambal hati yang hampa,” balas Ash.
Zinn tersenyum. “Malam penuh bintang, tapi Ananda seorang diri menikmati indahnya langit, mengapa Ananda merasa kesepian dan kesendirian itu sangat menusuk hati?”
Ash juga tersenyum. “Mengapa harus merasa kalau kesepian dan kesendirian itu adalah hal yang buruk? Kesepian dan kesendirian adalah sebuah anugerah untuk menghindari bencana.”
"Saya terkesan karena ada orang yang tahu tentang pemaparan kuno yang telah lama hilang. Anda adalah orang yang berbakat."