
Frost tidak bisa tenang. Berkali-kali dia mencoba memejamkan mata dan mencoba untuk tidur, hasilnya sama saja: dia tak bisa tertidur sama sekali.
Frost akhirnya menyerah dan bangkit dari posisi tidurnya.
Dari jendela kastil, tembus cahaya oranye yang menandakan malam hampir tiba. Biasanya di saat-saat seperti ini, Zinn akan berada di sana, memanggil Frost untuk menikmati makan malam bersama. Namun hari ini entah kenapa pemilik manik mata merah muda belum datang ke sana mencarinya.
Frost menjadi sedikit khawatir. Tidak biasanya Zinn melewatkan makan malam. Dia bergegas mencari si wanita muda.
Frost menemukan anak-anak masih bermain di taman bunga, tapi tidak menemukan Zinn sedang bersama mereka. Dia semakin khawatir.
Frost mendekati gerombolan anak-anak itu. Dan, anak-anak yang sedang bermain tiba-tiba saja terdiam.
Frost menjadi salah tingkah sendiri. Dia tidak begitu paham kenapa orang-orang begitu takut dengan dirinya.
"Apakah Yang Mulia sedang mencari Nyonya Perdana Menteri?" tanya Qerza.
Frost menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Benar. Bisakah kau jangan menyebutnya terlalu formal? Panggil aku Frost."
"Saya tidak berani, Yang Mulia. Nyonya Perdana Menteri saja memanggil Anda dengan sangat sopan." Qerza menyeringai lebar.
"Dia sangat keras kepala. Aku sudah bilang kepadanya untuk memanggil nama, tapi dia tidak ingin," kata Frost. Wajahnya tetap dingin dan datar.
Qerza mengangguk-angguk paham. "Nyonya masih berada di Aula Utama. Saya berharap Anda dan Nyonya bisa cepat berbaikan."
Fiery menggenggam tangan Qerza. "Yang Mulia, Anda boleh bertanya kepada Nyonya tentang perasaannya. Jika Nyonya berkenan, pasti akan mengatakan alasannya kepada Anda. Saya juga seorang perempuan, saya paham kesulitan Nyonya untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Anda." Fiery menyarankan sesuatu yang bagus kepada Frost.
"Terima kasih, Gadis Kecil. Aku tentu akan bertanya kepadanya. Kalian silahkan masuk ke ruang perjamuan. Kita akan makan malam bersama."
Anak-anak menelan ludah, merasakan kengerian dari perkataan Frost. Yang Mulia Castleton tidak akan memangsa kami, kan? pikir mereka.
Frost membuka pintu Aula Utama. Ruangannya gelap gulita.
Saat Frost menjentikkan jari, cahaya lilin perlahan-lahan menerangi setiap sudut ruangan. Dia bisa melihat Zinn yang sedang duduk di tengah-tengah ruangan. Isak tangis samar-samar terdengar oleh Frost.
Zinn tidak menyadari kehadiran Frost. Dia masih setia bersedih hati. Matanya bahkan membengkak karenanya. Pasti keadaannya amat mengkhawatirkan bagi pemilik manik mata emas.
Frost mendekati Zinn dan menarik wanita muda itu ke dalam pelukannya.
"Apakah kau marah terhadapku yang seolah memaksamu?" Frost berbisik pelan di telinga Zinn.
Memang keadaan Zinn amat mengkhawatirkan sekarang. Tak hanya mata yang membengkak, pernapasannya pun menjadi sangat tidak teratur.
Zinn terdiam, tidak menjawab, hanya terus terisak dan terus menangis.
"Ganache, aku bersedia mendengar alasanmu. Apakah karena aku pernah membunuhmu? Tahukah kau kalau setelah membunuhmu aku malah membunuh diriku sendiri? Ikut bersamamu pergi ke sini?"
Zinn masih saja terus menangis sambil mendengar Frost. Dia tak tahu harus menjawab apa.
"Aku setiap malam bermimpi. Aku merasa bersalah telah membunuhmu. Tapi, aku diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu. Aku sangat senang karena aku bisa bertemu denganmu lagi."
Frost mengecup pipi Zinn dan melanjutkan, "Jika kau takut aku memiliki ambisi yang sangat besar, Ganache, pukul saja diriku. Sadarkanlah aku bahwa di sisiku ada dirimu. Kau tahu bahwa aku tidak akan pernah mengkhianati dirimu. Kau juga yang tahu kalau aku paling takut kau membenciku. Seorang pria selalu memegang kata-katanya, Ganache. Kalau aku tidak memegang perkataanku, bencilah aku. Kalau bisa, bunuh aku dan lempar jiwaku ke dalam Neraka Tingkat Sembilan, biar aku sadar kehilangan dirimu adalah hal yang paling menyakitkan dan paling kusesali seumur hidupku."
Zinn mengembuskan napas perlahan, menjernihkan pikiran dan pandangannya. Sepertinya aku harus jujur kepada Yang Mulia tentang ketakutanku, batinnya.
“Saya….” Entah kenapa Zinn masih ragu. Keraguan adalah akar dari masalah yang sedang dihadapi olehnya. Bagaimana bisa dia jujur kepada pemilik manik mata emas kalau dia tak yakin?
“Jangan ragu, Zinnia Pramidita Ganache!” seru Frost. Dia bukannya tak sabar, akan tetapi melalui perkataan Fiery Fuchsia Daffodil dia jadi sadar kalau menginginkan hubungan yang jelas, semua hal di antara dirinya dan Zinn juga harus diperjelas.
“Dulu saat kau ingin menghentikanku, apa kau ragu? Ragu hingga membuat pedangku menembus tubuhmu? Kau kira aku apa? Orang yang tak bisa diajak berbicara baik-baik? Tahukah kau dulu aku sangat berharap kalau kau bisa berbicara kepadaku? Bahkan sampai sekarang pun seperti itu.” Frost mengeluarkan semua emosinya.
“Jika alasanmu adalah masa lalu, aku yang sekarang tidak memiliki apa-apa. Aku bahkan lebih lemah dari dirimu. Apa yang bisa kuandalkan selain sikap menyebalkanku dan otakku? Harus kuakui kalau aku memang kejam dan licik. Tapi, aku membunuh Permaisuri Castleton terdahulu adalah karena dia itu orang yang munafik. Jika kau ingin aku berubah, maka aku akan berubah secara perlahan untukmu. Kau tinggal bilang saja kepadaku apa keinginanmu.”
Zinn menyeka air matanya. Dia merapatkan bibirnya, bingung ingin membalas seperti apa. Dia merasa kalau dirinya sedikit kekanak-kanakan. Dia terlalu takut untuk menghadapi kemungkinan terburuk.
Zinn tidak mewarisi kesombongan dan rasa percaya diri Keluarga Morningstar. Dia mewarisi sifat Malaikat Ibundanya, yang merupakan keturunan Saintess Michaela. Banyak orang yang berspekulasi bahwa Malaikat itu adalah lelaki. Sebenarnya, sebagian besar Malaikat adalah perempuan, akan tetapi Malaikat bisa mengubah gender-nya sendiri. Begitu pula dengan Iblis.
Hari sudah gelap dan Frost teringat dengan anak-anak yang disuruhnya ke ruang perjamuan.
“Aku menyuruh anak-anak untuk pergi ke ruang perjamuan dan menunggu makan malam di sana. Daripada perasaanmu terus memburuk, lebih baik kau menemani mereka dan berbicara dengan mereka. Selain Cardinal dan pasangannya, tidak ada lagi yang kita kenal. Berkenalan dengan mereka akan membuat perasaanmu lebih baik. Aku akan pergi ke dapur.”
Saat Frost ingin meninggalkan Zinn, pemilik manik mata merah jambu langsung memeluknya dari belakang.
“Ada apa?” tanya Frost.
“Aku ingin sup labu,” jawab Zinn.
Frost tersenyum tipis. “Tentu saja. Aku akan membuat sup labu dengan beberapa hidangan. Kau jangan bersedih lagi.”
Sepeninggalan Frost, Zinn berpikir, Apakah benar aku terlalu banyak berpikir? Yang Mulia sungguh menyukai diriku? Tapi, apa bagusnya aku?
Zinn menggelengkan kepala dan beranjak dari Aula Utama ke ruang perjamuan. Saat membuka pintu dia bisa melihat anak-anak sedang bercengkrama dengan senang. Tampaknya mereka tidak terlalu memikirkan tentang kepergian teman mereka.
"Oh, Nyonya Perdana Menteri. Anda tampak seperti orang yang baru saja berkelahi. Rambut dan wajah Anda sangat berantakan!" seru Qerza.
Zinn terkekeh. Yang Mulia benar, sepertinya berbicara dengan anak-anak ini akan membuat perasaanku menjadi lebih baik.