
Satu per satu prajurit dari Tahiti tewas ditebas oleh Frost. Walaupun ada delapan orang atau sepuluh orang mengepung Frost, dia tetap bisa menghancurkan pola serangan lawan. Semua orang meringis ngeri melihat kehebatannya.
‘Aku banyak membunuh pengkhianat, tapi itu tidak bisa menghentikan mimpi burukku. Aku adalah pengkhianat itu sendiri,’ pikir Frost.
Frost tidak begitu fokus dengan penyerangan. Dia memikirkan mimpi buruk yang selalu datang saat dia mencoba untuk tidur. Dia selalu melihat satu hal yang sama: dia menghunuskan pedang, menembus tubuh seorang Malaikat berkulit coklat susu, bermanik mata merah muda yang indah.
‘Kenapa aku terus memikirkan hal itu? Peperangan ini… muncul karena aku merasa bersalah…?’ tanya Frost di dalam hati.
Sebuah ledakan terjadi di tempat Frost berdiri. Kepala Suku Tahiti tertawa renyah.
“Kau berhadapan dengan orang yang salah, Castleton!” seru Kepala Suku Tahiti.
Alangkah terkejutnya suku Tahiti ketika menemukan Frost masih berdiri tegak di tempatnya. Meskipun kepalanya bocor dan berdarah, tubuhnya terbakar akibat ledakan sihir suku Tahiti, tapi pemilik manik mata emas masih terlihat baik-baik saja.
Darahnya sendiri mengalir membasahi wajah Frost dan dia masih bisa tersenyum. “Lumayan. Aku suka orang yang keras kepala sepertimu.”
“Jangan banyak omong kosong! Kau hanyalah orang yang akan mati hari ini! Setelah itu, tidak ada lagi Castleton yang tersisa! Ayo kita serang!” Kepala Suku Tahiti memberi perintah.
“Tidak ada Castleton yang tersisa? Apakah kau tidak terlalu sombong dengan perkataanmu?”
“Kita akan tahu setelah kau mati. Serang dia!”
Ratusan prajurit dari suku Tahiti yang tersisa maju menyerang Frost yang terluka. Manik mata Frost bersinar semakin terang, kemudian berubah menjadi warna merah darah dengan pupil seperti mata kucing. Pria itu sendiri tak sadar dengan perubahan yang dialaminya.
Mimpi buruk Frost tiba-tiba kembali menyerang. Dia bisa melihat dengan jelas surai seorang wanita muda yang berwarna senada dengan manik matanya. Wanita muda itu tidak menghindar dari serangannya, melainkan membiarkan dirinya terhunus pedang.
“Salah satu dari kita harus mati,” kata wanita itu. “Kalau begitu, lebih baik aku saja yang mati.”
Frost meraung seperti seekor binatang buas. Dia menebas siapa saja yang ada di dekatnya. Bahkan ketika Tahiti menggunakan Sihir Ledakan pun, dia masih saja bisa berdiri tegak seolah tak terjadi apa-apa.
Lebih mengejutkannya lagi, aura di sekitar Frost tiba-tiba saja berubah, menjadi sangat mencekam. Dia menebas udara dan membuat para prajurit dari Tahiti terlempar beberapa meter ke belakang.
“Iblis….” Kepala Suku Tahiti melihat pemandangan mengerikan di hadapannya. Dia merasa Frost bagai gunung yang tak akan bisa dilampauinya. “Dia adalah Ib-“
Belum selesai Kepala Suku Tahiti berkata-kata, Frost entah muncul dari mana dan menusuk jantungnya. Mulutnya mengeluarkan banyak darah segar dan dia tewas seketika di tempat.
Saat para prajurit menyadari kalau Kepala Suku mereka telah dibunuh, mereka dengan heboh meminta pengampunan dari Frost. Namun apakah Frost akan mendengar permintaan mereka? Tentu saja tidak. Satu per satu dibunuh, tidak ada pengampunan sama sekali.
Semua ahli sihir dari Tahiti juga tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan setelah berusaha untuk meledakkan Frost, mereka tetap saja tak bisa menghentikan pria itu. ‘Frost Blanche Castleton, sungguh adalah seorang Iblis!’ Itulah pemikiran mereka saat berada di ujung maut. Namun semua yang mereka asumsikan benar adanya: Frost adalah Iblis—dia hidup sebagai Raja Iblis Neraka Tingkat Delapan di masa lalu.
Frost jatuh ke atas tanah sesaat setelah membunuh orang terakhir. ‘Sial, luka ini sangat mengganggu!’
Hujan tiba-tiba saja turun dengan amat derasnya. Frost bangkit dari posisi berlututnya dan mulai berjalan tanpa arah menerjang hujan badai. Dia berjalan lurus, tanpa memikirkan apa pun. Terus berjalan, masuk ke dalam hutan.
Manik mata Frost kembali seperti semula dan dia terjatuh ke atas tanah. Dengan rakus, dia menghirup udara yang telah tercemar air hujan dan tanah. Baru kali ini ada suku yang dapat membuatnya terluka selama perang berlangsung.
Saat kesadaran Frost perlahan menghilang, suara seorang wanita memenuhi indra pendengarannya. Dia mendongak, menatap seorang gadis bermanik mata merah muda.
‘Apakah aku sedang bermimpi? Apakah dia orang yang telah kubunuh di dalam mimpiku? Apakah dia datang sebagai Malaikat Maut untuk mencabut nyawaku?’ Banyak sekali pertanyaan di dalam kepala Frost. Namun sebelum semuanya dapat terjawab, dia kehilangan kesadarannya.
Saat Frost terbangun dari pingsannya, dia dapat melihat dirinya bertelanjang dada dengan balutan perban rapi di sana-sini. Kepalanya tiba-tiba saja berdenyut hebat. Dia ingat kalau ada seorang wanita muda yang mendekatinya dan berbicara kepadanya. Dia ingat kalau warna manik mata gadis itu sama seperti warna manik mata wanita di dalam mimpinya.
Sekarang Frost bertanya-tanya, siapa gerangan yang telah menyelamatkannya? Siapa pula yang telah membalut lukanya? Memberikan tempat istirahat yang hangat seperti sekarang untuknya?
Frost menoleh ke sana-sini untuk pertama kalinya. Dia menemukan bahwa rumah kayu itu sederhana, tapi sangat hangat dan damai.
Seseorang masuk ke dalam rumah tersebut. Seorang wanita muda, dengan... manik mata merah muda yang amat menggoda dan surai gelombang bergradiasi dua warna berbeda: merah muda di bagian atas dan ungu menggoda di bagian bawah. Wanita yang terus dimimpikan oleh Frost.
"Oh, ternyata Anda sudah bangun.” Wanita muda itu mengulum senyum ke arah Frost. Dia mendekati pria itu dan menyerahkan semangkuk obat. “Syukurlah Anda telah bangun. Saya sudah membuatkan obat untuk Anda.”
Frost terdiam selama beberapa saat. Dia mengira bahwa dia sedang bermimpi, akan tetapi dia tak lupa kalau mimpinya tidak semanis yang sedang terjadi saat ini. Dia sadar kalau semua mimpi yang dia alami telah menjadi kenyataan. Wanita yang dibunuhnya... sekarang sedang tersenyum manis kepadanya tanpa mengetahui apa pun!
‘Apakah takdir sedang bermain-main denganku? Bagaimana bisa ia membuatku bertemu dengan wanita ini? Apakah ia ingin aku menebus semua kesalahanku?’ pikir Frost.
“Apakah Anda baik-baik saja?” tanya wanita muda itu. “Apakah ada yang salah dengan wajah saya?”
Tanpa sadar, tangan Frost terangkat dan jemarinya menyapu lembut pipi wanita itu. Wanita itu kaget dibuatnya.
Saat Frost tersadar, dia segera menarik tangannya. “Aku minta maaf atas ketidaksopananku,” katanya.
Frost membuang muka dan menatap dingin ke arah semangkuk obat yang diberikan oleh wanita itu. Jikalau pun yang diberikan oleh si wanita muda adalah semangkuk racun, pemilik manik mata emas tak akan menolak. Dia ingin membalas hutang nyawa kepada wanita itu.
"Saya yakin Anda adalah Kaisar dari Castleton. Salam hormat kepada Yang Mulia, saya adalah Zinnia Pramidita Ganache."