
Frost melangkah dengan cepat, meninggalkan Qerza dan Slate di belakang sana. Tak lama kemudian, dia sampai di depan gerbang Kastil Castleton dan menemukan wanita tercintanya terbaring dengan wajah pucat. Di atas tanah ada segumpal darah yang sudah mengering dikarenakan tertiup angin malam.
Frost menggertakkan giginya. ‘Seharusnya kau bilang kepadaku kalau kau kesakitan, Ganache. Mengapa kau suka menyimpan semuanya seorang diri? Kau alergi pada bulan baru, mengapa aku begitu bodoh dan percaya kalau kau baik-baik saja?’ pikirnya.
Frost mengangkat Zinn. Luka yang diterima olehnya tadi siang kembali terbuka. Kemeja putihnya dibasahi oleh darah. Namun dia tidak peduli akan rasa sakit yang diterimanya.
“Yang Mulia, luka Anda….” Qerza menyadari adanya noda darah di kemeja pemilik manik mata emas.
“Siapa yang bisa ilmu pengobatan di suku Tahiti kalian?” tanya Frost dengan nada dingin.
Rouge langsung menjawab, “Saya akan memanggil Florida dan Flowery.” Setelah menjawab, dia langsung bergegas pergi ke Sayap Timur Kastil.
“Kau bukan pertama kali datang ke Castleton, kan?” Frost melirik ke arah Qerza.
“Saya menghapal setiap sudut daerah ibu kota Castleton dengan baik.”
Qerza juga tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk kepada Zinn. Jika tidak, dia merasa kalau Frost akan kembali melakukan penyerangan terhadap suku-suku di Regancy sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.
“Pergi ke arah timur kota, masuk ke Ganache. Bilang kepada suku mereka kalau kau ingin menemui Jenderal Pertama. Ambil pedang ini. Bilang kepada Jenderal Pertama kalau putrinya tercinta ada di Castleton dan aku mengundangnya ke Castleton.”
Frost memutar tubuhnya dan memerintahkan Qerza untuk mengambil pedang kristal.
Qerza ragu-ragu. ‘Pedang ini pasti pemberian Nyonya untuk Yang Mulia, jika aku mengambilnya begitu saja… bukankah namanya tidak sopan?’ tanyanya.
“Aku tidak suka orang yang ragu-ragu. Cepat ambil!” bentak Frost.
Qerza tidak memiliki pilihan lain selain menururti perintah Frost.
Rouge datang bersama anak-anak perempuan.
“Nyonya….” Flow memegang pipi Zinn. Dingin. Dia segera mengeluarkan sebotol air yang sama seperti yang diberikan oleh Zinn untuk Rouge dari saku bajunya.
Flow mengeluarkan air dari botol menggunakan kekuatan sihirnya. Dia membuat air mengelilingi Zinn.
“Air Netral Galaksi milik saya tidak cukup,” kata Flow kepada Frost.
“Pakai punyaku saja!” Rouge membuka tutup botol yang diberikan oleh Zinn.
“Ini….”
“Nyonya memberikannya untuk saya. Ini milik Nyonya.” Rouge menatap serius ke arah Flow.
Flow menganggukkan kepalanya. Dia menerima Air Netral Galaksi milik Rouge. Perlahan-lahan dia membungkus tubuh “Sudah cukup. Yang Mulia, apakah Anda memiliki tempat yang dingin di sini?”
“Sebelum itu, Cardinal, ambil. Kau, tunangan Cardinal, ikut dia ke Ganache. Kalian bertiga, Raven, lindungi mereka,” perintah Frost.
Ketiga Raven menundukkan kepalanya. “Siap, Ayahanda!”
Frost sendiri tampak tidak mempermasalahkan julukan baru yang disematkan untuknya. Dia cukup bangga memiliki anak-anak yang berkembang dengan cepat. ‘Ganache, kau mengizinkan mereka memanggilmu Ibunda, bukankah itu artinya kau setuju untuk menikah denganku? Kumohon, jangan memejamkan mata terlalu lama… setelah urusan Portal Iblis selesai, aku ingin menikahimu.’
Qerza mengambil pedang kristal milik Frost. Fiery membantu anak lelaki itu membungkus pedang dengan kain. “Kami akan berangkat sekarang, Ayahanda.” Dia menundukkan kepalanya.
“Dari Castleton ke Ganache memakan waktu dua hari dengan berjalan. Lebih baik kalian berkuda saja,” kata Frost. “Tak jauh dari sini ada kandang kuda pribadi milik Castleton. Aku tak percaya kalian tak pernah diajari berkuda di Daffodil.”
“Kami berangkat sekarang.” Kelima anak-anak menundukkan kepala dan bergegas pergi dari sana.
Zinn tiba-tiba saja kejang-kejang. Dari mulutnya keluar semakin banyak darah.
“Gawat!” Flow berseru panik. “Nyonya mengalami demam di bagian internal tubuh. Jika tidak segera menemukan tempat berhawa sedingin Gua Salju Neraka di daerah Snowhawk Eagle, organ dalam tubuh Nyonya dapat meleleh!”
Frost berdecak kesal. ‘Dulu aku membunuhmu, sekarang sudah saatnya membalas hutang ini,’ batinnya.
Frost menyayat jari tangannya sendiri dan jari tangan Zinn. Dia menggabungkan kedua jemari mereka dan menggunakan sebuah mantra terlarang.
“Yang Mulia!” Flo berseru. “Anda tidak boleh melakukan hal ini! Apakah Anda tahu kalau Teknik Terlarang dari Henna adalah membagikan suka dan duka antara dua orang?! Apakah Anda sudah gila?!”
Flo mengeluarkan air hitam yang dia miliki, Air Neraka Salju Hennigan Tingkat Ketiga. Dia membungkus tubuh Frost agar tetap dapat menjaga kesadarannya setelah membagi suka dan duka dengan Zinn.
“Jika dia menderita, maka aku juga harus ikut menderita,” kata Frost. “Apakah kalian ingin mendengar sebuah cerita menarik? Silahkan ikut aku.”
Frost berjalan sambil menahan rasa sakit akibat peningkatan suhu tubuh secara drastis. Dia menggertakkan gigi dan terus berjalan hingga sampai ke bagian belakang kastil. Di sana, ternyata ada sebuah tempat yang tidak diketahui oleh orang-orang awam.
“Gua Salju Surga Perak….” Flow menatap tak percaya. “Bukankah gua ini hanya sebuah legenda?”
“Ini adalah rahasia Castleton yang tak pernah diberitahukan ke orang-orang. Orang-orang yang tahu adalah orang-orang yang penting dan keturunan Castleton sendiri.” Frost membenarkan posisi Zinn dalam dekapannya. “Karena kalian adalah anak-anak kami, aku akan percaya kepada kalian. Aku berharap kalian tidak mengkhianati kepercayaanku.”
Anak-anak saling menatap satu sama lain.
“Kami berdua tidak akan mengkhianati kepercayaan Ayahanda dan Ibunda. Di sini sekarang adalah rumah kami sendiri, kami akan menjaga dan memperlakukan kalian layaknya orang tua kami sendiri.” Flo dan Flow saling memegang erat tangan mereka.
Tapi, anak-anak lain sepertinya tidak begitu tertarik dengan Frost dan Zinn.
“Saya juga tidak akan mengkhianati kepercayaan Anda berdua.” Seorang gadis maju ke depan. Canary Golden Alabaster—Ary. “Saya akan menjaga pintu masuk untuk Ayahanda dan Ibunda. Jangan khawatir, Kakak Florida dan Kakak Flowery fokus saja dengan pengobatan.”
“Maafkan kami dari Daffodil, Yang Mulia,” ucap seorang gadis, Amber Marmalade Daffodil—Amy. “Kami tak bisa memutuskan seorang diri. Kami tidak akan mengganggu Anda dan Nyonya juga. Kami akan menunggu kepulangan Nyonya Kepala Suku yang baru.”
“Tidak masalah. Kalian tetap akan berangkat ke Tahiti pagi nanti,” kata Frost. “Jika kalian menemukan keluarga yang kalian sukai, atau kalian ingin berkelana melihat dunia, aku akan menyetujuinya. Bagaimana pun juga, Ganache sudah bilang kepadaku untuk tidak menunda masa depan kalian. Apa pun keputusan kalian, aku mewakili Ganache untuk menghargainya.”
‘Ternyata benar, Yang Mulia memiliki paras seperti Malaikat. Aku mengira itu hanyalah sebuah bualan,’ batin Rouge.
Frost menatap ke arah Zinn dengan penuh cinta dan kasih sayang. 'Sekarang, aku akan sehidup semati dengan dirimu, Ganache. Jika kau tak ingin aku mati, kau juga tak boleh mati.'