
“Zinnia Pramidita Ganache...,” gumam Frost. “Zinnia Pramidita Ganache....” Sekarang, dia merapalkan nama wanita itu, Zinnia—Zin, layaknya sebuah mantra.
“Yang Mulia? Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Zinn. Dia menggunakan lengan bajunya untuk menyeka keringat yang bercucuran dari kening Frost.
Frost mencengkeram tangan Zinn, melihat pemilik manik mata merah muda dengan tatapan sayu. Dia menggertakkan gigi, memori tentang mimpi itu muncul kembali.
Zinn berusaha melepaskan cengkeraman tangan Frost. Namun dia malah ditarik hingga jatuh ke atas kasur.
“Yang Mulia!” seru Zinn.
Frost menatap Zinn seperti orang linglung. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Zinn dan membawa wanita muda itu ke dalam dekapannya.
Frost menjilat bibir Zinn, menahan wajah si wanita muda agar tetap pada tempatnya.
“Ya- Yang Mulia....” Zinn menutup erat matanya saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Frost.
“Yang Mulia... tung- tunggu se- sebentar!” Dia berhasil mendorong Frost menjauh darinya. Dia mengembuskan napas perlahan sambil menatap marah ke arah Frost.
Frost menggelengkan kepalanya. Akhirnya, dia kembali normal. “Tck! Sialan...,” umpatnya.
Frost melirik ke arah Zinn dan menemukan wanita muda itu sedang menunduk. ‘Apa yang dia lakukan?’ tanyanya.
Frost bisa melihat Zinn menangis. Dia menjadi panik. “Oi! Ada apa denganmu?” tanyanya sambil mengguncang tubuh Zinn.
Zinn seperti orang ketakutan, langsung menghindar dari Frost. Dia bangkit dari duduknya, menundukkan kepalanya untuk memberikan penghormatan, dan pergi dari hadapan Frost.
Frost dibuat kebingungan dengan sikap Zinn yang tiba-tiba saja menjadi tidak ramah. ‘Apa yang terjadi kepada gadis kecil itu? Kenapa aku merasa kalau dia sedang menghindari aku?’ pikirnya.
Zinn mengembuskan napas perlahan di balik dinding. Dia meletakkan kepalan tangannya tepat di tempat jantungnya berada. Jantungnya berdebar amat kencang. ‘Yang Mulia sungguh tidak sopan! Kenapa dia melakukan hal tabu seperti itu kepadaku?’
Zinn menggigit bibir bawahnya, sensasi ciuman Frost masih terasa amat jelas di bibirnya. Dia menyeka air mata dan menarik napas panjang. ‘Ayolah, Zinnia! Jika dia tak ingin bertanggung jawab dengan apa yang telah dia lakukan, hajar saja!’
Zinn kaget saat dia hampir saja menabrak Frost yang akan keluar dari kamar. Dia memutar bola mata malas dan menatap tajam ke arah Frost. ‘Kenapa aku merasa kalau aku sedang tertimpa kesialan? Apakah tidak seharusnya aku menolong orang ini?’
Frost menarik Zinn ke dalam dekapannya. Sepertinya, dia memang sudah gila.
“Ya- Yang Mulia?!” Zinn tentu saja kaget dengan perlakuan Frost. Dia ingin sekali meninju wajah pria itu.
Frost menatap lekat Zinn. Dia merasa kalau pemilik manik mata merah muda amat cantik. “Bagaimana kau bisa memiliki paras seperti Dewi?”
‘Aku sudah tidak tahan! Aku ingin memukulnya!’ seru Zinn di dalam hati.
Zinn mengepalkan tinju dan menyerang Frost. Sayang sekali, Frost memiringkan kepalanya sehingga tinju yang dilayangkan oleh Zinn meleset.
“Kenapa rasanya kau kesal sekali terhadapku?” tanya Frost.
Zinn memelototi Frost. ‘Setelah melakukan hal-hal kotor kepadaku, dia malah berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa? Apakah Kaisar di Regancy memang seburuk ini?’ batinnya.
Zinn mengabaikan pertanyaan Frost dan berusaha melepaskan diri. Dia berdecak kesal ketika Frost semakin mengeratkan pelukannya. Frost masih terluka, tapi kekuatannya tidak berubah sama sekali.
“Apakah ada tempat yang tidak dapat Anda kunjungi, Yang Mulia?” sindir Zinn. “Jikalau pun ada, Anda pasti sudah mengancam mereka dan bertindak sesuka hati Anda.”
"Apakah aku ada salah kepadamu? Kenapa sekarang kau malah mengajak seseorang yang sedang sakit bersilat lidah?" balas Frost.
Zinn menggertakkan gigi dan menatap tajam ke arah Frost. ‘Apakah dia tidak ingat dengan apa yang baru saja dia lakukan? Br#ngs#k sekali dia!’ serunya.
‘Apakah dia mengingat apa yang terjadi kepadanya di masa lalu?’ tanya Frost. ‘Wajar saja kalau dia marah kepadaku karena hal itu, kan?’
“Jika aku ada kesalahan terhadapmu, aku ingin minta maaf,” kata Frost. “Tapi, kuharap kau tidak mengabaikanku begitu saja.” Dia tampak sangat takut diabaikan oleh Zinn.
“Apakah Anda tidak ingat apa yang baru saja Anda lakukan, Yang Mulia?” Zinn menatap tak percaya ke arah Frost. Bisa-bisanya pria itu berpura-pura setelah melakukan hal kotor kepada dirinya?
Frost menatap bingung. ‘Apa yang sudah kulakukan? Apakah aku melakukan sesuatu yang aneh saat aku mengalami sakit kepala tadinya?’
“Apa yang sudah kulakukan terhadapmu sehingga kau ingin menghindariku?” tanya Frost. “Maaf, yang kutahu aku hanya sakit kepala tadinya. Di luar hal itu, jika aku melakukan sesuatu yang aneh terhadap dirimu, aku meminta maaf. Aku benar-benar tidak tahu hal apa yang kau maksud.”
Zinn dapat melihat tidak ada kebohongan di mata Frost. Dia hanya bisa menghela napas. “Saya mohon lepaskan saya, Yang Mulia,” pintanya.
“Apakah kau bisa menjamin kalau kau tidak akan marah kepadaku seperti yang kau lakukan sekarang?” tanya Frost.
Manik mata merah muda Zinn yang menggoda beradu dengan manik mata emas milik Frost. Zinn hanya bisa mengembuskan napas pasrah. “Saya tidak akan marah terhadap Yang Mulia. Lagi pula, saya tidak berani.”
Frost mengangkat sebelah alisnya. “Setelah kau ingin memusuhi diriku, kau bilang kau tak berani marah kepadaku? Wanita yang menarik.”
“Anggap saja perkataan itu tidak pernah saya katakan, Yang Mulia.” Zinn meneguk saliva. Dia baru saja menyadari kesalahannya terhadap seorang Castleton.
Frost menyeringai dingin. “Aku tidak akan mempermasalahkannya jika kau setuju untuk mengikutiku kembali ke Castleton, Gadis Kecil.”
Zinn langsung memelototi Frost, tidak percaya dengan permintaan sepihak yang baru saja diajukan oleh pria itu. ‘Mengapa Yang Mulia ingin aku mengikutinya ke Castleton?’ pikirnya.
“Bagaimana?” tanya Frost.
Zinn memejamkan matanya. ‘Apakah Ayah tidak akan mencariku? Sudah dua tahun aku berada di luar Ganache dan beliau tak pernah mencariku. Apakah tidak apa-apa aku mengikuti Yang Mulia ke Castleton? Aku....’
Saat Zinn membuka mata, manik mata merah mudanya bersinar. Dengan kekuatan sihir, dia melepaskan diri dari Frost. “Saya membutuhkan waktu untuk berpikir,” katanya.
Zinn pergi dari hadapan Frost.
Frost cukup paham kalau Zinn sedang bimbang akan suatu hal. Dia akan menunggu. Namun jika Zinn tak mau ikut dengannya ke Castleton, maka dengan terpaksa dia akan menculik wanita muda itu.
Sakit kepala Frost tiba-tiba muncul lagi. ‘Tck! Sialan!’ umpatnya.
Frost kesakitan hingga berlutut di atas lantai kayu. Dia memegangi kepalanya dan sesekali mengetuknya, berharap sakit kepalanya akan hilang. Samar-samar dia mendengar suara Zinn, lagi.
‘Katakan kepadaku... apakah aku bisa menebus kesalahanku?’ Frost bertanya di dalam hati. Dia membuka matanya perlahan dan menemukan Zinn sedang berusaha memapahnya ke atas kasur. ‘Apakah aku bisa menebus kesalahanku terhadap dirimu, Nona Morningstar?’
Sekali lagi, Frost mencium Zinn, kali ini dia menyadarinya. Sakit kepalanya perlahan-lahan mereda. Dan, pemilik manik mata merah muda tidak menghindar.