
Sebenarnya, Frost sudah melukai kalajengking biru di satu tempat. Hanya saja pemulihan makhluk itu memang sangat cepat. Namun tetap saja, jika ketiga Raven berhasil menemukan bagian tersebut, dalam satu kali serang saja kalajengking biru akan mati.
'Kalau mereka tidak menemukan bagian yang telah kulukai, alangkah bagusnya mereka bisa menemukan kelemahannya. Jika tidak, mereka akan jadi santapan makan malam yang sempurna,' pikir Frost.
Sedari tadi yang dipikirkan oleh Frost hanyalah santapan, atau makan malam, atau segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan. Sepertinya dia sangat lapar—padahal Frost adalah orang yang makan paling banyak saat acara makan malam tadi.
"Ash, hati-hati!" teriak Fable.
Ekor tajam kalajengking biru menukik ke arah kepala Ash. Beruntung sekali karena Fable cepat menyadari situasi dan menyelamatkan nyawa saudaranya.
Ash melayang di udara, melempar jarum-jarum baja. Jarum-jarumnya memantul saat mengenai cangkang keras kalajengking biru. Dia berdecak kesal.
'Sial sekali, kenapa tidak Nyonya saja yang melatih kami?' tanya Ash.
"Jika Ganache yang melatih kalian, kalian tidak akan bertahan sampai besok pagi," kata Frost, seakan mengetahui isi pikiran Ash.
"Bawah...," kata Fable. "Benar, bawah! Kelemahannya ada di bawah!"
"Anak pintar," gumam Frost.
Fable menahan pergerakan kalajengking biru dengan rantai pedangnya, tapi karena perbedaan kekuatan, dia tak dapat menahan terlalu lama.
'Sial! Hewan ini sangat berat!' seru Fable.
Manik mata Ash semakin gelap. Dia mengalihkan perhatian kalajengking biru dengan jarum agar Fable dan Slate mendapatkan kesempatan untuk membunuhnya.
'Kalau aku tak bisa membalikkannya, pasti ada satu titik kelemahan lain yang bisa membuatnya mati dalam satu kali serang,' batin Fable. 'Ayolah Fab, kenapa kau tak bisa berpikir?'
Frost menyadari kalau Ash belum bisa mengendalikan kekuatannya, tidak seperti Qerza yang melakukannya dengan baik. Jika Ash tidak bisa melawan kekuatan dari peningkatan Liga, bisa-bisa dia menganggap kedua saudaranya sebagai musuh.
Fable berputar, dengan menggunakan pedang rantai menciptakan sebuah angin topan.
Slate langsung melompat dan melayang di udara. Dia tentu saja tak ingin mati di tangan saudaranya sendiri.
Beberapa kali Fable menyerang cangkang keras kalajengking biru dan mata pedangnya terlempar, ada satu kali hampir mengenai Slate.
"Bisakah kau lebih berhati-hati, Marjoram?!" teriak Slate kesal.
Fable tidak mengindahkannya. Dia fokus dengan tugasnya dalam mencari informasi.
Saat mengenai bagian tubuh di dekat capit raksasa sebelah kanan kalajengking biru, makhluk itu meraung marah. Fable akhirnya tahu kelemahannya.
'Oh? Pandai!' pikir Frost.
Ash berusaha mempertahankan kesadarannya sendiri. Dia merasa kalau ada sesuatu yang merasuki dirinya dan perlahan mengambil kesadarannya.
Kalajengking biru mulai kebingungan. Entah siapa yang harus ia serang lebih dulu, Ash atau Fable.
Fable mengirimkan informasi melalui bahasa isyarat.
Ash tetap mengalihkan perhatian kalajengking biru, Fable berniat untuk mengikat ekor dan capit makhluk itu, sisa Slate seorang diri.
Slate memejamkan matanya saat menerima sinyal dari Fable. 'Apakah aku benar-benar bisa? Tapi, lemparanku sangat kacau,' batinnya.
Slate menggelengkan kepalanya. 'Masa bodohlah! Yang terpenting adalah bisa membantu mereka.'
Slate membentuk sebuah pisau lempar dari energi dalamnya. Manik matanya berubah menjadi gelap, semua pergerakan menjadi begitu lambat di pandangannya.
Slate memutar pisau lempar dan memperkirakan keberhasilan lemparannya dalam mengenai titik kelemahan yang disebutkan oleh Fable.
Frost memperhatikan ketiga Raven secara bergantian. Fable dan Slate, walaupun tidak menyadari peningkatan mereka, tapi mereka dapat mengendalikan diri mereka.
Ash sendiri menggelengkan kepalanya, berusaha mempertahankan kesadarannya. Dia menggertakkan gigi saat pandangannya mulai menggelap.
Frost tahu ada hal yang tidak beres dengan Ash. Dia berencana untuk menyadarkan anak itu setelah mereka berhasil mengalahkan kalajengking biru.
Fable tak dapat menahan kalajengking biru lebih lama. Dia melepaskan ikatan dan menghindar dari serangan ekor. Jika dia terlambat sedetik saja, dia sudah ditusuk menjadi sate.
Slate berdecak kesal karena lemparannya tidak sebagus Ash maupun Fable. Dia tidak memiliki bakat untuk pertarungan jarak jauh.
“Jangan memikirkan apakah kau bisa atau tidak,” kata Frost. “Percayalah kalau kau mampu dan ingin.”
Slate menatap ke arah Frost. Baru kali ini seseorang mengatakan hal sebaik itu kepadanya. Bahkan dia tidak pernah mendengar kata-kata dorongan dari kedua saudaranya sendiri.
Slate menciptakan pisau lempar lagi. Dia memejamkan mata dan memutar pisau.
“Jangan terlalu cepat. Jangan gugup. Teknik melempar didasarkan pada kestabilan tenaga dan putaran.” Frost mengarahkan. “Jika terlalu cepat, akan memantul. Jika terlalu lambat, akan meleset.”
Slate membuka mata perlahan-lahan, manik matanya berubah warna dari abu-abu gelap menjadi abu-abu terang. Dia melepaskan pisau lempar dan tepat mengenai titik vital kalajengking biru.
Kalajengking biru meraung keras, sebelum akhirnya ambruk ke atas tanah.
Fable menatap ke arah Slate. 'Si Bodoh itu akhirnya berhasil. Baguslah... dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri,' pikirnya.
Slate mengembuskan napas lega. Setidaknya, kali ini dia berhasil.
Ash menggertakkan gigi dan menutup mata erat. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi lehernya. Kepalanya terasa sangat berat.
Frost segera menghampiri Ash, menekan titik akupunturnya dan membuat anak itu tak sadarkan diri.
"Ash!" seru Fable dan Slate secara bersamaan.
"Tidak usah khawatir," ujar Frost. "Jika aku tidak melakukan ini, kalian akan bertarung dengan saudara kalian sendiri."
Fable dan Slate mengembuskan napas, lega karena Ash baik-baik saja.
"Selamat karena telah mencapai Liga Amethyst."
"Secepat itu, Yang Mulia?" tanya Slate.
"Jika kalian dilatih menggunakan cara yang tepat, maka juga akan cepat dalam peningkatan Liga," jawab Frost. "Benar juga, tadi sepertinya ada yang berkata kalau lebih baik Ganache yang melatih kalian. Sekarang, aku akan menunjukkan latihan dari Ganache jika dia yang melatih kalian."
Frost menyeringai dingin, membuat Fable dan Slate merinding.
'Mengapa aku merasakan perasaan yang amat tak enak?' pikir kedua saudara itu.
Frost menarik Ash keluar dari arena latihan dan menyenderkan anak itu di batu besar tempatnya duduk.
"Sekarang!" seru Frost. "Kalian akan merasakan Neraka."
Fable dan Slate menelan ludah dan menatap satu sama lain. Mereka menggunakan bahasa isyarat untuk berbincang.
'Apa yang ingin dilakukan oleh Yang Mulia?' tanya Slate.
'Aku tidak tahu. Tapi, yang pasti, bukanlah hal yang baik,' jawab Fable.
Tiba-tiba saja hujan turun membasahi Fable dan Slate. Mereka melihat ke arah Frost, tidak basah sama sekali. Hujan hanya berlaku di arena mereka saja.
'Gawat! Ini bukan hujan biasa!' seru Fable dalam hati.
Fable melepas rompinya dan menjadikannya pelindung kepala.
"Slate, jangan terkena hu-"
Tiba-tiba saja Slate menyerang Fable. Warna manik matanya kembali menjadi abu-abu gelap, tapi tidak memiliki sinar mata sama sekali.
'Apa yang sebenarnya sedang terjadi?' tanya Fable di dalam hati.