
Frost hanya bisa tersenyum dingin mendengar pernyataan Zinn. Menurut Frost, tidak akan ada hal baik yang terjadi kepada dirinya baik sekarang maupun di masa depan. Bisa bersama dengan Zinn saja sudah merupakan keajaiban bagi Frost. Frost hanya berharap kalau dirinya tidak akan kehilangan Zinn, pemilik manik mata merah jambu itu adalah sesuatu yang sangat berharga baginya.
“Jangan iri terhadap diriku. Aku bukanlah orang yang akan melakukan hal mulia. Sebaliknya, dirimulah yang mungkin akan melakukan hal mulia: misalkan saja, membunuhku,” kata Frost tanpa sadar.
Zinn memicingkan matanya. “Yang Mulia, apakah saya hanyalah seorang pengkhianat di mata Yang Mulia?” tanya Zinn, tampak tidak senang dengan perkataan Frost. Zinn tidak ingin menyakiti Frost, terlebih lagi untuk membunuhnya. Zinn merasa Frost sudah sangat keterlaluan dan menyakiti hatinya.
Frost menyadari kesalahannya terhadap Zinn, dia langsung meminta maaf karena takut wanita muda itu akan mengabaikannya seumur hidup. “Maafkan aku, Ganache. Aku sudah sangat keterlaluan.”
Bagus jika kamu menyadari bahwa kamu sudah keterlaluan kepadaku, Frost Blanche Castleton! Aku berharap kalau kamu tidak akan menyakiti hatiku lebih dari yang saat ini kamu lakukan, batin Zinn. Zinn menggembungkan pipi kesal, berniat mengabaikan Frost untuk sementara waktu. Jelas sekali kalau Zinn marah terhadap perkataan Frost.
Frost memeluk Zinn dan mengecup pipinya, membuat wanita muda itu tak lagi marah terhadapnya. Frost sangat pandai menggoda. Zinn terheran-heran mengapa pria seromantis Frost tidak pernah mendapatkan pasangan—lebih tepatnya, kenapa Frost tidak ingin mencari gadis-gadis untuk dijadikan pasangan. Merupakan hal yang wajar bagi seorang Kaisar untuk memiliki Permaisuri dan banyak Selir.
Entah kenapa Zinn merasa senang karena Frost tidak memiliki pemikiran untuk memiliki banyak pasangan hidup. Zinn bisa mati diakibatkan oleh kecemburuan. Di wajah Zinn terlihat sebuah senyuman manis yang merekah. Walaupun Frost tidak tahu senyuman itu ditunjukkan untuk apa, dia tetap saja merasa senang karena tahu Zinn tak lagi marah terhadap dirinya.
Frost menyandarkan kepalanya di pundak Zinn dan menghela napas panjang. “Kumohon kepadamu, jangan marah tanpa alasan yang jelas terhadapku,” kata Frost. Frost tampak seperti anak kecil yang sedang merengek. “Aku takut kehilangan dirimu, Ganache.”
“Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Zinn sambil mengelus pelan kepala Frost, membuat pemilik manik mata emas semakin nyaman dan tidak ingin melepaskan pelukannya. “Yang Mulia, kita harus segera menyelesaikan tugas kita terlebih dulu.” Zinn mengingatkan Frost akan tugas yang belum diselesaikan dan hal itu membuat si pria merasa sedikit jengkel.
“Sebentar saja,” kata Frost. “Biarkan aku memiliki dirimu sebentar saja.” Frost semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Zinn sesak napas. Frost menatap Zinn dengan tatapan sayu orang yang sedang jatuh cinta, perlahan-lahan mendekat dan mencumbu bibir si wanita yang menjadi candu dan terasa amat menggoda, menyentuh setiap lekuk tubuhnya dengan gerakan-gerakan menggoda. Frost membuat Zinn menjadi tak berdaya.
“Yang Mulia, saya... mo-“ Frost tidak membiarkan Zinn berkata-kata, terus mencumbu wanita muda itu hingga kehabisan napas. Frost berhenti ketika Zinn mulai aktif memukul dadanya. Frost menahan tubuh Zinn agar tidak terjatuh ke atas lantai rumah kayu. Frost mencium kening Zinn sebagai penutup dari segala aksi romantisnya.
“Apakah kau akan marah kepadaku karena aku telah melakukan sesuatu yang sangat tak sopan terhadap dirimu?” tanya Frost, menyatukan keningnya dan Zinn. "Jadi, apa jawabanmu?"
Zinn hanya terdiam saja. Sebenarnya dari awal Zinn tidak berniat menjawab pertanyaan Frost jika saja pria itu tidak memaksanya untuk menjawab, menanyakan perasaan seorang wanita adalah hal yang sangat tidak sopan.
"Saya tidak tahu apa yang saya rasakan terhadap Yang Mulia," Zinn menjawab dan tampak serius. Zinn memang benar-benar tidak tahu apa yang dirasakannya terhadap Frost. Bisa jadi itu adalah rasa kagum, rasa suka, rasa cinta, bisa jadi itu adalah karena Frost sering menggoda Zinn hingga menimbulkan perasaan suka sementara dalam diri si wanita.
Zinn hanya bisa termenung melihat adegan singkat itu. Aku bahkan memiliki kekuatan sihir yang lebih kuat dari Yang Mulia! Kenapa hanya dia yang bisa menghancurkan Lingkaran Sihir dan aku tidak bisa? tanya Zinn di dalam hati, jengkel.
Frost bisa melihat wajah Zinn berubah menjadi masam, tapi dia tidak memiliki hak untuk bertanya, walau ada banyak sekali pertanyaan di dalam kepalanya. Pada akhirnya, mereka berdua diam membisu. Canggung.
Zinn merasakan perasaan aneh yang menyergapnya. Zinn melirik ke sana-sini dan menghentikan pencariannya di Frost, akan tetapi pria itu tidak mengetahui apa pun. Frost kebingungan dibuat oleh Zinn.
"Kenapa?" tanya Frost. Frost merasa sepertinya ada yang salah dengan Zinn. Tidak biasanya pemilik manik mata merah muda itu terlihat panik, kecuali jika ada hal yang membahayakan.
"Saya merasa ada banyak Lingkaran Sihir yang sudah dibentuk di Daffodil. Selain itu, di Tillandsia sepertinya juga ada. Orang yang kita cari sudah melewati perbatasan Tillandsia dan sekarang sedang menuju ke Quetzal," kata Zinn menjelaskan. Zinn tidak tahu mengapa dia bisa merasakan Pola-Pola Lingkaran Sihir itu, tapi dia merasa yakin kalau pembuatnya sebentar lagi akan memasuki daerah Quetzal.
"Lalu, apakah kau igin menghentikannya?"
Zinn menatap tajam ke arah Frost. "Tentu saja dia harus dihentikan! Jika Anda merasa keberatan, Yang Mulia, Anda tidak perlu mengikuti saya," ucap Zinn.
"Jangan terlalu emosional, Ganache. Aku tidak bilang kalau aku tidak akan mengikuti dirimu. Dimana pun kau berada, di sana jugalah aku ada," kata Frost, tak sengaja menggoda Zinn.
Wajah Zinn merona merah seperti tomat matang, dia langsung membalikkan tubuh dan berkata, "Mulut Anda manis sekali, Yang Mulia. Lebih baik kita bergegas. Di Daffodil sepertinya masih ada yang selamat. Sebelum pergi ke Tillandsia, lebih baik kita menemukan orang-orang yang selamat dan bertanya tentang hal ini kepada mereka. Saya yakin kita akan menemukan sesuatu yang berguna."
"Sesuai dengan keinginanmu, Permaisuri." Frost mencium punggung tangan Zinn, menarik wanita muda itu ke dalam pelukannya dan mengangkatnya, lalu pergi dari rumah kayu tersebut.
Frost memejamkan matanya sejenak sambil berjalan menyusuri setapak jalan yang membawa dirinya dan Zinn melewati rumah-rumah penduduk di Daffodil. Saat membuka mata, manik mata Frost memancarkan cahaya terang yang mirip lampu pijar di malam hari.
"Mata Anda…?"
"Aku bisa melihat menembus sesuatu dengan mata ini. Akan mempercepat pencarian orang-orang yang masih selamat kan, Ganache?"