Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 7 : Manisnya Cinta



"Kau yakin seorang anak kecil dapat menuliskan kata-kata seperti itu?" tanya Frost. Zinn langsung menatap tajam ke arahnya. "Apa? Aku sudah membaca plakat itu, sebelum mengejarmu tadi, jika kau bertanya-tanya."


Zinn menganggukkan kepala paham. Zinn sedikit tidak paham dengan Frost. Memang pemilik manik mata emas termasuk orang yang cerdas, tapi kenapa dia tidak ingin menggunakan kecerdasannya untuk menjalin hubungan dengan orang-orang?


"Karena terkadang perang yang dapat berbicara dibandingkan dengan kata-kata," kata Frost, seakan bisa membaca pikiran Zinn. "Maka dari itu, aku selalu berperang, berperang dan berperang. Apakah kau tidak menyukainya?"


"Bukan tidak menyukainya, Yang Mulia, hanya saja saya merasa kalau berperang itu selalu membawa diri sendiri ke sisi yang negatif. Misalkan saja; Anda. Anda sebenarnya adalah orang yang baik hati—walau ada hal yang tidak boleh dibenarkan dalam hidup Anda."


Frost merasa kalau Zinn sudah memahami kisah hidupnya yang rumit dan aneh. Dia membunuh Kaisar dan Permaisuri Castleton terdahulu, mengangkat dirinya sendiri menjadi seorang Kaisar Baru, berperang melawan semua suku yang membelot terhadapnya di Regancy, tidak memerlukan pasukan dalam Istananya. Semuanya memang terasa sangat ambigu dan salah.


"Apakah kau percaya rumor yang beredar bahwa aku telah membunuh semua orang di Castleton?" Saat menanyakan hal itu, Frost menahan napasnya. Frost tidak mempermasalahkan jika Zinn menjawab "ya", yang membuatnya khawatir adalah fakta bahwa Zinn akan membencinya jika tahu kisah yang sebenarnya.


"Apakah Anda takut saya akan membenci Anda, Yang Mulia?" Sekarang, seolah Zinn yang dapat membaca pikiran Frost. "Saya tidak akan membenci Anda hanya karena Anda membunuh keluarga Anda." Zinn terdiam selama beberapa saat, mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan-lahan. "Saya juga pernah membunuh orang yang sudah seperti keluarga bagi saya. Dia mengkhianati saya, memfitnah saya, kemudian semua kebenaran itu terbongkar dan saya... menjadi Malaikat Maut baginya. Walaupun sebenarnya saya tidak ingin menghakiminya seorang diri dengan dalih agar saya tidak mengotori tangan saya, tapi jiwa saya telah menjadi jiwa yang kotor."


"Aku merasa kalau kau telah melakukan hal yang benar. Yang berkhianat harus menerima akibatnya," kata Frost. Frost tampak menyeramkan dengan wajah datar dan tatapan dinginnya. Namun karena Zinn sudah terbiasa, dia jadinya tidak merasa kalau Frost adalah orang yang menyeramkan.


"Benar juga, Yang Mulia. Jika Anda mendapati saya berkhianat kepada Anda, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Zinn.


Frost terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Zinn. Frost berharap kalau sampai kapan pun, Zinn tidak mengkhianati dirinya—walau untuk kebaikan bersama.


"Kita sudah sampai. Di bawah sini ada anak-anak," Frost berbisik hingga suaranya hampir menghilang, mengalihkan topik pembicaraan. Frost tidak ingin terburu-buru menjawab pertanyaan Zinn tentang pengkhianatan yang mungkin akan dilakukan oleh si wanita.


Frost menurunkan Zinn dan membuka sebuah pintu rahasia yang menyatu dengan lantai kayu. "Cepat masuk. Aku mendengar ada sesuatu di luar sana."


"Setidaknya ada generasi yang selamat. Jika semuanya tidak selamat, kau baru boleh khawatir. Tidak akan ada lagi yang namanya Daffodil." Frost sebenarnya ingin menghibur Zinn, tapi dia malah mengatakan hal yang membuat Zinn mendelik kesal ke arahnya.


"Apakah Anda adalah orang yang tak memiliki hati, Yang Mulia?" tanya Zinn dengan nada tinggi dan terdengar ingin memangsa orang. "Anak-anak kecil harus hidup dengan orang tua mereka. Mereka masih terlalu muda untuk menghadapi kejamnya dunia."


"Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang harus berjuang untuk hidupnya sendiri, Ganache. Aku sudah pernah mengalami masa-masa sulit seperti itu. Kau berbeda denganku. Kau memiliki keluarga hangat yang perhatian, memiliki teman-teman yang bisa diandalkan, kau bahkan disukai oleh orang-orang. Jangan seperti aku, aku dibenci oleh orang-orang dan tidak akan pernah merasakan apa yang namanya kebahagiaan."


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak seharusnya membandingkan Anda dengan diri saya yang tidak sepadan penderitaannya." Zinn tampak semakin murung. "Anda telah melewati berbagai macam penderitaan. Apakah Anda tidak lelah dengan ini semua? Apakah Anda masih bisa bertahan atas apa yang telah terjadi dalam hidup Anda? Maaf jika saya terdengar lancang menanyakan hal ini."


Frost mengacak-acak rambut Zinn dikarenakan gemas melihat pemilik manik mata merah muda. “Apakah aku menyesal telah melakukan kejahatan, ya? Jawabannya adalah tidak. Aku tidak memiliki penyesalan apa pun. Walaupun aku telah membunuh semua orang di Castleton, walaupun aku telah mengajak banyak suku berperang, walaupun aku sudah membunuh ribuan orang yang mungkin tak bersalah sama sekali dalam hidupnya, walaupun orang-orang pada akhirnya memanggilku Iblis. Aku tidak pernah menyesali apa yang telah kuperbuat dalam hidup, Ganache.”


Zinn dapat melihat keseriusan dalam tatapan Frost, dia juga mengenal Frost yang seperti itu: yang percaya akan dirinya sendiri, yang menawan dalam caranya sendiri. Zinn tersenyum ketika mendengar jawaban dari Frost. Semuanya dikeluarkan tanpa keraguan sama sekali dan wanita itu sangat iri dengan Frost yang dapat mengungkapkan pemikiran dan isi hatinya tanpa ragu-ragu.


“Hidup adalah untuk terus melangkah maju ke depan. Jika selalu terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu, seseorang tidak akan pernah bisa menikmati indahnya dunia,” kata Frost, menggenggam tangan Zinn. “Sekarang, masa depanku adalah dirimu. Dalam dirimu aku bisa melihat kebahagiaan. Dalam dirimu aku menemukan kebahagiaanku yang mutlak, Zinnia Pramidita Ganache." Frost mencium punggung tangan Zinn, membuat wanita muda itu merona.


“Ada banyak wanita yang lebih cantik dari saya di Regancy, Yang Mulia.” Zinn berusaha untuk tidak gugup ketika mengatakannya. “Mengapa Anda malah menyatakan perasaan kepada saya? Apa yang membuat saya terasa istimewa di hidup Anda?”


Frost tersenyum dan Zinn dapat melihat betapa tulusnya senyuman itu. “Kau adalah yang pertama dan yang terakhir, Ganache. Orang yang dapat membuatku merasa sangat hidup, membuatku menghargai segala hal. Aku tidak peduli akan bagaimana perasaanmu terhadap diriku. Tapi, aku sangat berharap kalau kau setidaknya ingin menjadi rumahku, tempatku berpulang ketika aku telah kehilangan arah hidupku, kehilangan siapa aku.”


Zinn mendadak teringat ucapan Mictlantecuhtli tentang Frost. “Saya ingin bertanya sesuatu kepada Anda, jika Anda tidak berkenan, Yang Mulia.” Zinn memberanikan diri karena dia menjadi amat penasaran. Ada sesuatu yang menggelitik dirinya hingga dia menjadi tak tahan untuk tak bertanya.


“Siapa yang ada di sana?” Baru saja Zinn ingin bertanya tentang satu hal yang dikatakan oleh Mictlantecuhtli, sebuah suara malah menginterupsi dirinya. Zinn pun mengurungkan niatnya.