
“Benar juga, selain kalian berdua, sekarang tinggal delapan belas orang. Saya belum kenal semua orang, apakah kalian tidak ingin berkenalan dengan saya?” tanya Zinn.
Anak-anak menatap satu sama lain, Fiery menganggukkan kepalanya.
“Saya adalah Fiery Fuchsia Daffodil. Senang bertemu dengan Anda, Nyonya.”
“Saya adalah Qerza Turquoise Cardinal. Senang mengenal Anda, Nyonya.”
“Saya adalah Roy de Rooi Daffodil. Salam kenal, Nyonya.”
“Saya adalah Ahmar Osmanthus Daffodil. Salam kenal, Nyonya.”
“Saya adalah Flowery Blue Tahiti. Salam kenal, Nyonya.”
“Saya adalah kembaran Flow, Florida Blue Tahiti. Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya.”
“Saya adalah Wila Veranya Daffodil. Salam kenal, Nyonya.”
“Saya adalah Cyrvony Light Daffodil. Salam kenal, Nyonya.”
“Saya adalah Cyrvena Light Daffodil, kakak dari Vony. Salam kenal, Nyonya.”
“Saya adalah Semayawi Navy Daffodil, kakak laki-laki Vena dan Vony. Senang mengenal Anda.”
“Saya adalah Brick Parchment Daffodil. Salam kepada Nyonya.”
“Saya adalah Fawn Parchment Daffodil. Senang berkenalan dengan Anda, Nyonya.”
“Saya adalah Canary Golden Alabaster. Salam kepada Nyonya.”
“Saya adalah Dijon de Rooi Daffodil. Salam kenal Nyonya.”
“Saya adalah Amber Marmalade Daffodil. Senang mengenal Anda, Nyonya.”
“Saya adalah Mahogany Tuscan Alabaster. Salam kepada Nyonya.”
“Saya adalah Rouge Lemonade Tahiti. Salam kenal Nyonya.”
“Saya adalah Ash Midnight Raven. Salam kepada Nyonya.”
“Saya adalah Slate Midnight Raven. Salam kepada Nyonya.”
“Saya adalah Fable Midnight Raven. Salam kepada Nyonya.”
Saat anak-anak selesai berkenalan dengan Zinn, pintu ruang jamuan kembali terbuka. Frost masuk tanpa membawa apa-apa.
Zinn menutup sebagian wajahnya dan menahan tawa. “Apakah Anda gagal dalam memasak lagi, Yang Mulia?” tanyanya dengan nada sedikit mencemooh.
Frost menyeringai dingin. Dia menjentikkan jari, banyak makanan enak yang tersedia di depan muka.
“Oh, ternyata ada yang mati-matian belajar Sihir Dapur dan berhasil,” sindir Zinn.
Suasana di antara mereka menegang dan anak-anak hanya bisa duduk tegak dengan keringat dingin yang perlahan mengalir.
“Kalian menunggu apa? Takut aku meracuni kalian?” tanya Frost kepada anak-anak. Wajahnya amat datar hingga mengejutkan anak-anak.
“Kalian nikmatilah makan malam.” Zinn memasukkan sayuran asin kering yang disediakan oleh Frost untuk menenangkan anak-anak. “Saya dan Yang Mulia akan berbicara sebentar di luar. Jangan sungkan, kalian pasti lapar seharian tidak makan. Kami akan segera kembali.”
Frost menaikkan sebelah alisnya ketika Zinn menutup pintu.
Frost menarik Zinn ke dalam dekapannya. “Apakah kau sudah memikirkan pertanyaan mereka? Ingin jadi orang tua bagi mereka atau tidak?”
Zinn menelan ludah dan membuang muka. Wajahnya merona. ‘Apa maksud Yang Mulia bertanya tentang hal ini terhadapku?’ tanyanya.
“Apakah kau berniat menghindar lagi, Zinnia Pramidita Ganache?” Frost berbisik tepat di sebelah telinga Zinn, membuat pemilik manik mata merah muda merinding.
“Siapa yang bilang kalau saya akan menghindar?” tanya Zinn. “Saya sudah memikirkannya dan berencana akan memberikan jawaban saya kepada Yang Mulia.”
“Jadi, apa jawabanmu, Zinnia Pramidita Ganache?”
“Saya ingin mengangkat mereka menjadi anak-anak saya.” Zinn tersenyum ketika mengatakannya.
“Bagus. Sekarang kapan kau akan menikahiku?”
Zinn langsung memelototi Frost. Pemilik manik mata emas benar-benar tak dapat ditebak pemikirannya. “Apa maksud Anda dengan menikahi Anda?”
“Apakah kau tidak mendengar dengan jelas pertanyaan mereka tadi?” goda Frost.
Zinn tentu saja mendengar pertanyaan Qerza dengan jelas. Namun dia menganggap hal itu hanyalah candaan anak-anak. Bagaimanapun juga, tak mungkin semua anak-anak itu setuju dengan keputusannya.
“Tentu saja saya mendengar dengan jelas kalau mereka akan menganggap Anda sebagai Ayahanda. Tapi, sungguh aneh dalam satu malam seorang yang terhormat seperti Anda malah mendapatkan dua puluh anak sekaligus,” cibir Zinn. Dia semakin pandai beradu mulut dengan Frost, tak seperti dirinya saat datang ke Castleton pertama kali: sangat diam dan penurut.
“Aku tidak masalah akan hal ini. Jadi, siapa yang akan mempermasalahkannya? Jika mereka berani mempermasalahkannya, bukankah hal ini sama saja dengan cari mati? Siapa yang ingin cari mati?” Frost bertanya dengan angkuh. “Tapi, aku ingin anak-anak ini tak semua berada di sisi kita. Jika mereka ada, bukankah namanya merepotkan diri sendiri? Melindungi diri sendiri saja sudah sulit, apalagi harus melindungi anak-anak yang amat banyak ini.”
“Saya juga berpikir demikian. Saya ingin bertanya kepada anak-anak tentang hal ini. Jika mereka semua ingin bersama kita, maka terima saja. Jika ada yang tidak ingin, kita bisa mencari keluarga dengan latar belakang yang baik untuk mereka,” kata Zinn.
“Semuanya kuserahkan saja kepadamu, Calon Istriku. Sekarang, bukankah kita harus bergabung dengan mereka untuk makan malam? Kurasa makan malam pun sudah hampir habis dilahap bocah-bocah itu.”
Zinn terkekeh pelan. Dia senang karena Frost tampak lebih hidup setelah kejadian yang menimpa mereka di Daffodil. Dia juga sudah bertekad untuk tidak menahan perasaan apa pun terhadap Frost. Jika dia ingin marah, maka dia akan marah. Jika dia senang, maka perasaan senang juga yang akan ditunjukkan olehnya.
“Kau tampak lebih baik daripada tadi,” bisik Frost.
Zinn meninju bahu Frost dan membuka pintu ruang perjamuan. Di luar dugaan, ternyata anak-anak tidak makan sama sekali.
“Kenapa kalian tidak makan?” Zinn memasang ekspresi bingung di wajah. Dia berpikir, ‘Jangan-jangan mereka takut kalau makanan lain ada racunnya.’
Zinn menutup mulut dan tak bisa menahan senyuman. Dia merasa kalau anak-anak dari Daffodil sangat menarik dan terlalu berhati-hati.
“Tidak sopan jika kami makan tanpa Anda berdua,” kata Qerza. “Jadi, kami memutuskan untuk menunggu.”
“Apakah benar alasan kalian hanya itu?” Zinn terkekeh kecil, membuat Frost menaikkan alisnya—tahu alasan lain yang dimaksud oleh pemilik manik mata merah muda.
“Jika Nyonya ingin bercanda tentang adanya racun atau tidak, Ash sudah mencoba semua makanan ini dan tidak kejang-kejang.” Qerza menggembungkan pipinya, sepertinya belajar dari Zinn yang suka berbuat demikian ketika sebal ataupun marah.
Zinn tertawa kecil dan menarik Frost untuk duduk bersama mereka. “Kami sudah memutuskan, kami ingin mengangkat kalian menjadi anak-anak kami. Jika ada keperluan atau apapun, cari kami saja. Atau, jika ada yang tidak setuju, kami bisa mencari keluarga baru untuk kalian. Kalian boleh berdiskusi dan menyampaikannya kepada kami.”
“Kami berdua setuju untuk menjadi anak Anda berdua,” kata Fiery dan Qerza, bersamaan.
“Kami, Raven, juga setuju untuk menjadi anak-anak Yang Mulia dan Nyonya,” ucap Ash, yang diberi anggukan oleh Fable dan Slate.
“Raven adalah suku yang mahir dalam penggunaan pedang, belati, dan pembunuhan berencana. Kalau begitu, sepertinya akan cocok untuk dilatih oleh Yang Mulia.”
Frost menaikkan alisnya. “Apakah kau berkata kalau aku sangat pandai dalam pembunuhan berencana juga, Ganache?”
“Jika bukan seperti itu, lalu seperti apa, Yang Mulia?”