Romantic Fantasy

Romantic Fantasy
Lembar 18 : Melatih Anak-Anak



"Tentu saja sangat buruk," kata Frost. "Makanya aku ingin melatih anak-anak ini agar cepat mencapai Liga Jade. Mereka akan sangat membantu." Frost menepuk pelan kepala Qerza dan Rouge—itu adalah sebuah ancaman bagi mereka.


"Mereka sepertinya baru saja mencapai Liga Agate. Dan, anak-anak Raven?" Zinn menatap ke arah Ash, Fable, dan Slate yang memasang wajah memelas dan meminta bantuan darinya.


"Baru saja mencapai Liga Batu," jawab Frost.


"Eh?" Zinn tidak percaya. "Baru saja mencapai Liga Batu? Astaga!"


Zinn beralih menatap ketiga saudara Raven dan menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku tidak bisa menyelamatkan kalian. Tuan Muda Cardinal dan Tuan Muda Tahiti, silahkan ikut saya masuk ke dalam Aula Utama."


Zinn adalah sosok yang adil. Berapa persen penderitaan yang akan diterima oleh Ash, Fable, dan Slate, begitu juga yang akan diterima oleh rekan mereka: Qerza dan Rouge.


"Kalian bertiga, ikut aku. Jika lebih lambat sepuluh langkah, aku benar-benar akan menyiksa kalian sampai Liga Quartz," kata Frost.


Ash, Fable, dan Slate menelan ludah. Sambil mengambil ancang-ancang, mereka terus memperhatikan Frost.


Saat Frost menghilang dari pandangan, mereka bertiga juga ikut menghilang.


Zinn menatap Qerza dan Rouge secara bergantian, kemudian tersenyum. "Malam bagaikan Neraka bagi kalian akan dimulai sekarang juga."


Qerza dan Rouge bisa merasakan kalau Zinn tidak sedang bercanda dengan mereka.


'Langit, selamatkanlah kami!' seru Qerza dan Rouge.


Ash, Fable, dan Slate untungnya hanya tertinggal empat lima langkah di belakang Frost. Frost sendiri tidak bisa bergerak lebih cepat karena luka yang diterimanya tadi sore.


“Saya baru tahu kalau di sini ada sebuah tempat yang sangat luas,” kata Fable. Dia menatap ke sekeliling dan menganalisis keadaan.


Frost memperhatikan kegiatan ketiga anak itu. Dia bisa langsung menyimpulkan kalau ketiga merupakan koordinasi yang baik: Ash sebagai penyerang, Fable sebagai penganalisis dan perencana, dan Slate sebagai perisai. Jika salah satu dari mereka ditiadakan, akan sulit bagi dua orang lain untuk beradaptasi.


Frost bisa mendengar ketiga Raven menggunakan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi mereka, mirip suara burung hantu.


“Sekarang, kalian coba bertarung satu sama lain,” kata Frost. Dia ingin mengetahui seberapa tidak teganya mereka terhadap saudara mereka sendiri.


Frost tahu kalau menyerang saudara sendiri bukanlah hal yang baik. Dia juga tidak ingin ada orang yang mengikuti jejaknya dan membunuh keluarga sendiri. Dia tahu rasanya kesepian, lebih tahu rasanya tidak memiliki sandaran dalam hidup, hanya bisa mengandalkan diri sendiri.


“Kami tidak bisa melakukan hal ini.” Fable langsung menolak. “Kami sudah dilatih secara khusus dari kecil. Saya adalah mata mereka. Kakak Ash adalah senjata kami. Dan, adik Slate adalah perisai kami. Kami tidak akan menyusahkan bagian dari diri kami sendiri.”


Frost menyeringai. Itulah yang dia inginkan.


“Baiklah, kalau begitu lebih baik kalian berhati-hati dengan tempat latihan ini.” Frost memperingatkan.


Zinn bisa merasakan kalau Frost mengaktifkan latihan di padang rumput. Dia pun segera memulai latihan untuk Qerza dan Rouge.


“Anda berdua sudah mencapai Liga Agate, sudah bukan seorang amatiran lagi. Tapi, masih jauh dari kata dapat memimpin kelompok. Paling tidak, untuk memimpin sebuah kelompok kalian harus mencapai Liga Lazuardi.” Zinn menjelaskan. “Bukan berarti Liga Jade tidak bisa memimpin. Itu semua tergantung dari hasil usaha kalian.”


“Tuan Muda Cardinal, di sana ada pengetahuan tentang Rovseltte. Karena kita sering berkomunikasi dengan Rovseltte untuk masalah pangan, akan sangat cocok bagi keturunan Cardinal untuk mempelajari hal ini,” kata Zinn sambil menunjuk ke arah sebuah meja. “Saya akan menguji saat selesai dengan Tuan Muda Tahiti. Tuan Muda Tahiti silahkan ikut saya ke sebelah sini.”


Qerza menempatkan dirinya di depan sebuah meja dengan ukiran naga di setiap sudutnya. ‘Klan Naga adalah Penguasa Neraka Tingkat Kelima. Memang tidak sehebat Iblis pada biasanya, tapi tetap saja berbahaya,’ pikirnya.


Qerza menggelengkan kepala saat menemukan dirinya memikirkan hal-hal di luar tugasnya saat ini.


Zinn dan Rouge keluar dari Aula Utama dan berjalan-jalan di taman bunga Istana Castleton yang amat luas.


"Apakah Anda tahu kalau bulan baru dan gerhana bulan ataupun gerhana matahari membantu Tahiti memperkuat sihir mereka?" tanya Zinn.


Rouge menatap Zinn dan menjawab, "Ibunda pernah berkata kalau gerhana bulan adalah saat-saat dimana suku Tahiti mencapai puncak kekuatannya."


"Kalau begitu, berbeda dengan saya yang berasal dari suku Ganache. Kekuatan saya melemah saat bulan baru dan gerhana."


Zinn terus berjalan hingga satu titik dan berhenti. Rouge mengikuti pemilik manik mata merah muda, berhenti tepat tiga langkah di belakangnya.


"Saya sebenarnya sangat tidak setuju kalian harus ikut ke Tillandsia besok," kata Zinn, membalikkan badan dan tersenyum pada Rouge. "Tapi, menahan kalian di sini juga tidak ada gunanya. Sekarang dunia sedang berada dalam kekacauan. Bahkan Benua Rovseltte dan Benua Jepalamus sedang mengeluarkan dekrit perang terhadap satu sama lain. Benua Regancy tiba-tiba saja diserang oleh Iblis. Untuk menyelamatkan nyawa harus bergantung pada diri sendiri."


Zinn mengatakan semua itu kepada Rouge karena anak lelaki itulah yang memiliki jiwa paling dewasa di antara semua anak-anak. Selain itu, Frost juga mengisyaratkan kepada Zinn kalau Rouge adalah anak yang memiliki pemikiran luas, menyarankan dirinya sendiri untuk ikut dalam perjalanan ke Tillandsia.


"Mengapa Anda ingin ikut ke Tillandsia?" tanya Zinn.


"Saya ingin menambah pengalaman saya. Selain itu, di Tillandsia... ada wanita yang ingin saya nikahi," jawab Rouge tanpa ragu.


Zinn mengangguk paham. "Saya menghargai usaha Anda. Saya yakin wanita itu akan melewati malam ini dengan baik. Selain itu, Tillandsia merupakan daerah padang pasir. Akan sulit menemukan orang lain di daerah pasir seluas itu."


"Saya juga berharap seperti itu," kata Rouge.


Zinn menatap ke arah langit gelap. Dia tahu sekarang sedang bulan baru dan hal itu merupakan hal yang bagus bagi Rouge.


"Sekarang sedang bulan baru. Jika berlatih dengan giat, mungkin Anda akan mencapai Liga Emerald atau Liga Jade dengan cepat. Atau mungkin, Liga Lazuardi juga. Itu tergantung pada diri Anda sendiri."


Rouge mengangguk.


"Anda sudah belajar sampai mana?" tanya Zinn.


"Saya sudah mempelajari tentang Sihir Kabut Ilusi," jawab Rouge.


Zinn menganggukkan kepalanya. "Benar juga, Nona Florida dan Nona Flowery juga berasal dari suku Tahiti, apakah Anda tahu mereka sudah mencapai Liga apa?"


"Kalau kedua saudari ini, mereka adalah orang yang sangat berbakat. Mereka sudah sampai Liga Pearl. Mereka bersaing dengan Nona Fiery dari Daffodil yang berada satu tingkat di atas mereka. Nona Fiery sudah berada di Liga Phyrus."


"Tidak heran terlihat sekali dari sikap mereka, sangat anggun."