
Fiery, Qerza, dan ketiga saudara Raven melirik ke sana-sini, mencari kandang kuda pribadi yang dimaksud oleh Frost.
“Itu dia.” Fable menunjuk ke arah sebuah papan kayu tinggi. Dari baliknya, terdengar suara ringkikan kuda. “Ayo kita bergegas ke sana.”
Semua orang mengangguk menyetujui perkataan Fable. Mereka tampaknya tak ingin membuang waktu yang berharga untuk hal-hal yang tidak penting. Nyawa Ibunda Angkat mereka sedang berada dalam bahaya.
Anak-anak menemukan sepuluh ekor kuda di balik papan. Semuanya memiliki warna yang sama: hitam. ‘Apakah Ayahanda/Yang Mulia tidak menyukai warna lain selain hitam?’
“Nona Fiery, saya akan membantu Anda,” kata Qerza. Dia naik ke atas kuda dan mengulurkan tangannya kepada Fiery.
Fiery menerima uluran tangan Qerza dan ditarik duduk ke atas kuda.
Ketiga Raven hanya bisa menatap canggung ke arah mereka dan hanya dapat menggelengkan kepala. 'Di Istana ada Ayahanda dan Ibunda, di luar ada anak dari mantan Kepala Suku dengan keturunan Cardinal terakhir.'
"Kita harus bergegas menemui Ayahanda dari Ibunda," kata Fable. "Itu adalah alergi yang sering dialami oleh suku Ganache, Alergi Bulan Baru."
"Apakah penyakit itu berbahaya?" tanya Fiery, yang tampaknya tidak tertarik.
"Tentu saja sangat berbahaya, Nona," jawab Qerza. "Alergi Bulan Baru bagi suku Ganache adalah sebuah penyakit mengerikan yang dapat mengambil nyawa mereka."
Sebenarnya ketiga saudara Raven kurang menyukai anak dari mantan Kepala Suku Daffodil. Entah kenapa mereka merasakan keanehan dari sikap anak perempuan itu.
Ash tanpa basa-basi langsung memimpin jalan. Dia paling tidak suka dengan orang yang banyak bicara tapi tidak beraksi.
Fable dan Slate mengikuti kakak lelaki mereka dari belakang, disusul oleh Qerza dan Fiery.
Mereka berlima mengarungi langit malam dan embun subuh yang serasa menusuk kulit.
Sekitar mereka tidak ada orang. Suasana sangat sunyi dan hening. Sangat damai dan tenang. Justru suasana seperti inilah yang ditakutkan oleh Ash.
'Entah kenapa aku merasa kalau sebentar lagi akan terjadi sesuatu,' batin Ash.
Yang benar saja, saat Ash memperlambat gerak kudanya, tiba-tiba terdengar suara lolongan serigala.
Ash menatap ke arah Fable. Fable langsung mengerti maksudnya.
"Serigala?" bisik Fiery. Dia adalah orang yang paling takut dengan serigala. Dia memiliki trauma dengan hewan yang satu itu.
"Tidak apa-apa, aku ada di sini. Jangan takut," hibur Qerza.
Fable melihat peta daerah Castleton dan Ganache. Dia pelan-pelan memikirkan cara untuk menghindar dari serigala.
'Tidak heran jika di sini banyak serigala. Tebing-tebing curam ini sangat cocok dijadikan teritorial,' pikir Fable.
Fable melihat ke sisi lain peta, berusaha menemukan jalan yang sekiranya aman untuk mereka lalui. Dia menandai sebuah jalan memutar di balik tebing. Namun dia tahu kalau jalan memutar itu pasti merupakan arena pertarungan antara kelompok serigala dan binatang buas lainnya. Kemudian, dia menandai sebuah jalan kecil. Memang benar-benar seorang logistik.
“Kita akan masuk melalui jalan kecil ini.” Fable menunjuk ke arah peta. Teman-temannya mengerubunginya dan melihat, lalu menganggukkan kepala mereka. “Aku akan memandu kalian. Ikuti aku. Ke sini.”
Fable memacu kuda. Dia sangat santai. “Jangan khawatir. Saat matahari terbit, kita akan keluar dari hutan ini dan masuk ke daerah perbatasan Ganache. Itu pun kalau kita tidak menemui kesulitan. Banyak-banyaklah berdoa kepada Dewa.”
Slate memejamkan matanya. Dia memusatkan pendengarannya pada keadaan sekitar. Selain suara tapak kuda, dia dapat mendengar lolongan serigala di kejauhan. Kelompok serigala sedang berburu. Dia juga dapat mendengar rusa-rusa yang berlarian. Atau, suara burung hantu dari kejauhan.
Slate juga dapat mendengar suara gemersik dedaunan. ‘Apa itu tadi? Sepertinya seseorang sedang mengintai,’ batinnya.
Slate berkomunikasi dengan Ash dan Fable melalui siulan sekarang. Mereka sebenarnya memiliki beberapa trik yang digunakan sebagai metode komunikasi rahasia.
Ash dan Fable tampak tenang saat Slate bersiul. Mereka tahu itu adalah kode morse, tapi mereka juga tahu kalau mereka harus berhati-hati terhadap Fiery dan Qerza, terutama Fiery.
Slate terus bersiul seakan sedang melantunkan sebuah lagu. Sebenarnya dia sedang menyampai kecurigaannya terhadap Fiery.
“Apakah kamu bisa berhenti bersiul?” tanya Fiery. “Itu akan mengundang hal-hal buruk secara tidak sengaja.”
"Maafkan aku," balas Slate. "Aku memiliki kebiasaan tidur cepat. Ketika tidak mendapat tidur yang cukup, aku suka bersiul untuk menahan rasa kantuk." Ternyata dia pandai berbohong.
Ash dan Fable sebenarnya ingin memaki, hanya saja mereka tetap tidak bereaksi agar Fiery dan Qerza tidak mengetahui bahwa itu adalah cara mereka berkomunikasi.
'Kenapa aku malah merisaukan Slate? Dia cukup pandai sekarang. Mungkin, kami telah meremehkannya selama ini,' pikir Fable.
Slate mengembuskan napas perlahan, di dalam kepalanya terdapat berbagai macam puisi-puisi dan kutipan-kutipan yang dikarangnya melalui apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, dan apa yang dia rasakan.
"Hidup itu bagai sebuah sungai panjang, dengan pertemuan antara masa sekarang dan masa lampau," gumam Slate.
Ash yang mendengarnya sungguh tidak tahan menahan 'jiwa seni'-nya. Dia membalas, "Dalam satu kedipan mata, musim terus berganti; dari musim panas ke musim dingin, dari musim semi ke musim gugur. Tapi, siapa yang akan menjalani kehidupan jika bukan diri sendiri?"
Slate menatap ke arah Kakak Angkatnya. Dia tersenyum, senang karena ada orang yang akhirnya mengerti kerisauan hatinya. "Tahun demi tahun, aku selalu menghitung sisa hidupku. Menggunakan hati yang rapuh untuk melihat apa yang tersisa dari hidup ini."
Ash menatap ke arah langit berbintang, dia memejamkan mata. Ketika membukanya kembali, manik mata abu-abunya menggelap. Bahkan untuk refleksi cahaya bintang pun tak ada. "Menunggu pasang dan surut, mengubur sisa-sisa pikiran yang kacau, seratus kali cerita hidup berubah-ubah di dalam mimpi. Kendatipun, kau tetap ada di ujung sana, tak mematahkan jalan untuk tidak bertemu lagi denganku, berada di sisiku selalu."
Saat Ash mengedipkan mata, manik matanya berubah menjadi normal kembali. Dia merasa sangat tenang.
Baru kali ini kehadiran Slate memberikan ketenangan di dalam hidupnya. Zinn benar, selama ini dia dan Fable telah salah paham terhadap Slate. Adik mereka itu bukanlah beban di dalam hidup mereka, melainkan rekan.
Fable tersenyum. Dia paham kalau hubungan mereka bertiga akhirnya membaik, semakin erat.
Fiery dan Qerza hanya diam mendengar Ash dan Slate bertukar kutipan-kutipan.
Qerza sangat senang karena Ash, Fable, dan Slate akhirnya mengerti satu sama lain. Fiery sendiri memiliki ekspresi wajah yang tidak terbaca.