
“Oh? Tapi si Kakek Tua itu sangat takut kepada istrinya? Sangat mengejutkan.” Frost memasang ekspresi kaget yang sama sekali tidak cocok dengannya, membuat Zinn sebal dan meninju dirinya.
“Oi!” seru Frost. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau suka sekali memukulku?”
“Tidak ada alasan khusus. Itu dikarenakan Yang Mulia sangat menyebalkan,” kata Zinn.
Zinn melirik ke arah Fiery yang diam seperti patung. Dia menghela napas panjang dan menatap sebal ke arah Frost.
Frost tahu apa yang diinginkan Zinn darinya. “Baiklah, baiklah. Tapi, jangan menghalangi diriku. Aku akan melepaskannya dari pengaruh makhluk jelek itu.”
Frost menyentil pelan kening Fiery dan Zinn bisa melihat ada aura jahat yang keluar dari tubuh gadis itu. Ternyata trik kecil milik Yang Mulia Azazel sangat berguna, pikir Zinn.
“Aku tahu kau diam-diam mengagumi Kakek Tua itu. Aku benar-benar marah,” kata Frost sambil mengepalkan tinju. Sepertinya dia akan mengajak Azazel bertarung—dengan kekuatannya yang tak seberapa itu.
“Anda masih kalah jauh dari Yang Mulia Azazel. Lagi pula, saya mengaguminya sebagai junior. Jika Yang Mulia Azazel ingin menerima seorang murid, saya dengan senang hati ingin menjadi muridnya.”
Mendengar hal itu, Frost terbakar oleh api cemburu. “Kau tidak boleh mengagumi siapa pun selain diriku. Aku akan membuat perhitungan dengan orang-orang yang mencuri perhatianmu.” Frost terdengar seperti seorang anak kecil yang merengek karena tak dikasih permen.
Zinn tersenyum. Entah kenapa dia senang mendengar Frost serius dengan perasaannya.
"Perasaan kagum, suka, dan cinta itu tidaklah sama, Yang Mulia. Saya hanya mengagumi Yang Mulia Azazel karena dia menjaga istrinya dengan baik," kata Zinn. Dia memandangi wajah Frost dengan tatapan sayu. "Kalau Anda... saya tidak tahu apa yang saya rasakan terhadap Anda. Saya senang ketika Anda memerhatikan saya. Saya bahagia ketika Anda berkata kalau Anda menyukai saya."
Mata Frost melebar. Dia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengar oleh telinganya. Apakah itu artinya dia mencintaiku? Frost membatin.
Frost tentu saja senang dengan pernyataan kalau Zinn mencintainya. Namun dia akan tetap bersabar sampai pemilik manik mata merah muda mengatakan sendiri kepadanya.
Zinn dan Frost dapat mendengar Fiery menggumamkan sesuatu. Mereka segera mendekat ke arah gadis yang tergeletak di atas tanah itu.
"Qer... za... Qer... za... Qerza, aku... takut...."
Setelah mendekati Fiery, Zinn dan Frost segera tahu kalau gadis itu sedang mencari Qerza yang berada di Istana Castleton.
"Kita harus membawa gadis ini ke anak itu," kata Frost. "Jika tidak, dia akan mengalami mimpi buruk berkelanjutan dan mati karenanya."
"Apa yang Anda tunggu? Ayo kita bawa dia ke tempat Tuan Muda Cardinal segera!" Zinn memasang ekspresi panik di wajahnya. Dia memang lemah terhadap anak kecil.
Frost menebas udara dengan pedangnya dan mereka berpindah tempat dari padang rumput ke gerbang Istana Castleton, tepat di hadapan anak-anak.
“Oh… kalian sudah kembali,” kata Qerza, tidak kaget dengan kehadiran mereka. Dia melirik ke arah Fiery yang sedang dipapah oleh Zinn dan segera mendekati mereka. “Apakah Nona Fiery baik-baik saja?”
Zinn menggelengkan kepalanya. “Dia tidak baik-baik saja, Tuan Muda Cardinal. Sedari tadi dia terus menyebut namamu. Sepertinya hubungan kalian cukup dalam,” katanya.
Qerza terkekeh. “Kami ditunangkan oleh Kepala Suku sendiri. Saya sudah menjaganya sedari dia kecil, wajar saja jika ikatan di antara kami kuat. Selama hidup saya, saya hanya ingin melindungi Nona Fiery. Dia adalah orang yang sangat berharga bagi saya.” Dia menggenggam erat tangan Fiery yang gemetar dan mengelus kepalanya dengan lembut.
“Kalau begitu, kalian semua tinggallah lebih dulu di sini. Untuk teman kalian… maaf sekali, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Kami akan berusaha mencarikan keluarga yang baik untuk kalian,” kata Zinn, menenangkan anak-anak yang masih selamat.
“Jika diperbolehkan, kami akan senang jadi anak-anak kalian, Yang Mulia,” goda Qerza.
Zinn merona. Dia memang sangat suka dengan anak-anak, tapi belum tentu Frost akan menyetujuinya, kan?
“Jika kau merasa ingin, kau boleh mengurus mereka untuk sementara waktu. Aku lelah dan ingin tidur. Kau saja yang memutuskan.” Frost mengecup pipi Zinn dan menghilang dari sana.
Qerza memapah Fiery dan mendudukkan gadis itu di sebuah bangku kayu di taman Istana Castleton.
Zinn sendiri memandu anak-anak lain menuju ruangan yang dapat mereka gunakan selama tinggal di sana. Selesai memandu anak-anak, dia kembali ke taman dan menemukan Fiery sudah sadar.
“Yang Mulia Permaisuri.” Qerza melambaikan tangan ke arah Zinn dan pemilik manik merah muda segera menghampirinya.
Fiery memiliki mata biru langit yang sangat indah ternyata. Zinn tersenyum ke arahnya, membuatnya tersipu malu. “Salam kepada Permaisuri.” Suaranya pun begitu halus dan merdu. Fiery tampak seperti anak yang sopan dan anggun.
“Jangan sungkan terhadap saya. Dan, satu hal lagi, saya bukanlah Permaisuri. Saya adalah Perdana Menteri Castleton,” kata Zinn, membuat Fiery dan Qerza menatap satu sama lain dan tertawa kecil. “Kenapa kalian berdua tertawa?”
“Yang Mulia, mengapa Anda menghindari perasaan Anda sendiri?” tanya Fiery.
Zinn terdiam selama beberapa saat, kemudian dia menjawab, “Saya dan Yang Mulia tidak bisa bersatu. Kami memiliki jalan yang berbeda. Jika terus mencoba untuk bersama, pasti akan ada hal buruk yang terjadi.”
“Ketika ingin bersama dengan seseorang yang dicintai, apakah harus memikirkan konsekuensi yang akan? Hidup begitu singkat, juga tak tahu kapan bisa bersama kembali,” kata Fiery
Zinn menjadi malu dengan dirinya sendiri. Anak kecil saja tahu arti dari cinta. Sudah menjadi manusia seharusnya jangan memikirkan dan terikat dengan masa lalu. Jika mencintai, maka cintailah saja, pikirnya.
Zinn mengingat apa yang terjadi kepadanya dan Frost di masa lalu. Dia mengembuskan napas berat.
"Terkadang, Nak, ada dua orang yang tak bisa bersama walaupun mencintai satu sama lain." Zinn terdengar sedih ketika mengucapkannya. "Dua orang yang mencintai sama-sama mengemban tugas besar, menjadi musuh untuk menghancurkan satu sama lain. Bagaimana cara dua orang itu bersatu jika status mereka tidak memungkinkan mereka untuk bersatu?"
Fiery tampak berpikir. Qerza hanya mengamati percakapan kedua wanita di hadapannya.
"Jika saya adalah Anda dan saya mencintai Yang Mulia Castleton, saya akan mengajaknya kawin lari," jawab Fiery. Dia tampak sungguh polos, seperti anak-anak pada umumnya.
Angin berembus kencang seketika. Di belakang Fiery muncuk sosok Frost. Pemilik manik mata emas datang karena merasa terpanggil oleh seseorang.
Qerza langsung menarik Fiery ke dalam pelukannya. "Tenang saja, Yang Mulia. Tunangan saya tidak akan mengajak Anda kawin lari," candanya.
"Aku datang bukan untuk ikut kalian membahas hal bodoh. Aku datang karena merasakan sesuatu yang berbahaya sedang mendekat ke kastil. Dan, aku juga akan menolak seseorang yang mengajakku kawin lari, kecuali Ganache."