
Tinggal dua minggu lagi pernikahan Andra dan Fara digelar. Sekarang mereka berdua, sedang di piting, alias tidak boleh bertemu sampai akad nanti. Keyla terus menemani Fara dikamar hotelnya. Keyla merasakan apa yang Fara rasakan, suatu saat nanti ia akan merasakan ini semua.
“Key, gue deg-degan.” kata Fara sambil menggigit jemarinya.
Keyla tertawa. “Oh, ayolah. Masih ada waktu dua minggu lagi, dan satu minggu lagi buat lo di piting dan abis itu lo ketemu sama Abang.”
“Bukan, bukan itu. Maksudnya, gue gugup. Gue ga nyangka kalau ini beneran terjadi dalem hidup gue. Nikah sama abang lo, yang gue kagumi dari awal ketemu. Gue masih belum percaya.”
“Astagfirullah, gue kira apa, Fara. Apa ini semua belum bikin lo percaya sepenuhnya? Abang udah ngelamar lo, dan beberapa hari lagi lo dipinang dan hidup bahagia sama dia.”
Fara tersenyum. “Semoga, dan semoga. Ini udah buat gue percaya, kok. Dan, buat gue bahagia.”
Keyla selalu mendo’akan akan kebahagiaan orang sekitarnya, mengharapkan kebahagiaan terus berjalan dalam hidup mereka. Keyla berharap, semua yang ia do'akan atas abang dan calon kakak iparnya berjalan dengan semulus mungkin.
“Fara Navysa Alexandria. You will be my sister-in-law.”
Fara terkekeh mendengar itu. “Duu bahagia banget serius deh! Apalagi lagi keadaan dipiting gini, lo ada, Key.”
Keyla mengangguk saja, itu juga sudah menjadi bentuk kesetiaannya terhadap sahabat, salah satunya seperti ini. Prinsipnya dalam berteman ialah “Gue susah lo ga ada masa iya gue seneng harus bareng-bareng.”
“Sebentar lagi, Aqilla dateng dia lagi sibuk katanya.”
Fara mengangguk.
>>><<<
Andra terus mondar-mandir didepan jendela ia juga di hotel hanya berbeda ia dilantai 6 dan Fara di lantai 3. Wisnu yang dari tadi menatap sahabatnya itu dibuat geram sendiri.
“Wehh, santai, mabro! Lo mau nikah bukan bunuh anak orang.” kata Wisnu sambil terkekeh seraya melangkah ke arah balkon.
Andra mendengus sebal. Pasalnya, Wisnu tidak merasakan yang ia rasakan saat ini, degupan jantungnya beritme lebih cepat, padahal jangka waktu masih ada enam hari lagi untuk akad.
“Gue deg-degan, Nu.
Wisnu menyembulkan kepalanya dari balik pintu balkon lalu terkekeh melihat wajah kusut Andra dan pakaian yang lusuhnya, baru beberapa hari tidak bertemu dengan pujaan hatinya saja sudah membuat Andra seperti ini.
“Gilak si lo, Dra. Tenang aja, kali. Santai kek disate.”
“Lo ga ngerasain yang gue lagi rasain sekarang, sialan!”
Wisnu menyeringai halus. “Ah, kalau gitu gue ajak nikah Aqilla aja langsung, ya? Biar sekalian barengan sama lo juga Fara, ya itung-itung ngirit.”
“Yeu! Nggak, lo nanti aja, lo masih kecil masih suka baperan.”
Wisnu mendengus kasar. “Tau dari mana lo, nyet? Sok tau lo!”
“Aqilla yang bilang ke gue, katanya lo masih suka ngambekkan ga jelas.”
Andra berjalan melangkah ke arah meja rias, disana ia melonggarkan dasi yang dipakainya dan membuka tiga kancing atas kemeja abu-abunya. Lalu menyisir rambutnya dengan jemari lentiknya.
“Ya, juga, si. Tapi inget umur lah, lo malah jadi keliatan kakek-kakek yang lagi ngambek sama cucunya karena ga dikunjungin.”
“Sialan lo!” Wisnu melempar bantal ke wajah Andra, namun dengan sigap Andra menangkapnya dan kembali melemparkan bantal itu, karena tidak ada ancang-ancang akhirnya bantal itu mendarat kasar di wajah tampan Wisnu. Menyebalkan.
>>><<<
Dua sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu masih terus sibuk berkutat didalam special room untuk mendekorasi ruangan dengan cantik untuk akad anak mereka nanti. Viona dan Rina.
“Rin, ini di taruh dimana ya?”
Rina menoleh ke arah Viona yang tengah memegang bunga mawar putih ditangannya. Rina menghampiri Viona lalu mengambil alih bunga tersebut.
“Sudah, Vi. Bentar lagi selesai, kamu istirahat duluan aja, aku masih mau menancapkan satu bunga lagi di deket kursi untuk akad.”
“Kamu yakin udah selesai semua?” tanya Viona.
Rina mengangguk. “Lagi pula masih banyak orang-orang yang membantu kita disini, Vi.”
Viona duduk di kursi yang mengelilingi meja bundar disana. Viona tersenyum sambil mengamati Rina yang tengah menyusun bunga-bunga itu agar terlihat lebih indah. Setelah selesai, Rina menghampiri Viona.
“Untuk acara resepsi yang diselenggarakan diatas kapal pesiar semua udah siap ‘kan ya, Vi?” tanyanya dengan sedikit cemas.
Viona mengangguk. “Itu semua udah diurus dengan Mas Ethan juga Gerald. Ga usah khawatir, Rin.”
“Kita bener melakukan ini, Vi?”
“Iya, lah, Rin. Ini kan juga usul dari Fara juga Andra. Dan aku sangat menyetujui nya!”
Rina mengangguk antusias. “Zamanan SMA dulu kita musuhan karena rebutan Gerald, kamu masih ingat ga, Vi? Dulu aku sangat menginginkan Gerald buat jadi pacarku yang padahal dia sendiri sedang berpacaran dengan kamu, sampe akhirnya aku muak, aku bicara jujur, dan hal itu membuat aku dan Gerald malah semakin menjauh dan aku memutuskan untuk pindah keluar negeri. Setelah nyelesain semua pendidikan aku, aku ketemu Ethan dan akhirnya menikah, dan saat aku kembali ke Indonesia kamu dan Gerald sudah menikah dan menggendong Andra kecil saat itu. Duu, betapa memalukannya masa SMA-ku.”
Viona tertawa lalu menggenggam jemari Rina. “Udah, Rin, ga usah diingetin lagi. Kita udah sama-sama bahagia, dan tentunya lebih bahagia lagi nanti saat kita melihat anak-anak kita menikah dan memiliki anak yaitu cucu kita! Adu aku udah membayangkannya, Rin.”
Rina ikut tertawa melihat tawa Viona yang begitu bahagia. “Kita benar-benar akan menjadi Nenek nanti, Vi!”
“Aihh, aku ga mau dipanggil Nenek, terlalu tua keliatannya. Aku mau dipanggil Oma’!”
Rina tampak berpikir. “Hmmm, aku apa ya? Grandma aja deh, pasti lucu!”
Viona dan Rina tertawa memikirkan hal itu. Kebahagiaan anaknya sudah didepan mata, kedua wanita ini sangat mendukung untuk langkah yang lebih serius ini. Semoga berjalan dengan mulus, tanpa adanya hambatan.
>>><<<
Jangan lupa vomentnya, Thx. ❤!